
Gibran marah besar!
Semua anaknya kecuali Danira kini berkumpul di ruang keluarga tanpa Diandra karena Diandra sedang menjaga Danira yang sampai saat ini masih belum mau mengeluarkan suaranya. Sudah jam satu malam Danira belum mau tidur juga dia diam sambil melamun dan ketika ditanya tidak mau menjawab.
Sejak tadi Diandra berada di samping anaknya dia memeluk anak itu dan berusaha mengajaknya bicara, tapi Danira tak menanggapi kalau pun menanggapi hanya dengan gumaman pelan saja. Suhu tubuhnya juga sedikit panas, Danira memang setakut itu dia nyaris tenggelam ketika masih kecil dulu.
Tidak, bukan di kolam renang melainkan di laut ketika Danira di larang untuk bermain terlalu jauh dan anak itu tetap melakukannya hingga ombak besar datang, tapi beruntung Danira berhasil di bawa ke tepian pantai.
Saat itu Diandra menangis hebat dia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri bahkan ketika Danira sampai dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi Diandra terus menangis.
"Enggak akan ada lagi izin untuk pergi party! Enggak ada lagi keluar malam di atas jam tujuh!"
Ketiga anaknya hanya mengangguk patuh, tidak mungkin menyangkal ucapan Gibran.
"Siapa wanita itu? Siapa yang berani menyakiti putri kecil Daddy?" Tanya Gibran dengan mata yang dipenuhi amarah
"Mantan pacarnya Arsaka namanya Aura." Kata Gavin
Gibran menghela nafasnya pelan, dia mengacak gemas rambutnya.
"Dengar Gavin mulai sekarang tidak akan ada lagi izin untuk pergi ke pesta dan tidak akan ada lagi izin untuk keluar malam! Sekarang semuanya masuk ke dalam kamar!" Titah Gibran
"Gavin mau lihat Ila." Kata Gavin pelan
"Pergi ke kamar dan tidur Ila juga istirahat sama Mommy." Kata Gibran
Gavin akhirnya pasrah bersama dengan Galen dan Davin dia keluar dari ruang keluarga. Bukan pergi ke kamar masing-masing Galen dan Davin malah ikut masuk ke dalam kamar Kakak mereka.
Keduanya duduk di atas ranjang bersama dengan Gavin yang terlihat marah sekali.
"Brengsek! Aura sialan! Cewek sialan!" Maki Gavin
Rahang pria itu mengeras begitu juga kepalan tangannya.
"Semoga Kak Ila enggak bakal demam." Kata Davin
Gavin mengumpat dengan suara pelan dia benar-benar ingin memukuli Aura andai saja dia seorang pria sudah habis dia ditangannya.
"Udah Kak sekarang Kakak istirahat aja besok kita libur nanti kita temenin Kak Ila." Kata Galen
Gavin hanya bergumam pelan lalu meminta kedua adiknya untuk pergi ke kamar mereka masing-masing dan tidur.
Keduanya patuh mereka keluar dari kamar Gavin meninggalkan pria itu yang masih terlihat marah, dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Arsaka.
"Lo ada masalah apa sama Aura Ka?!" Tanya Gavin
'Gue enggak ada masalah Vin! Gue sama dia beneran udah selesai sejak lama"
Gavin mengumpat lagi dia benar-benar ingin menghancurkan sesuatu sekarang.
"Aura sialan!" Kata Gavin entah untuk yang keberapa kalinya
'Sorry gue benar-benar udah enggak ada masalah sama dia Vin gue enggak ngerti kenapa dia bisa senekat ini'
Gavin bergumam pelan, dia juga tidak bisa terus menyalahkan Arsaka.
'Ila gimana?'
"Diam aja enggak mau ngomong apapun, sekarang lagi sama Mommy besok lo datang aja ke rumah." Kata Gavin
__ADS_1
'Iya besok gue ke rumah'
Awas saja gadis itu urusannya dengan Aura belum selesai, dia sama sekali tidak puas meskipun sudah mendorong balik gadis itu ke kolam renang.
Tidak semudah itu meredakan amarah Gavin ketika adik kesayangannya disentuh!
°°°°
"Ila ayo makan"
Gavin sudah berkali-kali meminta Danira untuk sarapan, tapi adiknya itu tidak mau bahkan bukan hanya dia melainkan kedua adiknya yang lain juga Gibran dan Diandra yang berusaha membujuk. Sejak tadi Danira hanya menggelengkan kepalanya pelan untuk memberikan penolakan ketika di suruh makan padahal wajahnya sudah pucat.
Kali ini Gavin meraih tangan Danira menggenggamnya dengan sayang hingga membuat adiknya itu kini menatap matanya. Senyum Gavin terukir dia lalu mengusap kepala Danira dengan sayang.
"Ila"
Danira tak menjawab atau sekedar memberikan tanggapan.
"Ayo makan nanti kalau enggak makan makin sakit." Kata Gavin
"Ila enggak lapar." Kata Danira pelan
"Makan, lihat coba Ila pucat banget sebentar lagi Arsaka datang dia udah di jalan." Kata Gavin
Danira menatap Gavin lagi dia kembali bungkam.
"Ila ayo makan sayang, enggak papa jangan takut Ila udah enggak papa." Kata Gibran sambil duduk di dekat anaknya
"Ila... Takut kemarin Ila enggak bisa nafas." Kata Danira
Anak itu memeluk Gibran membuat Gibran langsung balas memeluknya dan memberikan ciuman di puncak kepalanya.
