
Raut wajah bingung Diandra terlihat jelas ketika sang suami mengajaknya untuk pergi ke ruang keluarga dan meninggalkan anak mereka yang masih tidur nyenyak. Sepertinya ada hal yang ingin Gibran bicarakan dan Diandra hanya diam saja membiarkan sang suami membawanya ke ruang keluarga.
Sudah satu minggu sejak kepulangan Gavin dari rumah sakit dan semua sudah berjalan seperti biasanya, anak kesayangan mereka sudah sembuh. Sekarang sudah pukul dua siang beberapa menit lalu anak mereka baru saja tidur dengan Diandra yang menemani mereka.
Tapi, kali ini giliran Gibran yang mengajak istrinya keluar.
Memasuki ruang keluarga Gibran langsung mengajak Diandra untuk duduk di sofa lalu dia menatapnya dengan senyuman manis.
"Ada apa Mas?" Tanya Diandra
"Tidak, aku hanya ingin bicara banyak hal sama aku." Kata Gibran membuat Diandra menatapnya dengan alis bertaut
"Bicara apa? Ada hal yang penting?" Tanya Diandra
"Tidak sayang aku hanya ingin bicara saja sama kamu." Kata Gibran
"Hm baiklah kita memang jarang punya waktu berdua, jadi suami aku mau bicara apa?" Tanya Diandra
Gibran tersenyum lalu mengusap pipi Diandra dengan sayang.
"Diandra terima kasih banyak"
"Untuk apa?" Tanya Diandra bingung
"Semuanya, terima kasih sudah menjadi istriku lalu terima kasih sudah memberikan Danira serta Gavin di hidupku dan terima kasih sudah mempercayai aku lagi." Kata Gibran
"Tidak perlu berterima kasih Mas." Kata Diandra dengan senyuman
"Kamu mau tau? Aku selalu takut kalau kamu pergi dan meninggalkan aku karena aku sangat tidak ingin hal itu sampai terjadi, kamu dan anak-anak kalian adalah nafasku alasan dari detak jantungku." Kata Gibran
"Tidak ada yang akan pergi Mas." Kata Diandra
"Hm i know karena aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi." Kata Gibran
Menghela nafasnya pelan Diandra mendekat dan memeluk suaminya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Gibran.
Kebahagiaan yang dia rasakan benar-benar telah merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.
Kehadiran seorang istri serta kedua anaknya membuat Gibran merasa bahwa hidupnya jauh lebih berarti.
Dia semakin memghargai waktu, tidak lagi menyia-nyiakan untuk hal yang tidak berguna.
Dia semakin pandai mengontrol emosinya padahal dulu Gibran sangat mudah marah, sering membentak.
"Katakan, apa kamu bahagia dengan pernikahan kita?" Tanya Gibran sambil melepaskan pelukan istrinya dan menangkup wajahnya
"Kenapa masih tanya? Aku sangat bahagia Mas kalau kamu sendiri?" Tanya Diandra
"Sangat, aku sangat bahagia." Kata Gibran
"Sekarang kamu kalau bicara lebih serius ya? Dulu kamu suka bercanda kadang aku udah serius tanggepinnya, tapi ternyata kamu lagi bercanda." Kata Diandra membuat Gibran tertawa mendengarnya
"Tentu saja aku seorang suami sekarang mana mungkin aku bicara dengan tidak serius." Kata Gibran
"Kamu banyak berubah Mas." Kata Diandra
__ADS_1
"Kamu juga"
"Aku? Aku berubah apa?" Tanya Diandra bingung
Gibran tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.
"Berubah jadi semakin cantik, seksi, dan menggairahkan"
Wajah Diandra memerah dia mencubit gemas lengan kekar suaminya yang malah membuat Gibran tertawa lalu merangkulnya dengan sayang.
"Ish mesum banget sih." Keluh Diandra
"Kalau enggak mesum kita gak punya anak sayang." Kata Gibran
"Masss"
"Aw iya iya maaf." Kata Gibran sambil meringis pelan karena Diandra yang mencubit lengannya
Memeluk suaminya dari samping Diandra memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Gibran yang menenangkan.
"Sayang ada yang ingin aku katakan." Kata Gibran
"Katakan saja Mas." Kata Diandra
"Dua hari lalu Anetta mengirim pesan, tapi aku mengabaikannya dan kemarin dia menemui aku." Kata Gibran
Mendengar hal itu Diandra langsung mendongak untuk menatap mata suamiya.
