Obsession

Obsession
Clarissa


__ADS_3

Diandra benar-benar mendiamkan Gibran bahkan istrinya itu baru keluar kamar menjelang malam dan ketika Gibran mendekat dia sama sekali tidak mau menanggapi ucapannya, hanya diam sambil melakukan kegiatannya. Sekarang Diandra sedang baru saja kembali dari kamar anaknya setelah memastikan Gavin dan Danira telah terlelap.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam Gibran masih berusaha untuk memulai pembicaraan dengan Diandra meskipun istrinya itu tetap diam. Sungguh dia merasa sangat bersalah karena telah berbohong juga takut kalau Diandra akan membencinya.


Salahnya memang berbohong pada Diandra, tapi dia bisa apa?


Gibran benar-benar takut kalau Diandra akan marah karena Clarissa wanita yang dia temui merupakan seseorang yang pernah singgah di hatinya. Seseorang yang pernah sangat Gibran cintai dan wanita pertama yang pernah dia kenalkan pada keluarganya.


"Sayang aku minta maaf"


Tetap tak ada jawaban Diandra naik ke atas ranjang dan meletakkan guling di tengah mereka padahal biasanya Diandra akan langsung memeluknya.


"Diandra"


Gibran meraih tangan Diandra, tapi di tepis olehnya.


"Izinkan aku bicara." Kata Gibran


"Aku mengantuk." Kata Diandra tanpa mau menoleh


"Diandra kumohon maafkan aku." Kata Gibran


"Maaf untuk apa? Sudah berbohong? Menemui wanita lain? Sudah tidak mencintai aku lagi?" Tanya Diandra


"Sayang aku sangat mencintai kamu maaf karena sudah berbohong, tapi aku hanya takut kamu marah sungguh ti...."


"Memang apa yang kalian lakukan sampai aku harus marah? Apa selama ini aku marah kalau kamu menemui teman-teman kamu? Apa aku pernah marah ketika kamu menemui model-model itu? Tidak kan?" Kata Diandra membuat Gibran terdiam


Menghela nafasnya pelan Diandra menarik selimut lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Gibran.


"Aku tidak akan marah selagi kamu hanya mengobrol atau bertemu sebagai teman." Kata Diandra


"Maaf"


"Apa wanita itu spesial?" Tanya Diandra


"Tidak sayang." Kata Gibran


"Katakan tadi kalian ngapain?" Tanya Diandra


"Kami bertemu di studio lalu makan siang bersama dan aku.... aku menemani dia ke mall." Kata Gibran


"Oke cukup"


"Maaf aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi tadi... dia hanya minta ditemani...."


"Ditemani suami orang." Kata Diandra


"Sayang maaf aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi." Kata Gibran


"Tidur Mas sudah malam." Kata Diandra


"Aku ingin bicara sayang." Kata Gibran


"Tidur atau aku akan pindah ke sofa!" Ancam Diandra


"Iya jangan." Kata Gibran


Membaringkan tubuhnya Gibran menatap punggung Diandra dengan sedih biasanya mereka selalu berpelukan dan biasanya Gibran akan mendapatkan ciuman selamat malam dari istrinya.


"Mas"


"Hmm"


"Waktu Anetta mengajak kamu bertemu kamu menolaknya dan bilang bahwa kamu memiliki seorang istri serta harus menjaga perasaannya, tapi kenapa dengan wanita itu tidak?" Tanya Diandra


Diandra masih tidak mau menoleh hingga dia tidak melihat Gibran yang terdiam di tempatnya untuk waktu yang cukup lama.


"Diandra aku..."


"Kamu ragu sama perasaan kamu ke aku?" Tanya Diandra


"Tidak sayang aku tidak pernah ragu." Kata Gibran


"Sudah aku mau tidur." Kata Diandra


"Aku sangat mencintai kamu Diandra." Kata Gibran pelan


Tidak ada tanggapan yang Diandra berikan dia hanya diam lalu mulai memejamkan matanya.


Entahlah Diandra mulai merasa lelah, dia hanya ingin tidur saja dan melupakan sejenak semuanya.


"Maafkan aku Diandra"

__ADS_1


Suara itu masih dapat dia dengar, tapi Diandra tidak memberikan jawaban apapun.


Dia hanya diam tanpa suara.


¤¤¤


Saat pagi Diandra langsung bangun dan pergi ke kamar anak-anaknya tanpa membangunkan Gibran karena dia tau pria itu sudah bangun, tapi pura-pura masih tertidur. Selesai melihat kedua anaknya yang ternyata masih terlelap Diandra pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan tanpa menyapa suaminya yang sudah berdiri di dekat pintu.