Danira mengangguk singkat, dia masih terus memeluk Gibran dengan sayang.
"Makan ya?" Kata Gibran lagi
Danira mengangguk lagi membuat Gavin tersenyum senang dan ketika Gibran melepaskan pelukannya Danira beralih menatapnya.
"Ayo makan La ini Mommy udah buatin bubur." Kata Gavin
Danira menerima suapan yang Gavin berikan untuknya tanpa banyak bicara.
Mood Danira memburuk, dia masih ketakutan.
°°°°
Arsaka dan Danira saling terdiam tidak ada satupun yang memulai pembicaraan, sejak tadi Arsaka hanya diam sambil memeluk Danira dengan sayang. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena ini semua ulah Aura yang merupakan mantan kekasihnya.
Mungkin tujuan awal Aura hanya untuk mempermalukan Danira, tapi ternyata perbuatannya itu dapat mengancam nyawa Danira. Sebelum pergi Arsaka menemui Aura di rumah Sherin dia memaki gadis itu karena merasa marah dan mengucapkan hal yang membuat gadis itu menahan tangisnya.
'Jangan pernah lagi muncul di hadapan gue! Gue enggak sudi lihat lo lagi Ra'
Sungguh Arsaka marah sekali, berani sekali dia menyakiti kekasihnya.
"Kak Aura...."
"Udah enggak usah bicarain dia hm? Maaf ya karena dia udah sakitin kamu." Kata Arsaka pelan
"Ila takut." Kata Danira sambil mengeratkan pelukannya
__ADS_1
"Kakak di sini untuk Ila enggak akan Kakak biarin Aura dekati kamu lagi apalagi sampai menyakiti kesayangannya Kakak." Kata Arsaka
Arsaka mengusap pipi Danira dengan sayang membuat gadis itu memejamkan matanya karena merasa nyaman.
"Kak Gavin dia... Dia pasti marah banget sama Kak Aura ya?" Tanya Danira
"Iya, dia marah banget karena ada orang yang berani nyakiti adik kesayangannya." Kata Arsaka
Danira semakin memeluk Arsaka dia bersandar dengan manja di bahunya.
"Ila enggak mau ketemu Kak Aura lagi Ila takut." Kata Danira
Arsaka bergumam pelan dia mengurai sedikit pelukan Danira lalu mencium keningnya dengan sayang.
"Sekarang Ila senyum"
Danira terdiam sejenak lalu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, meski hanya senyuman tipis.
Yah setidaknya Arsaka membuatnya lebih baik.
°°°°
Aura bersembunyi di balik tubuh kedua orang tuanya ketika tiba-tiba Gibran datang ke rumah mereka, jelas dia tidak akan membiarkan begitu saja orang yang sudah membuat anaknya celaka. Kedua orang tua Aura tak banyak bicara mereka mempersilahkan Gibran masuk lalu membawakan segelas minuman juga.
Sebelum bicara Gibran menatap ke arah Aura gadis yang sudah membuat putri kecilnya terluka. Di tatap dengan setajam itu membuat Aura kehilangan nyalinya dia memeluk lengan Mama nya dengan erat.
"Iya ada apa?" Tanya Satria, Papa dari Aura
Kedua orang tua bukan tidak tau siapa yang datang ke rumah mereka, jelas mereka tau siapa Gibran.
Keturunan dari keluarga Wijaya seorang fotografer ternama.
"Maaf sebelumnya, tapi sebagai orang tua saya tidak Terima atas apa yang sudah anak anda lakukan terhadap anak saya kemarin malam, di pesta ulang tahun teman mereka yang bernama Sherin." Kata Gibran
Gibran berusaha tenang makanya dia tidak bawa Diandra kalau ada Diandra istrinya itu akan langsung marah-marah.
"Anak anda mendorong putri saya ke dalam kolam renang dan yang perlu kalian ketahui anak saya tidak bisa renang dia juga punya trauma karena pernah hampir tenggelam, perbuatan anak anda bisa membahayakan nyawa putri saya." Kata Gibran
Kali ini kedua orang tua Aura langsung menatap gadis itu membuat Aura menunduk karena takut.
"Saya tidak peduli apapun masalah anak anda dengan putri saya, tapi yang jelas saya sangat tidak Terima atas perbuatan anak anda yang sudah membahayakan nyawa putri saya." Kata Gibran
"Maaf... Aku... Aku enggak tau kalau Danira enggak bisa renang." Kata Aura pelan
"Entah dia bisa renang atau tidak kalau kamu melakukan hal yang sama pada anak saya meskipun dia tidak memiliki trauma ataupun bisa renang, kamu fikir saya akan diam? Yang kamu lakukan sudah keterlaluan, niat awal kamu ingin mempermalukan Danira, saya benar?" Kata Gibran
Aura menunduk lagi tidak berani menatap tatapan yang sangat tajam itu.
"Aura apa yang kamu lakukan?" Tanya Satria sambil mengusap kasar wajahnya
"Saya minta kamu Aura minta maaf pada anak saya secara langsung di hadapan saya sendiri! Hanya itu yang perlu saya katakan, saya permisi." Kata Gibran
Gibran lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi, sudah cukup jengah melihat wajah gadis yang telah membuat anaknya celaka itu sama sekali tidak merasa bersalah.
Harusnya tadi dia bawa Diandra juga saja.
°°°°
Hellooo aku updateee🥰
__ADS_1