Obsession

Obsession
Merah


__ADS_3

Waktu benar-benar cepat berlalu bahkan tanpa Diandra sadari sekarang Gavin sudah menginjak usia satu tahun, bayi tampan itu berulang tahun kemarin dan dia tidak melakukan perayaan apapun karena menurut Diandra itu tidak perlu karena Gavin masih terlalu kecil. Sekarang Gavin mungilnya sudah mulai tumbuh ada beberapa gigi yang sudah bermunculan dan sesekali Gavin juga mulai bicara, tentu saja itu hal yang membahagiakan.


Semua berlalu dengan penuh kebahagiaan tanpa ada perdebatan atau keributan besar mungkin hanya sesekali saja dan itu juga langsung selesai dalam waktu singkat, Diandra tidak membiarkan rumah tangganya renggang hanya karena sebuah perdebatan atau perbedaan pendapat. Saat ini Diandra mulai belajar cara untuk mendengarkan semua perintah Gibran juga menjadi istri yang penurut, dia hanya berdiam diri di rumah saja sambil merawat Gavin.


Sejauh ini Diandra menganggap Gibran sebagai suami yang sangat perhatian juga penuh tanggung jawab. Saat akan pulang terlambat Gibran langsung menelpon dan kalau sedikit saja Diandra mengeluh dia akan bertanya.


Gibran benar-benar jauh dari apa yang pernah dia bayangkan.


Pria itu nyaris sempurna kalau saja dia tidak mesum, ya Diandra kadang sampai geleng kepala kalau suaminya itu sudah mulai mesum. Terkadang Diandra hanya duduk sambil menonton tv saja Gibran sudah menggodanya atau kalau dia sedang memasak pria itu akan mulai menganggunya.


Menyebalkan, tapi Diandra sayang.


Saat ini dia sedang memperhatikan suaminya yang tumben sekali tadi tidur siang setelah pulang dari butik katanya kepalanya pusing dan Diandra menyuruh suaminya itu untuk istirahat. Sudah hampir sore dan Gibran masih terlelap juga dengan Gavin disampingnya yang sedang tertidur juga karena anak mereka memang selalu tidur siang.


Diandra yang duduk di tepian ranjang nengusap pelan kepala suaminya membuat Gibran terusik dalam tidurnya. Perlahan mata Gibran terbuka dia menatap Diandra dengan sayu lalu tersenyum dan mendekat padanya.


"Masih pusing?" Tanya Diandra


"Sedikit, tapi sudah lebih baik." Kata Gibran


"Kemarin sih kamu hujan-hujanan, jadi sakit kan?" Keluh Diandra


Kemarin Gibran memang kehujanan, tapi dengan sombongnya dia mengatakan kalau itu tidak masalah.


Tidak masalah kalau hujannya lebat masalahnya kemarin itu hujan gerimis dan Diandra tau hujan gerimis itu justru sering membuat sakit.


"Gak sakit sayang cuman pusing aja." Kata Gibran serak


Menghela nafasnya pelan Diandra kembali mengusap kepala suaminya itu dengan sayang. Untuk beberapa saat mereka tetap dalam posisi yang sama hingga akhirnya Gibran dengan hati-hati bangun lalu duduk.


"Aku ambilkan obat sakit kepala ya?" Kata Diandra pelan


Gibran mengangguk singkat sebagai jawaban membuat Diandra tersenyum dan mencium keningnya sebentar. Mendapat perlakuan itu Gibran tidak bisa menahan senyumannya, dia menatap sang istri yang kini keluar dari kamar.


Setelah Diandra menghilang dari pandangannya Gibran menatap Gavin yang terlihat lelap.


Ya ampun dia tidak menyangka anaknya sudah besar bahkan sudah mulai belajar jalan.


Saat tengah sibuk memperhatikan anaknya Gibran terusik dengan deringan di ponsel istrinya yang membuat dia beranjak untuk mengambil ponsel Diandra di atas meja. Nama Sahara tertera disana membuat Gibran langsung mengangkatnya.


'Tante Andlaaa'


Bukan suara Sahara, tapi Gibran malah mendengar suara Alana yang membuatnya tidak bisa menahan senyum.