Tak ada sapaan atau pelukan juga ciuman di pagi ini padahal mereka selalu melakukannya setiap hari, tapi untuk sekarang Diandra hanya akan diam. Akibat kejadian kemarin Diandra kehilangan mood nya untuk melakukan apapun padahal dia sudah berencana akan pergi jalan-jalan bersama Ellena.


Sampai di dapur Diandra membuka kulkas lalu mengambil beberapa sayuran. Tadinya ada Bi Diah yang membantu, tapi begitu Gibran datang wanita paruh baya itu pergi atas titah majikannya.


"Sayang"


"Lihat anak-anak Mas nanti mereka bangun." Kata Diandra


"Diandra aku ingin bicara." Kata Gibran


"Habis itu kamu mandi langsung berangkat ke studio atau ke butik atau menemui wanita itu lagi." Kata Diandra membua Gibran menatapnya dengan penuh rasa bersalah


"Sayang maafkan aku." Kata Gibran


"Coba ke kamar dan lihat anak-anak aku lagi masak." Kata Diandra yang masih terus mengabaikan permintaan maaf suaminya


"Kumohon dengarkan aku bi...."


"Bi Diahhh"


Perkataan Gibran terputus ketika Diandra memanggil Bi Diah untuk datang.


"Iya Nyonya"


"Aku mau masak sup tolong lanjutkan sebentar aku mau lihat anak-anak takut mereka bangun." Kata Diandra


"Baik Nyonya"


Setelah mengatakan itu Diandra berlalu begitu saja meninggalkan suaminya yang menghela nafasnya pelan lalu mengikutinya dari belakang. Begitu ada di kamar mereka Gibran menahan lengan Diandra yang ingin masuk ke dalam kamar anaknya membuat istrinya itu melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Diandra menyentak tangannya dengan kasar sambil menatapnya tanpa ekspresi.


"Apa?"


"Aku ingin bicara." Kata Gibran dengan tatapan penuh permohonan


"Aku ingin minta maaf jangan diamkan aku begini." Kata Gibran pelan


"Aku bener-bener gak ngerti Mas kamu kenapa harus bohong? Bilang sama aku, kenapa? Kenapa kamu takut aku marah?" Tanya Diandra dengan raut wajah lelah


"Aku takut kamu marah." Kata Gibran


"Iya kenapa?! Memang kenapa aku harus marah?" Tanya Diandra dengan suara yang sedikit lebih keras


"Aku tidak tau sayang aku hanya takut kalau kamu marah." Kata Gibran


"Udah lah Mas aku gak ngerti sama kamu, lebih baik kamu mandi sekarang terus ke butik atau studio." Kata Diandra


"Sayang dengarkan aku dulu." Kata Gibran


"Dengarkan apaa? Kamu dari tadi hanya minta maaf tanpa memberikan penjelasan, apa yang harus aku dengar?" Tanya Diandra


"Aku..."


"Udah Mas aku lagi gak mood bicara kamu juga gak tau harus bicara apa, jadi lebih baik kita diam." Kata Diandra


Melepaskan tangannya Diandra masuk ke dalam kamar anaknya dan senyumnya langsung mengembang kala melihat Gavin yang baru saja terbangun.


"Hey jagoannya Mommyy"


Dengan wajah bantalnya Gavin menoleh lalu tersenyum pada Diandra yang kini menghampirinya. Memeluk tubuh Mommy nya dengan sayang Gavin begitu menempel dan terlihat sangat manja di dalam dekapan Diandra.


"Ya ampun manja sekalii." Kata Diandra sambil mencium kepalanya berkali-kali


Dalam diam Gibran memperhatikan keduanya dengan dada yang terasa begitu sesak, dia melangkahkan kakinya maju membuat Gavin mendongak untuk menatapnya. Tatapan lugu anaknya itu membuat Gibran tersenyum lalu duduk di dekat Diandra dan mengusap pelan pipi Gavin dengan tangannya.


"Daddyy"


"Pagi jagoan." Sapa Gibran sambil mendekat dan mencium keningnya dengan lembut


Baru ingin kembali bicara Diandra sudah mengatakan sesuatu pada anaknya.


