Obsession

Obsession
Akhir Masalah


__ADS_3

Melupakan semua yang telah terjadi bukanlah hal yang mudah bagi Diandra meskipun dia sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia akan berusaha melupakan atau tidak lagi mengingat semuanya tetap saja fakta itu terus menghantuinya. Bayangan Gibran yang membalas pelukan Clarissa tatapannya yang lembut pada wanita itu membuat Diandra merasa bimbang.


Apa Gibran memang hanya terobsesi padanya?


Semua juga karena masa lalunya yang buruk, perpisahan kedua orang tuanya yang membuat Diandra takut akan merasakan hal yang sama. Mungkin tidak terlalu masalah untuknya, tapi pasti akan sangat berat untuk anak-anaknya karena itu Diandra mencoba untuk bertahan.


Bertahan dengan sisa kepercayaan yang dia miliki.


Sekarang sudah pukul dua malam Diandra tidak tidur karena dia baru saja terbangun dan memilih untuk beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke dekat jendela, melihat ke luar dimana jalan sangat sepi. Tangannya terlipat di dada matanya menatap lurus ke depan dan senyuman tipis perlahan terbentuk.


Mengingat perjuangan Gibran untuk membuatnya percaya membuat hati Diandra menghangat. Mungkin perjuangan Gibran bisa menjadi satu alasan lain yang akan membuat dia bertahan pada pernikahan mereka.


Pernikahan bukan hanya sekedar mainan begitu juga perpisahan, keputusan yang diambil ketika marah dan kecewa bukan hal baik untuk dilakukan.


Karena ketika kecewa dan marah satu-satunya yang ada difikiran hanyalah pergi.


Pergi dan menjauh.


Diandra memejamkan matanya ketika mendapatkan pelukan dari belakang yang tentu saja berasal dari suaminya, dia sangat mengingat wangi tubuh sang suami.


"Kenapa disini?" Tanya Gibran pelan


"Hm kebangun dan gak bisa tidur lagi." Kata Diandra


Gibran meletakkan dagunya di puncak kepala Diandra dan mengeratkan pelukannya membuat Diandra tersenyum lalu mengusap tangan yang melingkar di perutnya.


"Kamu kenapa ikut bangun?" Tanya Diandra


"Entah, hanya terbangun dan melihat kamu tidak ada di ranjang." Kata Gibran


"Mencari aku?" Tanya Diandra lagi


"Iya, aku takut kamu pergi." Kata Gibran pelan


"Aku juga sama." Kata Diandra


"Sayang"


"Hmm"


"Aku rindu kita yang dulu." Kata Gibran


Diandra terdiam sejenak lalu melepaskan tangan Gibran dan berbalik hingga kini dia berada di hadapan suaminya. Tangan Diandra terulur untuk mengusap pipi Gibran membuat pria itu memejamkan matanya sejenak dan membukanya lagi ketika Diandra mengatakan sesuatu.


"Menurut kamu aku istri yang seperti apa?" Tanya Diandra


"Sempurna, kamu sangat sempurna di mata aku." Kata Gibran


"Aku tidak sesempurna itu Mas." Kata Diandra


"Tidak kalau menurut aku kamu sangat sempurna." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum mendengarnya


"Apa yang membuat kamu sangat mencintai aku? Aku tidak terlalu cantik selain itu aku juga egois, keras kepala, cengeng, sering marah-marah dan cemburuan." Kata Diandra


Gibran menatap istrinya dengan senyuman lalu mengusap puncak kepalanya dengan sayang.


"Apa aku harus memiliki alasan? Aku tidak memiliki alasan apapun Diandra karena aku hanya mencintai kamu dan tidak mau kamu pergi." Kata Gibran


"Sejak awal kamu memang mencintai aku atau hanya terobsesi padaku?" Tanya Diandra


Kali ini Gibran terdiam, dia terobsesi pada Diandra awalnya, tapi semakin lama dia semakin mencintai Diandra dengan sepenuh hatinya.


