
Masa lalu Diandra dipenuhi kenangan kelam yang membuatnya enggan untuk mengingat semua yang pernah dia lewatkan. Kehidupannya yang dulu penuh tangisan juga luka yang sempat membuatnya enggan untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya dan membuat dia menganggap bahwa semua hubungan itu salah.
Diandra menganggap bahwa semua hubungan pada akhirnya akan berakhir dengan luka dan kecewa.
Orang tuanya yang dulu terlihat baik-baik saja lalu tiba-tiba bercerai dan menikah dengan pilihan masing-masing hingga sama-sama bercerai kemudian memilih untuk rujuk. Tadinya ketika kedua orang tuanya rujuk dan kembali menikah Diandra merasa semua akan baik-baik saja kehidupannya akan kembali seperti sedia kala, tapi dia salah.
Pertengkaran hebat terjadi lagi hingga kecelakaan membuat kedua orang tuanya pergi.
Untuk kesekian kalinya Diandra terluka.
Bukan sekali dua kali dia jatuh cinta pada seorang pria, tapi semuanya tidak ada yang bisa membuat Diandra percaya dan keluar dari jurang yang selama ini membelenggu dirinya. Sampai akhirnya Gibran datang pria yang selalu Diandra anggap hanya bermain-main dengan dirinya, pria yang dikenal selalu memainkan hati wanita, dan pria yang katanya tidak pernah serius dalam menjalin kasih ternyata kini malah menjadi suaminya.
Nyatanya Gibran justru membuatnya percaya.
Gibran menunjukkan keseriusannya dan membantu Diandra keluar dari jurang yang membelenggunya.
Gibran membebaskan Diandra dari semua luka yang menjeratnya.
"Diandra"
Bahkan Diandra begitu suka dengan suara Gibran yang tegas, tapi penuh kelembutan kalau bicara dengannya.
"Diandra"
Kali ini Diandra tersentak ketika merasakan tepukan dibahunya yang ternyata ulah dari suaminya. Baru Gibran ingin bertanya Diandra sudah tersenyum dan berhambur kedalam pelukannya.
"Kamu kenapa melamun? Apa yang kamu fikirkan baby?" Tanya Gibran
Gibran selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayang untuknya.
Bolehkah Diandra mengatakan kalau dia adalah wanita spesial untuk Gibran?
"Baby, kamu mikirin apa hmm?" Tanya Gibran lagi
Diandra melepaskan pelukannya lalu menatap Gibran dengan senyum manisnya dan menggelengkan kepala pelan.
"Aku gak mikirin apa-apa." Kata Diandra
"Bohong, apa yang kamu fikirin? Cerita sama aku." Kata Gibran
"Aku mikirin Daddy." Kata Diandra
Suaranya terdengar manja ditelinga Gibran.
"Aku? Kenapa mikirin aku?" Tanya Gibran
Diandra menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
"Gak papa"
"Kenapa? Apa aku sudah buat kesalahan?" Tanya Gibran
Diandra menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Aku boleh jujur?" Tanya Diandra
"Tentu baby katakan apa yang ingin kamu katakan." Kata Gibran
"Dulu aku memang suka sama Daddy bahkan sebelum kita dekat dan aku juga tidak pernah membayangkan kalau kita akan sedekat itu nantinya, tapi ternyata kita malah menikah." Kata Diandra
"Jadi, dulu kamu juga suka sama aku?" Tanya Gibran sambil menatap wajah istrinya
"Iya jauh sebelum kita dekat dulu aku suka sedih kalau lihat berita Daddy di tv yang pacaran sama artis atau model, tapi aku gak masalah karena waktu itu aku berfikir bahwa aku hanya akan mengagumi Daddy saja." Kata Diandra
"Kenapa? Apa masa lalu kamu itu jadi satu-satunya alasan?" Tanya Gibran
Diandra menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Tidak, tapi memang itu alasan utamanya dan alasan lainnya karena aku merasa tidak pantas bersanding dengan Daddy," Kata Diandra.
Gibran mengusap pipi Diandra dengan lembut dan membuat istrinya itu tersenyum senang, bagi Gibran hanya Diandra yang pantas bersanding dengannya.
