
Jangan lupa Gibran aku tunggu di studio
Ada sebuah pesan masuk yang tidak sengaja Diandra baca ketika suaminya sedang mandi karena ingin berangkat ke butik, tidak ada nama dari orang yang mengirim pesan itu pada suaminya. Sebenarnya dia sangat penasaran dan bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka lalu Gibran keluar dengan kemeja yang telah dia pakai.
Keadaan Gibran memang sudah membaik setelah tiga hari istirahat di rumah, tapi Diandra merasa sedikit aneh dengan tingkah suaminya yang terkadang tidak bisa dia tebak. Sesekali Gibran akan memeluknya dengan manja sambil terus mengatakan bahwa dia mencintai Diandra.
Tapi, Diandra memilih untuk tidak ambil pusing.
"Mas ada chat masuk, tapi tidak ada namanya katanya dia menunggu di studio." Kata Diandra
Langkah kaki Gibran terhenti dia diam sambil menatap Diandra yang menunjukkan senyum manisnya.
"Kenapa sih?" Tanya Diandra sambil tertawa kecil
"Enggak sayang." Kata Gibran dengan senyuman tipis
"Itu siapa Mas? Gak ada namanya." Kata Diandra
Lagi, Gibran terdiam dan setelah cukup lama dia baru menjawab.
"Anika"
"Dia ganti nomor?" Tanya Diandra
"Hmm aku lupa menyimpannya." Kata Gibran
Setelah menggantungkan handuknya Gibran langsung menghampiri Diandra dan memeluknya.
"Aku cinta kamu Diandra"
"Gak bosan apa bilang gitu terus?" Tanya Diandra sambil membalas pelukan suaminya
"Enggak sayang aku akan mengatakan hal itu setiap hari." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum
"Udah ah aku mau lihat Danira dulu takut dia udah bangun." Kata Diandra
"Sebentar lagi sayang." Kata Gibran yang malah mengeratkan pelukannya
"Kamu kenapa sih Mas? Kayaknya dari pas sakit aneh deh pala kamu kejedut ya?" Tanya Diandra membuat Gibran tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya pelan
"Enggak"
"Terus kenapa? Ada yang ganggu fikiran kamu?" Tanya Diandra
Melepaskan pelukannya Diandra menatap Gibran yang tersenyum padanya sambil mengusap pipinya dengan sayang.
"Cerita sama aku Mas aku ini istri kamu, jadi kalau ada apa-apa kasih tau aku ya?" Kata Diandra
"Kadang aku berfikir kamu terlalu baik untuk aku Diandra." Kata Gibran membuat Diandra menatapnya dengan tidak suka
"Kenapa sih? Kamu kenapa Mas? Kalau kamu mikir gitu terus apa? Mau ninggalin aku?" Tebak Diandra
Gibran langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mencium keningnya lama sekali.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu sampai kapanpun." Kata Gibran
"Makanya jangan ngomong yang aneh-aneh ih aku gak suka." Kata Diandra sambil memasang wajah cemberutnya
"Iya enggak lagi." Kata Gibran
"Gak boleh ada kata aku terlalu baik untuk kamu karena kita sama-sama memiliki kekurangan dan kita juga akan sama-sama melengkapi kekurangan itu." Kata Diandra
Gibran baru akan bicara hingga suara tangis Danira terdengar dan membuat Diandra bergegas pergi ke kamar anaknya meninggalkan Gibran yang terdiam sambil menatapnya. Menghela nafasnya kasar Gibran mengambil ponselnya di atas nakas dan membuka chat yang tadi dikatakan istrinya.
Ada dua pesan, tapi Diandra hanya sempat membaca satu.
Jangan lupa Gibran aku tunggu di studio
Aku tidak sabar ingin bertemu dengan kamu sudah lama sekali kita tidak bertemu
Kepala Gibran mendadak pening, dia salah karena berbohong dan mengatakan bahwa itu pesan dari Anika padahal bukan. Menggelengkan kepalanya pelan Gibran memasukkan ponselnya tanpa membalas apapun lalu pergi menghampiri Diandra di kamar anak mereka.
