
Flashback On
Debur ombak terdengar nyaring ketika Gibran tengah fokus pada kamera dan objek yang sedang dia foto. Sekarang Gibran sedang melakukan pemotretan pre wedding di sekitaran pantai ketika sore hari dimana langit mulai menguning.
Pasangan yang sedang dia ambil gambarnya itu terlihat begitu cocok dan menatap saling damba membuat dia tanpa sadar tersenyum, berharap suatu saat nanti Gibran juga akan merasakannya. Bidikan gambar yang dia ambil menggunakan kamera kesayangannya memang tidak pernah mengecewakan.
"Indah sekali aku sangat suka." Kata wanita dengan dress putih panjang yang sedang melihat hasil gambarnya
Gibran hanya tersenyum dalam hati dia merasa bangga dengan dirinya sendiri.
"Gibran memang tidak pernah mengecewakan." Kata Ghina pada client nya
Mereka tersenyum senang sambil berterima kasih lalu bersama Ghina bersiap untuk pulang. Semua keperluan yang tadi digunakan Ghina dan yang lainnya bereskan lalu memasukkannya ke dalam mobil.
"Duluan saja aku dan Diandra pulang nanti." Kata Gibran
"Ehh kenapa?" Tanya Diandra bingung
"Mau lihat sunset dulu hanya sebentar lagi." Kata Gibran
"Oh yaudah Kak Wen aku sama Kak Gibran nanti pulangnya." Kata Diandra
"Yaudah aku sama yang lainnya duluan ya?" Kata Wenda yang dijawab dengan anggukan singkat oleh keduanya
Begitu mobil Wenda dan yang lainnya pergi Gibran mengajak Diandra untuk duduk di atas pasir sambil menatap lurus ke depan. Belakangan ini fikiran Gibran dipenuhi dengan Diandra rasanya dia seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Bahkan kemarin dia meminta pada Sahara agar membuat Diandra ikut dengannya hari ini dan berhasil sekarang Diandra ada disampingnya. Rambut panjangnya yang digerai membuat beberapa helai rambutnya beterbangan karena terpaan angin.
"Diandra"
"Hmm"
"Senyum biar aku foto." Kata Gibran membuat Diandra terkejut mendengarnya
Sedikit memundurkan tubuhnya Gibran memfokuskan kameranya pada Diandra yang terlihat sangat cantik disana. Meskipun terkejut pada awalnya, tapi perlahan senyum Diandra mengembang bersamaan dengan Gibran yang mengambil gambarnya.
Melihat hasilnya Gibran tersenyum dan ketika melihat seseorang dia minta tolong untuk mengambil gambar dirinya dengan Diandra. Sekali lagi Diandra terkejut, tapi tetap menurut begitu Gibran mengajaknya berdiri dan meminta dia untuk tersenyum dengan lengan kekar pria itu yang berada di pundaknya.
Setelah melihat hasil gambarnya Gibran berterima kasih dan mengajak Diandra untuk duduk lagi, tapi dia malah membaringkan tubuhnya diatas pasir membuat Diandra menatapnya.
"Kotor Kak." Kata Diandra
"Biarkan saja"
Diandra diam dan tidak mengatakan apapun lalu menatap lurus ke depan melihat pemandangan ketika matahari mulai terbenam. Tubuh Diandra tersentak ketika Gibran meraih tangannya untuk digenggam lalu mengusapnya dengan lembut.
Diandra baru pertama kali merasakan hal seperti itu dan entah kenapa jantungnya berdetak dengan sangat cepat sekarang.
"Kamu memiliki kekasih?" Tanya Gibran membuat Diandra menoleh untuk menatapnya
"Enggak ada Kak"
Mendengar hal itu Gibran tersenyum senang dia menatap Diandra dari bawah, untuk kali pertama Gibran benar-benar dibuat jatuh cinta. Dulu dia tidak pernah melirik Diandra, tapi belakangan ini karena sering menghabiskan waktu dengan Diandra di butik Gibran jadi sering memperhatikannya.
Gibran baru sadar kalau Diandra memiliki senyum yang manis dan tatapan lugu yang membuatnya terpana.
"Kalau tidak punya kekasih lalu siapa pria yang suka antar jemput ke butik?" Tanya Gibran dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Diandra
"Dia teman aku, tapi Kak kenapa pegang tangan aku?" Tanya Diandra sambil berusaha menarik tangannya
Gibran tidak membiarkannya lepas dan malah menggenggam dengan semakin kuat.
