
Gibran tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang, tapi yang jelas dia merasa dadanya sangat sesak hingga Gibran tidak sanggup menatap mata Ghina yang dipenuhi kesedihan juga luka. Biasanya setiap kali menatap mata adiknya dia akan melihat binar disana dan setiap kali bertemu Ghina akan selalu memeluknya serta menjahilinya.
Sekarang yang mereka lakukan hanya duduk berdampingan, tidak mau saking bertatapan dan sibuk dengan fikirannya masing-masing. Setelah percakapan penuh emosi antara Gibran dan Alden, kekasih adiknya itu langsung pergi dan Gibran juga tidak berniat menahannya karena dia masih ingin bicara pada Ghina.
Rasanya benar-benar menyakitkan bahkan sesak sekali membayangkan bagaimana pria itu memaksa Ghina untuk melakukannya. Ditambah lagi melihat luka di sudut bibir adiknya dan keberadaan adiknya yang sangat kacau di apartemennya.
Gibran tidak tau lagi harus bagaimana.
"Kak"
"Kamu bisa ceritakan bagaimana semua itu bisa terjadi? Bagaimana kamu bisa sampai disini?" Tanya Gibran sambil menatap mata adiknya
Ghina terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya pelan dan mulai menceritakan semua kejadiannya tanpa ada satupun yang terlewat.
"Pestanya jam sembilan malam Kak.... aku datang bersama Alden dan kami berpesta disana sama yang lainnya juga, semua baik-baik aja Kak sampai..."
Menggantungkan kalimatnya Ghina menatap Kakaknya dengan ragu, tapi Gibran meraih tangannya memberikan usapan lembut dana menganggukkan kepalanya.
"Sampai minuman beralkohol itu dikeluarkan ketika jam sebelas malam... aku tidak tau kalau Alden sangat suka minum.. dia minum sangat banyak,"
Menghela nafasnya pelan Ghina mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dia mabuk berat dan aku mengajaknya pulang, tapi dia tidak mau dan malah menarik tangan aku... dia memaksa aku untuk mengikutinya,"
Melihat adiknya yang ingin menangis lagi Gibran mengusap pipinya dengan penuh kasih sayang membuat Ghina tersenyum tipis sambil menatapnya.
"Dia membawa aku ke kamar hotel... dia bilang.. dia bilang Naisa sudah memesannya,"
Ghina terisak dan menghapus air matanya.
"Memesan? Apa dia memang sudah merencanakannya?!" Tanya Gibran marah
"Bukan Kak... Naisa memang memesan beberapa kamar hotel karena... tau kalau pestanya sampai malam bahkan pagi dan Alden membawa Ghina ke salah satu kamar.. dengan paksa,"
Menghela nafasnya kasar Gibran mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Ghina.. Ghina takut Kak dia memaksa Ghina melakukannya dan memukul aku ketika aku mendorong tubuhnya.. dia memaksa Ghina melakukannya." Isak Ghina
Ghina menangis dengan keras membuat Gibran langsung menariknya ke dalam pelukan hangat.
"Sakit Kak... tubuh dan hati aku sakit... saat pagi... Ghina pergi dengan memakai pakaian aku lagi dan mengambil jas miliknya Ghina naik taxi,"
Mencengkram kuat baju yang Kakaknya pakai Ghina semakin terisak dipelukannya.
"Semua orang melihat Ghina... mereka pasti berpikir... kalau.. kalau Ghina ini jalang..mereka pasti..."
Mendengar hal itu Gibran langsung melepaskan pelukannya dan menangkup wajah adiknya sambil menghapus derai air mata yang ada disana.
"Mereka pasti berpikir Ghina wanita murahan... Kak aku sudah hancur Kak... Ghina benar-benar hancur." Isak Ghina
"Ghina jangan bicara begitu." Kata Gibran
"Kak.. Ghina gak akan berharap Alden akan benar-benar datang.. karena.. karena dia akan dijodohkan dengan orang tuanya... dia akan pergi ninggalin Ghina." Isak Ghina
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu masih bertahan dengan dia?" Tanya Gibran pelan
"Ghina cinta sama Alden Kak dan.. dan Alden bilang dia tidak akan menerima perjodohan itu, tapi Kak... Ghina gak yakin dia akan menolaknya... setelah kejadian ini"
Dada Gibran semakin sesak mendengarnya dia mengusap pipi Ghina dengan sayang dan membuat adiknya itu menatap matanya.
"Kakak disini Ghina"
Gibran mengatakannya dengan sangat pelan sambil menatap mata adiknya dengan penuh kesedihan.
"Kak..."
"Maafin Kakak.. maaf"
Ghina diam ketika mendengar perkataan itu apalagi melihat Gibran yang tersenyum pilu dengan mata penuh kesedihan.
