Obsession

Obsession
Family


__ADS_3

Dulu Gibran berpikir bahwa kehidupannya sangat sempurna, tapi ternyata dia salah ada banyak kesalahan yang tidak dia sadari dan ada banyak akibat dari semua kesalahan yang pernah dia lakukan dulu. Mungkin Gibran sangat bebas dulu dia bisa pergi kemanapun dan tidak peduli dengan perkataan ataupun larangan dari orang tuanya.


Sekarang dia sadar bahwa semua yang pernah dia lakukan selalu memiliki dampak dan akibat yang ditimbulkan, tapi sayang Gibran baru menyadarinya setelah dia menikah. Kenakalannya sejak SMA bertambah parah ketika dia batal bertunangan dengan Clarissa hingga hidupnya semakin kacau.


Namun, seiring berjalannya waktu dia bertemu Diandra seorang gadis sederhana yang bukan berasal dari keluarga kaya, tapi berhasil mengubah hidup Gibran sepenuhnya. Tentu tidak mudah untuk berubah ada Anetta serta Clarissa yang pernah mengujinya dan ternyata Gibran berhasil melaluinya.


Dia tetap bertahan pada Diandra serta anak-anaknya.


Kepuasan sesaat tidak akan baik untuk kedepannya.


Seharusnya dia tau bahwa pergaulan bebas yang dia lakukan dulu hanya untuk kepuasan sesaat, tapi langkah pasti dengan menikahi Diandra bukan hanya sekedar kepuasan melainkan juga kebahagiaan.


Kebahagiaan yang menyempurnakan kehidupannya.


Sekarang dia akan menekankan hal yang sama pada Ghina memberi tau adik kesayangannya untuk tidak terpuruk dan bangkit dari semua masalah serta kejadian yang telah menimpanya. Waktu memang tidak bisa diputar atau dikembalikan, tapi Ghina masih bisa merubah masa depannya.


Ghina masih bisa menata kembali hidupnya dan menemukan seseorang yang tepat untuknya.


Ghina pasti bisa melalui semuanya.


Hati yang tersakiti bukan akhir dari segalanya.


Tepat lima bulan berlalu sejak kejadian yang menimpa Ghina terjadi dan sekarang adiknya sudah bekerja di perusahaan teman Papa nya sebagai sekretaris, adiknya menceritakan hal itu padanya.


Ghina menceritakan setiap kejadian yang dia alami pada Gibran dan Istrinya.


Lega rasanya melihat Ghina yang sudah lebih baik dan bangkit dari masalah yang dia hadapi. Ternyata adiknya adalah sosok yang begitu kuat dan Gibran bangga.


"Halo Ghina"


Setiap hari Gibran tidak pernah absen untuk tidak menelpon adiknya dan menanyakan kabarnya.


'Halo Kak'


"Kamu dimana? Masih di kantor?" Tanya Gibran


'Enggak Kak masih di restoran ikut Louis untuk nemuin client, ada apa Kak?'


"Kakak ganggu ya?" Tanya Gibran tidak enak


'Hah? Enggak kok Kak ini juga udah selesai masih nungguin Louis lagi di kamar mandi'


"Pulangnya dianterin dia?" Tanya Gibran lagi

__ADS_1


'Mungkin'


"Kalau dia gak bisa antar kamu pulang telpon Kakak ya?" Kata Gibran


'Iya Kak... eh udah selesai Lou?'


Suara itu terdengar dan membuat Gibran dapat menyimpulkan bahwa Louis sudah kembali.


'Kak aku pulang sama Louis, udah ya? Nanti Kakak telpon lagi aja'


"Iya hati-hati Ghina." Kata Gibran


'Iya Kakak'


Setelah panggilan telponnya berakhir Gibran meletakkan ponselnya di nakas lalu keluar dari ruang tengah dan pergi ke kamarnya. Senyum manisnya mengembang melihat Diandra yang sedang mengganti pakaian Danira dengan penuh kesabaran karena anak itu tidak mau diam.


"Ma maa cucuu"


"Danira sayang ganti baju dulu." Kata Diandra


"Cucu cucuu"


Danira yang sudah berumur satu tahun sangat menggemaskan dan membuat Gibran serta Diandra merasa gemas sendiri melihat tingkahnya.


"Danira ganti baju dulu." Kata Diandra


"Gavin mana sayang?" Tanya Gibran


"Lagi di kamar mandi Mas sakit perut katanya." Kata Diandra


"Sakit perut biasa?" Tanya Gibran


"Hm hanya butuh ke kamar mandi saja." Kata Diandra membuat Gibran mengangguk faham lalu mendekat dan melihat anaknya


"Danira sayang ganti baju dulu dong." Kata Gibran sambil mengusap pelan pipinya


Perkataan itu entah kenapa berhasil membuat Danira menghentikan gerakan tangannya, dia selalu menurut kalau Gibran yang bicara.


"Lihat kan? Kalau sama Daddy nya aja nurut." Kata Diandra


"Sayangnya Daddy hmm?" Kekeh Gibran


"Papaaa"

__ADS_1


"Daddy"


"Ndak Papaa"


Diandra tertawa kecil bersamaan dengan dia yang telah selesai memakaikan pakaian untuk anaknya. Mendudukkan Danira di atas ranjangnya Diandra mengambil sisir lalu merapihkan rambut anaknya dan memberikan bedak yang membuat Danira merengek karena tidak mau.


"Ndakk"


"Ya ampun Danira susah sekali kalau habis mandi." Kata Diandra membuat Gibran tertawa kecil mendengarnya lalu mencubit pelan pipinya


"Dia menggemaskan." Kata Gibran


"Hm sampai aku ingin menggigit pipinya." Kata Diandra


"Papaa"


Gibran menunduk dan melihat anaknya yang berusaha untuk berdiri membuat dia tersenyum lalu mengangkat tubuh Danira hingga membuat anak itu kegirangan.


Dengan manja Danira menyandarkan kepalanya di bahu Gibran hingga pipinya menempel di bahu Daddy nya dan membuat pipinya terlihat semakim tembam.


Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka dan Gavin keluar lalu berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya sambil naik ke atas ranjang dengan bantuan Diandra.


"Mommy"


"Ada apa Gavin? Sudah selesai?" Tanya Diandra


"Cudah cekalang Gavin mau bobok." Kata Gavin


"Ngantuk?" Tanya Diandra


"Ngantuk"


"Yaudah sini tidur." Kata Diandra


Gavin berbaring di dekat Diandra lalu memejamkan matanya ketika Diandra mengusap sayang kepalanya.


"Tidur anak Mommy sayang." Kata Diandra


"Mommy cini aja cama Daddy cama adik Ila juga." Kata Gavin manja


Diandra hanya mengangguk sambil terus mengusap kepala anaknya dengan sayang.


¤¤¤

__ADS_1


Maaf bbanget kemalemann😭


Kemungkinan cerita ini tamat di part 100 yaaa💞


__ADS_2