"Ana"


'Paman Iban yang angkat yaa? Tante Andla mana?'


Sampai sekarang Alana memang terus memanggilnya dengan sebutan Paman Iban.


"Tante Diandra sedang di dapur, ada apa sayang?" Tanya Gibran


'Mami mau pelgi telus Ana gak mau ikut, tapi Ana mau kesana.'


"Ana mau kesini? Kesini saja Paman senang mendengarnya." Kata Gibran


'Benal Pamann?'


"Iya, sekarang Mami sama Papi nya mana?" Tanya Gibran


'Lagi ganti baju nanti Ana panggil, Mamiiiii'


Gibran sedikit menjauhkan ponselnya ketika suara Alana terdengar dan bersamaan dengan itu Diandra masuk ke kamar dengan segelas air serta obat yang dia bawa. Tersenyum singkat Gibran mengajak Diandra untuk duduk di sofa lalu menyerahkan ponsel itu pada istrinya.

__ADS_1


"Katanya Ana mau kesini." Kata Gibran


Diandra tersenyum senang dia mengambil ponselnya setelah memberikan air hangat juga obat sakit kepala untuk suaminya.


"Anaa kamu mau kesini sayang?" Tanya Diandra dengan penuh semangat


'Mamii kata Paman Iban boleh'


Terdengar sedikit percakapan hingga Diandra mendengar suara Sahara sekarang.


'Kak Gibran gak sibuk?'


"Tidak Kak kami sedang tidak ada keperluan antar saja Alana kesini." Kata Diandra


'Diandra? Baiklah nanti kami mampir ya? Aku sama Mas Juna disuruh ke kantor sama Papi dan Ana gak mau ikut'


"Iya Kak lalu bagaimana dengan Angga dan Aluna?" Tanya Diandra


'Mereka mau ke rumah Mami nya Arjuna'


"Aa baiklah aku tunggu ya Kak." Kata Diandra


'Iya ehh bagaimana Kak Gibran? Katanya tadi dia sakit kepala'


"Sudah baikan Kak tadi baru bangun tidur dan sudah minum obat juga." Kata Diandra


'Hm baiklah aku jalan kesana ya?'


Diandra bergumam pelan lalu mematikan ponselnya dan menatap sang suami dengan senyuman.


"Ana mau kesini." Kata Diandra senang


"Sudah lama kamu tidak melihat Ana ya?" Kata Gibran yang dijawab dengan anggukan oleh Diandra


Tersenyum singkat Gibran menarik tubuh Diandra dan memeluknya membuat Diandra tersenyum senang sambil membalas pelukannya dengan erat. Mereka hanya berpelukan awalnya sampai Gibran membisikkan sesuatu yang membuat pipi Diandra merona dan dia semakin mempererat pelukannya.


Mulai kan mesumnya padahal lagi pusing!


"Kenapa kita tidak buat baby perempuan?"


Gibran memang menyebalkan, tapi dia tidak pernah memaksa katanya semua terserah Diandra karena dia melihat proses persalinan dan hal itu sedikit membuat Gibran takut. Meskipun Diandra mengatakan dia akan menurut saja pada suaminya, tapi Gibran bilang dia tidak mau Diandra merasa sakit.


Padahal saat tangisan bayinya tersengar rasanya semua sakit itu menghilang dan berganti dengan perasaan haru juga bahagia.


"Ishh kan pasti deh langsung bahas kayak gitu." Keluh Diandra


"Maaf baby." Kekeh Gibran sambil mencium puncak kepalanya


"Aku mau kok, tapi nanti nunggu Gavin sudah sedikit lebih besar." Kata Diandra


"Hmm aku tau sayang." Kata Gibran


Melepaskan pelukannya Gibran mencium bibir Diandra dengan lembut dan membuat Diandra memejamkan matanya lalu refleks melingkarkan tangannya di leher sang suami. Mereka berciuman lama hingga Gibran sedikit mendoronh tubuh Diandra dan membuatnya terbaring di sofa.


