
Tujuh bulan kehamilan Diandra sekarang perut wanita itu sudah semakin besar dan setiap malam Gibran selalu mengusapnya sambil mengajak bicara anaknya yang masih di dalam kandungan meskipun tau anaknya tidak akan mendengar, tapi Gibran suka melakukannya. Rasanya benar-benar membahagiakan Gibran tidak menyangka kalau dia akan seperti ini, menikah hingga ingin memiliki seorang anak dan dia juga tidak menyangka kalau dia bisa menjadi pria yang bertanggung jawab.
Bukan hanya Gibran bahkan orang tua serta teman-temannya juga senang melihat perubahan yang dimiliki oleh Gibran. Dulu Gibran acuh ketika kekasihnya dekat dengan pria lain, tapi sekarang dia tidak membiarkan seorang pria menatap istrinya meski hanya sesaat.
Gibran terus menekankan bahwa Diandra hanya miliknya.
Pagi ini Gibran bangun lebih dulu dia terdiam sambil menatap wajah Diandra yang sekarang pipinya semakin tembam, menggemaskan. Tidak pernah terbayang kalau dia akan segila ini hanya karena Diandra bahkan sampai pernah melakukan cara yang salah untuk membuat Diandra tetap disisinya.
Diandra begitu polos senyumnya memabukan dan meski hanya berpenampilan sederhana dengan kemeja serta celana jeans dia tetap terpikat, pesona Diandra menariknya mendekat.
Gibran masih ingat dulu dia menganggap Diandra itu layaknya anak kecil apalagi usia mereka yang memang terpaut empat tahun, dia sering meledek Diandra dulu. Lebih dari itu Gibran pernah menggodanya setiap kali Diandra diantar atau dijemput oleh Renald, tapi sekarang tau kalau pria itu masih menghubungi istrinya saja Gibran sudah marah.
Dia juga masih ingat kebingungan Diandra ketika Gibran menciumnya untuk pertama kalu, masih teringat jelas ekspresi wajahnya yang terkejut.
'Kakak ngapain cium bibir aku?'
Wajahnya memerah hingga ke kuping membuat Gibran saat itu merasa gemas dan kembali menciumnya.
Semua yang ada di diri Diandra membuat Gibran candu dan sekarang dia benar-benar tidak ingin melepaskan istrinya. Melihat Diandra yang masih tertidur lelap Gibran tersenyum lalu mencium keningnya lama dan memeluknya, menyandarkan dagunya di kepala Diandra.
"Ehmm Kak"
Gibran tersenyum dan mengusap rambut Diandra dengan sayang.
"Tidur saja kalau masih ngantuk, maaf mengganggu tidur kamu." Kata Gibran pelan
Bergumam pelan Diandra mengeratkan pelukannya dan bertanya dengan suara pelan.
"Jam berapa?" Tanya Diandra
"Jam tujuh"
Mendengar hal itu mata Diandra langsung terbuka dan dia melepaskan pelukannya membuat Gibran menatapnya dengan alis bertaut.
"Kenapa?" Tanya Gibran
"Ehm belum masak nanti kita kelaparan." Kata Diandra membuat Gibran terkekeh pelan mendengarnya
"Bisa pesan baby." Kata Gibran
"Tidak, aku mau masak sendiri saja." Kata Diandra
"Mau mandi dulu apa gimana?" Tanya Gibran sambil mengusap pipi Diandra dengan lembut
"Emm masak dulu aja terus makan sekarang cuci muka dulu." Kata Diandra
Gibran mengangguk lalu refleks membantu Diandra ketika istrinya itu ingin bangun. Sekarang dia selalu berada di dekat Diandra karena merasa takut kalau istrinya jatuh atau terpeleset.
Masalahnya Diandra itu ceroboh sekarang pernah Diandra hampir terpeleset ke kolam renang ketika dia mengajak Gibran untuk berenang. Selain itu Diandra pernah hampir jatuh dari tangga karena tidak melihat ke depan.