"Awalnya aku memang hanya terobsesi pada kamu Diandra, tapi semakin hari obsesi itu berubah menjadi cinta aku mencintai kamu dengan penuh ketulusan dan aku tidak mau kamu pergi." Kata Gibran

__ADS_1


"Obsesi itu benar-benar sudah berubah sekarang?" Tanya Diandra


"Iya aku bukan lagi terobsesi pada kamu, tapi aku cinta mati sama kamu." Kata Gibran


Diandra tersenyum lalu memeluk suaminya sambil memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Gibran yang sangat dia rindukan.


"Dengar, aku tau kamu sudah tidak mau lagi membahasnya, tapi sayang apa kamu mau menemui Clarissa bersama denganku besok?" Tanya Gibran


"Kenapa aku harus ikut dan untuk apa kita menemui dia?" Tanya Diandra


"Masalah ini belum sepenuhnya selesai aku rasa bukan hanya kamu yang perlu meluruskan semuanya, tapi kita harus meluruskan masalah ini agar selesai sepenuhnya." Kata Gibran


"Kamu mau bertemu dengannya bersama aku?" Tanya Diandra


"Iya, kamu harus mendengar semuanya juga." Kata Gibran


"Hm aku akan ikut." Kata Diandra


Gibran tersenyum lalu mencium kening Diandra lama dan menatap wajah cantik itu setelahnya.


"Mungkin sejak awal aku salah dan menggunakan cara yang salah juga untuk mendapatkan kamu, tapi aku bisa pastikan bahwa perasaan yang aku miliki nyata ini bukan sekedar obsesi Diandra ini cinta." Kata Gibran


Diandra hanya tersenyum sambil menatap mata itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Cinta yang aku miliki ini nyata bukan kebohongan semata apalagi bersifat sementara, tapi cinta ini akan bertahan selamanya"


Hati Diandra menghangat ketika mendengarnya, semoga Gibran memang jujur mengatakannya.


Dia akan percaya.


¤¤¤


Berhadapan lagi dengan Clarissa membuat Diandra kembali merasa sesak apalagi ketika melihat wanita itu menatap suaminya dengan penuh kebahagiaan, tapi genggaman ditangannya membuat dia merasa lebih baik. Memang benar masalah ini harus selesai sepenuhnya dengan Gibran dan Clarissa yang berbicara karena semua berawal dari mereka berdua.


Berusaha melupakan itu tidak mudah apalagi ketika masalahnya belum selesai sepenuhnya. Sudah lima menit berlalu tanpa suara yang ketiganya keluarkan, mereka berada di salah satu restoran yang dekat dengan studio Gibran.


"Kami ingin bicara." Kata Gibran


"Ya katakan mau bicara apa? Apa kamu mau bilang bahwa kamu mencintai aku?" Tanya Clarissa


"Clarissa jangan main-main!" Kata Gibran kesal


"Oh aku salah? Lalu katakan kalian mau bicara apa?" Tanya Clarissa


"Aku ingin meluruskan semuanya." Kata Gibran


"Meluruskan apa?" Tanya Clarissa bingung


"Alasan aku menghubungi kamu dan mengajak bertemu itu hanya sebatas untuk bertanya beberapa hal bukan alasan lainnya." Kata Gibran


"Kamu yakin? Kalau gitu biar aku tanya kenapa kamu merindukan aku? Kenapa memeluk aku?" Tanya Clarissa


"Salah aku merindukan temanku? Aku memeluk kamu karena kamu yang memintanya." Kata Gibran


"Kamu bisa menolak Gibran, kenapa kamu tidak menolaknya?" Tanya Clarissa


"Aku...."


"Kamu masih mencintai aku itu alasannya." Kata Clarissa


"Clarissa! Hubungan dan perasaan kita sudah selesai! Aku hanya menemui kamu untuk bertanya beberapa hal!" Kata Gibran dengan penuh penekanan


"Kenapa kamu begitu percaya diri Clarissa?" Tanya Diandra sebal

__ADS_1


"Harusnya itu pertanyaan untuk kamu kan? Kamu begitu percaya Gibran mencintai kamu meskipun dia berbohong bahkan merindukan orang lain." Kata Clarissa


"Clarissa! Aku berbohong! Iya aku memang melakukannya, tapi semua itu ada alasan aku tidak mau istriku terluka kalau dia tau dan aku akan sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu." Kata Gibran


