Obsession

Obsession
Pulang


__ADS_3

Mata Gibran benar-benar dipenuhi dengan gairah dia masih menatap Anetta yang tidak melakukan apapun selain menatapnya. Nafasnya kian tak beraturan Gibran benar-benar hampir kehilangan akal sehatnya.


Saat tangan Anetta terangkat untuk mengusap pipinya Gibran memejamkan matanya dan menikmati sentuhan yang wanita itu berikan. Tubuhnya semakin terasa panas Gibran terbakar akan gairah hingga dia membuka matanya lalu mendorong tubuh Anetta hingga ke tembok.


"Kamu benar-benar licik Anetta." Kata Gibran serak


"Lupakan sejenak Gibran dan lepaskan semua gairah itu padaku." Kata Anetta


Tangan Anetta terulur untuk mengusap lengan kekar Gibran yang membuat pria itu memejamkan matanya dan menggeram pelan.


Senyum Anetta muncul, dia sengaja melakukan ini semua karena dia tau Gibran tidak akan bisa menahan nafsunya. Fikiran dan hati Gibran masih berperang hingga membuat dia masih diam, tapi ketika tangan Anetta menyentuh lehernya Gibran menarik pinggang wanita itu agar mendekat padanya.


"Nikmati malam ini Gibran sayang hanya kamu dan aku." Kata Anetta sambil mengusap leher Gibran dengan penuh kelembutan


Gibran kembali menggeram tubuhnya semakin panas dan dia berusaha untuk mengenyahkan semua yang ada di benaknya.


Tubuhnya meminta dia untuk menuntaskan semya gairahnya.


Gibran mendekatkan wajahnya membuat Anetta secara refleks menutup matanya. Hidung mereka bersentuhan dan jarak wajahnya pun sudah sangat dekat, tapi ketika Gibran memejamkan matanya wajah Diandra muncul.


'Aku takut cinta itu sudah hilang dari hati kamu'


'Kamu gak bakal kecewaiin aku kan?'


'I love you Daddy jangan pernah tinggalin aku ya?'


Wajah lugu itu menghantui Gibran dan membuat dia berhenti sambil menarik nafasnya panjang.


'Da daa'


'Dia sudah mulai belajar bicara'


Istri dan anaknya Gibran akan kehilangan mereka kalau dia sampai berbuat lebih jauh. Melirik ke arah pintu Gibran melihat kunci yang masih tergantung disana.


Tidak Gibran kamu jangan mengacaukan rumah tangga yang baru saja terbangun, batin Gibran.


Melepaskan tangannya Gibran berjalan ke arah pintu membuat Anetta membuka matanya dan menatap pria itu dengan tidak percaya. Bergegas menghampiri Gibran tangan Anetta menahan knop pintu membuat Gibran menyentaknya.


"Jangan bermain-main denganku!"


Mendorong tubuh Anetta hingga terhuyung ke belakang Gibran bergegas pergi menuju parkiran, dia harus segera pulang. Tidak boleh, Gibran tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa merusak rumah tangganya.


Dia sudah bahagia dengan Diandra dan Gavin.


"Gibran"


Langkah kaki Gibran terhenti dia menoleh ketika melihat Nicholas yang berlari ke arahnya dan raut wajahnya penuh keterkejutan begitu meihatnya.


"Diandra dia telpon, terjadi sesuatu?" Tanya Nicholas


"Anetta"

__ADS_1


Suara Gibran terdengar begitu serak dan membuat Nicholas sadar apa yang terjadi, tentu saja dia tau bahwa Anetta memasukkan sesuatu untuk meningkatkan gairah Gibran.


"Shit! Dimana dia?" Tanya Nicholas marah


Gibran menggelengkan kepalanya pelan lalu dia berlari keluar dari gedung karena merasa tubuhnya semakin panas, dia harus melampiaskan semua gairahnya. Sampai di parkiran Gibran langsung menghidupkan mobilnya dan melaju dengan kecepan tinggi.


Nafasnya semakin memburu dan tubuhnya terasa begitu panas Gibran harus segera sampai. Beruntung jalanan sangat lengang ditambah lagi jaraknya tidak terlalu jauh.


Entah berapa lama, tapi Gibran langsung keluar dari dalam mobil dan membuka pintu utama dengan kunci cadangan yang dia bawa. Begitu pintu terbuka Gibran kembali menguncinya dan melangkahkan kaki ke dalam hingga dia melihat Diandra yang membuka pintu kamarnya.


Diandra memakai baju tidur tipis yang membuat Gibran semakin tidak bisa menahan dirinya dan melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Kenapa baru pulang katanya..... mmpp"


Diandra tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menciumnya dengan menggebu-gebu bahkan sekarang mereka berjalan mundur. Tangan Diandra berusaha untuk mendorong tubuh Gibran, tapi tidak berhasil pria itu malah menggigit bibir bawahnya dan memperdalam ciuman mereka.


Merasakan manisnya bibir Diandra semakin membuat Gibran kehilangan akalnya bahkan dia tidak sadar bahwa sekarang dia baru saja menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas ranjang. Saat dadanya dipukul berkali-kali Gibran menjauhkan wajahnya dan menatap Diandra dengan penuh gairah serta nafas yang tak beraturan.


