
"Ish udah ah males!"
Gibran tertawa kecil ketika melihat istrinya yang merajuk beberapa saat setelah Alana dijemput pulang dan tentunya kini mereka hanya bertiga dengan Gavin saja. Sekarang istrinya itu merajuk hanya karena merah di lehernya yang tadi di lihat Alana, memang selama ini Diandra selalu memperingati dia agar tidak meninggalkan tanda di lehernya yang dapat dilihat orang.
Hanya saja Gibran kan refleks dan bukan salahnya, jadi bukan merasa bersalah Gibran malah semakin ingin menggoda istrinya. Wajah Diandra murung sekarang dia menghampiri anaknya yang baru saja terlelap.
"Hey sayang sudahlah aku kan biasa membuatnya disitu." Kata Gibran
Diandra menoleh dan menatap suaminya itu dengan sengit.
"Memang kamu gak bisa diomongin! Dari dulu juga gitu aku bilang jangan masih aja dilakuin!" Kata Diandra sebal
"Ya kan kalau enggak kita gak mungkin nikah sayang lagian kamu juga suka kan?" Ledek Gibran
Wajah Diandra memerah karena malu juga kesal dan dengan wajah murung dia menghampiri Gibran lalu memukul lengannya berkali-kali.
"Nyebelin banget sihh!" Kesal Diandra
"Ayolah Diandra lagian itu hanya Alana yang melihatnya." Kata Gibran sambil meraih tangan Diandra yang memukul lengannya
"Ishh ya tapi maluu kamu mah gak ngerti!" Kata Devina sebal
"Yaudah sayang maaf." Kata Gibran akhirnya
"Tau ah bete banget!" Ketus Diandra
Melepaskan tangannya Diandra mengangkat tubuh Gavin dengan hati-hati untuk memindahkan ke kamar mereka. Masih dengan senyum manisnya Gibran mengikuti langkah kaki Diandra hingga masuk ke dalam kamar.
Saat Gavin sedikit merengek ketika Diandra ingin menidurkannya di ranjang dengan sigap istrinya itu menenangkannya dan kembali membuat anak mereka tenang.
"Sstt baby Gavin ada Mommy sayang"
Setelah memastikan Gavin tertidur lelap Diandra beranjak dari tempatnya dan masih tetap menatap suaminya itu dengan sengit lalu berjalan ke kamar mandi. Sekali lagi Gibran mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar mandi lalu memeluknya dari belakang.
Dia melihat wajah mereka berdua di cermin yang ada di hadapannya dan senyumnya terlihat ketika melihat wajah cemberut Diandra.
"Maaf baby"
"Nyebelin sih udah aku bilang jangan cium disana kan kelihatan." Keluh Diandra
"Terus dimana dong?" Tanya Gibran membuat Diandra mendengus kesal
"Ya gak usahh"
Tertawa kecil Gibran menyingkap rambut Diandra kesamping dan mengecup belakang lehernya.
"Engh jangan ihh"
"Disini boleh?" Tanya Gibran
Berdecak kesal Diandra menyikut pelan suaminya dan membuat Gibran tertawa sambil menjauhkan tubuhnya. Membalik tubuhnya Diandra mengerucutkan bibirnya sebal lalu bergerak maju dan memeluk suaminya dengan sayang.
"Eh kiraiin mau ngambek lagi." Canda Gibran sambil membalas pelukannya
Diandra hanya diam dan mengeratkan pelukannya membuat Gibran tersenyum lalu mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
"Ada apa hmm?" Tanya Gibran
"Gak ada mau peluk aja, memang gak boleh?" Tanya Diandra
"Boleh baby." Kata Gibran
Cukup lama berpelukan sampai akhirnya Diandra menjauhkan tubuhnya lalu tersenyum sambil menatap suaminya.
"Sayang"
"Emm"
__ADS_1
"Besok malam aku harus ikut Papa ke acara rekan bisnisnya, kamu mau ikut?" Tanya Gibran
"Tidak pasti sampai malam nanti kasihan Angga." Kata Diandra
"Aku boleh pergi? Kalau kamu tidak izinkan aku akan bilang Papa." Kata Gibran
Diandra tersenyum sambil melangkahkan kakinya keluar, mana mungkin dia melarang?
"Boleh, tapi jangan lama-lama pulangnya ya?" Kata Diandra
Mengikuti langkah kaki istrinya keluar Gibran setuju dan mengatakan kalau dia akan pulang cepat karena dia juga tidak mau berlama-lama kalau tidak ada anak dan istrinya disana.
"Jam sepuluh? Terlalu malam?" Tanya Gibran
Diandra menoleh lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, tapi kalau pulang lebih cepat aku lebih senang." Kata Diandra menbuat Gibran tertawa kecil ketika mendengarnya
Mendudukkan dirinya di tepian ranjang Gibran mengusap puncak kepala istrinya itu dengan sayang lalu mencium keningnya lama.