"Kenapa? Gak boleh?" Tanya Gibran
"Kak Gibran sekarang aneh." Kata Diandra membuat Gibran terkekeh mendengarnya
"Aneh kenapa?" Tanya Gibran
"Sekarang aneh aja pokoknya beda gak kayak dulu." Kata Diandra
__ADS_1
"Memang kalau dulu kayak gimana?" Tanya Gibran lagi
"Dulu kita gak dekat kan? Kakak juga gak pernah kayak gini sama aku." Kata Diandra sambil melirik tangannya
"Sekarang bakal kayak gini terus." Kata Gibran membuat Diandra menatapnya dengan bingung
"Kenapa?" Tanya Diandra
"Karena aku mau." Kata Gibran
Diandra hanya diam lalu menatap lurus ke depan ketika matahari mulai terbenam dan senyumnya mengembang tanpa dia minta.
"Indah ya Kak?" Kata Diandra tanpa menoleh
Gibran hanya bergumam pelan dan terus menatap Diandra lalu dia bangun dengan pasir yang sedikit menempel di baju serta rambut bagian belakangnya.
"Yuk pulang nanti keburu gelap." Kata Gibran
Mengangguk singkat Diandra menoleh dan menatap Gibran lalu dia tersenyum dengan tangan terulur ke belakangan. Membersihkan rambut Gibran dari pasir juga baju yang pria itu kenakan.
"Kotor"
Setelahnya Diandra tersenyum lalu berdiri membuat Gibran ikut berdiri dan merangkulnya. Bersama-sama mereka berjalan ke mobil Gibran yang letaknya tidak terlalu jauh dan masuk ke dalam.
Perlahan mobil Gibran meninggalkan area pantai untuk pulang dan selama perjalanan sama sekali tidak ada percakapan disana hanya keheningan dengan alunan musik yang mengalun merdu. Langit menggelap dan satu per satu bintang mulai muncul juga bulan yang terlihat cukup terang membuat Diandra berfikir bahwa ini adalah malam yang indah.
Cukup jauh jarak dari pantai ke rumahnya mungkin memakan waktu lebih dari satu jam dan ketika sampai Diandra melepas sabuk pengamannya lalu menatap Gibran dengan senyuman.
"Makasih Kak sudah antar aku"
Tidak ada tanggapan Gibran hanya diam sambil terus menatap Diandra dan entah kenapa tubuhnya secara refleks mendekat setelah dia melepas sabuk pengamannya. Terlihat sekali Diandra terkejut apalagi ketika Gibran meletakkan sebelah tangannya di leher Diandra dan membuatnya mendongak.
Mata mereka bertemu Gibran tersenyum lalu memejamkan matanya dan menempelkan bibir mereka. Baru sebentar hingga Diandra dengan raut wajah terkejutnya sedikit mendorong Gibran.
"Kakak kenapa cium aku?" Tanya Diandra polos
Gibran semakin dibuat gemas dengan wajah lucu Diandra hingga mencium bibirnya lagi.
Diandra refleks memundurkan tubuhnya hingga terpojok ke pintu mobil dan menggigit bibir bawahnya pelan.
"Makasih aku pulang dulu"
Setelah mengatakan hal itu Diandra dengan terburu-buru keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah sederhana miliknya membuat Gibran tertawa kecil melihatnya.
Dia menyentuh bibirnya dan tersenyum.
Gibran sering melakukan lebih dari sekedar menempel seperti tadi, tapi entah kenapa dia merasa senang sekali sekarang.
Gibran bahkan ingin melakukannya lagi.
Flashback off
Senyum manis Gibran terbentuk ketika dia mengingatnya bahkan sekarang tangannya tidak bisa diam untuk tidak mengusap pipi Diandra yang tertidur lelap di sofa ruang kerjanya. Tadi Gibran melihat laptop yang masih memutar film lalu mematikannya karena Diandra sedang tertidur, tapi begitu melihat walpaper dimana itu adalah foto mereka ketika di pantai membuat Gibran kembali mengingatnya.
Gibran selalu suka mengingat hari dimana dia dan Diandra belum menikah, entah kenapa itu hal yang menarik untuk dia ingat. Setiap mengingat hal itu Gibran seolah dibuat semakin beruntung karena sudah mendapatkan Diandra sekarang.
"Baby bangun"
Dengan hati-hati Gibran membangunkan istrinya yang masih terlelap.
