
Sejak kembali dari cafe Gibran memperhatikan kalau istrinya itu lebih banyak diam, tapi dia tidak bertanya karena sedang dalam perjalanan dan memutuskan untuk bertanya ketika mereka sampai di rumah saja. Disampingnya Diandra tengah memperhatikan anaknya yang terlihat asik dengan mobil-mobilan ditangannya, tapi raut wajahnya terlihat lesu.
Apa yang tadi istrinya bicarakan dengan Renald?
Saat menunggu Diandra tadi Gibran mengajak anaknya ke salah satu toko mainan dan membelikan Gavin beberapa mobil-mobilan serta robot mainan yang sangat anaknya sukai. Ada beberapa kantung belanjaan di belakang dan Gibran juga telah membelikan ice cream untuk Diandra yang katanya tadi ingin.
Sekarang mereka sudah sampai di halaman rumah dan Diandra juga langsung turun lalu berjalan lebih dulu memasuki rumah membuat Gibran semakin merasa bingung. Masih memaklumi Gibran mengambil semua kantung belanjaannya dan membawa masuk ke dalam rumah.
Mainan Gavin semuanya ia letakkan di meja kalau beberapa makanan serta minuman Gibran masukkan ke dalam kulkas. Setelahnya Gibran pergi menyusul Diandra yang sekarang ada di kamarnya bersama anak mereka.
Si kecil Gavin tengah meminum susunya sambil tertidur dan memainkan kakinya dengan sebelah tangan sedangkan Diandra terlihat diam sambil menatap lurus ke depan. Melihat hal itu Gibran berjalan mendekat lalu duduk di tepian ranjang dan menyentuh pundak istrinya membuat Diandra mendongak untuk menatapnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Gibran dengan lembut
Diandra diam dan menggelengkan kepalanya pelan, dia takut Gibran akan marah kalau dia bicara.
'Awalnya aku berfikir kalau Gibran itu hanya pria brengsek Diandra apalagi ketika tau bahwa kamu hamil sebelum kalian menikah, hal itu membuat aku semakin takut kalau dia akan menyakiti kamu,'
'Aku menahannya hingga anak kalian lahir juga sedikit lebih besar sekalian aku mengumpulkan semua foto-foto itu dan aku melakukannya, mengirim itu semua ke rumah kamu,'
'Niatku hanya ingin melindungi kamu karena aku menyayangi kamu Diandra aku tidak mau kamu terluka, tapi melihat kamu yang baik-baik saja meskipun aku sudah mengirim semua foto-foto itu membuat aku sadar bahwa semua yang aku lakukan salah,'
'Aku merasa bersalah dan itulah kenapa aku mengajak kamu bertemu untuk minta maaf'
Perkataan itu Renald katakan padanya dengan raut wajah serius tanpa ada keraguan dan matanya juga mengatakan bahwa dia tidak berbohong. Namun, tetap saja Diandra takut kalau Gibran akan marah ketika dia bicara jujur karena masalahnya Gibran sangat penasaran dengan siapa dalang dibalik pengirim foto-foto dirinya.
Diandra juga takut Gibran akan terluka.
"Sayang"
Kali ini Diandra menatap Gibran dengan sedih lalu memeluknya dan menangis. Semua ini sebenarnya salah Diandra kalau saja dia tidak banyak ragu dan menerima lamaran itu pasti tidak akan terjadi hal begini.
"Hey ada apa? Apa yang pria itu katakan padamu hmm?" Tanya Gibran
Diandra menggelengkan kepalanya pelan sambil mengeratkan pelukannya dan menahan isak tangisnya.
"Sayang kamu sudah janji akan menceritan semuanya padaku kan?" Kata Gibran
Melepaskan pelukannya Gibran menghapus air mata di pipi istrinya lalu mencium keningnya lama dan baru akan bicara suara Gavin justru memecah keheningan mereka.
"Mamaa"
Diandra menoleh dan tersenyum singkat sambil mengusap pipi anaknya.
"Kenapa sayang?" Tanya Diandra
"Ainn"
"Kenapa?" Tanya Diandra bingung
__ADS_1
"Ain mbinn"
"Main mobil?" Tanya Diandra
"Mbin"
Gibran tersenyum lalu mengatakan kalau dia akan mengambil mainan anaknya yang tadi dia beli di bawah dan meninggalkan Diandra bersama dengan Gavin di kamar.
