Obsession

Obsession
Sakit


__ADS_3

Tadi sore mendadak suhu tubuh Gavin panas hingga membuat Diandra juga Gibran merasa cemas apalagi anak itu menjadi sangat rewel dan terus menangis hingga wajahnya memerah. Melihat hal itu tentu saja Gibran langsung membawanya ke klinik terdekat karena rumah sakit cukup jauh dan dia tidak mau memakan waktu lama.


Saat di cek suhu tubuhnya tingga Gavin mengalami demam yang membuat anak itu menjadi sangat rewel dan terus menangis. Sedetik pun Diandra tidak bisa beranjak karena lepas sebentar saja Gavin akan langsung menangis dengan keras.


Mereka sudah melakukan berbagai hal untuk membuat demamnya turun, tapi suhu tubuhnya masih cukup tinggi.


"Baby tenang sayang Mommy sama Daddy disini." Kata Diandra dengan lembut


"Aku cemas sekali sayang, apa kita bawa ke rumah sakit saja?" Tanya Gibran cemas


"Kata Dokter tadi kita tunggu saja kalau masih demam sampai besok baru bawa ke rumah sakit." Kata Diandra


"Tapi, aku tidak tega sayang Gavin menangis terus." Kata Gibran


Diandra mengangguk setuju dia menatap Gavin yang sekarang sudah mulai tenang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam sekarang dan sejak tadi Diandra benar-benar tidak melepaskan Gavin.


"Dia sudah mulai tenang nanti kalau menangis lagi kita bawa ke rumah sakit." Kata Diandra


Gibran mengangguk lalu duduk disamping Diandra yang setengah berbaring di ranjang dan mengusap pelan rambutnya.


"Kamu tidur juga Diandra." Kata Gibran


Sejak pagi hingga siang Diandra sudah disibukkan dengan pekerjaan rumah lalu sore dia masih tidak bisa istirahat karena Gavin yang sakit. Sudah Gibran katakan untuk berhenti beberes rumah, tapi Diandra selalu mengatakan nanti dan berdalih mumpung Gavin sedang tidur.


"Takut Gavin menangis lagi." Kata Diandra pelan


"Ada aku nanti biar aku bangunkan kalau Gavin menangis." Kata Gibran


"Aku tidak bisa melihat Gavin begini, dia menangis terus bahkan tadi wajahnya sampai memerah dan dia juga sempat tidak mau minum susu." Kata Diandra sambil menghela nafasnya pelan


"Semoga besok Gavin membaik, aku sudah telpon Mama, tapi dia sedang di luar kota bersama Papa." Kata Gibran


Tadinya kalau ada Mama nya mungkin mereka akan sedikit terbantu karena Dara pasti sudah lebih berpengalaman, berbeda dengan mereka berdua yang masih awam dan tidak banyak mengerti.


"Aku mau ke kamar mandi." Kata Diandra


"Yaudah biar aku yang jagain Gavin." Kata Gibran


Diandra mengangguk singkat laku dengan hati-hati beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Melihat istrinya yang bergegas pergi Gibran langsung mendekat dan menatap anaknya yang sekarang mulai terlelap.


"Baby jangan sakit ya? Mommy sama Daddy sangat cemas." Kata Gibran pelan


Gavin bergerak dalam tidurnya dan tak lama setelahnya kembali menangis, seolah tau bahwa Mommy nya tidak ada disampingnya.


"Baby jangan menangis ada Daddy disini sayang." Kata Gibran


Dengan hati-hati Gibran mengangkat tubuh Gavin dan berusaha menenangkannya, tapi bayi tampan itu malah menangis dengan keras. Beberapa saat setelahnya Diandra keluar dan langsung berlari menghampiri Gibran yang menggendong anak mereka.


Melihat hal itu Gibran kembali membiarkan Diandra menggendong Gavin sambil berusaha memberikan ketenangan.


"Ada apa baby? Ada yang sakit?" Tanya Diandra pelan


Masih tetap menangis Diandra mendudukkan dirinya di ranjang lalu memberikan susu untuk Gavin, tapi bayi itu tidak mau dan kembali menangis.


"Sstt baby ada Mommy disini." Kata Diandra


Sekali lagi Diandra mencoba untuk memberikan susu dan berhasil Gavin mau. Hal itu sudah cukup membuatnya lega dan dengan hati-hati Diandra merebahkan tubuhnya di ranjang dengan Gavin yang masih meminum susu.


Diandra tidak mengerti kenapa Gavin bisa sampai sakit?


Cukup lama hingga Gavin mulai terlelap lagi dan membuat Diandra menghela nafasnya lega.


"Sudah tidur?" Tanya Gibran


Diandra mengangguk singkat, dia merasa sangat lelah sekarang dan mengantuk juga.


"Istirahat sayang." Kata Gibran


Menghela nafasnya pelan Diandra memejamkan matanya ketika Gibran mencium keningnya singkat.