"Mommy adiknya nangis telus"
Dari luar suara Gavin terdengar membuat Gibran tersenyum dan langsung masuk ke dalam. Dia dapat melihat Diandra yang tengah menggendong Danira dengan Gavin yang berdiri di dekatnya.
"Hey jagoan"
Gavin menoleh dan berseru senang sambil berlari kecil lalu merentangkan tangannya membuat Gibran tersenyum sambil mengangkat tubuh anaknya.
__ADS_1
"Selamat pagi sayangnya Daddy." Kata Gibran sambil mencium pipinya dengan sayang
Gavin tersenyum dan balas mencium pipi Daddy nya dengan berkali-kali.
"Daddy kelja ya? Kenapa tidak libul? Gavin ingin main." Kata Gavin
"Besok ya? Daddy janji besok kita main." Kata Gibran membuat Gavin tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Dengan manja Gavin menyandarkan kepalanya di bahu Gibran membuat Gibran tersenyum sambil mengusap sayang punggung anaknya.
"Mas kamu sama Gavin ke bawah duluan aja Bi Diah udah siapin makan." Kata Diandra
"Iya"
Gibran mendekat lebih dulu untuk mencium kening Diandra juga anak mereka yang langsung merengek pelan.
"Kamu jangan lama ya? Jangan telat sarapan." Kata Gibran
"Iya nunggu Danira tenang dulu." Kata Diandra
Melangkahkan kakinya keluar dari kamar Gibran membawa anaknya ke ruang makan dan mendudukkan Gavin disampingnya. Sudah ada nasi goreng dengan telur mata sapi yang ada di atas meja dan merupakan menu kesukaan Gavin setiap pagi.
"Daddy ambilkan ya?" Kata Gibran
Gavin mengangguk dengan semangat membuat Gibran tersenyum dan mengambilkan makanan itu untuknya.
"Suapin atau...."
"Aaaa"
Gavin membuka mulutnya pertanda bahwa dia ingin disuapi dan Gibran langsung tersenyum lalu mulai menyuapi anaknya.
"Enak sayang?" Tanya Gibran
"Enak"
Anaknya itu sangat lahap hingga menghabiskan satu piring nasi goreng dan setelahnya Gibran memberikan minum untuknya. Tak lama setelahnya Diandra turun bersama dengan Danira di dalam dekapannya.
"Sini berikan Danira padaku biar kamu makan dulu." Kata Gibran
"Mas Gibran udah makan?" Tanya Diandra
"Belum, tadi habis nyuapin Gavin dulu." Kata Gibran
"Tidak kamu aja nanti kan aku bisa disuapin sama kamu." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan
Akhirnya Diandra memberikan Danira pada suaminya lalu duduk disamping Gibran dan mengambil makan dengan porsi cukup banyak. Mulai menyantap sarapannya secara bergantian Diandra menyuapi dirinya sendiri dan Gibran yang ternyata pemandangan itu membuat anak mereka tersenyum.
Gavin terlihat begitu bahagia hingga mengatakan hal yang membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Daddy makannya dicuapin cepelti Gavin"
Ya ampun Gibran tidak mau kehilangan mereka.
Dia tidak ingin kehilangan kebahagiaan ini sampai kapanpun.
¤¤¤¤
Gibran berbohong!
Sejak tadi Diandra terus mengatakan hal itu di dalam hatinya dan hal itu juga yang membuatnya terus melamun hingga berkali-kali tersentak ketika anaknya mengajak dia bicara atau ketika Danira merengek pelan. Sungguh dia sangat penasaran dengan alasan Gibran yang harus berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya.
Padahal tentang apapun itu kalau Gibran jujur dia tidak akan marah dan mencoba untuk mengerti, tapi kalau sudah begini Diandra jadi terus berfikiran negatif. Berkali-kali dia mengirim pesan, tapi suaminya belum membalas juga.
Tadi Diandra melihat status whats app Anika yang ternyata sedang ada di pantai, jadi tidak mungkin kalau Anika menemui suaminya kan?
Dan lagi artinya Anika tidak ganti nomor hp.
"Mommy ngantuk"
Diandra menatap Gavin yang sekarang mendusal padanya membuat dia tersenyum sambil mengusap pelan punggungnya.
