Obsession

Obsession
Gavin (12)


__ADS_3

Akhir pekan Danira habiskan dengan berada di ruang melukisnya dia tersenyum senang sambil memoleskan cat ke kanvas dan membuat sebuah lukisan yang menurutnya indah. Satu ruangan ini sudah banyak sekali lukisan miliknya entah dengan ukuran kecil hingga besar semua Danira buat dan letakkan di ruangan kesayangannya, dia senang sekali karena Gibran membuatkan ruangan khusus ini untuknya.


Bukan hanya membuatkan ruangan khusus ini, tapi Gibran juga selalu memberikan uang kepada Danira yang ingin membeli keperluan melukisnya. Sudah ada banyak sekali kaos yang Danira kenakan kotor karena cat lukisnya, tapi Danira justru senang bahkan tidak jarang dia malah melukis sendiri kaos miliknya dan berakhir dengan Diandra yang hanya bisa diam melihat kelakuan anaknya.


Setiap akan mencuci pakaian Diandra akan menggelengkan kepalanya karena melihat kaos Danira yang penuh dengan cat lukisnya, tapi dia tidak pernah melarang dan membiarkan Danira melakukan hal yang dia suka.


"Kak Ilaaa"


Panggilan itu membuat Danira berhenti dan menoleh lalu melambaikan tangan pada Davin yang berjalan masuk ke dalam kemudian duduk tepat di sampingnya.


"Kenapa Dav?" Tanya Danira


"Enggak hehe bosen aja di kamar." Kata Davin


"Tumben enggak main sama temen-temen biasanya kamu kalau akhir pekan gini nongkrong sama yang lain." Kata Danira sambil melanjutkan lagi kegiatannya


"Enggak deh Kak lagi malas aja." Kata Davin


"Em Galen mana?" Tanya Danira


"Jalan kayaknya deh sama pacarnya." Kata Davin


"Ya ampun itu anak masih kecil udah pacaran aja pasti nanti bakal kayak Kak Gavin." Kata Danira


Davin tertawa kecil mendengarnya lalu memperhatikan Danira yang sibuk dengan lukisannya.


"Harusnya lukisan Kakak di jual." Kata Davin


"Aneh mana ada yang mau beli Kakak kan masih belajar." Kata Danira


"Tapi bagus tau Kak." Kata Davin


"Kirain mau bilang jelek kayak Kak Gavin." Kata Danira


"Ah Kak Gavin mah gak usah di denger." Kata Davin


"Kak Gavin pernah bilang aku cuman coret-coret aja." Kata Danira


"Dasar padahal dia enggak bisa." Kata Davin


Terkekeh pelan Danira menggerakkan lagi kuasnya lalu setelah merasa cukup dia meletakkan kuas miliknya dan menatap Davin dengan senyuman.


"Udahan deh melukisnya." Kata Danira


"Loh kenapa?" Tanya Davin


"Mau ajak kamu jalan-jalan, kita ke kedai ice cream yuk Dav mau gak?" Ajak Danira


Davin terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya membuat Danira tersenyum dan membersihkan semua perlengkapan melukisnya. Beranjak dari tempatnya duduk Danira membersihkan juga tangannya yang penuh dengan cat air lalu mengatakan pada Davin bahwa dia akan pergi ke kamar untuk mengganti pakaian.


"Ehh Kak"


"Heem kenapa?" Tanya Danira


"Siapa yang mau bawa motor?" Tanya Davin


"Kamuu"


"Boleh enggak sama Mommy?" Kata Davin ragu


Davin memang bisa membawa motor, tapi Diandra tidak pernah memberi izin dia untuk membawa motor sampai dia masuk sma seperti Gavin baru saat itu Davin dan Galen boleh membawa motor sendiri.


Bukan apa kedua anaknya masih terlalu kecil untuk mengendarai kendaraan sendiri Diandra tidak mau terjadi sesuatu, jadi dia tidak akan membiarkan kedua anaknya yang masih SMP itu mengendarai motor.