"Baby"
"Hmm"
"Menurut kamu aku nyebelin gak?" Tanya Gibran
Diandra terlihat seperti sedang berfikir lalu menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Emm kadang aja." Kata Diandra
"Apa yang paling buat kamu kesel sama aku? Atau sikap apa yang paling gak kamu suka dari aku?" Tanya Gibran
"Aku kesel kalau kamu udah mesum! Pokoknya kesel bangettt." Kata Diandra membuat Gibran tertawa mendengarnya
"Bukan salah aku sayang kamu yang terlalu seksi jadinya aku mesum." Kata Gibran
"Sama istri sendiri kan gak papa." Kata Gibran
Diandra berdecak kesal lalu mencubit kedua pipi suaminya itu dengan gemas.
"Kamu masih cinta sama aku?" Tanya Diandra
Tertawa kecil Gibran mengusap pipi Diandra sambil menatapnya dengan dalam.
"Masih dan semakin hari perasaan ini bertambah besar"
Diandra tersenyum senang ketika mendengarnya.
¤¤¤
Helaan nafas kasar Gibran terdengar ketika Diandra menutup pintu mobil dengan kuat lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun sambil menggendong Gavin. Tadi siang Diandra ke butik dan berniat untuk mengantarkan makan siang, tapi dia melihat suaminya dengan posisi yang begitu dekat pada Gibran.
Salah satu model Sahara yang memang dia tau kalau wanita itu menyukai suaminya sejak lama, Alicia. Mereka sangat dekat tadi karena wanita itu ingin melihat hasil foto yang ada di kamera suaminya dan Diandra kesal.
Apalagi ketika tanpa sengaja dia mendengar percakapan mereka.
Saat itu Diandra muncul sambil meletakkan kotak makan siangnya dengan kasar membuat Gibran menoleh padanya. Mereka sedikit berdebat tadi di dalam mobil dan Diandra merasa marah.
Sekarang Gibran berlari kecil menghampiri istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar. Anak mereka ditidurkan di atas ranjang dan Diandra langsung memasang wajah masamnya ketika melihat Gibran.
"Diandra"
"Apa?!"
"Kenapa kamu marah? Apa salah aku?" Tanya Gibran bingung
"Kakak ngapain dekat-dekat sama Alicia! Kakak tau gak dia itu suka sama Kakak?!" Kata Diandra
__ADS_1
Gibran melirik sebentar ke arah anak mereka yang tertidur lalu mengajak Diandra untuk keluar dari kamar.
"Siapa yang dekat-dekat Diandra?" Tanya Gibran
"Kamu! Tadi wajahnya dekat banget kalau kamu nengok bisa jadi ciuman!" Kata Diandra
"Diandra kamu terlalu berfikir jauh!" Kata Gibran
"Salah aku?" Tanya Diandra
"Sayang aku sama sekali gak ada niat untuk deket-deket sama dia, kamu kenapa sih?" Tanya Gibran bingung
"Dia suka sama kamu dan tadi kamu juga mau aja waktu di ajak makan siang." Kata Diandra
"Bukan mau Diandra kamu datang sebelum aku selesai bicara." Kata Gibran
"Memang mau jawab apa?" Tanya Diandra
"Mau jawab kalau mau asalkan sama kamu dan Gavin." Kata Gibran
"Tuhh kan sama aja berarti kamu mauu." Kata Diandra
Gibran menghela nafasnya pelan, dia tidak melakukan apapun padahal.
"Sayang kamu kenapa hmm?" Tanya Gibran
"Aku cemburu enggak suka lihat Daddy deket-deket sama Alicia kayak gitu! Apalagi dia suka sama kamu." Kata Diandra
"Sayang aku gak akan aneh-aneh sama dia, kami hanya partner kerja." Kata Gibran sambil berusaha untuk tersenyum
"Kita juga dulu partner kerja." Kata Diandra pelan
"Kamu masih ragu sama aku?" Tanya Gibran sedih
Kali ini Diandra mendongak untuk menatap wajah suaminya yang sulit untuk dia jelaskan, tapi Gibran kelihatannya sedih.
"Kamu masih takut kalau aku bakal aneh-aneh? Aku tau masa laluku memang tidak baik, tapi aku sudah berunah demi kamu." Kata Gibran
"Aku...."
"Aku berusaha untuk profesional dalam hal pekerjaan Diandra dan kalau aku gak sayang sama kamu gak mungkin aku ada disini sekarang." Kata Gibran
Diandra menundukkan wajahnya sambil menggumamkan maaf membuat Gibran tersenyum dan memeluknya.
"Kamu bilang kamu hanya akan percaya padaku saja, tapi kenapa kamu mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang kamu lihat tadi?" Tanya Gibran
"Takut"
"Takut apa?" Tanya Gibran
"Takut kalau cinta yang ada di hati kamu udah hilang"
Gibran tersenyum singkat dia melepaskan pelukannya sambil menyampirkan rambut Diandra ke belakang telinga dan mencium keningnya cukup lama.
"Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan kamu Diandra bahkan aku sampai nekat dan membuat kamu hamil, bagaimana mungkin setelah aku berhasil mendapatkannya aku malah pergi?"
Gibran membawa tangan Diandra ke dadanya dan membuat istrinya itu dapat merasakan detak jantung yang cukup cepat disana.
"Hanya kamu yang bisa membuat jantungku menggila"
Diandra masih diam dengan menatap suaminya.
"Sudah, jangan marah lagi dan lebih baik kita makan, kita belum makan siang"
Kenapa Gibran begitu sabar dan pengertian?
¤¤¤
__ADS_1
Maaf updatenya lamaaa😌