"Daddy kenapa?" Tanya Diandra pelan


Gibran mendekatkan wajahnya ke kuping Diandra sambil membisikkan sesuatu dan menggigit pelan kupingnya membuat Diandra merasa aneh juga sedikit takut.


"I need you baby"


Baru ingin bertanya Gibran kembali membungkamnya hingga membuat Diandra merasa hampir kehabisan nafas. Menjauhkan tubuhnya Gibran menarik dasi yang membuatnya sesak juga melepaskan jas dan kemejanya dengan terburu-buru lalu melemparnya asal.


"Diandra"


Diandra mendongak dan menatap suaminya dengan bingung.


Setelah mengatakan itu Gibran kembali menciumnya sambil membuka kancing baju tidur yang istrinya kenakan.


"Kenapa?" Tanya Diandra pelan ketika Gibran menatapnya


Gibran memejamkan matanya sebentar lalu dia menarik lepas baju tidur istrinya dan mengecup leher jenjangnya berkali-kali sambil menyentuh setiap inchi tubuh istrinya.


Diandra bergerak gelisah dan perlahan kabut gairah mulai menguasai dirinya.


"Bolehkah aku melakukannya?"


Entah kenapa Gibran bertanya dan Diandra juga tidak bisa menolak hingga dia hanya menganggukkan kepalanya.


Dia membiarkan Gibran melepaskan semua pakaian mereka dan tetap diam ketika kini tubuh mereka menyatu tanpa jarak.


Suara desahan Diandra terdengar dan membuat Gibran semakin merasa bergairah.


Seolah tau orang tuanya sedang menikmati malam yang panjang Gavin pun terlelap sepanjang malam.


¤¤¤


Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela membuat Gibran terusik dan membuka matanya, dia langsung melihat Diandra yang masih terlelap dalam tidurnya. Senyumnya terukir dia senang karena berhasil pergi dari sana dan kembali ke rumahnya, dia menyelamatkan rumah tangganya dari kehancuran.

__ADS_1


Meskipun sekarang Gibran merasa bersalah karena mengajak Diandra terus bercinta entah untuk berapa lama dan dia baru berhenti ketika Diandra memintanya dengan raut wajah lelah. Sungguh Gibran merasa bersalah dan sekarang dia menatap wajah Diandra lalu mencium keningnya dengan sayang.


Dengan hati-hati Gibran turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Tak lama setelah dia membasuh wajahnya Gibran bergegas pergi ke kamar Gavin karena takut dia menangis.


Mendekat ke arah ranjang bayi Gibran melihat anaknya itu masih terlelap, dia seolah tau bahwa Mommy nya masih butuh istirahat.


"Baby tadi malam Daddy hampir membuat kesalahan besar, tapi tenang saja Daddy berhasil kembali pada kalian"


Gibran sibuk memperhatikan Gavin yang masih begitu lelap padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.


"Kalau Daddy sampai melakukannya Daddy tidak mungkin bisa memaafkan diri sendiri dan Daddy pasti akan kehilangan kalian"


Tangan Gibran terulur untuk mengusap pelan pipi anaknya dan membuat Gavin terusik lalu merengek.


Melihat hal itu Gibran kelabakan sendiri, tapi tetap mengangkat tubuh Gavin dan menggendongnya yang malah membuat anaknya itu kembali menangis.


"Stt baby jangan menangis nanti Mommy bangun." Kata Gibran


Berjalan ke dekat meja Gibran membuatkan susu untuk anaknya karena satu bulan belakangan ini Gavin juga meminum susu selaim dari asi Diandra. Tak butuh waktu lama Gibran yang sudah selesai membuatnya menidurkan Gavin di atas karpet tebal lalu memberikan susu padanya dan membuat anak itu diam.


Gibran kembali memperhatikannya hingga suara pintu membuat dia mendongak dan melihat Diandra yang masuk ke dalam dengan sudah memakai kaos putih serta celana pendek.


"Apa dia bangun dari tadi?" Tanya Diandra


"Tidak dia baru saja bangun dan aku sudah membuatkan susu untuknya makanya dia diam." Kata Gibran


Diandra mengangguk singkat lalu ketika suaminya mengulurkan tangannya Diandra menyambutnya dan dia duduk di samping Giban yang langsung memeluknya.


"Maaf baby"


"Maaf kenapa?" Tanya Diandra


"Maaf karena memaksa kamu tadi malam." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum lalu mengusap kepala suaminya dengan sayang


"Jangan minta maaf aku kan istri kamu." Kata Diandra


Melepaskan pelukannya Gibran menangkup wajah istrinya dan mencium seluruh wajahnya sambil berhenti lama di bibirnya.


"Tadi malam kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Diandra


Gibran terdiam sebentar lalu bertanya pada istrinya.


"Mau dengarkan aku?"


Diandra mengangguk sebagai jawaban.


Menghela nafasnya pelan Gibran meraih tangan Diandra untuk dia genggam lalu menceritakan semuanya.


Gibran menceritakan hal yang membuat Diandra benar-benar ingin menjambak rambut Anetta lagi!


¤¤¤

__ADS_1


Nih aku kasih double updatee😚


Mau diapain ini si Anetta?? Next kita akan lihat Anetta dan Diandra bertemu haha😂


__ADS_2