Tidak boleh!


"Hmm kita naik taxi deh gimana?" Kata Danira


"Kakak yang bayar kan?" Kata Davin


"Daddy haha nanti kita minta uang sama Daddy." Kata Danira


Setelah itu Danira pergi ke kamar dan mengganti pakaiannya serta memakai sedikit riasan di wajah sebelum akhirnya keluar dari kamar. Bersamaan dengan itu Davin juga muncul setelah selesai mengganti pakaiannya.


Tersenyum senang Danira langsung memeluk lengan adiknya dan bersama-sama mereka berdua menuruni tangga. Di banding dengan Galen atau Gavin tingga badan Danira tidak terlalu jauh dari Davin, ya meskipun masih tetap Danira yang pendek.

__ADS_1


Huft kadang menyebalkan kalau di katakan bahwa Danira itu anak bungsu padahal jelas-jelas itu Davin.


"Eh anak Mommy mau kemana ini?"


Mereka di sambut dengan pertanyaan yang Diandra ajukan begitu sampai di ruang tengah.


"Mommy aku sama Davin mau keluar sebentar ya? Mau ke kedai ice cream hehe." Kata Danira


"Naik apa?" Tanya Diandra


"Taxi Mom"


"Yaudah hati-hati kalau udah mau pulang mending telpon Gavin aja ya? Dia pergi bawa mobil tadi." Kata Diandra


Keduanya mengangguk patuh, tapi sebelum itu Danira mencari Daddy nya.


"Daddy mana?" Tanya Danira


"Ada apa sayang?" Tanya Gibran yang tiba-tiba muncul


Danira tersenyum senang dia melepaskan tangannya lalu menghampiri Gibran dan memeluknya dengan sayang.


Tak lama setelahnya dia mendongak dan menatap wajah Daddy nya dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.


"Daddy"


"Kenapa Ila?" Tanya Gibran


"Minta uang." Kata Danira


Gibran langsung tertawa mendengarnya.


"Untuk apa?" Tanya Gibran


"Mau ke kedai ice cream terus mau naik taxi kalau naik motor enggak mungkin Daddy sama Mommy gak bakal kasih izin Davin bawa motor, iya kan Dav?" Kata Danira


"Iya Kak"


"Kalian cuman pergi berdua?" Tanya Gibran


"Iya"


Melepaskan pelukannya Danira menatap Gibran yang mengeluarkan dompet miliknya lalu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu dari sana dan memberikannya pada Danira.


"Cukup?"


"Emm cukup enggak yaaa?" Kata Danira


Menggelengkan kepalanya pelan Gibran memberikan lagi dua lembar kepada Danira membuat anaknya itu tersenyum senang dan memeluknya lagi dengan erat.


"Yess makasih Daddy"


Diandra hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat itu semua, memang suaminya begitu kalau dengan anak perempuan mereka.


"Yuk Dav kita jalan-jalan." Kata Danira dengan penuh semangat


Setelah berpamitan keduanya keluar dari rumah dan mencari taxi tak butuh waktu lama keduanya dapat lalu tanpa menunggu langsung masuk ke dalam.


Dalam diam Davin menatap Kakak perempuannya yang duduk tepat di sampingnya, dia terkadang iri karena Danira setiap kali meminta apapun pada Daddy nya pasti selalu di kasih.


Kalau Davin sih harus berpikir berkali-kali dulu tidak bukan karena tidak di berikan, tapi karena Davin sudah takut duluan. Saat dengan anak laki-lakinya Gibran akan sangat tegas, berbeda ketika bersama Danira.


Danira tanpa meminta saja terkadang sudah Gibran sendiri yang bertanya.


'Mau apa Ila?'


'Uang saku Ila masih ada? Udah habis belum?'


Ya, begitu hanya saja mungkin itu wajar karena Danira tidak pernah membuat masalah.


