
Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian yang menimpa Ghina dan sekarang gadis itu tetap tinggal bersama orang tuanya, dia tidak pernah lagi keluar dari rumah dan memilih berdiam diri di dalam kamar. Beruntungnya selalu ada Dara yang menghiburnya dan terkadang Devina atau Sahara juga datang ke rumah untuk menemaninya.
Masalah Alden pria itu tidak pernah muncul bahkan ketika Gibran atau Farhan ke rumahnya dia atau keluarganya tidak ada. Satu-satunya hal yang membuat Ghina juga yang lainnya merasa sedikit lega adalah Ghina tidak hamil.
Kejadian malam itu tidak membuat Ghina sampai hamil dan hal itu setidaknya cukup untuk membuat Ghina merasa sedikit lega.
"Ghina"
Panggilan itu membuat dia menoleh lalu tersenyum tipis pada Diandra yang baru saja datang dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kakak kesini sama siapa?" Tanya Ghina
"Sama Mas Gibran dan anak-anak juga mereka lagi di bawah sama Mama." Kata Diandra
Berjalan mendekat Diandra ikut duduk disamping Ghina lalu menatapnya dengan senyuman dan nengusap kepalanya dengan sayang.
"Kamu apa kabar?" Tanya Diandra
"Hm sudah merasa lebih baik." Kata Ghina
"Kalau ada apa-apa jangan takut untuk cerita sama Kakak ya?" Kata Diandra
"Iya Kak"
"Jangan salahkan diri kamu sendiri, semuanya bukan salah kamu karena Ghina tidak ada yang mau hal seperti ini sampai terjadi," Kata Diandra.
Ghina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kamu percaya ya bahwa semua akan indah pada waktunya, orang yang tepat akan datang disaat yang tepat juga." Kata Diandra
"Makasih Kak." Kata Ghina dengan senyuman tulusnya
"Jangan bilang makasih kamu adik Kakak juga dan ini hal yang memang harus Kakak lakukan." Kata Diandra
"Kak Gibran beruntung bisa dapat Kakak." Kata Ghina
"Suatu saat nanti kamu juga akan mendapat seseorang yang mencintai kamu dengan sepenuh hati dan menghargai kamu sebagai seorang wanita serta akan membahagiakan kamu." Kata Diandra
"I hope soo"
"Itu bukan hanya suatu harapan, tapi hal yang akan terjadi." Kata Diandra
"Iya, kemarin Kakak minta aku untuk bicara ke temannya." Kata Ghina
"Lalu?"
"Kak masih terlalu cepat untuk melupakan semuanya, aku tidak akan menolak kalau Papa atau Kak Gibran ingin menjodohkan aku, tapi tidak untuk sekarang kan? Luka ini belum sembuh Kak." Kata Ghina
"Iya Kakak tau, apa Kakak perlu bicara sama Kak Gibran?" Tanya Diandra
"Tidak, aku akan membiarkan Kakak melakukan apa yang dia mau." Kata Ghina
__ADS_1
"Tapi, kamu juga harus tetap memilih." Kata Diandra
"Iya Kak kemarin aku memang udah kenal sama teman Kak Gibran kami beberapa kali sempat ketemu dulu meski gak pernah mengobrol, tapi aku tau dia." Kata Ghina
"Perlahan saja Ghina semua akan berlalu, badai yang kamu alami akan segera hilang dan berganti dengan pelangi." Kata Diandra
"Aku senang banget punya Kakak yang selalu dukung dan kasih aku semangat." Kata Ghina sambil memeluk Diandra dengan erat
Tersenyum manis Diandra mengusap punggung Ghina dengan sayang, dia sudah menganggap Ghina seperti adiknya sendiri.
"Aku terbiasa sendiri Ghina dan aku tidak mau kamu merasakan hal yang sama, jadi kalau kamu butuh tempat untuk bersandar atau seseorang untuk mendengarjan datang sama Kakak." Kata Diandra
"Iya Kak"
Saat tengah berpelukan pintu kamar Ghina terbuka dan ada Gavin disana yang langsung berlari kecil menghampiri keduanya membuat Ghina langsung melepaskan pelukannya. Anak itu ikut naik ke atas ranjang lalu duduk di dekat Ghina dan menatapnya dengan lugu.
