
"Agh Kak Gibrannn!"
Terikan itu membuat Gibran tersentak dalam tidurnya dan terbangun lalu melihat ke sampingnya dimana tidak ada Diandra. Rasa cemas menghantuinya apalagi ketika pintu kamar mandi terbuka dan suara isakan terdengar hingga Gibran langsung berlari ke kamar mandi.
Matanya membulat dengan sempurna ketika melihat Diandra yang terduduk di bawah sambil memegangi perutnya dan menangis. Dengan penuh rasa cemas Gibran bergegas menghampiri istrinya dimana Diandra langsung terisak hebat dan mencengkram kuat lengannya.
"Sakittt"
"Diandra kamu jatuh? Astaga bagaimana bisa?" Kata Gibran panik
Diandra terus menangis hingga dia merasakan sesuatu mengalir di kakinya dan ketika melihat cairan berwarna merah disana Diandra histeris.
"Kak Gibran darah! Aku berdarah, bagaimana?" Isak Diandra dengan penuh ketakutan
Sama takutnya Gibran melihat darah itu mengalir di kaki istrinya membuat dia langsung menggendong Diandra dan berteriak memanggil Bi Diah.
Dia tidak mungkin membawa Gavin saat keadaan begini.
"Sabar sayang kita ke rumah sakit ya?" Kata Gibran tak kalah panik
"Sakit Kak sakitt." Isak Diandra
"BI DIAH!"
Tak butuh waktu lama Bi Diah datang karena wanita paruh baya itu memang belum tidur mengingat hari belum terlalu larut, masih pukul setengah sepuluh malam.
"Ya ampun nyonya kenapa tuan?" Tanya Bi Diah
"Bi aku titip Gavin ya? Tolong telpon Mama minta dia datang ke rumah untuk menjaga Gavin." Kata Gibran sambil terus melangkahkan kakinya
Bi Diah hanya mengangguk dan memperhatikan majikannya yang terburu-buru keluar rumah. Mengingat pintu masih terkunci Bi Diah segera berlari dan membukakan pintu untuk majikannya juga membuka gerbang.
Kembali pada Gibran yang kini mendudukkan Diandra di dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya dengan kecapatan tinggi menuju rumah sakit. Sungguh Gibran sangat cemas apalagi melihat Diandra yang terlihat begitu kesakitan dan terus menangis.
"Kak Gibran bagaimana ini? Anak kita akan baik-baik saja kan?" Isak Diandra
"Diandra sayang tenang ya? Kita ke rumah sakit jangan cemas tidak akan terjadi apapun pada kamu atau anak kita." Kata Gibran
"Akhhh sakitt Kak Gibran sakit"
Gibran benar-benar cemas ketika Diandra mengeluh kesakitan apalagi keringat dingin mulai mengalir di wajahnya.
"Kak aku tidak kuat sakit sekali." Lirih Diandra
"Diandra jangan bicara begitu sayang, kita sebentar lagi sampai." Kata Gibran panik
Diandra kembali menangis bahkan kini nafasnya mulai tak beraturan membuat Gibran merasa begitu cemas, tapi masih butuh kurang lebih sepulug menit lagi untuk sampai rumah sakit.
Sial! Tidak bisakah mereka langsung sampai saja?!
"Sakit aku takut." Isak Diandra
"Sebentar sayang kita sebentar lagi sampai." Kata Gibran sambil menoleh sebentar
Gibran benar-benar panik dia melajukan mobilnya dengan begitu cepat hingga tiba-tiba ada mobil di depannya yang berhenti tiba-tiba membuat Gibran menginjak remnya.
"Akhh sakittt"
__ADS_1
"Sayang maaf maaf aku minta maaf." Kaa Gibran
Merasa sangat kesal Gibran mengklakson mobil itu hingga berkali-kali dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aku gak kuat sakitt." Kata Diandra lagi
"Tidak Diandra sebentar lagi sayang sebentar lagi." Kata Gibran panik
Setelah menempuh perjalanan lebih dari lima menit Gibran sampai di area rumah sakit dan dia segera melepas sabuk pengamannya. Membuka pintu di tempat Diandra dengan segera Gibran menggendongnya dan membawa ke ugd, tapi Diandra mendadak memejamkan matanya membuat Gibran semakin panik.
"Sayang? Diandra?"
Tidak ada jawaban apapun dan Gibran sangat cemas sekarang, dia takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
Gibran sangat takut.
¤¤¤
Sekalipun Gibran tidak pernah membayangkan akan mengalami malam menakutkan seperti sekarang, menanti istrinya di luar ruang oprasi karena Diandra yang mengalami pendaharan. Sekarang fikirannya benar-benar telah kacau hingga Gibran ingin berteriak untuk menghilangkan sesak di dadanya.
Tadi Diandra terlihat begitu kesakitan sebelum akhirnya pingsan dan Dokter bilang mereka harus melakukan oprasi untuk menyelamatkan bayi mereka serta Diandra yang mengalami pendarahan. Sungguh Gibran sangat takut dia sangat tidak sabar untuk mendengar kabar dari dalam sana.
Apa istri dan anaknya baik-baik saja atau salah satu dari mereka ada yang terluka?
"Gibran!"