"Davin nanti uang dari Daddy kita bagi dua." Kata Danira


"Eh kenapa?" Tanya Davin


"Ya gak papa ini juga banyak tau kalau cuman untuk Kakak." Kata Danira

__ADS_1


"Lagian Kakak segala minta di tambahin." Kata Davin


"Hehe kan lumayan." Kata Danira


Tertawa kecil Davin menatap Kakaknya yang sekarang menatap lurus ke depan.


Kakaknya itu memang lucu.


°°°°


"Mau gak Vin?"


Gavin menatap bungkus rokok yang Rama serahkan padanya lalu menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mau kena pukul Mommy nya ketika sampai di rumah. Entah ada ilmu apa Mommy nya itu pernah sekali Gavin merokok padahal setelahnya dia sudah memakan permen dan banyak deh yang dia makan, tapi sampai rumah tetap ketauan.


Saat mencium tangan tak butuh waktu lama Gavin mendapat pukulan pelan di lengannya juga tatapan tajam dari Diandra. Bukan hanya itu saja pernah sekali Gavin bolos sekolah padahal tidak ada yang tau bahkan Danira juga, tapi begitu sampai rumah dia langsung di omelin.


Wah pokoknya Mommy kesayangannya itu selalu tau apa yang dia lakukan, apa jangan-jangan punya ilmu sihir kali ya?


"Arsaka mana?" Tanya Gavin


"Gak tau." Kata Rama sambil mengangkat bahunya acuh


"Gavinnnn"


Suara cempreng itu membuat Gavin menoleh lalu menatap Alexa yang datang dan duduk di sampingnya bersama dengan Maura yang duduk di samping Rama. Tersenyum singkat Gavin hanya diam ketika Alexa mendekat dan mencium singkat pipinya, hal biasa untuknya.


"Eh kok cuman berdua?" Tanya Alexa


"Gak tau Arsaka kemana." Kata Gavin


"Tadi pergi deh kayaknya." Kata Maura


"Sok tau." Kata Rama


"Bener Ram gue gak sengaja lihat dia tadi." Kata Maura


"Oh yaudah biarin memang gak janjian juga sih mau kesini." Kata Gavin


"Kirain kamu kesini sama Danira." Kata Alexa


"Enggak dia sibuk ngelukis di rumah." Kata Gavin


"Gak boring apa ya?" Kata Rama


"Enggak, gue aja kadang heran Ram." Kata Gavin


"Adek lo cantik, tapi anak rumahan." Kata Rama sambil tertawa


"Bagus lah gue malah seneng gak banyak kenal sama cowok jadi." Kata Gavin


"Mau gak?"


Gavin menoleh pada Alexa lalu menerima suapan yang gadis itu berikan untuknya.


"Gila"


"Apa?" Kata Gavin


"Lo berdua pacaran enggak, tapi kayak gitu." Kata Rama


"Jangan-jangan memang pacaran ya?" Kata Maura


"Gue sama Alexa? Enggak gue gak mau pacaran nanti kalau gue pacaran Danira bisa jawab kalau gue suruh jaga jarak sama cowok." Kata Gavin


"Tau nih Gavin gak mau kasih kepastian." Kata Alexa


"Salah kamu nungguin aku kasih kepastian." Kata Gavin membuat wajah Alexa langsung cemberut


Tertawa kecil Gavin mencubit pelan pipi gadis yang ada di sampingnya.


Tapi, benar nanti kalau dia pacaran Danira akan memiliki jawaban setiap kali Gavin melarangnya dekat dengan seorang pria.


'Licik Kakak aja pacaran masa aku deket aja enggak boleh'


Tidak, Gavin tetap pada pendiriannya Danira belum boleh menjalin kasih sampai dia lulus SMA bahkan kalau bisa sampai adiknya itu selesai kuliah.

__ADS_1


°°°°


Yuhuu aku updateee🥰


__ADS_2