Obsession

Obsession
Ghina!


__ADS_3

Haloo semuanyaa ini bukan update, tapi info kalau ceritanya Ghina udah aku updatee💞


Hayoo siapa yang nungguin cus langsung baca yaa😂 Nanti extra part (3) Obsession aku update sore😶



Biar bisa di update aku kasih sedikit cuplikannya yaa😄


Ini diaa sedikit dari cerita Dalam Dekapannya ⬇⬇⬇


"Saya pernah ikut Papa ke kantor Uncle Liam waktu masih SMA dan Uncle bilang kalau saya butuh pekerjaan bisa bilang sama dia." Kata Ghina


"Dan ketika kamu meminta pekerjaan secara kebetulan sekretaris Daddy mengundurkan diri." Kata Louis


"Kebetulan sekali." Kata Ghina dengan senyuman


"Bukan hanya kebetulan, tapi takdir." Kata Louis


"Takdir?"


"Ya takdir untuk mempertemukan saya dengan kamu." Kata Louis membuat Ghina tertawa mendengarnya


"Baiklah takdir, jadi kita bertemu karena takdir." Kata Ghina


"Saya rasa kita bisa menjadi teman yang baik." Kata Louis


"Kedengarannya ide yang bagus Pak Louis." Kata Ghina dengan senyuman


Louis tertawa kecil sambil memperhatikan Ghina yang sekarang menatap lurus ke depan, dia tersenyum tulus.


"Ah hujan"


Mendengar perkataan itu Louis juga menatap keluar dan benar sudah turun hujan mereka tidak mendengar apapun ketika di dalam.

__ADS_1


"Kamu mau dengar sesuatu?" Tanya Ghina


"Apa itu?" Tanya Lois sambil menatap Ghina yang ada disampingnya


Ghina tersenyum sambil menghela nafasnya panjang dan mengatakan sesuatu.


"Let the rain wash away all the pain of yesterday"


Louis tersenyum lalu ikut menatap ke depan melihat ke arah hujan yang turun dengan deras membasahi bumi.


Biarkan hujan turun dan menghapus semua luka di hati wanita yang kini berdiri disampingnya.


Mereka mungkin baru saling mengenal untuk waktu yang cukup singkat, tapi Louis merasa begitu peduli dengan sekretarisnya.


Terhitung satu minggu Ghina sudah bekerja dan hubungan mereka cukup baik, tidak lebih sebagai seorang atasan dan sekretaris.


Selama satu minggu menjadi sekretaris Ghina mulai tau sikap pria itu yang selalu terburu-buru kalau masalah rapat dan Louis juga sangat tepat waktu bahkan bukan sekali dua kali Ghina terkena omelan karena datang terlambat. Namun, dibalik itu semua Ghina juga merasa bahwa Louis merupakan orang serta atasan yang baik dan dia sangat betah kerja bersamanya.


Pertanyaan itu membuat Ghina tersentak lalu menoleh pada Louis yang menatapnya untuk sesaat mata mereka bertemu dan saing bertatapan.


"Tidak mau kembali ke kantor?"


"Eh iya maaf ayo kita kembali ke kantor." Kata Ghina canggung


Louis menggelengkan kepalanya pelan lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan Ghina dan meninggalkan area perusahaan rekan kerjanya. Selama perjalanan tidak ada percakapan memang selalu begitu keduanya masih canggung untuk memulai percakapan.


Saat tengah diam sambil menatap lurus ke depan suara musik terdengar membuat Ghina menoleh dan melihat Louis yang baru saja menghidupkan musik untuk menemani perjalanan mereka. Hujan masih turun dengan deras, tapi entah kenapa mendadak Ghina mengingat kenangannya bersama dengan Alden.


Sesuatu yang harusnya dia lupakan malah muncul di fikirannya.


'Alden hujann'


'Hey tidak papa sayang ini hujan kemari dan ayo kita berjalan di bawah hujan'

__ADS_1


'Gak mau nanti sakit tau'


'Tidak akan Ghina aku akan melindungi kamu'


Saat itu mereka berlari dengan jas Alden yang menutupi kepalanya dan hari itu Ghina merasa begitu bahagia mereka tertawa di bawah derasnya hujan. Hal lain yang membuatnya bahagia adalah Alden yang memberikan jaket itu padanya lalu membiarkan dirinya terkena guyuran hujan.


Dia menatap Ghina lalu berseru kencang membuat Ghina menatapnya dengan mata membulat.


'AKU CINTA KAMU GHINA!'


Menahan nafasnya Ghina mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika kenangan itu kembali hadir dan menyiksanya.


Kapan semua ini akan berakhir?


Sisa perjalanan Ghina habiskan dengan mengalihkan pandangannya ke samping dan menahan tangisnya. Ingatan soal Alden selalu berhasil membuatnya terluka lalu menangis lagi dan lagi.


Seolah semua tangisannya masih belum cukup juga.


"Sudah sampai"


Perkataan itu membuat Ghina mengangguk singkat lalu menunduk untuk melepaskan sabuk pengamannya, tapi tanpa dia duga Louis memegang tangannya.


Dia menatap Ghina lalu tersenyum tulus seraya berkata.


"Menangislah disini aku akan keluar aku tidak tau apa yang terjadi sama kamu sampai mendadak jadi sedih begini, tapi genangan air mata di mata indah kamu jangan menahannya biarkan dia jatuh agar kamu merasa lega." Kata Louis


Ghina menatapnya dengan raut wajah yang tidak bisa dia gambarkan.


"Gunakan ini untuk menghapus air mata kamu"


Ghina menatap sapu tangan yang kini ada ditangannya dan sekali lagi di luar dugaan Louis tersenyum sambil menepuk pelan puncak kepalanya.


"Menangislah kalau itu bisa membua kamu lega"

__ADS_1


__ADS_2