Istrinya itu sering membuat Gibran ngeri sendiri.
"Daddy tidak mau mandi?" Tanya Diandra
"Aku akan bantu kamu dulu." Kata Gibran
"Tidak perlu Daddy aku bisa sendiri." Kata Diandra sambil tersenyum
"It's okay aku hanya ingin membantu kamu saja." Kata Gibran
Tidak bisa menolak Diandra hanya diam saja dan dia tersenyum ketika Gibran membantu untuk mengeringkan wajahnya sehabis dia cuci muka. Selain itu Gibran juga membantu merapihkan rambutnya dan mengikat ke belakang tanpa ikat rambut.
Setelah selesai Gibran juga membantu Diandra untuk pergi ke dapur dan baru melepaskan tangannya ketika mereka sampai di dapur. Dengan senyuman Diandra membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran dari sana serta ayam yang hanya tinggal dia goreng saja.
__ADS_1
Gibran itu suka sekali ayam.
"Daddy ada rencana apa hari ini?" Tanya Diandra ketika Gibran mengambil alih sayuran yang dia bawa dan meletakkannya di meja
"Aku? Hari ini aku mau ke studio kamu mau ikut kan?" Tanya Gibran
"Emm mau ikut." Kata Diandra dengan senyuman
Sekarang Diandra mengambil pisau lalu memotong sayuran dengan hati-hati masih ditemani oleh Gibran.
"Mau masak apa hmm?" Tanya Gibran
"Mau masak sup sama goreng ayam untuk Daddy." Kata Diandra
"Kamu bosan Diandra?" Tanya Gibran
"Bosan apa?" Tanya Diandra bingung
"Kamu bosan hanya berdiam diri di rumah?" Tanya Gibran
"Emm bosan apalagi kalau Daddy tidak ada." Kata Diandra
"Sebentar lagi akan ada anak kita yang menemani kamu kalau aku bekerja." Kata Gibran
"Iya nanti aku bisa main sama anak kita di rumah." Kata Diandra dengan senyuman
Gibran ikut tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang menyandarkan kepalanya di bahu Diandra sambil megusap perut buncitnya.
"Aku ingin melihat jagoanku lahir." Kata Gibran
"Aku juga sudah tidak sabar." Kata Diandra yang masih tetap fokus pada kegiatannya
"Aku sudah menyiapkan nama untuknya." Kata Gibran
"Siapa?" Tanya Diandra
"Terus kenapa bilang sama akunya sekarang." Keluh Diandra
"Sorry baby"
Diandra hanya terdiam dengan senyuman tipis lalu meminta Gibran untuk melepaskan pelukannya karena dia ingin mencuci sayuran.
"Biar aku sayang"
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Gibran langsung mengambil semua sayuran yang ingin Diandra cuci. Melihat hal itu Diandra hanya bisa tersenyum, Gibran sangat perhatian bahkan untuk hal sekecil apapun.
"Daddy nanti habis dari studio aku mau ke rumah Mama ya?" Kata Diandra ketika Gibran sudah ada disampingnya lagi
"Rumah Mama? Hmm boleh nanti kita kesana." Kata Gibran
Diandra tersenyum lalu kembali melanjutkan kegiatannya dan memasak untuk sarapan mereka dengan Gibran yang terus memperhatikannya.
Sekitar kurang lebih dua puluh lima menit Diandra telah selesai dan lagi dengan dibantu oleh Gibran mereka menatanya di meja makan. Setelah selesai Diandra langsung mengambilkan makan untuk suaminya dan melakukan hal yang sama juga untuknya.
Mereka duduk bersebelahan dengan Gibran yang terus menatapnya sambil tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Kenapa belum makan?" Tanya Diandra
"Aaa"
Bukan menjawab Gibran malah membuka mulutnya meminta untuk disuapi membuat Diandra tertawa kecil melihatnya, tapi tetap menyuapi Gibran.
