
Diandra sedang melipat pakaian ketika tiba-tiba ponselnya berdering, dia baru saja selesai sarapan bersama keluarga kecilnya dan sekarang anak-anaknya sedang bersama Gibran di kamar. Sebenarnya Diandra malas sekali untuk bergerak dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja, tapi karena ponsel itu terus berdering Diandra menyerah dia bangkit dan mengambil ponselnya.
Nama adik iparnya tertera disana membuat Diandra langsung mengangkatnya, tapi keningnya berkerut ketika dia mendengar isak tangis disana. Mendadak Diandra cemas dia langsung bertanya kenapa Ghina menangis hanya saja dia terus mendengar isakan dan bukan jawaban.
"Ghina kamu kenapa? Ada apa? Cerita sama Kakak." Kata Diandra cemas
Masih isak tangis yang Ghina berikan membuat Diandra hanya bisa menunggu hingga adik iparnya itu bicara kalau dia menelpon ke Diandra berarti ada sesuatu yang ingin Ghina sembunyikan dari Gibran.
"Ghina? Ada apa? Cerita sama Kakak hmm?" Kata Diandra lagi
'Kak... Kakak... tolongin aku.. tolongin aku Kak'
Perkataan dengan isakan hebat itu membuat Diandra semakin cemas.
"Ada apa Ghina? Aku panggil Mas Gibran dulu." Kata Diandra
'Jangan... Kak jangann aku mohon'
"Ada apa Ghina? Kenapa kamu menangis? Kakak harus bantu apa?" Tanya Diandra cemas
'Kakak... tolongin Ghina.. tolong Ghina takut..'
"Iya sayang Kakak harus tolong apa?" Tanya Diandra pelan
'Ghina.. Ghina di apartemen Kak Gibran.... tolong Kakak kesini... kumohon Kak.. jangan kasih tau.. Kak Gibran'
Ghina mengatakannya sambil terisak membuat Diandra tidak bisa memberikan penolakan.
Apa sudah terjadi hal yang buruk?
"Iya Kakak kesana dan Kakak gak akan kasih tau Mas Gibran." Kata Diandra
'Cepat Kak... tolong'
"Iya Ghina Kakak siap-siap dulu nanti naik taxi kesananya." Kata Diandra
Setelah mematikan telponnya Diandra terlihat sedang berpikir, dia bingung harus beralasan apa pada suaminya karena Gibran tidak akan percaya begitu saja ketika dia mengatakan ingin pergi. Memijat pelan dahinya Diandra mendapatkannya, dia tau alasan apa yang harus dia gunakan.
Keluar dari ruangan Diandra masuk ke dalam kamar lalu mengambil jaket dari dalam lemari membuat Gibran langsunt menatap istrinya dengan alis bertaut. Apalagi ketika Diandra mengambil tas lalu berjalan mendekatinya dan anak-anak.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Gibran
"Hm Mas aku mau ketemu Jeni sebentar ya? Tadi dia telpon katanya mau ketemu aku." Kata Diandra
"Sepagi ini?" Tanya Gibran
"Iya Mas dia sekalian mampir mau ke butik nanti kalau udah selesai aku langsung pulang, boleh kan?" Tanya Diandra dengan penuh harap
Gibran menatapnya dengan tidak percaya, tapi melihat wajah Diandra yang penuh harap membuat dia tidak bisa menolak.
"Nanti kalau udah mau pulang telpon aku ya?" Kata Gibran
"Iya, aku pergi dulu Mas." Kata Diandra sambil mencium punggung tangan suaminya
Sebelum pergi dia juga mencium kedua anaknya bergantian dan bergegas keluar dari kamar membuat Gibran terus menatapnya. Istrinya terlihat sangat buru-buru menghela nafasnya pelan Gibran mencoba untuk percaya meskipun hatinya mengatakan ada sesuatu yang mencurigakan.
Sepagi ini Jeni meminta untuk bertemu istrinya, tapi dia harus percaya karena Diandra juga melakukan hal yang sama padanya maka dia juga sama.
Kembali pada Diandra yang pergi menggunakan ojek online karena tak kunjung menemukan taxi. Sepanjang perjalanan Diandra tidak tenang, dia cemas sekali karena Ghina terdengar sangat ketakutan.
Cukup lama hampir setengah jam Diandra baru sampai di apartemen dan setelah membayar dia langsung berlari masuk. Di dalam lift Diandra terus menggerutu karena rasanya lama sekali untuk sampai ke lantai tiga.