"Kamu belum makan malam, mau aku ambilkan? Nanti biar aku suapi." Kata Gibran


"Boleh, tapi disini saja ya?" Kata Diandra


Gibran mengangguk lalu bergegas pergi ke dapur, beruntung ketika siang Diandra sudah memasak dan Gibran hanya perlu menghangatkannya saja. Sekitar lima menit Gibran kembali ke kamar dengan membawa satu piring makan malam untuk istrinya.

__ADS_1


Dengan hati-hati Diandra duduk dan berniat mengambil piringnya, tapi yang Gibran lakukan malah ingin menyuapinya membuat Diandra tersenyum lalu membuka mulutnya. Suapan demi suapan dia terima dengan sesekali merasakan usapan di sudut bibirnya.


"Makan yang banyak kamu pasti lelah." Kata Gibran


"Daddy sendiri tidak makan?" Tanya Diandra


"Hmm nanti saja kamu dulu." Kata Gibran


Diandra memasang wajah cemberutnya sambil mengambil sendok di tangan sang suami dan bergantian menyuapinya.


"Nanti kita tidur bertiga sama Gavin." Kata Diandra


"Hmm dia lagi sakit." Kata Gibran sedih


"Semoga besok membaik, jadi kita tidak perlu membawa ke rumah sakit." Kata Diandra


Gibran mengangguk setuju dan ketika makan malam mereka telah habis Gibran memberikan minum untuk istrinya. Tadi dia memang mengambil makan malam cukup banyak.


"Aku taruh ke belakang dulu kamu tidur duluan saja." Kata Gibran sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut


Diandra hanya mengangguk sambil menatap Gibran yang berjalan menjauh lalu dia kembali mengalihkan pandangannya pada baby Gavin yang terlihat lelap. Tangan Diandra terulur untuk menyentuh keningnya, masih cukup panas hanya saja tidak sepanas tadi sore dan Diandra sedikit lega.


Setidaknya demamnya mulai turun.


"Get well soon my baby Gavin"


Saat tengah asik memperhatikan anaknya deringan ponsel membuat Diandra menoleh dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu mengangkat panggilan dari mertuanya.


"Halo Mama"


'Sayang, bagaimana keadaan Gavin? Sudah lebih baik?'


Suara Dara terdengar cemas membuat Diandra tersenyum tipis, ada banyak yang menyayangi anaknya.


"Badannya masih panas Ma, tapi sekarang Gavin sudah tidur." Kata Diandra


'Syukurlah sayang kalau dia masih terus menangis dan badannya masih panas bawa ke rumah sakit ya? Mama baru pulang besok dari Makasar'


"Iya Ma"


'Yaudah Mama tutup telponnya, kamu istirahat ya?'


Begitu panggilannya di matikan Diandra kembali meletakkan ponselnya dan bersamaan dengan itu Gibran muncul dari balik pintu. Mereka saling melemparkan senyum lalu Gibran berjalan mendekat dan duduk di tepian ranjang sambil menatap istrinya.


Selain cemas pada anak mereka Gibran juga cemas dan takut kalau Diandra akan sakit, tapi untungnya Diandra bukan orang yang mudah sakit dia cukup kuat. Bahkan ketika masih dibutik Diandra bisa bekerja hingga malam atau menemani Sahara ke acara fashion sampai tengah malam lalu di rumah pun dia masih mengurus laporan.


Kata Diandra dia sudah terbiasa dengan jam tidur yang sedikit karena setelah kematian orang tuanya Diandra yang belajar mandiri melakukan banyak pekerjaan dalam satu hari. Namun, tetap saja Gibran mencemaskan keadaannya.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Gibran


"Habis makan masa tidur, enggak boleh tau." Kata Diandra


"Hmm kalau gitu mau ngapain?" Tanya Gibran


"Mau lihatin Gavin aja." Kata Diandra


"Demamnya sudah sedikit turun." Kata Gibran ketika dia menyentuh dahi anaknya sebentar


"Hmm sudah"


Gibran tersenyum lalu mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang membuat Diandra senang akan perhatian yang dia berikan.


"Kamu kelihatan lelah." Kata Gibran


"Emm sedikit." Kata Diandra dengan senyuman manisnya


"Jangan terlalu lelah sayang nanti sakit." Kata Gibran


"Iya enggak"


Untuk beberapa saat Gibran mengajak Diandra mengobrol hingga istrinya itu mulai mengantuk dan membuat Gibran langsung menyuruhnya untuk tidur. Setelah istrinya itu berbaring sambil menghadap ke arah anak mereka Gibran menarik selimut hingga sebatas dada lalu pergi ke sisi lain ranjang dan ikut berbaring dengan menghadap Gavin juga.


Gibran tersenyum sama halnya dengan Diandra.


Sekarang Gavin berada di tengah-tengah kedua orang tuanya dan perlahan Diandra serta Gibran memejamkan matanya.


