
"Apa salahnya aku datang?"
Pertanyaan itu diajukan dengan sebal oleh Anetta pada Gibran yang terus mendesaknya untuk mengatakan tujuan kedatangannya ke rumah, tapi Anetta terus mengatakan bahwa dia hanya ingin berkunjung. Sayangnya Gibran tidak percaya dia cemas kalau Anetta melakukan sesuatu pada anak dan istrinya apalagi kalau ingat ajakan gilanya dulu.
Bagaimana mungkin Gibran akan percaya?
Sekarang Diandra ada disampingnya dan dia terlihat biasa saja meskipun jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi Diandra masih bisa bersikap biasa. Memang ada tanda tanya di benaknya tentang kedatangan tiba-tiba Anetta hanya saja wanita itu terlihat biasa dan tidak menunjukkan bahwa dia memiliki biat buruk.
"Salahnya karena aku tidak suka kamu datang ke rumahku." Kata Gibran tegas
Melihat hal itu Diandra menggenggam tangan suaminya yang terkepal kuat, kenapa Gibran marah sekali?
"Memang aku tidak boleh datang? Apa aku tidak boleh datang Diandra?" Tanya Anetta
Diandra terdiam sebentar sambil menatap Anetta yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Boleh"
"Lihat? Istri kamu saja tidak keberatan, kenapa kamu marah? Lagipula aku datang hanya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan dan kelahiran anak kalian." Kata Anetta santai
"Sekarang sudah kan? Kamu bisa pergi." Kata Gibran
"Kak"
"Kenapa sih Gibran? Aku kan cuman mau mengobrol." Kata Anetta sebal
Gibran baru ingin bicara hingga suara tangisan Gavin terdengar membuat Diandra berdiri dan meninggalkan keduanya untuk menenangkan Gavin yang menangis. Di tempatnya Gibran menatap Anetta dengan tajam, tapi Anetta terlihat tidak peduli.
"Apa tujuan kamu datang kesini?" Tanya Gibran tidak suka
"Gak ada apa-apa Gibran aku hanya ingin datang saja." Kata Anetta
"Kamu fikir aku percaya?" Tanya Gibran lagi
"Ayolah Gibran aku tidak berniat melakukan apapun, kamu terganggu dengan perkataanku ketika pertemuan terakhir kita di restoran?" Tanya Anetta
"Anetta jangan membahasnya disini! Sekarang berhenti bicara dan pergi saja." Kata Gibran tidak suka
"Gibran baiklah aku minta maaf untuk perkataanku di restoran, tapi sungguh aku hanya ingin datang berkunjung saja." Kata Anetta
"Dengar Anetta lebih baik kamu pulang saja sekarang." Kata Gibran
Bersamaan dengan itu Diandra datang bersama Gavin dalam dekapannya yang kini terlihat tenang lalu duduk disamping suaminya.
"Baiklah aku pulang saja maaf mengganggu waktu kalian dan Diandra mungkin kita bisa pergi jalan-jalan bareng nanti." Kata Anetta
Mengambil tas miliknya Anetta beranjak pergi membuat Diandra bangun untuk mengantarnya sampai ke depan. Sedangkan Gibran tetap berdiam diri di tempatnya enggan untuk mengantar wanita itu ke depan.
Sampai di depan Anetta tersenyum dan menatap sebentar wajah Gavin lalu mengatakan bahwa dia akan pulang.
"Hati-hati Anetta"
Mengangguk singkat Anetta berjalan keluar lalu memasuki mobilnya yang ada di halaman rumah dan pergi. Setelah mobil itu tidak terlihat lagi Diandra kembali masuk ke dalam dan duduk disamping Gibran yang membuat suaminya itu menoleh.
Tanpa dia duga Gibran menciumnya sebentar lalu mengusap pipinya dengan lembut dan mencium pipi anak mereka.
__ADS_1
"Jangan biarkan dia datang lagi." Kata Gibran
"Kenapa? Kelihatannya dia tidak berniat buruk." Kata Diandra pelan
"Jangan ya?" Kata Gibran dengan suara lebih lambut
Tersenyum singkat Diandra mengangguk patuh membuat Gibran merasa lega dan mencium keningnya.
"Aku belum sempat masak jadinya." Kata Diandra
"It's okay kita pesan saja, kamu mau makan apa?" Tanya Gibran sambil mengambil ponselnya di dalam saku celana
"Emm ayam"
"Ayam? Oke biar aku pesankan." Kata Gibran
Untuk sesaat Gibran sibuk dengan ponselnya untuk memesan makanan dan setelah selesai dia meletakkan lagi ponselnya di meja. Saat mendongak dia melihat Diandra yang sedang menatapnya dalam diam.
"Daddy"
"Hmm kenapa?" Tanya Gibran
"Memang Anetta bilang apa waktu kalian ketemu?" Tanya Diandra
Gibran terdiam ketika mendengarnya, satu hal yang dia yakini Diandra tadu mendengar percakapannya. Senyuman tipis terbentuk Gibran mengusap kepala Diandra dengan sayang dan bicara.