"Dia mengundang kita ke acara pertunangannya besok malam, kamu mau datang atau tidak?" Tanya Gibran
"Boleh, tapi sebentar aja dan aku mau nanya dia tunangan sama siapa Mas?" Kata Diandra
"Aku tidak mengenalnya sayang, tapi pria itu seorang model juga." Kata Gibran
Diandra mengangguk faham dan kembali memelih untuk diam, tidak membahas apapun.
"Kamu benar-benar ingin datang? Tidak masalah?" Tanya Gibran lagi
"Hm tidak ada masalah, memang kenapa?" Tanya Diandra bingung
"Bukan aku hanya berpikir tentang ke...."
"Mas dia sudah berniat memulai kehidupannya yang baru, jadi kita harus mendukungnya untuk sesaat kamu akan jadi temannya dan aku akan jadi istri dari teman Anetta yang sekarang sedang aku peluk." Kata Diandra
Gibran tersenyum mendengarnya dia mengusap sayang kepala Diandra lalu mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Setiap orang berhak dapat kesempatan lagi Mas, sama seperti aku yang kasih kesempatan untuk kamu kita juga harus melakukan hal yang sama pada Anetta." Kata Diandra
"Kamu sangat dewasa Diandra." Kata Gibran
"Tidak, aku hanya banyak belajar dari semua kejadian yang kita alami." Kata Diandra
"Tidak mau mengakui hmm." Kata Gibran
"Bukan Mas, tapi aku memang gak sedewasa itu kamu tau sendiri kalau aku masih suka ngambek dan keras kepala." Kata Diandra
__ADS_1
"Kenapa kamu semudah itu lupa?" Tanya Gibran
"Bukan lupa, tapi hanya membiarkan semuanya berlalu begitu saja." Kata Diandra
"Semudah itu?" Tanya Gibran
"Mas seiring berjalannya waktu luka akan sembuh dan sekarang luka itu sudah sembuh meskipun masih ada bekas disana, tapi aku sudah baik-baik saja." Kata Diandra
"Masalah Anetta dan Clarissa kamu benar-benar sudah tidak mempermasalahkan lagi?" Tanya Gibran
"Tidak, aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengingatnya lagi." Kata Diandra
"Ketika bertemu Anetta nanti?"
"Aku akan tersenyum lalu mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagiaannya." Kata Diandra
"Kenapa harus?"
"Ya karena dia bertunangan dan mungkin akan segera menikah, bukannya itu kabar baik?" Kata Diandra
"Iya kabar baik kalau sudah menikah dia tidak akan mengganggu kita lagi." Kata Gibran
Diandra tersenyum mendengarnya lalu melepaskan pelukannya dan menatap sang suami dengan senyuman. Mengusap pipi Gibran dengan penuh kelembutan Diandra beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke pangkuan sang suami.
"Sayang"
"Hmm"
"Kamu mau apa?" Tanya Gibran
"Mau melakukan ini." Kata Diandra sambil menekan bagian bawah Gibran
"Ssh jangan sayang." Pinta Gibran
"Kenapa?" Tanya Diandra
"Kamu tau aku tidak mudah berhenti." Kata Gibran
Diandra tertawa kecil ketika mendengarnya, tapi bukan menurut Diandra malah melingkarkan tangan di leher sang suami lalu memejamkan matanya dan mencium Gibran dengan penuh kelembutan. Ikut memejamkan matanya Gibran melingkarkan tangannya di pinggang Diandra dan menariknya mendekat.
Melepaskan tangannya yang ada di leher sang suami Diandra beralih untuk membuka satu per satu kancing kemeja yang Gibran kenakan. Bersamaan dengan kancing terakhir yang dia buka Diandra melepaskan ciumannya karena hampir kehabisan nafas.
"Diandra"
Diandra hanya tersenyum lalu tanpa Gibran duga istrinya itu mencium serta memberikan kecupan di lehernya hingga membuat Gibran menggeram pelan.
Hingga bisikan di telinganya membuat Gibran tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Tidak mau coba di sofa?"
Tanpa banyak bicara Gibran menarik istrinya mendekat dan kembali menciumnya dengan lembut serta penuh gairah.
Jangan salahkan dia kalau Diandra nanti sampai kelelahan.
¤¤¤
__ADS_1
Nakall yaa Diandraaa😂