Melihat hal itu Ghina tersenyum sambil mengusap pipi Gavin dengan sayang membuat anak itu juga ikut tersenyum.
"Ante cakit ya?" Tanya Gavin
"Hm enggak ganteng Ante gak sakit." Kata Ghina
"Telus kenapa gak kelual kamal? Biacanya kalau ada aku Ante kelual telus ajakin aku main dan beliin aku esklim." Kata Gavin
"Gavin"
"Kenapa Mommy? Gavin mau main cama Ante Ina." Kata Gavin
"Besok lagi main sama Tante nya ya?" Kata Diandra
"Hm mau main apa?" Tanya Ghina
"Main game di hp Daddy nanti Ante yang ajalin." Kata Gavin dengan penuh semangat
"Gavin mainnya sama Daddy aja ya?" Kata Diandra
"Enggak! Mainnya cama Ante pokoknya cama Ante Ina!" Kata Gavin galak
Anak itu mendekat pada Ghina dan memeluknya membuat Ghina tersenyum lalu membalas pelukannya.
"Iya kita main." Kata Ghina membuat Gavin bersorak senang
"Ghina tidak per...."
"Tidak papa Kak mungkin bermain bersama Gavin bisa membuat perasaanku semakin baik." Kata Ghina
"Ayo Ante Ina kita tulun ke tempat Daddy." Kata Gavin
Anak itu menarik-narik tangan Ghina dan mengajaknya untuk turun membuat Ghina hanya bisa menurut saja. Begitu sampai dibawah dia melihat orang tuanya serta Gibran yang menatapnya dengan senyuman.
Tanpa Ghina tau mereka yang meminta Gavin untuk membujuk Ghina agar mau keluar dari kamarnya dan berhasil. Mengajak Ghina untuk menghampiri Daddy nya dengan penuh semangat Gavin meminta ponselnya lalu menghampiri Ghina lagi.
__ADS_1
"Ante ayuk main." Kata Gavin
"Mau main dimana hm?" Tanya Ghina
"Dicana"
Ghina mengikuti arah pandang Gavin ke ruang tengah yang ada karpet tebal disana lalu mengangguk dan menggandeng tangan Gavin sambil berjalan kesana. Sesaat setelah Ghina duduk Gavin langsung duduk dipangkuan dan tersenyum senang.
Dengan lincah Gavin membuka ponsel milik Daddy nya dan membuka game mobil kesukaannya biasanya dia kalau main bersama Daddy nya kalau sama Mommy dia malah akan dilarang.
"Ante bica kan?" Tanya Gavin
"Bisa dong ganteng, Ante dulu yang main habis itu Gavin." Kata Ghina
"Ciap Ante Ina"
Menekan tombol play Ghina lebih dulu mengganti mobilnya dengan yang lain dan memulai permainan.
"Catu dia tigaa"
Gavin berseru kencang ketika game nya dimulai dia memperhatikan layar ponselnya dengan penuh semangat.
"Awas Ante nanti tablakk"
"Ante Ante awass"
"Tablak Ante tablakk"
"Telus Antee teluss"
Ghina tertawa kecil ketika mendengar Gavin yang sangat bersemangat dan hal itu tidak luput dari pandangan keluarganya.
Mereka tersenyum melihatnya.
Rencana mereka berhasil bukan hanya membuat Gavin senang, tapi juga membuat perasaan Ghina membaik.
Ghina tertawa seperti biasanya.
Tentu saja hal itu adalah hal yang membuat mereka lega ketika melihatnya, tawa Ghina yang lepas karena Gavin. Mungkin karena Ghina sangat sayang pada Gavin makanya dia senang dan tidak bisa menolak permintaan dari keponakannya.
"Sedikit lagi Gavinn kita menang"
"Cepet Ante cepett"
Begitu berhasil mencapai finish Gavin berseru senang lalu memeluk Ghina dengan erat.
"Menangg Ante pintell cekalang ajalin Gavin"
Ghina tersenyum dan mencium pipi Gavin dengan sayang lalu bergumam pelan.
"Makasih Gavin"
__ADS_1
¤¤¤
Aku updateeeee💞