
Malam ini Gibran sudah siap dengan setelan jasnya dia akan bertemu dengan Abian di ballroom hotel nanti dimana acaranya akan berlangsung. Sebenarnya Gibran malas karena pamannya sudah pada datang juga, tapi dia tidak mau mendapatkan omelan dan Gibran menurut saja lagian hanya sebentar Abian juga bilang dia boleh pulang lebih dulu.
Sekitar pukul tujuh malam Diandra membantunya untuk bersiap mulai dari menyiapkan pakaian hingga memakaikan dasi untuknya dan Gibran suka. Sekarang dia sudah siap hahya tinggal berangkat saja, tapi entah kenapa Gibran sedikit mencemaskan Diandra.
Tadi dia sudah mengatakan pada Diandra bahwa dia akan mengantarnya ke rumah orang tuanya, tapi Diandra menolak. Katanya kalau disana akan sulit untuk membawa Gavin pulang karena kalau malam anak mereka memang sangat sensitif dalam tidurnya.
Disenggol sedikit saja akan langsung menangis.
"Ganteng banget sihh." Kata Diandra sambil mencubit pipi suaminya dengan gemas
Gibran tertawa kecil sambil memperhatikan dirinya di cermin, tidak nyaman sebenarnya memakai jas karena Gibran biasa mengenakan kemeja berlengan pendek atau kaos biasa.
"Terima kasih sayang"
Diandra mengangguk dan memeluk suaminya sebelum pria itu berangkat.
"Kunci semua pintunya ya? Jangan biarkan siapapun masuk." Kata Gibran sambil mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang
"Iyaa"
"Kalau ada sesuatu langsung telpon aku." Kata Gibran
"Iya Daddy." Kata Diandra dengan senyum manisnya
Gibran ikut tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan melangkahkan kakinya ke depan dengan diantar oleh istrinya. Anak mereka ada di dalam dekapan istrinya sekarang karena Gavin memang belum tertidur kalau jam segini.
"Baby jangan nakal ya? Daddy pergi dulu sebentar nanti jam sepuluh Daddy pulang lagi." Kata Gibran sambil mencium kening anaknya sebentar
Diandra tersenyum melihatnya dan dia memejamkan matanya kala Gibran mencium kening serta bibirnya sekilas sebelum pergi.
"Aku berangkat sayang, jangan lupa pintunya di kunci semua." Kata Gibran entah untuk yang keberapa kalinya
Diandra kembali mengangguk patuh lalu dia memperhatikan suaminya yang memasuki mobil hingga mobil itu keluar dari pagar. Begitu Gibran menghilang dari pandangannya Diandra menutup pintu dan menguncinya.
Kembali masuk ke dalam rumah Diandra pergi ke kamar anaknya yang sebenarnya hanya digunakan kalau siang saja karena kalau malam Gavin selalu tidur bersama mereka meski di ranjang yang berbeda. Ada ranjang bayi tepat disebelah ranjang mereka agar kalau Gavin menangis dia akan langsung dengar.
"Ma maa"
Senyuman Diandra terbentuk ketika mendengar suara Gavin yang lucu dia mencium pelan pipi gembul anaknya lalu menidurkan Gavin di atas karpet. Anak itu terlihat girang dia berusaha untuk berdiri membuat Diandra memegang sebelah tangannya untuk membentu.
Gavin senang sekali hingga tertawa ketika berhasil berdiri.
"Sudah pintar anak Mommy hmm?" Kata Diandra gemas
Saat tengah asik menemani Gavin bermain deringan ponselnya membuat Diandra beranjak dari tempat duduknya lalu pergi untuk mengambil ponselnya. Sedikit berlari Diandra bergegas kembali ke kamar karena takut Gavin menangis.
Ada pesan dari mertuanya yang mengatakan hal tak jauh beda dengan suaminya tadi.
Diandra jangan lupa semua pintu dikunci ya?
Kalau ada apa-apa langsung telpon ke Mama
Tersenyum tipis Diandra mengetikkan balasan lalu kembali menaruh ponselnya dan memperhatikan Gavin.
