
Diandra sangat menikmati perannya sebagai seorang istri juga ibu bahkan dia sama sekali tidak pernah mengeluh atau merasa lelah karena tidap kali lelah dirasakan Diandra akan selalu menatap wajah anaknya atau mengusap perutnya dan semua lelahnya hilang. Sekarang juga pekerjaannya sudah berkurang karena ada Bi Diah yang membantunya dan Diandra juga mulai terbiasa dengan kehadiran Bi Diah di rumahnya.
Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan kini menjadi rutinitas hariannya mulai dari menjadi seorang istri hingga seorang ibu yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Ternyata semua itu tidak seburuk yang dia bayangkan, benar sekali apa yang pernah Gibran katakan bahwa hubungan tidak pernah salah, tapi mereka yang menjalaninya yang salah.
Satu-satunya kunci untuk mempertahankan sebuah hubungan hanyalah rasa percaya terhadap pasangan masing-masing dan Diandra melakukannya, tidak dia dan Gibran melakukannya. Memang sesekali mereka terlibat perdebatan, tapi tetap saja akhirnya mereka berbaikan juga.
Gibran tidak tahan untuk tidak bicara atau manja pada Diandra dan Diandra juga sama.
Jadi, mereka selalu menyelesaikan masalah bersama-sama.
"Sayang kamu sudah siap?"
Pertanyaan itu membuat Diandra yang sedang bercermin menoleh lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Saat tangan sang suami terulur Diandra langsung menyambutnya, mereka akan pergi ke acara tunangan Anika.
Gavin tidak ikut dia berada di rumah orang tua Gibran, sengaja memang karena Gibran takut kalau anaknya akan rewel, tapi dia akan pulang cepat.
"Cantik sekali." Puji Gibran membuat Diandra tersenyum dan menyandarkan kepalanya di lengan sang suami
"Kamu juga tampan." Kata Diandra
"Apa kamu nyaman dengan dress itu sayang?" Tanya Gibran
"Hmm nyaman dress nya sedikit longgar, jadi tidak sesak." Kata Diandra
Usia kandungannya sudah masuk tiga bulan dan Diandra mengalami sedikit kesulitan di bulan pertama karena terus merasa mual, tapi sekarang sudah tidak. Di bulan ketiga ini Diandra justru selalu ingin makan entah makanan berat atau hanya sekedar makanan ringan.
"Aku ingin tau apa jenis kelamin anak kita." Kata Diandra
"Aku harap dia perempuan dan akan secantik Mommy nya." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum mendengarnya
Mereka sampai di halaman rumah Gibran langsung membuka pintu untuk istrinya lalu naik dari sisi lainnya. Begitu keduanya sudah masuk ke mobil Gibran langsung melaju meninggalkan rumah agar mereka tidak terlalu malam.
Saat ini masih pukul tujuh, jadi kira-kira mereka akan pulang sekitar pukul sembilan atau kurang dari itu. Di dalam mobil Gibran memutar musik untuk menemani perjalanan mereka.
"Diandra"
"Hmm"
"Besok aku ingin ajak kamu ke suatu tempat." Kata Gibran
"Benarkah? Kemana?" Tanya Diandra
"Pantai"
Diandra tersenyum senang ketika mendengarnya.
"Mau, nanti Gavinn?" Tanya Diandra
"Mama lagi." Kekeh Gibran
"Ishh dasar, tapi gak papa aku mau nanti kita kesana pas mau sore aja biar bisa lihat sunset dan pulangnya gak malam." Kata Diandra
"Mama akan senang kalau kita menitipkan Gavin disana karena dia ada teman dan tentu saja sayang itu ide yang baik besok kita berangkat sekitar pukul empat, bagaimana?" Tanya Gibran
"Emm setujuu"
Gibran tersenyum senang lalu meraih tangan Diandra dan mencium punggung tangannya.
"Suka banget cium tangan aku." Kata Diandra
"Gak boleh?" Tanya Gibran
"Boleh, aku suka." Kata Diandra
Setelah itu mereka terdiam dan menikmati sisa perjalanan dengan musik yang mengalun pelan hingga dua puluh lima menit perjalanan kini keduanya sampai di salah satu hotel bintang lima tempat pertunangan di gelar. Saat turun Gibran membuka pintu untuk istrinya lalu merangkul sayang pinggang Diandra dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Mendengar nama Anika mendadak Diandra jadi teringat malam itu, malam dimana dia dan Sagara bertemu juga malam dimana Gibran marah hingga merenggut kesuciannya.
Tapi, semua itu sudah berlalu.
Begitu masuk ke dalam Diandra disuguhkan dengan dekorasi yang sangat mewah untuk sebuah pertunangan. Mereka sama-sama melangkah ke dalam lalu menemui Anika bersama dengan Zidan.
"Selamat untuk pertunangannya Anika akan lebih baik kalau kalian segera menikah." Kata Gibran membuat Anika tersenyum mendengarnya
"Bisa tanyakan pada Zidan kalau masalah pernikahan." Kekeh Anika
"Selamat Anika." Kata Diandra
Anika tersenyum lalu memeluk Diandra dengan cukup erat.