Begitu lift terbuka Diandra bergegas masuk ke dalam apartemen suaminya yang sangat gelap.
"Ghina?"
Tidak ada jawaban, tapi Diandra mendengar isak tangis yang berasal dari kamar dan dia langsung kesana. Matanya membelak kaget begitu melihat Ghina yang terlihat sangat berantakan.
Ghina memakai kaos serta celana pendek yang mungkin dia dapat dari lemari, tapi sudut bibirnya terluka lalu pipinya juga sangat merah dan lehernya.
Jantung Diandra berdetak dengan sangat cepat dia berlari menghampiri Ghina dan langsung memeluknya membuat adik iparnya itu menangis tersedu dan memeluknya dengan sangat erat.
Apa yang dia pikirkan pasti salah kan?
"Kak aku takut... takut Kak." Isak Ghina
Diandra hanya bisa mengusap punggung Ghina dengan sayang dan mencoba untuk memberikan ketenangan meskipun kenyataannya Ghina masih terus menangis. Adik iparnya memeluknya dengan sangat erat dan mencengkram kuat bajunya.
Tidak ada pertanyaan yang Diandra ajukan karena dia tau Ghina belum bisa untuk menjawabnya, jadi Diandra akan menunggu hingga Ghina tenang.
"Sst Kakak ada disini Ghina." Bisik Diandra
Entah berapa lama Ghina menangis, tapi setelah puas dia menjauhkan tubuhnya dan menatap Diandra.
__ADS_1
"Kakak"
"Iya Ghina katakan ada apa, jangan takut hmm." Kata Diandra sambil mengusap kepalanya dengan sayang
"Kak"
"Iya Ghina"
"Kak aku.. aku..."
Ghina tidak sanggup mengatakannya dia kembali menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ghina kamu kenapa hmm?" Tanya Diandra sedih
Ghina mendongak dan dengan isakan dia mengatakan hal yang membuat Diandra membeku di tempatnya.
Perkataan yang membuat Diandra menahan nafasnya untuk sejenak.
"Ghina... Ghina diperkosa Kak"
Diandra diam untuk waktu yang sangat lama, bingung harus mengatakan apa, tapi begitu mendengar isakan dia menatap Ghina yang menundukkan wajahnya. Membawa gadis itu ke dalam pelukannya Diandra berusaha menenangkan Ghina yang kembali menangis.
"SIAPA YANG MELAKUKANNYA?!"
Keduanya menoleh ketika seruan Gibran terdengar dan Ghina semakin takut begitu melihat wajah Kakaknya, dia memeluk Diandra semakin erat.
"Mas... kamu kenapa bisa..."
"SIAPA GHINA?!"
Ghina kembali menangis dan enggan untuk menjawab, dia memeluk Diandra semakin erat.
"Mas jangan ben...."
"JAWAB KAKAK GHINA!"
Ghina menggelengkan kepalanya pelan dan terus terisak di pelukan Kakak iparnya.
Dia sangat takut.
¤¤¤
Entah kenapa sejak Diandra pergi sepuluh menit yang lalu Gibran merasa tidak tenang hingga akhirnya dia memilih untuk mengambil ponselnya sambil sesekali memperhatikan anaknya. Mencari nomor Jeni di ponselnya Gibran berusaha menelpon hanya untuk memastikan jika Diandra benar-benar menemuinya.
Tidak dijawab, tapi Gibran mencobanya hingga tiga kali sampai akhirnya panggilan itu diangkat dan perkataan Jeni ketika mengangkatnya saja sudah membuat kecurigaan Gibran semakin besar.
"Apa Diandra sudah sampai disana? Katanya dia mau kesana aku hanya memastikan." Kata Gibran
'Tidak, dia juga tidak bilang kalau mau kesini'
"Oke maaf sudah mengganggu waktu kamu." Kata Gibran
Mematikan panggilan telponnya Gibran membuka gps untuk melihat keberadaan Diandra dan ternyata dia malah menemukan istrinya itu berada di area apartemen. Dahi Gibran berkerut dia bertanya-tanya tentang alasan Diandra berbohong dan kenapa istrinya itu ke apartemen.
Bersamaan dengan itu Gibran mendapat pesan yang ternyata dari Mama nya.
Gibran Mama ke rumah kamu ya?
^^^Iya Ma^^^
^^^Ma maaf Gibran minta tolong jagaiin Gavin dan Danira sebentar ya? ^^^
^^^Gibran ada urusan mendadak dan Diandra sedang ke butik^^^
Iya Gibran ini Mama sebentar lagi sampai kok
Menghela nafasnya pelan Gibran mengambil kunci mobil yang ada di atas meja lalu menghampiri anak-anaknya.
