
Delapan bulan usia kandungannya Diandra semakin merasa malas untuk melakukan apapun dan lebih suka menghabiskan waktunya dengan berbaring di ranjang atau menonton tv atau bermain bersama anaknya. Suaminya masih bekerja dia juga cukup sibuk dengan pemotretan katanya Gibran akan libur ketika usia kandungan Diandra sudah masuk sembilan bulan.
Mereka benar-benar begitu harmonis bahkan nyaris tidak pernah ada lagi perdebatan padahal dulu mereka selalh berdebat. Entah karena Diandra yang keras kepala atau Gibran yang terlalu banyak memaksa.
Sekarang mereka benar-benar berusaha untuk saling memahami demi keluarga yang bahagia. Setidaknya mereka berdua harus bisa menahan ego masing-masing dan belajar untuk tidak egois.
Pernah waktu itu Diandra terus mengomel pada Gibran karena pria itu tidak menanggapi ucapannya dan sibuk berbaring sambil memejamkan matanya, tapi ketika dia mendengar perkataan suaminya Diandra langsung merasa bersalah.
'Aku lelah sayang ada banyak sekali pemotretan hari ini belum lagi ada yang minta untuk take ulang'
Rasanya dia sudah menjadi istri yang jahat yang karena tidak melihat bahwa suaminya juga lelah. Gibran telah bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka, tapi dia banyak mengeluh.
Pagi ini Diandra berniat membuat sarapan hanya sarapan sederhana, dia ingin membuat omlette telur dengan sosis juga beberapa sayuran. Sekarang Gavin tidak rewel lagi meskipun kalau sudah bangun selalu menangis, tapi Gibran sudah bisa menenangkannya.
Berbeda dengan dulu dimana Gavin hanya akan diam kalau bersama Diandra.
"Biar saya bantu nyonya"
Perkataan itu membuat Diandra menoleh lalu melihat Bi Diah yang menghampirinya.
"Tidak perlu Bi aku hanya ingin buat ini saja kok." Kata Diandra
"Tidak papa biar saya bantu." Kata Bi Diah
"Emm kalau gitu bantu aku menata meja makan saja dan biarkan aku yang menyelesaikan ini semua." Kata Diandra
Tidak bisa menolak titah majikannya Bi Diah hanya bisa mengangguk lalu pergi ke ruang makan untuk menata meja makan dan mempersiapkan piring serta minum.
Kembali pada Diandra yang tengah begitu antusias dengan omlette buatannya yang masih dia masak, sebentar lagi matang. Rasanya Diandra sudah sangat lapar dan ingin segera memakan masakan buatannya sendiri.
Saat tengah disibukkan dengan masakan Diandra mendengar langkah kaki yang disusul dengan suara anakmya membuat dia menoleh lalu tersenyum.
"Mamaa"
"Eh Gavin sayang sudah bangun?" Tanya Diandra
"Mamaa cucuu"
"Noo susunya nanti saja sayang kita makan dulu ya? Mommy sudah siapkan omlette spesial untuk kamu." Kata Diandra
"Untuk Gavin? Not for me baby?" Tanya Gibran sedikit merajuk
"Untuk kita semua Daddy Ibannn." Kekeh Diandra
"Kenapa tidak minta bantuan Bi Diah?" Tanya Gibran
"Hm tidak papa aku hanya ingin masak sendiri saja, kamu nanti ke butik atau studio?" Tanya Diandra
"Ke kamar sayang, aku libur." Kata Gibran
"Liburr?! Jadi, aku bisa manja-manja dong." Kata Diandra senang
"Iya"
"Yaudah kamu tunggu di ruang makan aja sama Gavin ini juga bentar lagi selesai kok." Kata Diandra
"Hm aku sudah sangat lapar." Kata Gibran
"Iyaa ini sebentar lagi." Kata Diandra
Tersenyum senang Gibran pergi ke ruang makan dan menunggu Diandra disana sambil bermain dengan Gavin yang dia dudukkan di atas meja.