"Ehmm"
"Bangun, katanya mau ke rumah Mama nanti istirahatnya disana aja badan kamu sakit semua kalau tidur di sofa." Kata Gibran dengan penuh kelembutan
Mata Diandra perlahan terbuka dia menatap Gibran dengan mata sayunya membuat Gibran tersenyum dan mengusap pipinya.
"Bangun dulu ya?" Kata Gibran lagi
Mengangguk singkat Diandra bangun dengan dibantu oleh suaminya lalu menyandarkan kepala di bahu Gibran.
__ADS_1
"Sebentar ngumpulin nyawa dulu." Kata Diandra membuat Gibran terkekeh mendengarnya
Sekitar lima menit barulah Diandra mengajak suaminya untuk pulang dan Gibran langsung membantu Diandra untuk berdiri sambil merangkulnya dengan sayang. Setelah mengunci studionya Gibran langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya dan bergegas masuk ke dalam mobil lalu melajukannya keluar dari area studio.
Sekarang sudah pukul empat sore dan biasanya jam segini Diandra memang sedang tidur lalu bangun ketika menjelang malam mungkin sekitar pukul enam. Terlihat sekali Diandra masih mengantuk karena sejak tadi dia menguap dan menyandarkan tubuhnya pada jok mobil.
"Masih mau ke rumah Mama atau pulang?" Tanya Gibran
"Emm rumah Mama mau makan masakan Mama." Kata Diandra membuat Gibran tersenyum mendengarnya
"Ada yang mau kamu beli?" Tanya Gibran
"Enggak, mau cepat sampai." Kata Diandra
Gibran hanya tersenyum menanggapinya dan kembali fokus pada jalan membiarkan Diandra yang sekarang sedang memainkan ponselnya.
Sekitar lima belas menit Gibran akhirnya sampai dan langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah lau membukakan pintu mobil untuk istrinya. Seperti biasa Gibran merangkulnya dengan sayang sambil bersama-sama melangkahkan kakinya ke dalam.
Begitu masuk mereka bertemu Dara yang langsung berseru senang dan berlari kecil menghampiri mereka. Memeluk menantunya dengan sayang Gibran mencium kedua pipinya bergantian.
"Ya ampun kenapa gak bilang kalau mau kesini sayang?" Tanya Dara
"Kami habis dari studio Ma lalu Diandra bilang mau ke rumah Mama katanya mau makan masakan Mama." Kata Gibran
"Mau makan sekarang sayang?" Tanya Dara
"Emm nanti aja Ma sekarang mau ke kamar dulu." Kata Diandra
"Yaudah kamu ke kamar dulu sama Gibran ya? Nanti Mama kasih tau Ghina sama Papa kalau kalian di rumah." Kata Dara
"Iya Ma"
"Kalian mau menginap?" Tanya Dara
Gibran menatap Diandra dan meminta istrinya untuk menjawab karena dia hanya akan mengikuti istrinya saja.
"Hmm mau"
"Mama senang dengarnya kalau gitu kamu sama Gibran istirahat dulu ya?" Kata Dara dengan senyuman
Diandra mengangguk lalu bersama dengan Gibran pergi ke kamar yang ada di atas dan Diandra langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Benar kata suaminya sekarang tubuhnya pegal semua.
"Ada apa baby?" Tanya Gibran
"Pegall"
Tersenyum manis Gibran ikut naik ke atas ranjang dan mengusap dahi Diandra dengan lembut.
"Mau aku pijat?" Tanya Gibran
"Enggak"
Sesaat setelahnya dahi Diandra berkerut dan dia meringis membuat Gibran langsung bertanya dengan raut wajah panik.
"Ada apa baby? Ada yang sakit?" Tanya Gibran panik
"Dia menendang." Kata Diandra pelan
Terdiam untuk sesaat Gibran meletakkan tangannya di perut Diandra dan benar dia merasakan sesuatu yang membuat senyumnya mengembang sempurna.
"Dia tidak sabar ingin bertemu dengan kita." Kata Gibran
Mendekatkan wajahnya Gibran mencium perut buncit Diandra cukup lama dan membuat istrinya itu tersenyum senang.
Setelah menjauhkan wajahnya Gibran mencium seluruh wajah Diandra dan berhenti lama di bibirnya lalu membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Terima kasih banyak sayang"
¤¤¤¤
__ADS_1
Aku updatee guysss😶