Obsession

Obsession
Gavin (4)


__ADS_3

Rumah orang tua Gibran merupakan tempat yang paling di sukai anak-anak karena di sana kedua orang tua Gibran akan sangat memanjakan cucu mereka apalagi Dara dan lagi di sana mereka bebas melakukan apapun karena tidak akan ada yang melarang kalau di rumah sih beda. Di rumah yang sedikit cerewet itu Diandra menonton TV terlalu dekat di marah makan mie instan terlalu sering juga di larang kalau sama Gibran lebih aneh lagi karena Gibran justru pernah memarahi Galen karena terlalu asik belajar.


Intinya rumah yang menjadi surga untuk anak-anak Gibran adalah rumah Oma dan Opa mereka karena di sana Gibran atau Diandra tidak akan bisa melarang. Sekarang mereka baru saja sampai di rumah orang tua Gibran dan anak-anak dengan penuh semangat langsung turun dari mobil.


Danira dengan penuh semangat bergegas masuk ke dalam rumah lalu berseru kencang dan berlari menghampiri Dara yang tersenyum senang melihat kedatangan mereka.


"OMAAA"


Dara tertawa senang ketika Danira memeluknya dengan begitu erat dan dari sini dia dapat melihat ketiga cucunya yang lain serta Gibran dan Diandra yang masuk ke dalam rumah. Melepaskan pelukannya Dara memeluk yang lainnya secara bergantian dan Danira sudah berpindah ke pelukan Farhan.


"Sini duduk dulu." Kata Dara


"Opa apa kabar?" Tanya Danira yang masih belum melepaskan pelukannya


"Baik sayang." Kata Farhan sambil mengusap kepala cucunya dengan sayang


Begitu duduk Danira masih setia memeluk Opa nya dari samping, dia terlihat manja sekali.


"Mau makan enggak?" Tanya Farhan


"Enggak mau yupii." Kata Danira membuat Farhan tertawa kecil mendengarnya


"Ada di dapur." Kata Farhan


Danira tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan pergi ke dapur meninggalkan yang lainnya.


"Astaga anak itu susah sekali di bilangin suka sekali makan makanan manis." Kata Gibran


"Biarkan saja Gibran." Kata Dara


"Oma tidak tau saja di kamar Kak Ila itu ada permen satu toples." Kata Davin


Tak lama Danira datang dengan senyuman di wajahnya dia membawa yupi kesukaannya lalu duduk di samping Galen.


"Mau gak?" Tanya Danira


Galen menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ila jangan banyak-banyak." Kata Diandra


"Em mau makan banyak." Kata Danira membuat Diandra menghela nafasnya pelan


"Sudah Diandra biarkan saja." Kata Dara


"Tuh Mommy kata Oma enggak papa." Kata Danira


Diandra hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan memang susah sekali memberi tau Danira karena anak itu pasti selalu ada alasan.


"Sini La minta"


Danira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Enggak boleh kalau Kak Gavin yang minta." Kata Danira


"Pelit banget minta satu." Kata Gavin


"Enggakkk"


"Aku minta Kak." Kata Davin


Mendengar hal itu Danira tersenyum lalu memberikan permen miliknya pada Davin membuat Gavin kini berdecak kesal, selalu saja pilih kasih.


Kalau untuk adiknya Danira pasti baik, tapi kalau untuk Gavin jangan ditanya.

__ADS_1


"Gimana sekolahnya cucu Oma?" Tanya Dara


"Baik Oma"


"Ya sekolah mereka baik Ma sama sekali tidak ada masalah." Kata Gibran


Beruntung memang anak-anaknya tidak pernah membuat masalah di sekolah mungkin hanya sesekali datang terlambat saja, tapi bukan masalah besar itu adalah hal yang biasa.


Setidaknya Gibran bisa merasa sangat tenang karena dulu ketika masih sekolah orang tuanya sering kali dipanggil ke sekolah karena kenakalannya.


Mereka tidak pernah mau mencari masalah karena takut dengan Diandra.


Pernah sekali Gavin berkelahi dan pulang dengan wajah penuh luka lalu Diandra mengobatinya sambil mengomel setelahnya Gavin harus menghadapi Mommy nya yang enggan bicara dengannya.


Iya Diandra benar-benar mendiamkan Gavin selama tiga hari penuh dan hal itu sudah cukup membuat anak-anaknya takut untuk membuat masalah.


Diamnya Diandra itu sangat menyeramkan.