"Aku lebih percaya pada suamiku dari pada kamu yang jelas-jelas berniat menghancurkan rumah tangga kami! Semisal suamiku memang mencintai kamu dan ingin kembali pada kamu maka aku akan pergi, tapi apa dia melakukannya Clarissa?" Tanya Diandra


"Kamu tidak takut semisal dia menjalin hubungan di belakangku? Bisa saja dia bersikap layaknya suami yang sangat mencintai istrinya, tapi dibelakang ternyata dia mengkhianati kamu." Kata Clarissa


"Aku tidak pernah memiliki niat begitu Clarissa! Awalnya aku fikir kita bisa berteman dan melupakan semua masalah kita, tapi aku salah kamu sama saja seperti Anetta." Kata Gibran


"Kisah yang menarik ya? Kamu terlalu bodoh Diandra." Kata Clarissa


"Aku atau kamu yang bodoh? Kamu tidak bisa melihat kenyataan di depan kamu? Aku sudah menggantikan posisi kamu di hatinya, jadi terima kenyataan itu Clarissa." Kata Diandra


"Dengar, awal masalah ini memang berasal dari aku seharusnya aku tidak berbohong atau menghabiskan waktu bersama Clarissa apalagi sampai memeluknya aku akui semua salahku," Kata Gibran.


Memberikan sedikit jeda dari ucapannya Gibran mengatakan hal yang membuat Clarissa mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Tapi, aku tidak ada niat untuk kembali pada kamu atau menjalin hubungan dengan kamu lagi karena Clarissa semua sudah selesai hubungan kita selesai." Kata Gibran


"Maaf kalau aku ikut campur, tapi Clarissa bukankah kamu yang memilih untuk pergi? Kamu pergi dengan penuh percaya diri berharap bahwa Gibran akan tetap menunggu, tapi tidak dia tidak menanti kamu." Kata Diandra


Baru ingin mengatakan sesuatu Diandra sudah kembali bicara.


"Setiap keputusan yang kamu ambil semua ada konsekuensinya Clarissa, kamu memilih pergi maka kamu harus terima bahwa Gibran sudah menjadi suami dan Ayah dari anak-anakku." Kata Diandra


"Clarissa aku tau kamu bukan orang yang seperti itu menghancurkan hubungan orang lain itu bukan kamu Clarissa, jadi kumohon kita lupakan saja ya? Jalani kehidupan kita seperti biasanya." Kata Gibran


Clarissa terdiam sambil menatap keduanya bergantian dengan perasaan berkecamuk, bingung dengan perasaannya sendiri.


"Kita sama-sama wanita Clarissa, bicaralah sama Mas Gibran aku akan keluar dan menunggu di mobil." Kata Diandra


Melangkahkan kakinya keluar Diandra membiarkan Gibran berbicara bersama dengan Clarissa berdua.


Sepeninggalnya Diandra kini hanya Gibran dan Clarissa yang saling diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Cukup lama mereka terdiam hingga Gibran mengeluarkan suaranya.


"Aku benar-benar tidak ingin kehilangan Diandra dan anak-anakku." Kata Gibran


Clarissa diam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu menghela nafasnya pelan.


"Dia benar aku yang memilih pergi harusnya aku sadar bahwa semua itu salahku." Kata Clarissa


"Kita bisa selesaikan baik-baik kan?" Kata Gibran


"Hmm bisa aku minta maaf karena sudah membuat masalah di keluarga kalian, sekali lagi dia benar aku seorang wanita harusnya aku bisa merasakan perasaannya juga." Kata Clarissa


"Jadi semua selesai kan?" Kata Gibran


"Ya selesai." Kata Clarissa dengan senyuman


Mengulurkan tangannya Gibran menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum.


"Maaf sudah mengganggu rumah tangga kalian"


Setelah mengatakan hal itu Clarissa melepaskan tangannya lalu mengambil tasnya dan pergi begitu saja.


"Aku akan bayar semuanya, anggap permintaan maaf"


Sama halnya dengan Clarissa yang pergi Gibran juga beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke parkiran lalu masuk ke dalam mobilnya.


Begitu masuk Diandra menatapnya membuat Gibran tersenyum lalu memeluknya dengan sayang.


"Tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, aku janji"

__ADS_1


¤¤¤


Masih ada yang kurang berkenann😋


__ADS_2