"Sayang Daddy itu pria yang baik." Kata Diandra sambil mencium pipi anaknya dengan sayang
"Mbinn"
"Iya nanti ya?" Kata Diandra
Tak butuh waktu lama Gibran kembali dan membawa mainan yang tadi dia beli lalu menaruhnya di kasur. Membuka kotak berisikan mainan tadi Gavin terlihat begitu senang dan mengambil mainannya dengan riang.
"Mbin Mama mbinn"
"Iya sayang." Kata Diandra
Selagi Gavin asik dengan mainannya Gibran meraih tangan Diandra dan mengusap telapak tangannya dengan penuh kelembutan.
"Tidak mau bicara? Kamu sudah janji sayang." Kata Gibran
Diandra menunduk sebentar lalu menghela nafasnya pelan dan menatap suaminya dengan senyuman tipis.
"Tadi.. Renald bilang kalau dia.."
"Dia bilang kalau semua foto yang pernah aku terima itu adalah dia yang mengirimnya." Kata Diandra sambil menundukkan kepalanya
Gibran diam, tapi dia melihat tangan Gibran terkepal kuat dan membuat Diandra meraihnya untuk digenggam.
"Pria itu untuk apa dia melakukannya?! Apa karena dia mencintai kamu?!" Tanya Gibran marah
"Bukan...."
"Lalu apa?! Katakan padaku." Desak Gibran
"Jangan marah-marah." Pinta Diandra membuat Gibran menghela nafasnya kasar lalu minta maaf
"Maaf, katakan kenapa?" Kata Gibran dengan lebih lembut
"Jangan memotong ucapanku ya?" Kata Diandra
"Iya"
Lalu Diandra mengatakan semua yang telah dikatakan Renald padanya tanpa ada yang tertinggal satupun.
Setelah selesai Diandra dapat mendengar helaan nafas kasar suaminya yang membuat Diandra takut kalau Gibran akan marah.
__ADS_1
"Maaf, memang salahku." Kata Gibran
"Tidak bukan sa..."
"Memang salahku memiliki masa lalu yang buruk." Kata Gibran
"Jangan bicara be..."
"Kamu memang terlalu baik untuk..."
Kali ini Diandra memotong ucapan suaminya dengan mencium bibirnya cukup lama.
"Jangan bicara begitu, bukan salah kamu, tapi salah aku." Kata Diandra
Gibran diam dan ingin bicara, tapi Diandra sudah lebih dulu membuka suaranya.
"Dari awal kamu sudah menunjukkan bahwa kamu serius dengan perasaan kamu, tapi aku yang selalu ragu, keras kepala, dan tidak percaya," Kata Diandra.
"Masa lalu itu tidak lagi penting, suamiku telah berubah hanya demi aku, hal apa yang lebih penting dari itu?" Kata Diandra dengan mata berkaca-kaca
Gibran menatapnya dengan penuh kelembutan lalu mengusap pipi istrinya dengan sayang.
"Kamu suami aku dan ayah dari anak-anakku juga, jadi jangan pernah merendahkan diri kamu di depan istri kamu sendiri." Kata Diandra
Senyum Gibran terbentuk bersamaan dengan wajahnya yang mendekat hendak mencium bibir istrinya. Hanya tinggal sedikit lagi, tapi Gavin tiba-tiba mendekati mereka dan memanggil Diandra.
"Mamaa"
Tertawa kecil Gibran memberikan ciuman singkat di bibir istrinya lalu mengangkat tubuh Gavin dan menciumnya.
"Ndakk Mamaa"
Diandra mengusap matanya sebentar lalu menggendong anaknya dan menanyakan apa keinginannya.
"Kenapa hmm?"
Gavin tidak menjawab hanya memeluk Diandra saja dan menyandarkan kepalanya di bahu Mommy nya yang terasa nyaman.
"Diandra"
"Hmm"
"Gavin masih kecil dia tidak akan mengerti"
Diandra tidak mengerti maksudnya hingga Gibran mengusap tengkuknya lalu mencium bibirnya lagi.
Gavin juga tetap pada posisinya bersandar di bahu Mommy nya.
Astaga Diandra memiliki dua pria yang sangat manja padanya.
__ADS_1
¤¤¤
Ini dia satu laginyaa😚