Iya Mama
Sekarang Gavin memang tidak bisa diam hingga Diandra pusing sendiri bahkan setiap mau dimandikan anaknya itu akan menangis dan ketika ingin digantikan baju Gavin malah merangkak kemana-mana. Antara lucu dan kesal, tapi Diandra tidak marah.
Dia sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu.
¤¤¤
Sampai di ballroom sebuah hotel Gibran kini sudah bersama dengan Abian dan tengah menyapa rekan kerja Abian yang entah kenapa tidak habis-habis juga. Ada banyak sekali orang disana, tapi Gibran hampir tidak mengenal mereka semua dan lagi dia tidak kunjung bertemu dengan Nicholas yang katanya ingin datang.
__ADS_1
Masih pukul setengah sembilan, tapi Gibran sudah sangat bosan dan mau pulang saja hingga dia meminta izin untuk memisah dari Abian lalu duduk sambil meminum minuman yang sudah disediakan.
"Gibran"
Menolehkan kepalanya Gibran menatap tidak suka ketika melihat Anetta yang kini mengambil tempat disampingnya.
Entahlah sekarang dia telah hilang respect dengan Anetta.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Aku rasa ini bukan tempat kamu." Kata Gibran
Anetta terkekeh kecil sambil meletakkan tasnya disana.
"Aku kesini sama pacar aku dia juga datang kesini." Kata Anetta
"Lalu? Kenapa malah disini dan bukannya sama pacar kamu? Dengar Anetta aku tidak mau sampai ada salah faham." Kata Gibran sebal
"Tidak masalah dia akan mengerti." Kata Anetta sambil mengangkat bahunya acuh
"Baiklah aku saja yang pergi." Kata Gibran
Baru ingin berdiri Anetta sudah menahan tangannya membuat Gibran menghela nafasnya kasar dan menarik tangannya. Beruntung semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Ayolah Gibran kamu ini kenapa? Kita kan hanya mengobrol bukannya berpelukan atau berciuman." Kata Anetta
"Bisa diam? Aku hanya tidak mau ada kesalah fahaman Anetta kamu sudah punya pacar kan? Aku juga sudah punya istri dan anak, jadi akan lebih baik untuk kita menjaga jarak." Kata Gibran sambil melangkahkan kakinya pergi
Di tempatnya Anetta hanya duduk diam sambil menatapnya dengan seringaian yang entah apa maksudnya. Aneh memang melihat sikap Gibran sekarang karena dulu pria itu tidak peduli dengan apa yang pasangannya fikirkan.
Mungkin karena dia itu dia dikenal sebagai playboy.
Kembali pada Gibran yang kini melihat Nicholas dan langsung menghampirinya membuat teman baiknya itu tersenyum senang.
"Sendirian?" Tanya Nicholas
"Elle juga gak ikut karena Sandrina gak mau." Kata Nicholas
Gibran mengangguk faham lalu mereka berdua sedikit mengobrol tentang berbagai macam hal. Acara sudah dimulai sejak tadi bahkan sekarang sudah terdengar alunan musik.
Saat melirik jam ditangannya Gibran menghela nafasnya pelan, kenapa lama sekali?
"Tadi ada Anetta kan?" Kata Nicholas
"Hmm katanya dia sama pacarnya." Kata Gibran
"Pacar beneran atau bohongan?" Kekeh Nicholas
"Kenapa tidak kau tanyakan padanya saja Nic?" Ujar Gibran
"Dan bertengkar dengan Elle lagi? Tidak sudah cukup dia membuat aku dan Elle bertengkar hebat." Kata Nicholas
"Aku penasaran kenapa kalian bisa dekat? Sedangkan kamu sudah menikah dengan Ellena waktu itu." Kata Gibran
"I don't know, aku hanya merasa nyaman mungkin, tapi ketika ketahuan Elle aku sangat takut apalagi dia sampai kabur dari rumah." Kata Nicholas
Gibran tersenyum tipis ketika mendengarnya, hal itu yang menjadi alasan dia tidak mau berdekatan dengan Anetta lagi.
