Obsession

Obsession
Alden


__ADS_3

Duduk berhadapan bersama adiknya Gibran tidak mengatakan apapun begitu juga Ghina tadi tangannya sudah diobati oleh Diandra dan sekarang istrinya itu sudah pulang atas permintaan Gibran. Sebenarnya Diandra enggan untuk pulang, tapi Gibran mengatakan bahwa di rumah ada Mama nya dan mereka tidak mungkin membiarkan anak-anak terlalu lama ditinggal.


Selain itu Gibran juga takut Mama nya curiga karena dia baru ingin mengatakan semuanya besok mengingat keadaan Ghina yang sangat tidak baik dan ditambah masih ada hal yang harus dia bicarakan. Rasanya Gibran adalah Kakak yang paling buruk karena kejadian yang menimpa adiknya, dia sangat terluka.


Tadi Gibran menangis katakan saja dia cengeng, tapi mengingat bagaimana kedua orang tuanya meminta dia untuk menjaga Ghina membuat hatinya mencelos. Selama ini dia tidak menjadi anak yang baik untuk kedua orang tuanya dan sekarang dia juga bukan Kakak yang baik untuk adiknya.


'Lihat Gibran adik kamu sudah lahir dia cantik sekali kan?'


'Gibran harus janji ya jagaiin adiknya jangan sampai ada orang lain yang menyakitinya'


Belum lagi perkataan orang tuanya ketika dia mengaku sudah membuat Diandra hamil.


'Kamu punya adik perempuan Gibran! Bagaimana kalau adik kamu juga mengalami hal yang sama?!'


Helaan nafas kasar Gibran terdengar membuat Ghina mendongak untuk menatapnya dan bersamaan dengan itu juga ponsel Ghina bergetar membuat Gibran langsung memanggilnya sebelum Ghina melakukannya.


Ghina kamu baik-baik saja kan?


Maaf aku mabuk


Kamu dimana? Aku ingin bicara


Menatap Kakaknya dengan penuh permohonan Ghina ingin mengambil ponselnya, tapi Gibran langsung menghalaunya dan mengirimkan lokasi mereka sekarang.


^^^Datanglah kesini^^^


Iya aku segera kesana aku baru keluar dari hotel dan tidak terlalu jauh juga


Meletakkan lagi ponsel adiknya di meja Gibran dapat melihat adiknya yang menunduk dan tidak berani menatapnya, tapi Gibran tidak perduli. Satu-satunya hal yang ada dibenaknya hanya memberi pelajaran padi kekasih dari adiknya.


Bahkan kepalanya pening memikirkan akan seperti apa reaksi orang tuanya nanti, dia tidak bisa membayangkan beatap hancur Mama nya ketika mendengar hal yang menimpa putri kesayangannya.


"Kakak"


"Ghina, hubungan kamu dengan pria itu selama ini baik kan? Apa dia pernah menyakiti kamu? Pernah selingkuh dari kamu?" Tanya Gibran


Ghina terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan Kakaknya.


"Kami baik Kak hanya saja belakangan ini... kami.. em terkadang bertengkar, tapi selalu berbaikan lagi." Kata Ghina


Kembali diam Gibran menatap ke atas dan menghela nafasnya panjang, dadanya masih terasa sangat sesak.


"Kak aku... aku wanita yang kotor ya? Aku bukan wanita yang suci." Kata Ghina pelan


"Jangan bicara begitu!" Kata Gibran tidak suka


"Mama sama Papa... mereka pasti akan benci... mereka akan benci Ghina." Kata Ghina sedih


"Ghina mereka tidak akan membenci kamu." Kata Gibran


"Kemarin.. mereka gak kasih izin Ghina pergi... karena tau acaranya di hotel, tapi Ghina... Ghina tetap pergi Kak." Kata Ghina

__ADS_1


Menghela nafasnya pelan Gibran mendekat dan memeluk adiknya dengan sayang membuat Ghina kembali menangis dipelukannya. Cukup lama hingga kekasih adiknya itu sampai dan Gibran dapat merasakan tubuh Ghina yang menegang.


"Buka pintunya Ghina." Kata Gibran


"Kak..."


"Kakak yang buka dan dia akan langsung terluka." Kata Gibran


Mendengar hal itu Ghina langsung bangun dan berjalan pelan lalu membuka pintu, membiarkan kekasihnya masuk ke dalam. Melangkahkan kakinya beriringan Ghina mulai berkeringat dingin ketika melihat Kakaknya berjalan menghampiri mereka.


"Ghina Kakak kamu da...."