Pagi yang sangat indah untuk mereka berdua.
__ADS_1
¤¤¤
Studio milik Gibran merupakan tempat yang menenangkan untuk Diandra apalagi ruangan suaminya yang dipenuhi dengan fotonya. Sejak setengah jam lalu Diandra hanya diam selagi suaminya melakukan pemotreran di luar.
Tadinya ruangan milik Gibran hanya dipenuhi dengan foto-foto keindahan alam atau Sahara juga Ghina, tapi sekarang ada banyak foto miliknya juga disana. Tentu saja Diandra merasa sangat senang dia membuka laci-laci meja Gibran untuk melihat-lihat, tapi tidak apapun selain kertas-kertas foto kosong.
Menghela nafasnya pelan Diandra kembali ke sofa dan membuka cemilan yang tadi di belikan suaminya. Di depannya ada layar laptop yang menyala dan sedang memutar film, tapi tidak menarik untuk Diandra jadi dia malas menontonnya.
Mulai merasa bosan Diandra berjalan keluar ruangan dan melihat suaminya yang sedang fokus dengan kamera serta objek yang sedang dia foto. Senyum Diandra mengembang suaminya tampan sekali kalau sedang fokus pada kameranya.
"Hei"
Sedikit tersentak Diandra menoleh ketika pundaknya di tepuk dan senyumnya mengembang ketika *** bahwa orang itu adalah Anika.
Iya, Gibran memang sedang melakukan pemotretan untuk salah satu client Anika.
"Hai Kak"
"Kamu ikut ternyata aku kira Gibran sendirian." Kata Anika sambil tersenyum
"Iya aku bosan Kak kalau di rumah tidak ada teman." Kata Diandra
"Hmm pasti aku juga bosan kalau hanya diam di rumah, by the way gimana dengan kandungan kamu? Apa dia baik di dalam sana?" Tanya Anika
"Anakku baik Kak kami rutin periksa ke dokter dan dokter bilang dia sangat sehat." Kata Diandra membuat Anika tersenyum mendengarnya
"Syukurlah aku senang mendengarnya." Kata Anika
Dulu dia sempat bertanya-tanya ketika berita serta foto Gibran bersama Anetta tersebar, tapi dia lega ketika tau mereka baik-baik saja.
Dia tidak suka sekali dengan Anetta entah karena apa.
"Diandra"
"Iya Kak?"
"Anetta itu wanita licik dari dulu aku tidak suka dengan dia, percayalah pada Gibran aku sudah mengenal dia cukup lama dan dia tidak pernah secinta ini dengan wanita hanya kamu yang membuatnya begitu." Kata Anika
Diandra tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Kakak sama Kak Gibran teman kuliah?" Tanya Diandra
"SMA"
"Oh waw sudah lama sekali ternyata." Kata Diandra
"Hmm karena itu aku berani bilang kalau aku cukup mengenalnya, dia benar-bener mencintai kamu." Kata Anika
"Iya Kak aku tau." Kata Diandra dengan senyum manisnya
"Sehat selalu untuk kamu dan kandungan kamu semoga persalinannya nanti lancar." Kata Anika sambil tersenyum tulus
Dia mengusap pelan bahu Diandra membuat Diandra tersenyum, dia suka Anika wanita itu baik sekali padanya.
"Sayang"
Suara Gibran membuat Diandra mendongak dan menatapnya, tapi tubuh Diandra membeku matanya fokus pada satu titik ketika Gibran sedang meminum air mineralnya.
Menggelengkan kepalanya dengan cepat Diandra membenci fikirannya yang semakin tidak karuan hanya karena melihat jakun Gibran yang naik turun ketika pria itu sedang minum.
Kenapa suaminya bisa setampan itu ketika sedang minum?
__ADS_1
¤¤¤
Update lagiii yeee😚