
"Dia tidak akan datang Kak"
Suara Ghina mengatakan kalimat itu dengan pilu bersamaan dengan air mata serta isakan hebat yang gadis itu keluarkan membuat Diandra langsung memeluknya dengan erat dan mengusap sayang punggungnya. Sekarang mereka sedang berusaha menghubungi Alden untuk menanyakan kejelasan pria itu akan datang ke rumah mereka atau tidak, tapi ponselnya tidak aktif.
Suara umpatan Gibran terdengar bersamaan dengan dia yang melempar asal ponselnya ke sofa lalu memijat kuat dahinya. Mendengar isakan Ghina membuat Gibran benar-benar ingin menghabisi Alden sekarang juga.
"Kak... dia tidak akan datang." Isak Ghina
"Ghina kita ke rumahnya saja." Kata Gibran
"Enggak... jangan Kak." Kata Ghina sambil melepaskan pelukan Diandra dan menghampiri Kakaknya
"Kita ke rumahnya dan cari dia disana!" Kata Gibran
"Enggak Kak." Kata Ghina
"Lalu kamu mau apa Ghina?! Kita harus temui pria itu sekarang!" Kata Gibran marah
"Mas jangan bicara begitu sama Ghina." Kata Diandra
"Akh brengsek! Katakan kamu mau apa sekarang Ghina?" Tanya Gibran
"Ghina gak mau ketemu Alden... biarkan saja Kak kalau... kalau dia memang mau pergi... maka dia akan datang.. dia... dia tau rumah kita." Kata Ghina
"Oke, sekarang kita ke rumah dan menemui Mama sama Papa." Kata Gibran
"Tapi, Kak nanti Mama sama Papa... mereka.. mereka marah sama Ghina." Kata Ghina
"Ghina cepat atau lambat Mama sama Papa harus tau, jangan cemas Kakak akan ada disamping kamu percaya sama Kakak hmm." Kata Gibran dengan penuh kelembutan
Terisak pelan Ghina menganggukkan kepalanya membuat Diandra bergegas mengambilkan jaket untuk adik iparnya. Sebenarnya dia ingin ikut, tapi Gibran memintanya untuk di rumah bersama anak-anak.
Dengan sayang Gibran membantu adiknya berdiri lalu merangkulnya dan mengatakan pada Diandra bahwa dia akan pergi ke rumah orang tuanya. Berjalan dengan lambat Gibran benar-benar berusaha untuk membuat Ghina tidak merasakan sakit ketika berjalan hingga mereka sampai di garasi dan masuk ke dalam mobil.
Melajukan mobilnya menuju rumah sesekali Gibran melirik adiknya yang terlihat begitu kacau, dia benar-benar merasa sangat marah sekarang.
"Mama sama Papa... mereka... mereka selalu mengatakan pada Ghina untuk menjaga diri... untuk tidak jatuh ke pergaulan bebas.. Kak kalau mereka tau... kalau Mama Sama Papa tau mereka pasti akan... akan marah sama Ghina." Kata Ghina
"Ghina jangan bicara begitu hmm? Mama sama Papa mereka akan tetap sayang sama Ghina." Kata Gibran
Selama perjalanan Ghina kembali diam dan menatap keluar kaca sambil sesekali menghapus air matanya. Sampai akhirnya rasa takut kembali menyerangnya begitu mereka sampai di rumah.
Saat Gibran ingin mengajaknya turun Ghina langsung menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang mengalir.
"Ghina takut... Ghina enggak mau ketemu Mama sama Papa." Isak Ghina
"Ghina percaya sama Kakak ya? Kakak akan jagaiin kamu jangan takut nanti Kakak yang akan bicara." Kata Gibran
__ADS_1
Menghapus air mata Ghina dengan tangannya Gibran mengangguk singkat lalu mengajaknya keluar dari mobil. Merangkul Ghina dengan penuh kelembutan mereka masuk ke dalam rumah.
Secara kebetulan bersamaan dengan Gibran yang membuka pintu orang tua mereka terlihat seperti ingin pergi, tapi begitu melihat Ghina yang terlihat begitu kacau tas yang Dara bawah jatuh dia berlari menghampiri anaknya.
"Ghina kamu kenapa sayang?"
Bukan jawaban Ghina langsung memeluknya sambil menangis hebat membuat Dara benar-benar terkejut. Melihat hal itu Farhan bergegas menghampiri mereka dan bertanya pada Gibran tentang keadaan Ghina.
"Gibran ada apa ini? Kenapa Ghina bisa begini?" Tanya Farhan
Gibran menatap Papa nya dengan pandangan yang sulit di artikan lalu mengatakan sesuatu dengan pelan.