"KAKAKK"


Ghina berseru kencang ketika tanpa aba-aba Gibran mendekat dan melayangkan tinjunya hingga pria yang merupakan kekasih Ghina itu jatuh tersungkur.


"Kak"


Wajah Gibran memerah menahan amarah dia mendekat dan mengabaikan Ghina yang berusaha menahannya lalu kembali memukul wajah kekasih adiknya.


"Brengsek!"


Ghina menangis melihat Kakaknya yang terus memukul wajah kekasihnya bahkan luka yang tadi sempat Kakak iparnya obati kembali mengeluarkan darah.


"Kak udah Kak jangan." Pinta Ghina


"Lepas Ghina!" Sentak Gibran


"Kak aku mohon." Pinta Ghina


"Kak Gibran tangan Kakak berdarah lagi." Kata Ghina


"Apa itu penting Ghina?! Pria ini dia sudah menghancurkan kamu! Pria ini sudah merusak adikku!" Bentak Gibran


"Kak..."


Gibran sudah akan melayangkan tinjunya lagi, tapi Ghina memeluknya sambil terisak dan memintanya untuk berhenti.


"Kakak aku mohon... aku mohon Kak jangan." Kata Ghina


Menghela nafasnya kasar Gibran menjauh dari tubuh pria itu sambil menggeram pelan. Begitu Kakaknya menjauh kekasih Ghina berdiri dan berjalan mendekat dengan wajah yang banyak memar serta luka di sudut bibirnya.


"Kak itu hanya kesa...."


"Kesalahan?! Kamu mau bilang itu kesalahan?!" Bentak Gibran


"Iya itu memang kesalahan aku mabuk dan memaksa Ghina melakukannya, bukankah Kakak pernah melakukannya juga?" Kata pria itu kembali menyulut emosi Gibran


"Alden!"


"Brengsek!" Maki Gibran

__ADS_1


"Aku kesini untuk menemui Ghina dan meminta maaf padanya." Kata Alden


"Kamu pikir maaf saja cukup?" Sentak Gibran


"Lalu aku harus apa?!" Kata Alden


"Temui orang tua kami!" Titah Gibran


Alden mengusap kasar wajahnya lalu menatap Ghina yang terlihat sangat berantakan.


Apa dia sekasar itu?


Mereka semua diam tanpa ada yang bersuara dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku tidak bisa orang tuaku bisa membunuhku kalau tau." Kata Alden membuat Ghina menatapnya dengan penuh luka


"Apa aku peduli? Aku hanya minta kamu datang temui orang tua kami jelaskan perbuatanmu pada adikku dan bertanggung jawablah!" Titah Gibran


"Tanggung jawab apa Kak? Ghina juga belum tentu hamil." Kata Alden


"Apa ini hanya masalah kehamilan Alden? Aku merasa sangat kotor sekarang bahkan aku jijik dengan diriku sendiri, tapi kamu... kamu"


Ghina tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi dia mengalihkan pandangannya dan membuat Alden menatapnya dalam diam.


"Kamu sudah merenggut hal paling berharga untuk Ghina! Kamu merenggut kehormatannya dengan paksa! Oke, kalau kamu tidak mau tanggung jawab, tapi paling tidak temui orang tua kami dan minta maaf juga pada mereka." Titah Gibran


Mengusap kasar wajahnya Alden merasa sangat kebingungan sekarang, dia tidak mau sampai kedua orang tuanya tau.


Dia bisa habis.


"Minta maaf pada Ghina dan orang tua kami! Kalau kamu memang tidak mau bertanggung jawab tidak masalah aku sendiri yang akan mencarikan pria terbaik untuk adikku." Tekan Gibran


Perkataan itu membuat Alden mendongak dan menatapnya dengan tidak suka, mencarikan pria lain untuk Ghina?


Tidak, dia tidak akan membiarkannya.


"Aku akan mencari pria yang akan menghormatinya dan bukan menyakitinya seperti kamu." Kata Gibran


"Enggak!"


"Kenapa? Aku akan melakukannya bahkan beberapa temanku yang menyukai Ghina masih sering menanyakan kabarnya, jadi aku tinggal menelpon mereka dan menga...."


"Berhenti Kak! Aku tidak akan membiarkannya!" Kata Alden marah


Dia tidak bisa membiarkan seseorang merebut Ghina dari sisinya.


Menghela nafasnya pelan Alden mencoba menatap kekasihnya, tapi hatinya terada nyeri ketika Ghina mengusap air matanya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Dia memang sering kali menyakiti Ghina, tapi sepertinya ini yang paling parah.


Dia bukan hanya menyakiti, tapi juga menghancurkannya.

__ADS_1


¤¤¤


Haii aku updateeee😚


__ADS_2