"Tidak ada, dia hanya bertanya kenapa aku menikahi kamu." Kata Gibran
"Lalu Daddy jawab apa?" Tanya Diandra penasaran
"Tentu saja aku jawab karena aku mencintai istriku yang cantik ini." Kata Gibran sambil mencubit pipi Diandra
"Kalau dia bilang sesuatu jangan percaya ya?" Kata Gibran
"Iya aku bakal percaya sama Daddy aja." Kata Diandra membuat Gibran tersenyum
"Aku cuman takut kalau dia bilang yang aneh-aneh udah dua kali kita marahan karena dia dan semua karena foto sama berita." Kata Gibran
"Kelihatannya dia tidak ada niat buruk kok." Kata Diandra dengan senyuman
"Hmm aku tau tetap saja aku merasa cemas." Kata Gibran
"Tenang saja Daddy nanti kalau dia macam-macam aku jambak lagi rambutnya kayak dulu." Kata Diandra membuat Gibran tertawa dan mencubit pipinya gemas
"Baby kamu dengar? Mommy ini sangat berani." Kata Gibran pada anaknya
Diandra tersenyum lalu membiarkan suaminya mengambil Gavin dari pangkuannya.
Tangan Gibran terulur untuk mengusap-ngusap pipi anaknya dengan sayang, gemas sekali apalagi sekarang Gavin sudah bisa menggenggam pelan tangannya. Begitu kecil serta mungil hingga membuat Gibran tersenyum setiap kali melihatnya.
"Baby Gavin sayang Daddy kan? Sehat terus yaa." Kata Gibran
Gibran benar-benar hot Daddy dimata Diandra sekarang.
Awalnya dia fikir menikahi Diandra adalah kebahagiaan terbesar yang dia rasakan, tapi ternyata dia salah.
__ADS_1
Memiliki keluarga kecil seperti sekarang merupakan kebahagiaan terbesar yang Gibran rasakan.
¤¤¤
Seperti yang sudah dijanjikan malam ini Gibran akan mengajak istrinya untuk makan di luar dan tentu saja dengan mengajak anak mereka juga. Sekarang baby Gavin terlihat tenang di pangkuan Diandra dengan mata yang tertutup, tidur biasanya jam segini Gavin memang tertidur dan akan bangun ketika malam hingga menjelang pagi.
Selalu begitu bahkan terkadang ketika sore Gavin sudah tidur lalu sekitar pukul sebelas atau dua belas malam dai terbangun dan menangis. Tentu saja Diandra tidak marah dengan tenang dia akan berusaha mendiamkan Gavin dan membuatnya tertidur lagi.
Rutinitas barunya memang sedikit melelahkan, tapi Diandra senang apalagi ketika dia melihat wajah anaknya.
Wajah lugu yang selalu berhasil menghilangkan lelahnya.
"Kita mau makan dimana?" Tanya Diandra
"Hmn ke restoran biasa sayang." Kata Gibran
Diandra mengangguk faham lalu kembali diam dan menatap wajah anaknya.
"Sayang"
"Hmm"
"Kira-kira Gavin akan menangis atau tidak nanti?" Tanya Gibran
"Tidak tau kalau menangis juga tidak masalah aku akan menenangkan dia." Kata Diandra
Gibran mengangguk singkat lalu membelokkan mobilnya ketika mereka sudah sampai. Sebelum Diandra sempat membuka pintu Gibran sudah lebih dulu keluar lalu membukakan pintu untuknya.
Membawa Gavin di dalam dekapannya Gibran tidak bisa menggenggam tangan Diandra seperti biasanya, tapi dia hanya merangkul pinggangnya dengan sayang. Setelah mencari tempat kosong Gibran memilih tempat di dekat kaca yang menghadap ke jalan kemudian memesan makanan ketika seorang pelayan datang.
Malam ini Gibran memilih untuk memesan steak untuk makan malam mereka dan Diandra juga hanya mengangguk saja, dia tidak memiliki keinginan khusus.
"Sayang sini berikan Gavin padaku." Kata Gibran
Diandra tersenyum dan dengan hati-hati menyerahkan Gavin pada suaminya. Bayi tampan itu sama sekali tidak terganggu dan masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Dalam diam Gibran memperhatikan anaknya yang kata orang tuanya sangat mirip dengan dia, tapi memang benar.
Setiap bagian wajah Gavin begitu mirip dengannya, tapi semoga saja dia tidak akan jadi anak nakal seperti Gibran.
"Hot Daddy"
Perkataan itu membuat Gibran mendongak dan menatap istrinya dengan tidak percaya.
"Kamu bilang apa sayang?" Tanya Gibran
"Hot Daddy habisnya kalau lagi kayak gitu Daddy kelihatan makin tampan, aku suka." Kata Diandra
Gibran tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Apa itu julukan baru untuknya?
Hot Daddy?
__ADS_1
¤¤¤
Aduhh ada hot Daddyy😥