
"Mama"
Panggilan itu membuat Dara menoleh lalu tersenyum ketika melihat anaknya yang menghampiri dia ke dapur. Baru saja selesai membersihkan piring-piring kotor bekas makan malam Dara mengajak anaknya untuk pergi ke ruang tamu dan duduk disana.
Sebelumnya Gibran memang mengatakan kalau dia ingin bicara dan Dara mengatakan nanti malam saja karena mereka memang ingin menginap. Istrinya sedang ada di kamar dan menidurkan kedua anak mereka makanya Gibran bergegas menghampiri Mama nya.
Mengambil posisi duduk tepat di sebelah Mama nya Gibran tersenyum tipis lalu meraih tangan Dara untuk dia genggam membuat Dara menatapnya dengan bingung.
"Mama"
"Hm ada apa? Ada masalah?" Tanya Dara pelan
"Gibran udah buat salah Ma." Kata Gibran membuat Dara semakin bingung mendengarnya
"Salah apa sayang? Anak Mama ngapain?" Tanya Dara
"Diandra bohong Ma." Kata Gibran
"Bohong apa Gibran?" Tanya Dara bingung
"Terjadi sesuatu antara Gibran dan Clarissa." Kata Gibran
"Kamu ngapain sama dia?" Tanya Dara sambil menatap anaknya
Gibran tersenyum lalu menghela nafasnya pelan dan mulai bicara jujur pada Mama nya hingga membuat wanita paruh baya itu diam, bingung harus menanggapi apa.
"Gibran bertemu Clarissa kami juga berkirim pesan tanpa sepengatahuan Diandra lalu kami... kami juga berpelukan dan Diandra melihatnya." Kata Gibran
Gibran menatap Mama nya yang terdiam dengan raut wajah tanpa eskpresi dan cukup lama tidak ada tanggapan hingga Gibran mendengar helaan nafas.
"Kamu kenapa Gibran? Kenapa melakukan itu? Kamu masih mencintai Clarissa?" Tanya Dara
"Enggak Ma aku.. aku tidak memiliki perasaan apapun pada Clarissa saat itu aku bertemu hanya untuk bertanya alasan dia pergi." Kata Gibran
"Untuk apa lagi Gibran? Untuk apa kamu menanyakan hal itu lagi? Sudah bertahun-tahun berlalu, kenapa kamu masih penasaran?" Tanya Dara pelan
"Ma aku hanya ingin tau saja." Kata Gibran
"Iya untuk apa? Kenapa kamu ingin tau? Setelah tau memang kamu mau apa?" Tanya Dara membuat Gibran terdiam
Menghela nafasnya pelan Gibran menatap Dara dengan raut wajah sedih membuat wanita paruh baya itu mengusap lengan anaknya dengan sayang.
"Gibran kalau kamu memang masih memiliki rasa pada Clarissa tinggalkan Diandra, lepaskan dia jangan kamu buat dia terluka dia wanita baik." Kata Dara
"Ma aku gak mau ninggalin Diandra bahkan aku sangat ketakutan kalau dia pergi karena kejadian itu." Kata Gibran
"Gibran tidak seharusnya kamu kembali memikirkan masa lalu itu apalagi masih penasaran tentang kejadian yang sudah lama berlalu, kamu tau? Kamu seperti pria yang memang masih berharap untuk kembali." Kata Dara
"Tidak Ma aku hanya ingin bersama Diandra." Kata Gibran
"Setelah ini kamu mau apa? Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dara
"Aku akan tetap bersama Diandra dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Kata Gibran
"Kalau begitu buktikan ucapan kamu, jangan lepaskan menantu Mama." Kata Dara
Gibran tersenyum lalu mengangguk singkat dan memeluk Mama nya dengan sayang membuat Dara langsung membalas pelukan itu sambil mengusap punggung anaknya dengan lembut.
__ADS_1
"Diandra bilang apa sama kamu?" Tanya Dara
"Dia bilang dia akan coba untuk percaya dan dia bilang ingin mempertahankan pernikahan kami." Kata Gibran
"Dia sangat baik kan? Pertahankan dia Gibran jangan biarkan sesuatu apapun merusak pernikahan kalian." Kata Dara
"Iya"
"Kamu harus selalu ingat bahwa kamu juga memiliki adik perempuan berfikirlah dua kali untuk melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati wanita, jangan sampai adik kamu juga mendapat perlakuan yang sama." Kata Dara
"Maaf ya Ma? Gibran bukan anak yang baik." Kata Gibran
"Tidak, kamu anak Mama yang paling baik jangan bicara begitu setiap orang membuat kesalahan dan setiap orang berhak mendapat kesempatan, tapi jangan sampai kamu mengulangi kesalahan yang sama atau membuat kesalahan baru." Kata Dara
Mengusa pipi anaknya dengan sayang Dara mencium kening Gibran cukup lama lalu menatapnya.