"Melihat deretan mantan kekasih Daddy yang berasal dari keluarga terpandang serta memiliki pekerjaan mapan membuat aku gak pernah berfikir lebih jauh dan yang ada difikiranku saat itu hanya, aku mengagumi Kak Gibran." Kata Diandra
"Dan aku berhasil membuat kamu luluh." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Daddy buat aku melanggar janji yang telah aku buat untuk tidak menikah." Kata Diandra
"Aku buat kamu percaya bahwa kita bisa bersama dan membangun sebuah keluarga dalam ikatan pernikahan." Kata Gibran
"Daddy menyelematkan aku dari belenggu masa lalu." Kata Diandra
__ADS_1
"Kamu juga menyelamatkan aku dari pergaulan bebas yang selama ini aku nikmati." Kata Gibran
"Jadi, kita saling menyelamatkan ya?" Kekeh Diandra
"Hmm kita saling menyelamatkan dan kita saling memberikan cinta juga kehangatan." Kata Gibran
Diandra tersenyum senang dia mendongak untuk menatap wajah Gibran lalu mengusap pipinya yang membuat Gibran memejamkan matanya. Melihat hal itu Diandra mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan dan Gibran membuka matanya.
Mata mereka bertemu dan Gibran langsung menarik tengkuk Diandra lalu menciumnya dengan lembut. Sering kali berciuman bersama sang suami membuat Diandra mampu mengimbangi ciumannya dan tidak lagi terengah seperti dulu.
Tangan Diandra terus mengusap pipi suaminya dengan mata yang tetap tertutup.
"Baby"
Diandra menarik nafasnya dalam-dalam ketika mereka sudah selesai, tapi dahi mereka masih menyatu.
"Emm"
"Kamu bahagia menikah denganku?" Tanya Gibran
Senyum Diandra merekah dia mencium sekilas bibir suaminya dan menjauhkan wajahnya.
"Sangat sangat bahagia terima kasih karena Daddy sudah mau menunggu aku dan tetap bertahan meski aku sangat keras kepala dan egois." Kata Diandra
Gibran tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan tangan yang terus mengusap pipi istrinya.
Mereka bertatapan lama hingga Gibran menyingkap rambut Diandra kesamping dan mengecup lehernya.
"Emh"
Behasil membuat sebuah tanda disana Gibran menjauhkan wajahnya lalu beralih mengusap perut Diandra yang sudah membesar.
"Hi baby kapan kamu akan menyapa kami?"
Diandra tersenyum dan mengusap rambut Gibran dengan lembut ketika suaminya itu mencium perutnya lama.
Perkiraan kelahiran satu minggu lagi.
¤¤¤
"Mau makan apa baby?"
Pertanyaan itu Gibran ajukan ketika hari sudah semakin siang yang artinya mereka harus segera makan siang dan belakangan ini Gibran selalu memesan makan atau pergi ke restauran atau ke rumah orang tuanya. Meskipun terkadang sering masak sendiri, tapi Diandra sering kelelahan dan jadi malas melakukan apapun.
"Emm mau apa ya? Gimana kalau kita ke restoran Kak Juna saja?" Tanya Diandra dengan raut wajah berbinar
"Mau makan disana?" Tanya Gibran
Diandra mengangguk dengan semangat membuat Gibran tersenyum dan meminta dia untuk mengganti pakaian dulu.
"Emm gini aja ya? Pakai jaket aja terus udah." Kata Diandra dengan raut wajah menggemaskan
Menghela nafasnya pelan Gibran mengangguk lalu mengambilkan jaket di lemari dan membantu istrinya untuk memakai jaket.
"Dulu jaket ini gede banget aku sampai tenggelam kalau makenya, tapi sekarang pas." Kata Diandra
"Hmm dan sekarang kamu semakin gemesin." Kata Gibran sambil mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas
Bibir Diandra mengerucut sebal dia mencubit lengan Gibran dengan kesal.
"Sakitt tauu"
Gibran tertawa kecil lalu mengusap pipinya dan mencium bergantian.
"Maaf, yaudah yuk kita berangkat." Kata Gibran
Menyambut uluran tangan suaminya Diandra masih memasang wajah cemberut, tapi tetap mengikuti langkah kakinya. Bersama-sama mereka masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan rumah.
Jarak rumah dengan restoran Arjuna tidak terlalu jauh hanya memakan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai kesana. Selama perjalanan Diandra terus menatap suaminya yang terlihat begitu fokus lalu dia melirik perutnya yang membesar dan mengusap dengan penuh kelembutan.
Dia tidak sabar menunggu anak ini lahir ke dunia.