"Terima kasih dan biarkan aku bertanya, dimana Gavin? Kenapa kalian tidak mengajaknya?" Tanya Anika
"Dia di rumah Mama sekarang Gavin sedikit rewel." Kata Diandra
"Hmm i see dia sudah bisa berjalan pasti tidak mau diam." Kata Anika
"Ya begitulah dan mungkin karena dia akan punya adik juga." Kata Diandra membuat Anika membulatkan matanya
"Kamu hamil lagi?! Oh my god! Itu kabar baik Diandra semoga kali ini perempuan." Kata Anika
"Tidak masalah entah itu perempuan atau laki-laki aku dan Diandra bisa membuatnya... aw sakit sayang." Keluh Gibran ketika Diandra mencubit lengannya dan menatapnya dengan tajam
"Kak ihh apaansih mulutnya!" Tegur Diandra
Anika tertawa melihatnya, lucu melihat Gibran yang tunduk pada istrinya padahal biasanya dalam menjalin sebuah hubungan Gibran yang selalu memimpin.
"Kalian ini, nikmati hidangannya ya? Terima kasih karena sudah datang." Kata Anika
Mereka mengangguk dan sebelum pergi Anika kembali memeluk Diandra lalu membiarkan wanita itu pergi bersama Gibran untuk memakan hidangan yang tersedia atau berbincang dengan teman-temannya.
"Kalian hanya berdua? Tidak membawa anak kalian juga?" Tanya Sagara ketika dia duduk
"Tidak Gavin ada di rumah Mama." Kata Diandra
"Ah begitu aku mengerti." Kata Sagara sambil tersenyum
Gibran hanya tersenyum saja, dia tidak terlalu cemburu, tapi masih sedikit kesal saja.
"Kamu sendirian?" Tanya Diandra
"Tidak aku datang bersama Tian dan yang lainnya juga, masih ingat Tian kan?" Tanya Sagara
"Hmm temen kamu waktu SMA dulu." Kata Diandra
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Sagara
"Kami baik bahkan sangat baik karena Diandra sedang hamil." Kata Gibran
"Benarkah? Kabar yang baik semoga kandungan kamu sehat selalu Diandra." Kata Sagara
"Terima kasih"
Sagara hanya mengangguk singkat lalu pamit untuk menemui yang lainnya lagi dan meninggalkan Gibran bersama dengan Diandra.
"Kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Gibran
"Emm mau cheese cake yang itu." Kata Diandra
Gibran mengikuti arah pandang Diandra lalu tersenyum dan mengambilkannya untuk sang istri. Tak butuh waktu lama Gibran kembali dengan membawa apa yang diinginkan Diandra dan membuat istrinya tersenyum senang.
"Makasihh"
__ADS_1
Gibran hanya bergumam pelan sambil memperhatikan Diandra yang sedang makan hingga akhirnya seorang wanita datang dan duduk di dekat mereka.
Diandra tidak mengenalnya bahkan ini kali pertama dia melihatnya.
"Hai Gibran"
"Hai Sa"
Tak ada pelukan seperti biasa Gibran hanya memberikan senyuman tipis pada wanita di dekatnya.
"Dia pacar kamu?" Tanya Lisa sambil menatap Diandra yang kini ikut menatapnya
"Istri aku"
"Istri? Ya ampun aku tidak menyangka ternyata kamu sudah menikah." Kata Lisa
"Ya sudah lebih dua tahun, sayang kenalkan dia temanku namanya Lisa." Kata Gibran
Diandra tersenyum lalu mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat oleh wanita cantik bernama Lisa itu.
"Aku kira kamu akan menikah dengan..."
"Tidak Sa aku menikah dengan Diandra dan aku sangat mencintainya." Kata Gibran memotong ucapan temannya
"Emn begitu aku kan hanya mengira saja soalnya kalian sudah ada rencana unuk tunangan kan?" Kata Lisa lagi
Gibran menghela nafasnya pelan lalu menatap Diandra yang sama sekali tidak terusik dan tetap fokus pada makanannya.
"Tidak Sa dan aku rasa tidak perlu di bahas sudah berlalu." Kata Gibran
"Ah iya maaf aku baru kembali dari Italia setelah empat tahun tinggal disana makanya aku ketinggalan banyak hal." Kata Lisa
"Hm it's okay." Kata Gibran
"Oke sekarang aku akan tanya saja kalian sudah punya anak?" Tanya Lisa dengan senyuman manisnya
"Em sudah anak pertama kami sudah berusia dua tahun dan satu lagi masih ada di dalam kandunganku." Kata Diandra dengan senyuman
"Wah selamat aku senang mendengarnya semoga kandungan kamu sehat." Kata Lisa
"Terima kasih"
"Baiklah aku akan menemui Anika, see you next time." Kata Lisa
Begitu Lisa pergi Gibran memperhatikan Diandra yang terlihat biasa sambil meminum minuman miliknya yang ada di meja.
Apa istrinya tidak terganggu dengan perkataan Lisa tadi?
"Sayang"
"Iya?"
"Kamu tidak ingin bertanya tentang...."
"Tidak, untuk apa? Kak Gibran kan sudah menikah dengan aku." Kata Diandra dengan senyuman manisnya
Ternyata Diandra memang benar-benar tidak peduli dengan semua masa lalu Gibran.
Benar yang Diandra katakan mereka kan sudah menikah.
¤¤¤
Double up aja yaa :"
Maaf ada keperluan mendadakk jadinya cuman bisa double up😉
__ADS_1