"Kembali ke kamar kamu temui Diandra." Kata Dara
Gibran mengangguk singkat lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke lantai atas untuk menghampiri Diandra di kamarnya. Menghela nafasnya pelan Gibran membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam lalu melihat istrinya yang sedang menyelimuti Gavin yang sudah terlelap.
Gibran memanggilnya pelan membuat Diandra menoleh lalu tersenyum tipis dan menghampirinya. Membawa istrinya itu untuk duduk di sofa Gibran meraih tangan Diandra dan mencium punggung tangannya hingga berkali-kali.
"Kenapa Mas?" Tanya Diandra
"Tidak ada"
Tersenyum tipis Diandra terus memperhatikan suaminya yang masih menciumi tangannya sambil sesekali menatap matanya.
"Udah ah kenapa sih?" Kekeh Diandra
Menghentikan kegiarannya Gibran menatap Diandra lalu mengusap pipinya dengan sayang.
"Hmm"
"Gak percaya ya?" Tanya Gibran sedih
"Percaya"
"Bohong, kamu gak percaya kan?" Tebak Gibran
"Percaya Mas." Kata Diandra sambil tersenyum
"Aku mau nanya." Kata Gibran
"Tanya apa?" Kata Diandra
"Kenapa kamu bohong sama Mama tentang aku dan Clarissa? Kenapa kamu tidak jujur saja?" Tanya Gibran
Diandra tersenyum tipis lalu meraih tangan Gibran dan mengusapnya dengan lembut.
"Mas kita sudah menikah dan memiliki anak, jadi menurut aku selagi kita masih bisa selesain masalah ini sama-sama tidak perlu melibatkan orang lain bahkan Mama sama Papa kamu sekali pun." Kata Diandra
"Kenapa?" Tanya Gibran lagi
"Karena kamu suami aku dan aku istri kamu, selesain masalah kita sama-sama." Kata Diandra
"Kamu tidak ada niat sedikit pun untuk bilang semuanya ke Mama atau Papa?" Tanya Gibran
__ADS_1
"Ada, tapi aku tidak melakukannya." Kata Diandra
Gibran tersenyum sambil mengusap pipi istrinya dengan sayang.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat kamu percaya lagi?" Tanya Gibran
"Jangan berbohong lagi." Kata Diandra
"Hanya itu?" Tanya Gibran
"Em perhatian dan sayang sama aku juga anak-anak." Kata Diandra sambil tersenyum
"Tanpa diminta." Kata Gibran
Memeluk Gibran dengan erat Diandra memejamkan matanya, dia sangat takut kalau sampai Gibran meninggalkannya.
Dia takut kalau anak-anaknya harus merasakan seperti apa yang dia rasakan dulu.
"Sayang"
Bukan jawaban Gibran justru merasa bahu Diandra bergetar serta isakan terdengar yang membuat Gibran langsung membawa istrinya itu untuk menatapnya.
"Jangan nangis." Kata Gibran sambil menghapus air mata istrinya dengan penuh kelembutan
"Aku sayang banget sama kamu Mas." Kata Diandra
"Aku juga sayang banget sama kamu." Kata Gibran
Tangannya terulur untuk mengusap pipi Diandra membuat wanita itu memejamkan matanya.
"Sayang"
"Hmm"
"Aku sangat melukai kamu ya?" Tanya Gibran pelan
Diandra tidak menjawab dan malah memeluknya lagi dengan sangat erat membuat Gibran membalas pelukannya lalu mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Aku janji tidak akan membuat kamu sedih lagi"
"Jangan janji buktikan saja." Kata Diandra
Gibran mengangguk lalu menangkup wajah Diandra dan mencium seluruh wajahnya.
Berhenti lama di bibirnya Gibran yang ingin menjauhkan wajahnya terkejut ketika Diandra menahan tengkuknya dan malah mencium bibirnya dengan lembut.
Gibran membalas ciumannya sambil mengusap pipi istrinya dengan penuh kelembutan.
Saat hampir kehabisan nafas Diandra menghentikan ciumannya lalu menyatukan dahi mereka dan memejamkan matanya.
"Ingat ya Mas aku tidak akan memaafkan lagi kalau sampai hal yang sama terulang"
Gibran tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu mencium bibirnya sekilas.
"Aku tidak akan pernah menyakiti kamu lagi"
¤¤¤
__ADS_1
Aku updateee😚