Anetta cantik dengan wajah dewasanya dan ada banyak sekali pria yang menyukainya bahkan Gibran pernah menjadi salah satunya.
Tapi, jujur itu semua dulu karena sekarang Gibran justru merasa kesal kalau ada di dekatnya apalagi setelah kejadian di restoran.
Dia tidak percaya lagi pada Anetta.
"Kita hanya seorang pria Gibran dan terkadang nafsu membuat kita buta, tapi sekarang aku sudah bisa mengendalikannya karena itu aku selalu menjaga jarak dengan para wanita." Kata Nicholas
__ADS_1
"Ya aku tau Nic"
Gibran mengalihkan pandangannya ke depan melihat seorang wanita yang tengah berbicara di depan. Entah kapan acara ini selesai yang jelas Gibran sangat bosan dan mendadak kefikiran dengan istrinya.
Dia benar-benar ingin pulang saja.
¤¤¤
Gibran tidak mengerti kenapa tubuhnya mendadak panas sekarang hingga dia ingin melepaskan pakaiannya saja. Tadi dia habis meminum segelas jus jeruk, tapi beberapa saat setelahnya dia merasa aneh tubuhnya mulai panas dan dia merasa begitu bergairah.
Akhirnya Gibran pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya hingga berkali-kali. Sepertinya dia harus segera pulang, dia benar-benar merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Menundukkan wajahnya Gibran mendongak begitu mendengar suara knop pintu yang dibuka dan kunci yang diputar. Matanya menatap tajam ketika melihat Anetta disana sambil melipat tangan ke dada dan menatapnya dengan seringaian.
Sial!
"Butuh bantuan Gibran?"
Mata Gibran dipenuhi gairah ketika menatap Anetta dihadapannya apalagi wanita itu memakai pakaian yang cukup terbuka.
"Apa yang kau lakukan Anetta?!" Sentak Gibran dengan suara serak
"Kamu terlihat seksi Gibran biar aku bantu mengeringkan rambut kamu." Kata Anetta sambil berjalan medekat
"Jangan gila Anetta!" Bentak Gibran
"Hey tenang Gibran mungkin kita akan butuh sebuah kamar." Kata Anetta
Dia mendekat dan menatap Gibran tanpa melakukan apapun. Nafas Gibran memburu sekarang fikirannya seolah terbagi menjadi dua.
Dia berada di antara akal sehat dan nafsu yang menguasainya.
¤¤¤
Sudah pukul sepuluh lewat, tapi suaminya belum juga pulang dan Diandra merasa sangat cemas apalagi ponsel Gibran tidak bisa dihubungi. Selain cemas fikirannya juga mulai mengambil kesimpulan sendiri membuat Diandra benar-benar bingung sekarang.
Sudah berkali-kali dia menghubungi suaminya, tapi tidak ada jawaban dan ketika bertanya pada sang mertua Abian mengatakan kalau tadi Gibran bersama Nicholas. Saat menghubungi Nicholas pria itu bilang tadi Gibran pergi ke kamar mandi.
"Kak Gibran kemana sih? Kenapa gak angkat telpon dan kenapa belum pulang?"
Menghela nafasnya kasar Diandra membuka aplikasi whats app miliknya dan mengirim beberapa pesan kepada suaminya.
^^^Daddy^^^
^^^Kenapa belum pulang?^^^
^^^Katanya pulang jam sepuluh, apa ada sesuatu?^^^
^^^Kenapa tidak bilang kalau akan pulang terlambat? ^^^
^^^Aku cemas^^^
Pesannya terkirim, tapi belum dibaca dan Diandra dengan setia menunggunya. Sayangnya pesan itu masih tetap diabaikan hingga waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam masih tidak ada balasan.
Diandra kembali menelpon, tapi masih sama tidak ada jawaban.
Suaminya kemana?
¤¤¤
Hayolohh kenapa inii😂
Next gakk nihhh??
__ADS_1