Panggilan itu membuat Gibran menoleh lalu menatap Mama nya yang berlari dengan wajah cemas dan langsung memeluknya.
"Gibran ada apa? Kenapa bisa sampai begini?" Tanya Dara
Gibran menghela nafasnya pelan lalu meminta Mama nya untuk duduk dan dia menjelaskan semuanya.
"Lalu apa kata Dokter?" Tanya Dara
"Mereka melakukan oprasi untuk menyelamatkan Diandra dan anak kamu karena Diandra mengalami pendarahan." Kata Gibran
Mengusap kasar wajahnya Gibran sangat takut kalau terjadi sesuatu pada istrinya, dia tidak mau kehilangan Diandra.
"Gibran takut sekali Ma." Kata Gibran pelan
Dara menghela nafasnya pelan lalu membawa anaknya itu ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya.
"Gibran tidak mau Ma kalau sesuatu terjadi pada Diandra." Kata Gibran
"Sst sayang kita berdoa ya? Semoga Diandra dan anak kalian baik-baik saja." Kata Dara sambil mengusap pipi anaknya dengan penuh kelembutan
"Gibran tidak mau kehilangan Diandra Ma." Kata Gibran lagi
"Diandra tidak akan kenapa-kenapa sayang." Kata Dara meyakinkan
Gibran menghela nafasnya pelan sambil menatap Dara yang berusaha meyakinkannya.
"Ma"
"Iya Gibran?"
"Gavin sama siapa Ma?" Tanya Gibran
__ADS_1
"Saat dapat telpon Mama ke rumah kamu untuk melihat Gavin dia masih tertidur, jadi Mama minta Ghina untuk menjaganya sebentar karena Mama ingin kesini." Kata Dara
"Makasih Ma"
"Hey kenapa bilang makasih? Mama kamu ini akan selalu ada untuk kamu Gibran dan tadi Mama udah telpon Papa, dia masih di luar kota kamu tau kan? Dia bilang akan pulang besok." Kata Dara
"Iya Ma"
Setelahnya tidak ada satupun yang mengeluarkan Gibran diam sambil menatap ke ruang oprasi yang belum juga terbuka. Tangan Gibran mengepal cukup kuat, dia marah pada dirinya sendiri.
Seharusnya tadi dia menemani Diandra ke kamar mandi atau seharusnya Diandra membangunkan dia untuk minta ditemani ke kamar mandi. Sudah dua kali Diandra jatuh di kamar mandi ketika hamil pertama ketika sedang hamil Gavin dan sekarang anak kedua mereka.
'Sayang aku kok gak tenang ya?'
Tadi Diandra memang sempat mengatakan hal itu hanya saja Gibran mengatakan kalau itu hanya perasaannya saja.
Entah berapa lama Diandra ada di dalam sana, tapi ketika pintu itu terbuka Gibran langsung bangun dan berlari menghampiri dokter yang menangani istrinya.
"Dokter bagaimana istri saya?" Tanya Gibran
"Oprasinya berjalan dengan lancar anak perempuan kalian juga lahir dengan selamat." Kata Dokter itu membuat Gibran dan Dara menghela nafasnya lega
"Lalu menantu saja bagaimana?" Tanya Dara
"Baik, kita hanya perlu menunggu hingga dia sadar." Kata Dokter itu lagi
Kali ini Gibran merasa sesak di dadanya hilang begitu saja, dia bahagia sekali mendengar Diandra baik-baik saja.
"Istri saya baik-baik saja kan? Tidak ada masalah?" Tanya Gibran lagi
"Tidak"
Sekali lagi Gibran merasa sangat lega, dua orang yang berarti di hidupnya baik-baik saja.
¤¤¤
Menggenggam tangan Diandra dengan sayang Gibran masih setia menunggu istrinya itu hingga sadar, dia sudah berada di ruang rawat. Tadi Dara sudah pulang bersama supir ke rumahnya untuk menjaga Gavin yang takut menangis.
Rasa kantuk sama sekali tidak menghampiri Gibran meskipun hari sudah semakin malam, dia terus menunggu Diandra membuka matanya. Tadi dia sudah melihat anak mereka yang harus di inkubator karena memang belum sampai sembilang bulan.
Anak mereka sangat cantik dan menggemaskan meskipun tubuhnya sedikit lebih mungil dari Gavin ketika lahir dulu.
"Sayang kamu belum mau bangun?" Tanya Gibran
Masih tidak ada jawaban mata Diandra masih tertutup dengan sempurna. Ada selang infus di tangan istrinya dan sekarang Diandra juga terlihat sangat pucat mungkin karena pendarahan tadi.
Beruntung Gibran langsung membawanya ke rumah sakit dan Diandra langsung ditangani.
"Aku belum lega kalau kamu belum membuka mata kamu sayang." Kata Gibran lagi
Mengusap tangan Diandra dengan penuh kelembutan Gibran mencium tangan istrinya dan kembali menatap Diandra.
Menunggu hingga dia membuka matanya.
¤¤¤
Hai aku update😂
__ADS_1
Maaf ya kemarin gak update :(
Aku udah mulai UAS gitu hehe belum semua sih, tapi udah ada beberapa mata kuliah yang UAS jadinya waktunya sedikit terbagi😂