Bersama-sama mereka pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


¤¤¤


Matahari bersinar dengan begitu cerah pagi ini hingga membuat tidur Gibran terusik dan dia langsung membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah anak dan istrinya yang masih tertidur lelap disampingnya.


Tadi malam beberapa kali Gavin terbangun dan menangis kencang, tapi tidak separah sebelumnya karena Diandra bisa menanganinya dan membuat anak itu kembali tertidur. Beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati Gibran pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan keluar menuju dapur sambil membawa ponselnya.


Sampai di dapur Gibran lebih dulu duduk sambil mengeluarkan ponselnya, dia berniat memasak meskipun tidak yakin dengan hasilnya nanti. Mencari resep makanan yang mudah Gibran hanya menemukan sup ayam dan setelah melihat bahan-bahan yang dibutuhkan Gibran membuka kulkas untuk mengecek semuanya.


Lengkap


Kemudian Gibran membuka lemari untuk melihat bumbu racik yang hanya tinggal pakai dan dia menemukannya. Sebenarnya Diandra jarang memakainya karena tidak terlalu suka katanya lebih enak membuat sendiri, tapi apa boleh buat Gibran tidak bisa.


Dia ingin keluar untuk membeli, tapi takut Diandra terbangun atau Gavin menangis dan lagi Diandra selalu mengomel kalau dia membeli makanan.


'Daddy harusnya hemat jangan apa-apa beli! Kan ada aku istrinya bilang saja nanti aku buatkan!'


Tersenyum singkat dengan memperhatikan resep yang dia lihat dari Youtube Gibran mencoba dengan amatir dan apa adanya. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan dan masih bisa dimakan.


Di lain sisi mata indah Diandra terbuka dan dia terlihat bingung karena tidak menemukan sang suami di dekatnya dan ketika melihat anaknya yang tertidur Diandra meletakkan tangannya di dahi Gavin. Senyuman tipis terbentuk karena Diandra merasakan demamnya yang sudah turun dan dengan hati-hati Diandra turun lalu pergi ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama Diandra keluar setelah membasuh mukanya dan dia melihat anaknya yang sudah membuka mata.


"Ehh baby Gavin sudah bangun"


Mendengar suara itu Gavin merengek pelan membuat Diandra tersenyum lalu menggendongnya dan membuat Gavin kembali diam.


Prank


Suara itu membuat mata Diandra membulat lalu bergegas pergi ke dapur dan dia tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat sang suami yang terlihat sibuk disana.



"Daddy?"


Gibran menoleh lalu tersenyum ketika melihat istri juga anaknya yang datang.


"Bagaimana keadaan Gavin sayang?" Tanya Gibran


"Sudah turun demamnya, Daddy sedang apa? Tadi suara apa?" Tanya Diandra


"Syukurlah, aku sedang masak dan tadi suara panci yang jatuh itu lihat." Kata Gibran


Diandra menunduk dan benar ada panci disana, tapi tidak hanya itu saja melainkan ada banyak sampah juga yang berserakan.


"Duduk saja sayang sebentar lagi selesai." Kata Gibran


"Aku ke ruang tengah ya?" Kata Diandra


Gibran hanya bergumam pelan dan melanjutkan aktivitasnya. Sekitar sepuluh menit Gibran selesai lalu dia langsung mengambil nampan untuk membawa sarapan.


Memasukkan sup ayam tadi ke dalam mangkuk juga nasi ke piring Gibran tidak lupa membawa minum juga dan setelah itu pergi menghampiri Diandra. Istrinya itu terlihat sedang memperhatikan Gavin yang ditidurkan di atas karpet berbulu.


"Aku senang baby Gavin sudah baikan." Kata Gibran membuat Diandra mendongak


Mendudukkan dirinya di samping sang istri Gibran meletakkan nampan yang dia bawa.


"Aku tidak tau apa ini enak atau tidak, tapi aku sudah mengikuti dengan benar apa yang ditunjukkan dalam youtube tadi." Kata Gibran membuat Diandra tertawa mendengarnya


Mengambil sendok yang ada disana Diandra mencicipi masakan suaminya membuat Gibran menatapnya dengan penuh harap.


"Bagaimana? Kalau tidak enak kita buang saja lalu beli." Kata Gibran


"Enak kok." Kata Diandra jujur


"Bohong gak? Kamu tidak mengatakan itu untuk menyenangkan aku saja kan?" Tanya Gibran


Diandra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu menyuapi Gibran agar mencicipi sendiri.


Benar, rasanya lumayan meskipun tidak seenak buatan istri atau Mama nya, tapi setidaknya masih lumayan untuk dimakan.


"Mungkin aku harus ikut kelas memasak"


Diandra tertawa kecil mendengarnya, dia menatap Gibran yang tersenyum padanya.


Kenapa dia bisa ragu pada Gibran dulu?


¤¤¤

__ADS_1


Haloo aku updateee hehe😚


__ADS_2