"Dadaa mamam"
"Sebentar lagi Gavin sayangg." Kata Gibran
"Mamamm"
"Iya sayang sebentar ya?" Kata Gavin sambil mencium pipi anaknya
__ADS_1
Tak lama setelahnya Diandra datang dan membawa omlette yang telah siap lalu meletakkannya di meja. Setelah itu dia duduk dan membawa Gavin untuk duduk di sampingnya.
"Mommy suapin ya sayang?" Kata Diandra
"Mamamm"
Diandra tersenyum sambil mengambil piring, dia hanya akan memberikan omlette nya saja tanpa memberikan nasi karena biasanya Gavin selalu meminta susu meskipun sudah makan.
"Daddy ambil sendiri gak papa ya? Aku mau menyuapi Gavin." Kata Diandra
"Iya sayang"
Bukan mengambil makan Gibran justru fokus pada Diandra yang sibuk menyuapi anaknya dengan telaten sambil sesekali mengusap sudut bibir anaknya. Memang Gavin sangat suka makan apalagi omlette makanya Diandra sesekali membuat omlette untuk anaknya dan tentu saja untuk suaminya juga.
"Kamu mau aku suapi juga sayang?" Tanya Gibran
Diandra menoleh lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak aku akan makan sendiri saja nanti." Kata Diandra
"Mamamm"
"Ya ampun Gavin rakus sekali." Kekeh Diandra sambil menyuapi anaknya lagi
"Habis ini masih minum susu juga pantas saja pipinya itu tembam sekali." Kata Gibran
"Biarkan saja Daddy aku justru senang anak kita sangat suka makan." Kata Diandra
"Hm aku juga sayang karena dia akan selalu sehat." Kata Gibran
Diandra tersenyum sambil menatap anaknya yang tengah mengunyah, dia selalu memotong omlette yang akan diberikan dengan sangat kecil agar Gavin tidak kesusahan.
"Karena aku libur kamu ingin sesuatu? Mungkin jalan-jalan?" Saran Gibran
Diandra menoleh dan melihat suaminya yang tengah mengambil nasi juga omlette buatannya.
"Em anak kita kan perempuan, bagaimana kalau kita ke toko bayi? Aku mau beli baju." Kata Diandra
Selama kurang lebih tiga puluh menit mereka baru menyelesaikan sarapan dan Bi Diah bergegas merapihkan meja lalu mencuci piring kotor. Masih di ruang makan Gibran menurunkan anaknya dari kursi lalu mengajaknya untuk kembali ke kamar.
Tapi, Gavin malah mendekat pada Diandra dan mengatakan hal yang membuat kedua orang tuanya tersenyum geli.
"Mama cucu au cucu"
"Habis mamam masa minum susu." Kata Diandra
"Cucu au cucu"
Tertawa kecil Diandra menunduk lalu mencium pipi anaknya dan berjalan ke dapur untuk membuatkan susu.
"Sebentar ya sayang biar aku buatkan susu dulu untuk Gavin." Kata Diandra
Gibran mengangguk singkat lalu menggendong tubuh anaknya dan mengikuti Diandra hingga ke dapur.
Setelah selesai membuatkan susu Diandra memberikannya pada Gavin yang langsung girang dan meminum susunya dengan semangat.
"Kamu mandi duluan saja sayang biar Gavin sama aku ya?"
Diandra mengangguk lalu mendekat dan mencium sekilas bibir suaminya sebelum pergi ke kamar untuk mandi.
Meninggalkan Gibran bersama dengan Gavin.
¤¤¤
Ada banyak sekali perubahan yang dirasakan oleh Gibran semenjak dia mengenal serta menikah dengan Diandra dan memiliki anak juga. Sekarang tidak ada lagi Gibran yang suka keluar malam atau Gibran yang egois dan keras kepala.
Entah kenapa sekarang Gibran selalu mengalah pada istrinya karena dia tidak mau bertengkar atau membuat keretakan di hubungan rumah tangganya. Bukan sekali dua kali dia berusaha sabar pada Diandra yang sering kali merajuk atau marah padanya untuk hal-hal sepele, tapi dia tidak pernah marah.
Gibran tidak pernah membentak.