"Daddy"
"Hmm ada apa baby?" Tanya Gibran tanpa menoleh
"Kamu janji kan gak akan ninggalin aku kalau anak kita lahir?" Kata Diandra
Gibran menghela nafasnya pelan ketika mendengar pertanyaan itu lagi, belakangan ini Diandra juga sering bertanya.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu Diandra bahkan kalau nanti anak kita sudah lahir dan sedikit besar aku akan mengajak kamu membuatkan adik untuknya." Kata Gibran
__ADS_1
"Ishh masa mikirkan udah kesana lagi." Keluh Diandra membuat Gibran terkekeh mendengarnya
"Kenapa? Aku ingin memiliki anak yang banyak biar rumah kita ramai mungkin tiga atau empat." Kata Gibran
"Aku juga mau." Kata Diandra malu
"Wah bagus kita memiliki keinginan yang sama kalau begitu." Kata Gibran senang
"Aku enggak punya saudara dan rasanya gak enak, jadi aku mau anak kita punya banyak saudara yang akan membuat dia tidak kesepian." Kata Diandra sambil mengusap perutnya
Gibran tersenyum lalu membelokkan mobilnya begitu mereka sampai di restoran milik Arjuna dan Gibran langsung membukakan pintu untuk istrinya. Dengan sayang dia merangkul Diandra dan bersama-sama mereka masuk ke dalam lalu duduk di tempat yang kosong.
Keadaan restoran cukup ramai dan memang selalu begini setap hari.
"Mau makan apa sayang?" Tanya Gibran ketika seorang pegawai datang dan menanyakan pada mereka
"Emm aku mau ikan bakar dan minumnya jus melon." Kata Diandra
"Samakan saja dengan istri saya." Kata Gibran
Pegawai itu mengangguk faham lalu bergegas pergi untuk menyiapkan pesanan. Di tempat mereka mata Diandra menjelajah dulu dia beberapa kali pergi kesini bersama dengan Sahara.
Saat tengah menunggu pesanan suara cempreng Alana terdengar membuat mereka berdua menoleh dan melihat si cantik Alana yang tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"ANTE ANDLA"
Anak itu terlihat senang dia menarik-menarik baju Sahara yang ada disampingnya.
"Mamii ada Tante Andla." Kata Alana
Sahara ikut mengalihkan pandangannya lalu tersenyum ketika melihat mereka berdua dan berjalan mendekat dengan Alana serta anak yang ada di gendongannya.
"Loh Ra sama siapa?" Tanya Gibran
"Sama Pak Mun habis jemput Alana terus kesini dulu sambil nunggu Angga pulang dan nanti jemputnya sama Mas Juna." Kata Sahara
"Sini Ana." Kata Diandra
Alana tersenyum dan duduk di dekat Diandra dengan penuh kegembiraan.
"Kalian sudah memesan?" Tanya Sahara
"Sudah"
"Yaudah ayo Ana kita ke tempat Papi." Kata Sahara
"Emm Ana mau sama Tante Andla dan Paman Iban." Kata Alana
"Biarkan saja Ra." Kata Gibran
"Yaudah nanti kalau Paman Gibran sama Tanta Diandra sudah selesai minta anter ke ruangan Papi ya?" Kata Sahara
Alana mengangguk patuh lalu melambaikan tangannya pada Sahara yang berjalan ke ruangan suaminya.
"Ana sini Paman pangku." Kata Gibran
Wajah Alana berseri senang dia turun dari tempat duduknya dan menghampiri Gibran yang langsung pria itu bawa ke pangkuannya.
"Gimana sekolahnya sayang?" Tanya Gibran
"Baik hali ini Ana belajal menghitung." Kata Alana
"Wah Ana pintar sekali pasti sekarang." Kata Diandra sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang
"Ana tidak belajar bicara R." Kata Gibran bercanda
Wajah Alana langsung cemberut dia mencubit lengan Gibran dengan kesal membuat Diandra langsung memperingatinya.
"Kak Gibran"
"Paman nakal Ana malah." Kata Alana
Gibran tertawa kecil lalu mencium puncak kepala Alana dengan sayang, dia senang sekali mengganggu keponakannya.
"Ana lucu sekali sayang kalau cemberut gitu"
Diandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dia tidak bisa membayangkan bagaiamana Gibran dengan anaknya sendiri nanti?
¤¤¤
__ADS_1
Maaf ya sudah buat menunggu😊
Mungkin memang sekarang proses reviewnya agak lama☺