"Maaf harusnya Kakak tidak jadi pria brengsek dulu... maafin Kakak." Kata Gibran
"Enggak Kak jangan minta maaf." Kata Ghina pelan
"Maafin Kakak." Kata Gibran
"Jangan minta maaf Kak." Isak Ghina sambil memeluk erat tubuh Kakaknya
"Pulang ke rumah Kakak ya?" Pinta Gibran membuat Ghina menggelengkan kepalanya di dalam pelukannya sambil terisak
"Enggak Kak aku disini saja." Kata Ghina
Melepaskan pelukannya Gibran menatap Ghina dengan penuh permohonan.
"Enggak Kak... Ghina gak mauu ketemu Mama sama Papa mereka pasti marah.. mereka bakal benci Ghina." Isak Ghina takut
"Ghina hal seperti itu tidak akan terjadi, percaya sama Kakak hmm?" Kata Gibran
"Kak..."
"Kakak mohon pulang sama Kakak ya? Kakak gak bisa ninggalin kamu sendirian disini, nanti gimana kamu makan? Gimana kalau terjadi sesuatu yang buruk?" Kata Gibran
Ghina terdiam sambil menatap wajah Kakaknya lalu mengangguk pelan membuat Gibran menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Kakak akan selalu ada di sisi Ghina jangan takut"
Air mata Ghina kembali jatuh hingga Gibran langsung menghapusnya dengan penuh kelembutan.
"Adik kesayangan Kak Gibran gak boleh nangis"
Tapi, Ghina malah semakin menangis ketika mendengarnya.
¤¤¤
Seharusnya malam ini Gibran pergi ke pesta pertunangan Anetta bersama dengan Diandra, tapi yang dia lakukan sekarang adalah berdiam diri di kamar sambil menatap ke luar jendela. Mereka sudah sampai di rumah Gibran dan istrinya tadi langsung mengantar Ghina ke kamar tamu lalu berada disana sampai sekarang.
Anak-anaknya sudah tidur mengingat sekarang sudah pukul sembilan malam, tapi sayangnya Gibran sama sekali tidak merasakan kantuk. Tangisan serta isakan yang Ghina keluarkan membuat Gibran tidak tenang dan terus kepikiran.
__ADS_1
Tadi dia menelpon Mama nya dan mengatakan bahwa Ghina pergi menginap ke rumah temannya lalu beralasan bahwa Ghina tidak berani meminta izin dari Mama nya. Menghela nafasnya pelan Gibran kini menatap tangannya yang terluka dia masih ingat bagaimana kaca apartemennya pecah bersamaan dengan hatinya yang hancur berantakan.
Adik kesayangannya
Ghina, adik yang sangat dia sayang dan selalu menjadi penyemangat untuknya meskipun menyebalkan dan suka mengganggunya.
Gibran tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tua mereka nantinya.
"Mas"
Panggilan itu membuat Gibran menoleh dan menatap Diandra yang berjalan menghampirinya dengan senyuman tipis. Begitu berhadapan Diandra langsung memeluknya hingga membuat Gibran memejamkan matanya.
Dia memang butuh pelukan.
"Ghina sudah tidur tadi aku menemaninya sampai dia tidur." Kata Diandra
"Terima kasih." Kata Gibran pelan
Melepaskan pelukannya Diandra mengajak sang suami untuk duduk di sofa lalu mengusap pipinya dengan penuh kasih sayang.
"Menangis saja kalau kamu ingin." Kata Diandra
"Tidak"
"Kalau gitu ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan." Kata Diandra
"Ghina.. aku cemas sama dia dan Diandra aku takut.. takut membayangkan reaksi orang tuaku ketika tau semunya terutama Mama." Kata Gibran pelan
Diandra hanya bisa diam sambil menatap suaminya yang terlihat begitu kacau.
"Bagaimana reaksi Mama saat tau kejadian yang menimpa anak kesayangannya." Kata Gibran
Ada setetes air mata yang jatuh, tapi Gibran langsung menghapusnya.
"Mas..."
"Semua salahku Diandra, seharusnya aku tidak menjadi pria brengsek dulu." Kata Gibran
"Mas jangan bicara begitu." Kata Diandra
"Seharusnya aku menjadi pria yang baik dan bukan pria brengsek yang hanya bisa menyakiti hati wanita." Kata Gibran
Hening
Untuk sesaat tidak ada yang bicara mereka saling bertatapan dengan tatapan yang memiliki arti berbeda.
Cukup lama mereka diam hingga Gibran mengatakan sesuatu pada Diandra.
"Maaf karena sudah memaksa kamu untuk melakukannya dulu"
Diandra bukan tidak tau apa maksud dari perkataan Gibran, malam itu ketika Gibran merenggut harta paling berharga dalam dirinya.
¤¤¤
__ADS_1
Huuu aku update lagiiii💞