°°°°


Melukis merupakan salah satu kegiatan yang sangat Danira gemari bahkan setelah pulang dari rumah Oma dia langsung pergi ke ruang melukis dan kembali berkutat dengan kuas hingga membuat tangannya mulai berwarna. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Danira masih belum mau berhenti dia ingin menyelesaikan lebih dulu lukisannya sebelum tidur.


Sayangnya saat dia tengah asik melukis pintu terbuka dan ternyata ada Gibran yang masuk ke dalam sambil tersenyum membuat Danira ikut menyunggingkan senyuman manisnya. Duduk tepat di samping anaknya Gibran memperhatikan lukisan yang anaknya sedang buat.


"Cantik sekali"


Pujian itu membuat Danira tersenyum senang, dia suka sekali ketika ada yang memuji hasil karyanya.


"Belum selesai." Kata Danira


"Belum selesai saja sudah secantik ini apalagi kalau sudah selesai." Kata Gibran


"Daddy kenapa belum tidur?" Tanya Danira


"Belum ngantuk terus ini belum selesai." Kata Danira


"Tidur dulu besok sekolah nanti kesiangan." Kata Gibran


Menghela nafasnya pelan Danira mengangguk patuh lalu meletakkan kuas yang tadi ada digenggaman nya.


"Tidur dulu ya?" Kata Gibran


Danira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Yaudah habis ini langsung ke kamar." Kata Gibran


"Iya Dad"


Setelah membereskan semua barang-barang yang tadi Danira gunakan dia mencuci kedua tangannya lalu pergi ke kamar. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang Danira meraih ponselnya yang ada di bawah bantal lalu senyumnya mengembang melihat nama pria yang dia sukai muncul.


Ada beberapa pesan yang Arsaka kirimkan untuknya membuat Danira benar-benar merasa senang bahkan dia sama sekali tidak mengantuk sekarang.


Daniraa udah tidur?


Masa udah tidur? Biasanya jam segini belum


Kangen Ra mau telpon boleh?


Beda sekali memang kalau di chat mereka sangat dekat, tapi jika bertemu langsung untuk mengobrol aja sungkan. Bukan karena malu melainkan karena ada Gavin yang selalu membatasi keduanya.


Belum Kak


Aku habis melukis hehe kalau mau telpon boleh

__ADS_1


Tak butuh waktu lama pesannya di baca dan Danira langsung mendapatkan balasan.


Rajin banget sih cantik


Telpon sekarang gak papa?


Ada Gavin enggak?


Danira melangkahkan kakinya dan beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu untuk melihat keadaan.


Kelihatannya aman tidak ada Gavin yang mungkin akan muncul secara tiba-tiba biasanya jam segini Kakaknya itu sudah tidur.


Enggak ada Kakk aman hehe


Tak lama panggilan telpon masuk membuat Danira tersenyum senang lalu tanpa berpikir langsung mengangkat telponnya dan duduk di ranjang.


"Halo Kakk"


'Akhirnya bisa denger suara kamu'


"Kakak belum tidur?" Tanya Danira


'Belum ngantuk'


"Aku juga belum, tapi tadi sama Daddy suruh udahan melukisnya padahal belum selesai." Kata Danira


'Besok di lanjut lagi eh Ra mau gak jalan besok sepulang sekolah?'


"Enggak berani izin sama Kak Gavin." Kata Danira sambil menghela nafasnya pelan


'Kayak biasa Ra'


"Emm nanti bilang Manda dulu kalau dia mau aku jadiin alasan nanti aku kabarin ya?" Kata Danira


Saat sedang asik telponan pintu tiba-tiba terbuka membuat mata Danira melotot ketika melihat Gavin yang masuk ke dalam kamar.


"Iya Manda enggak ada tugas kok." Kata Danira berusaha bersikap tenang ketika Kakaknya melangkahkan kaki ke dalam


'Hah? Oh ada Gavin ya?'


"Iya ish bener enggak ada tugas." Kata Danira


Arsaka tertawa di sebrang sana, susah sekali mau mendekati Danira.


Di tempatnya Gavin menatap Danira dengan mata memicing lalu mendekat membuat Danira hanya tersenyum.


"Kenapa Kak?" Tanya Danira


Gavin tak menjawab dia meraih ponsel Danira membuat adiknya itu langsung merengek pelan.


"Ihh balikin"


Berdecak pelan Gavin menatap Danira dengan kesal lalu meletakkan ponsel adiknya itu di telinga dan bicara dengan ketus pada Arsaka.


"Sejak kapan nama lo berubah jadi Manda?"


Ah siall susah sekali mau bicara dengan Arsaka bahkan meskipun hanya lewat telpon.


°°°°


Aku updateee🥰


Masih bingung visual Galen sama Davin😩

__ADS_1


__ADS_2