__ADS_1
Dia sangat suka menatap Gavin juga Diandra ketika mereka tengah terlelap, dia suka memberikan ciuman diam-diam di dahinya.
Ah iya sekarang mereka sudah berada di toko bayi dan Diandra terlihat begitu senang, dia memilih banyak barang mulai dari baju, sepatu hingga mainan bayi. Semua yang dia beli berwarna merah muda atau biru karena Diandra memang sangat suka kedua warnanya.
"Sayang, bagus kan? Lucu ya?" Kata Diandra sambil menunjukkan pakaian bayi yang berukuran sangat kecil
"Hm lucu, tapi kamu tidak mau mencari warna lain?" Tanya Gibran
Dia menggenggam tangan anaknya yang terlihat tenang dengan mainan yang tadi diambilkan Diandra di tangannya.
"Tidak anak kita kan perempuan, jadi aku mau beli warna pink." Kata Diandra dengan senyuman
"Baiklah, kamu ingin mencari apa lagi?" Tanya Gibran
"Emm kayaknya udah, bayar aja deh yang ini udah banyak banget." Kata Diandra sambil menunjukkan cengirannya
"Benar sudah tidak ada lagi?" Tanya Gibran memastikan
"Sudah"
Mengangguk singkat Gibran menggendong anaknya lalu pergi ke kasir dan menyerahkan semua belanjaannya termasuk mainan yang tadi di pegang Gavin.
"Dadaa ainn"
"Iya sayang sabar kita bayar dulu ya?" Kata Gibran
Setelah selesai menghitung semuanya Gibran mengambil dompet di saku celananya dan membayar semua belanjaannya. Membawa semua kantung belanjaan mereka pergi ke parkiran dan Diandra langsung menaruh semuanya di jok belakang lalu masuk ke dalam mobil.
Anaknya kini berada di pangkuan Diandra sambil memegang mainannya dan terlihat asik sendiri.
"Sayang aku mau makan ice cream." Kata Diandra
"Iya kita ke kedai ice cream ya?" Kata Gibran
Diandra mengangguk singkat lalu mengusap kepala Gavin dengan lembut dan menciumnya membuat anak itu mendongak sambil menatapnya dengan lugu.
"Ainn"
"Main? Gavin sedang main hmm?" Kata Diandra
Seolah mengerti Gavin menganggukkan kepalanya sambil mengangkat mainannya.
Sekitar lima belas menit perjalanan mobil Gibran terparkir di salah satu kedai ice cream dan mereka bersama-sama masuk ke dalam. Setelah memesan mereka menunggu dan tak butuh waktu lama untuk dua mangkuk berukuran besar ice cream sampai ke meja mereka yang membuat Diandra merasa begitu bahagia.
Gavin ada di dekat Gibran anak itu tengah asik bermain hingga Gibran sedikit menyuapi anak itu ice cream miliknya.
"Agii agii"
Tertawa kecil Gibran menyuapi lagi Gavin dengan ice cream miliknya dan Diandra dia terlihat asik memakan ice cream miliknya dengan semangat.
Diandra terlihat begitu senang hingga tiba-tiba dia merasa dadanya sesak tanpa alasan lalu dia menatap Gibran yang tertawa kecil sambil mengusap sudut bibir anak mereka.
Dada Diandra semakin sesak melihatnya dan Gibran tanpa sengaja melihat Diandra yang menatapnya dengan diam.
"Sayang?"
Diandra tersentak lalu menatap Gibran yang tengah tersenyum padanya.
"Ada apa?" Tanya Gibran dengan lembut
Hanya gelengan singkat yang dapat Diandra berikan, dia juga tidak tau dia kenapa.
Tapi, yang jelas perasaan Diandra sangat tidak enak entah karena alasan apa.
Dia merasa sedikit.... takut.
¤¤¤
Hai haii aku minta maaf karena kemarin gak update yaa :(
__ADS_1
Jadi, ada kejadian tidak menyenangkan aku telat ngumpul tugas karena salah lihat jam ternyata itu jam 12 malam dan aku ngiranya jam 12 siang😳
Hfftt yaudahlah gak papa hehe😂 ehh kira-kria itu Diandra kenapa yaaaa???