"Kita bicara di ruang keluarga ya Pa"
¤¤¤
Ghina tidak berani menatap kedua orang tuanya ketika Gibran telah selesai menjelaskan semuanya, dia hanya bisa terisak pelan dan mendekat pada Kakaknya yang kini merangkulnya dengan sayang. Lama sekali tak ada yang berbicara hingga Ghina mulai mendongak dan menatap kedua orang tuanya bergantian.
Papa mereka hanya diam dengan pandangan kosong serta tangan terkepal kuat dan Mama mereka tidak mengatakan apapun, tapi Ghina dapat melihat raut wajah terkejut disana. Saat Mama nya mulai menangis dia kembali menunduk dan semakin mendekat pada Gibran.
"Pa..."
"Papa sudah bilang jangan pergi Ghina." Kata Farhan pelan
"Maaf Pa aku min..."
"Pa aku..."
"Kenapa kamu tidak mau dengarkan Papa dan Mama?!" Sentak Farhan membuat Ghina semakin terisak
"Papa jangan bentak Ghina." Kata Gibran
"Katakan sama Papa siapa?! Siapa orangnya?!" Tanya Farhan yang sama sekali tidak peduli dengan perkataan Gibran
"Pa tenang..."
"Tenang bagaimana Ma?!" Kata Farhan marah
"Pa jangan bentak-bentak gitu." Kata Gibran
"Papa sudah berkali-kali bilang dengan Ghina! Kenapa kamu tidak mau dengar?!" Kata Farhan marah
Dada Farhan terasa sangat sesak sekarang karena mendengar apa yang putri kesayangannya alami.
"Ghina minta maaf..."
"Seharusnya kamu dengarkan Mama sama Papa." Kata Farhan lagi
__ADS_1
"Papa! Berhenti menyalahkan Ghina! Dia korban disini...."
"Kalau dia menurut semua hal ini tidak akan pernah terjadi." Kata Farhan
"Ghina juga tidak mau hal seperti ini Pa! Berhenti menyalahkan dia!" Kata Gibran marah
"Kalau dia tidak mau hal seperti ini sampai terjadi harusnya dia menurut pada Mama dan Papa!" Kata Farhan
Ghina hanya bisa menangis melihat perdebatan antara Papa dan Kakaknya.
"Tapi, tidak seharusnya Papa menyalahkan Ghina!" Sentak Gibran
"Gibran!"
Nafas Gibran tidak teratur dan sama dengan Farhan mereka berdua saling menatap dengan tajam membuat Dara langsung meraih tangan suaminya dan meminta dia untuk tenang.
"Dengan Papa menyalahkan Ghina apa semuanya akan berubah? Bukan berubah Papa malah akan membuat semuanya semakin kacau! Seharusnya Papa memeluk Ghina dan menenangkannya bukan malah menyalahkan dia!" Kata Gibran marah
"Kak..."
"Ghina bisa stress Pa! Bagaimana kalau dia sampai frustasi? Apa yang akan Papa lakukan?!" Kata Gibran dengan penuh emosi
"Papa sudah duduk dulu kamu juga Gibran." Kata Dara
"Kalau ingin menyalahkan jangan salahkan Ghina, tapi salahkan Gibran! Salahkan Gibran yang menjadi pria brengsek dulu! Jangan pernah salahkan Ghina." Kata Gibran dengan tangan terkepal kuat
Mereka menatap Gibran dalam diam, melihat bagaimana pria itu mengeluarkan emosinya.
"Mama sama Papa yang selalu minta Gibran untuk menjaga Ghina dan itu artinya ini semua salah Gibran! Berhenti menyalahkan Ghina!" Kata Gibran
"Gibran....
"Kalau Papa hanya ingin menyalahkan Ghina maka aku akan bawa Ghina ke rumah dan tinggal bersama aku dengan Diandra!" Kata Gibran
Mengepalkan tangannya kuat Gibran berniat meraih tangan Ghina dan mengajaknya pergi, tapi Farhan menghalanginya. Berjalan mendekat Farhan duduk disamping anaknya lalu membawanya ke dalam pelukan membuat tangis Ghina kembali pecah.
Melihat hal itu Dara ikut mendekat dan memeluk Ghina juga membuat Gibran terdiam di tempatnya.
"Ghina minta maaf"
Dari tempatnya Gibran dapat melihat Papa nya yang mengusap kepala Ghina dengan sayang.
Dia merasa lega, sedikit.
¤¤¤
Maaf baru updatee tadi habis UAS😭
__ADS_1