Menjauhkan wajahnya Gibran menghirup oksigen sebanyak mungkin lalu kembali memberikan ciuman. Kali ini tangan Gibran mulai menyentuh Diandra dan membuatnya melenguh pelan.


Mereka tidak pernah jauh karena biasanya.....


Suara rangisan


Karena biasanya Gavin selalu terbangun ditengah aktivitas mereka seperti sekarang dan dengan terpaksa Gibran menjauhkan wajah serta tangannya. Dia tertawa kecil lalu mengecup singkat bibir istrinya dan mengatakan sesuatu yang membuat Diandra tertawa.


"Gavin masih melarang kita untuk membuatkan adik rupanya"

__ADS_1


Begitu Gibran menjauh Diandra bangun dan menghampiri anaknya yang menangis.


Selalu begitu ketika Gibran ingin melakukannya dengan Diandra.


¤¤¤


"Pama Ibann"


Begitu sampai di rumah Pamannya Alana langsung turun dan berlari ke dalam pelukan Gibran yang sekarang ada di depan pintu. Senyumnya mengembang dengan sempurna Alana langsung memeluk leher Pamannya membuat kedua orang tuanya itu menggelengkan kepala pelan.


Memang Alana suka sekali bermain di rumah Gibran apalagi ada Gavin yang membuatnya semakin betah disana. Tidak jarang dia meminta untuk diantarkan ke rumah Gibran sepulang sekolah.


"Kak nanti malam aku jemput Ana ya?" Kata Sahara


"Hmm tenang saja Ana akan aman disini bersama Gavin." Kata Gibran sambil mencium pipi Alana


"Maaf merepotkan Gibran, tapi Alana yang sangat ingin kesini bahkan tadi dia sendiri yang menelpon." Kata Arjuna


"Tidak masalah Kak aku sama Kak Gibran malah senang." Kata Diandra


Keduanya tersenyum lalu pamit untuk pergi dan sebelum kembali ke mobil Sahara juga Arjuna mencium anak mereka sambil memperingatinya untuk tidan nakal.


"Dadahh Mamii Papiii"


Sahara tersenyum dan melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil bersama suaminya. Begiu mobil mereka menjauh Gibran juga Diandra langsung mengajak Alana untuk masuk.


Sampai di dalam rumah Alana turun lalu berlari ke arah ranjang bayi yang ada di ruang tengah dan berjinjit untuk melihat Gavin. Saat tidak kunjung bisa melihatnya Alana menoleh ke belakang dan Diandra yang faham langsung mengangkat tubuh anaknya dan menidurkan di karpet.


"Gavinn tampan sepelti Paman Iban." Kata Alana dengan senyuman


Diandra tersenyum dan membiarkan Alana yang kini mencium kening Gavin dengan lembut.


"Ana mau makan atau minum?" Tanya Diandra


"Ana mau...."


"Ice cream?" Tebak Gibran


Alana mengangguk dengan semangat membuat Gibran tersenyum dan pergi ke dapur untu mengambilkan ice cream. Setiap hari dia memang selalu stok karena Diandra juga suka dan lagi Alana sering datang.


Mengambil dua Gibran kembali lalu menyerahkannya pada Alana membuat anak itu tersenyum senang.


"Lasa coklat Ana sukanya Vanilla, tapi suka coklat juga." Kata Alana


Keduanya hanya tersenyum sambil memperhatikan Alana yang mulai memakan ice cream.


Mereka diam awalnya, tapi ketika Alana menatap Diandra wajahnya terlihat bingung dan dengan lugunya anak itu menunjuk leher Diandra.


"Tante Andla lehelnya melah juga? Sama sepelti Mami." Kata Alana


Diandra terlihat salah tingkah, tapi suaminya justru tersenyum dan tak cukup sampai disitu Alana kembali bicara.


"Kata Mami kalna digigit selangga, Tante Andla juga ya?"


Gibran langsung tertawa ketika mendengarnya berbeda dengan Diandra yang justru merona karena malu.


Ya ampun Alana!


¤¤¤


Aduhh ademnyaa😂


Ana jangan polos banget gitu donggg😂

__ADS_1



__ADS_2