"Sayang Daddy keluar bentar ya? Nanti Oma kesini." Kata Gibran
Gavin mengangguk dan tersenyum membuat Gibran ikut tersenyum lalu mencium pelan keningnya.
Berlari menuruni tangga Gibran meminta Bi Diah untuk menjaga anak-anaknya selagi menunggu Mama nya datang. Masuk ke dalam mobil Gibran langsung pergi menuju apartemen dengan terburu-buru karena entah kenapa perasaannya sangat tidak tenang.
Begitu sampai juga memarkirkan mobilnya Gibran berlari masuk dan pergi ke lantai tiga dimana apartemennya berada. Sampai di lantai tiga Gibran membuka perlahan pintu apartemen dan masuk ke dalam.
Gelap, tapi dia mendengar isakan dan hal itu membuat Gibran langsung berjalan ke arah kamar.
Lalu dia mendengar percakapan mereka tanpa masuk ke dalam.
"Kak"
"Iya Ghina"
__ADS_1
"Kak aku.. aku..."
Adiknya itu menangis dengan kuat membuat Gibran merasa sangat cemas.
"Ghina kamu kenapa hmm?"
"Ghina... Ghina diperkosa Kak"
Perkataan adiknya itu membuat Gibran membeku dengan nafas yang terasa sesak hingga dia memundurkan langkahnya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan tangannya terkepal kuat lalu dia membuka pintu dengan kuat.
"SIAPA YANG MELAKUKANNYA?!"
Keduanya menoleh ketika Gibran berteriak dan Ghina terlihat semakin takut begitu melihat wajah Kakaknya, dia memeluk Diandra semakin erat.
"Mas... kamu kenapa bisa..."
Gibran mengabaikan perkataan istrinya dan kembali membentak Ghina dengan dada yang terasa semakin sesak.
"SIAPA GHINA?!"
Ghina kembali menangis dan enggan untuk menjawab, dia memeluk Diandra semakin erat.
"Mas jangan ben...."
"JAWAB KAKAK GHINA!"
Ghina menggelengkan kepalanya pelan dan terus terisak di pelukan istrinya membuat Gibran hampir frustasi.
"Pacar kamu? Pacar kamu pelakunya kan?!" Tanya Gibran
"Dia... dia mabuk kak..."
"Brengsek!" Maki Gibran
Tangan Gibran terkepal kuat dia membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kamar.
"Aku akan membunuhnya." Kata Gibran
Ghina terlihat ketakutan dia berlari dengan susah payah dan memeluk Kakaknya dari belakang sambil terisak hebat.
"Jangan... Kak jangan"
Gibran menahan nafasnya, dia merasa menjadi Kakak yang sangat buruk untuk adiknya.
Begitu melihat Diandra yang juga keluar dari kamar Gibran melepaskan tangan Ghina dan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan kuat.
Berjalan ke arah meja Gibran membanting apapun yang ada disana untuk menghilangkan rasa sesaknya.
Salahnya!
Menatap pantulan dirinya di cermin Gibran menatapnya dengan penuh amarah hingga dia memukul cermin itu menggunakan tangannya.
Pecah
Bersamaan dengan cermin yang pecah itu darah mengalir di tangannya dan tak lama pintu terbuka membuat Diandra serta Ghina menghampiirinya.
Ghina memeluk tubuh Kakaknya dengan erat membuat Gibran memejamkan matanya.
'Jangan pulang malam-malam Ghina!'
'Memang Kakak pernah pulang sore? Kakak aja kalau pulang tengah malam atau pagi!'
Semua salahnya, dia benar-benar Kakak yang buruk.
Dulu dia meniduri Anetta karena mabuk dan sekarang adiknya... adiknya.
"Apa ini semua karena Kakak? Apa Kakak yang menjadi penyebab ini semua Ghina?"
Tidak ada jawaban Ghina hanya memeluknya dengan sangat erat.
"Maaf"
"Kak"
Ghina dapat merasakan bahu Kakaknya itu bergetar dan ketika dia mendongak ada air mata di mata indah Kakaknya.
"Kakak..."
Gibran mengalihkan pandangannya lalu mengatakan hal yang membuat Ghina menangis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf karena Kakak bukan Kakak yang baik untuk kamu Ghina"
¤¤¤
__ADS_1
Haii aku updateee😚
Kalau ada waktu nanti malam aku update lagi yaa, tapi gak janji hehe😅