"Gavin mau tidur dimana?" Tanya Diandra
"Dicini sama adik." Kata Gavin
"Mau minum susu dulu gak?" Tanya Diandra lagi
"Enggak"
__ADS_1
Mengangguk singkat Diandra membaringkan Gavin lalu mengusap kepalanya sambil bersenandung pelan hingga anaknya itu tertidur lelap. Setiap kali sudah merasa kantuk Gavin memang akan sangat mudah untuk tidur tak butuh waktu lama hanya beberapa menit saja Gavin akan terlelap.
Sekarang sudah pukul lima sore Gavin dan Danira baru satu jam yang lalu mandi, tapi kedua anaknya tetap saja mengantuk. Saat dia tengah asik menatap anaknya Diandra mendengar suara pintu terbuka dan hal itu membuat dia dengan hati-hati keluar dari kamar anak-anaknya.
Benar ada Gibran di kamar yang langsung tersenyum begitu melihatnya, tapi Diandra tidak menampilkan sedikit pun senyuman. Berjalan menghampiri suaminya Diandra langsung mendapat pelukan hangat juga ciuman di puncak kepalanya.
"Anak-anak mana sayang?" Tanya Gibran
"Tidur"
Melepaskan pelukannya Gibran tersenyum lalu mengajak Diandra untuk duduk, tapi istrinya hanya diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya bicara.
"Mas"
"Iya?"
"Tadi pagi siapa yang chat gak ada nama?" Tanya Diandra membuat Gibran menatapnya sebentar
"Anika"
"Kamu ke studio?" Tanya Diandra lagi
"Iya habis dari butik." Kata Gibran
"Siapa yang ke studio?" Tanya Diandra
"Anika"
Menghela nafasnya pelan Diandra mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka foto Anika yang sedang di pantai bersama teman-temannya.
"Bohong!"
Gibran diam sambil menatap foto itu lalu memanggil Diandra pelan.
"Sayang"
"Anika gak ganti nomor kamu juga gak ke butik hari ini dan Anika gak datang ke studio!" Kata Diandra
"Sayang aku..."
"Kamu bohong!"
Melempar ponselnya ke atas ranjang Diandra beranjak dari tempatnya dan membuat Gibran langsung menahannya.
"Kamu bohong! Pertama kalinya kamu bohong di pernikahan kita!"
"Maaf aku tidak bermaksud bohong aku hanya takut kamu marah." Kata Gibran
"Baik, sekarang katakan siapa? Siapa yang kamu temui? Aku udah bilang dan janji kalau apapun itu aku hanya akan mendengar penjelasan kamu dulu, jadi sekarang bilang sama aku." Kata Diandra
"Dia teman aku namanya Clarissa aku pergi menemui dia." Kata Gibran
"Untuk apa?" Tanya Diandra
"Dia... dia baru kembali dari Amerika dan kami hanya bertemu untuk mengobrol saja." Kata Gibran
"Kenapa gak jujur sama aku?" Tanya Diandra
"Aku takut kamu marah." Kata Gibran
"Marah apasih?! Kalau kamu cuman ngobrol aku gak bakal marah Mas." Kata Diandra
"Maaf"
Diandra menghela nafasnya pelan lalu melepaskan tangannya dan berjalan ke kamar anaknya meninggalkan Gibran sendirian disana.
Tadi waktu Diandra bertanya pada Sahara.
'Tidak Ra kemarin Kak Gibran izin katanya hari ini dia tidak bisa datang'
Lalu waktu Diandra bertanya pada Anika.
'Aku tidak ganti nomor dan sekarang aku juga lagi ke pantai, ada apa?'
Entahlah Diandra bingung sendiri, dia akan memperhatikan anak-anaknya saja untuk menghilangkan rasa marahnya.
Dia tidak mau bicara ketika sedang emosi, jadi dia hanya diam saja ketika Gibran mengetuk pelan pintu kamar yang sengaja dia kunci.
Biarkan saja nanti dia akan bicara ketuka merasa lebih tenang.
__ADS_1
¤¤¤
Haii aku updateee nihh😉