"Sayang sama Daddy dulu ya? Mommy mau masak." Kata Diandra


"Heem"

__ADS_1


Mencium pipi anaknya sebentar Diandra melepaskan pelukannya membuat Gavin berjalan ke arah Gibran dan memeluknya. Setelah itu Diandra menghampiri ranjang bayi dimana Danira masih terlelap bayi cantiknya itu memang biasanya bangun sekitar pukul delapan.


"Aku titip anak-anak dulu ya Mas nanti kalau Danira bangun panggil saja." Kata Diandra


Tidak mengatakan apapun lagi Diandra pergi keluar kamar meninggalkan Gibran yang hanya bisa menatapnya. Dengan raut wajah sedih Gibran mengeratkan pelukannya pada Gavin sambil mencium puncak kepalanya dengan sayang.


Diandranya sangat marah.


¤¤¤¤


"Gibrannnn"


Suara itu membuat Gibran menggeram pelan karena dia benar-benar tidak mau menemui Clarissa lagi, tapi wanita itu malah kembali datang. Kemarin dia bertemu memang mereka juga pergi ke mall bersama hanya saja Gibran mengatakan bahwa dia sudah menikah dan mau mengantarnya hanya untuk kali terakhir.


Awalnya Gibran hanya ingin bertanya tentang kepergian Clarissa dulu ketika mereka sudah merencanakan pertunangan dalam satu minggu, hanya itu saja. Sungguh Gibran tidak ada maksud lain apalagi berniat untuk selingkuh, dia tidak pernah berfikir untuk melakukannya.


Gibran sangat mencintai istri dan anak-anaknya.


"Gibran aku bawakan makan siang." Kata Clarissa


"Aku tidak nafsu makan dan kenapa kamu datang lagi Clarissa?!" Tanya Gibran kesal


"Tidak boleh?" Tanya Clarissa


"Aku punya istri dan dua anak, jadi sudah ya? Jangan datang lagi semua jawaban yang aku ingikan sudah aku dapatkan kemarin, kamu pergi karena ingin mengejar impian kamu." Kata Gibran


"Tapi, aku mau kembali sama kamu." Kata Clarissa


"Sa kamu yang meninggalkan aku dan sekarang aku sudah bahagia dengan istri yang sangat aku cintai, jadi berhenti." Kata Gibran


"Gibrannn"


Clarissa meraih tangan Gibran yang langsung dilepaskan begitu saja olehnya.


"Sa pergi dari sini." Pinta Gibran


Clarissa menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah sedih.


"Kumohon Sa." Kata Gibran lagi


"Kamu masih cinta aku Gibran! Kalau tidak kamu tidak mungkin berbohong sama istri kamu." Kata Clarissa


"Aku hanya mencintai Diandra dan alasan aku berbohong hanya karena takut dia marah." Kata Gibran


"Gibrannnn"


"Pergi atau mau aku paksa?" Tanya Gibran


"Baik aku pergi, tapi peluk aku." Kata Clarissa


"Sa jangan begini aku...."


Clarissa mendekat dan memeluknya dengan sangat erat membuat Gibran hanya diam di tempatnya.


"Peluk aku dan aku janji akan pergi setelah ini." Kata Clarissa


"Sa..."


"Kali ini saja." Pinta Clarissa


Menghela nafasnya pelan Gibran terlihat sangat ragu, tapi tangannya terangkat dan membalas pelukan itu.


Gibran tidak tau secepat apa, tapi yang jelas begitu mendengar suara Diandra dia langsung mendorong tubuh Clarissa dan menatap ke arah pintu.


"Bukankah itu disebut lancang jika memeluk suami orang?"


Raut wajah Diandra tidak bisa dibaca, dia melangkahkan kakinya ke dalam dan mendorong tubuh Clarissa agar menjauh.


"Diandra..."


"Tidakkah kamu malu sudah mendekati suami aku bahkan sampai memeluknya?" Tanya Diandra


Diandra menatap Clarissa dengan sangat tajam.


"Bukankah harusnya kamu gunakan otak kamu dengan baik selagi masih berfungsi? Apa hanya ada suamiku di dunia ini hingga kamu hanya ingin mendekatinya saja?" Tanya Diandra lagi


Diandra berjalan semakin mendekat membuat Clarissa memundurkan langkah kakinya.


"Gunakan kecantikan kamu itu untuk mencari pria yang masih single dan bukan malah memikat pria yang sudah bersuami bahkan memiliki anak!"


Cukup sudah Diandra merasa sangat kesal dan marah pada keduanya.


¤¤¤

__ADS_1


Hmm kan Diandra nya marah banget sama kamu😡


__ADS_2