
Semua persiapan untuk keberangkatan mereka ke villa besok pagi telah selesai Diandra dan Gibran siapkan malam ini tepat setelah memastikan kedua anaknya sudah tertidur lelap. Sekarang pukul sepuluh malam dan Diandra masih belum merasakan kantuk sedikit pun dia malah duduk sambil mengambil ponselnya.
Ada beberapa pesan masuk dari Natasya, tapi Diandra tidak ingin membalasnya sekarang lagi pula Natasya pasti sudah tidur. Disampingnya Gibran duduk sambil memperhatikannya lalu merebut ponsel Diandra dan tersenyum padanya.
"Kenapa Mas?" Tanya Diandra dengan senyuman
"Kamu belum mengantuk? Tidak mau tidur?" Tanya Gibran
"Belum ngantuk." Kata Diandra sambil menghela nafasnya pelan
Gibran tersenyum lalu membawa kepala Diandra untuk bersandar di bahunya membuat wanita itu memejamkan matanya.
"Aku punya banyak rencana untuk liburan kita." Kata Gibran
"Benarkah? Apa saja?" Tanya Diandra penasaran
"Hm rahasia." Kata Gibran
"Ish kok rahasia sih Mas aku kan mau tau." Keluh Diandra
"Aku akan berikan kejutan nanti." Kata Gibran
"Kejutan apaa?" Tanya Diandra lagi
"Tidak akan aku beri tau." Kata Gibran membuat Diandra mendongak dan menatapnya dengan sebal
"Terus kenapa bilangg?" Tanya Diandra kesal
"Supaya kamu gak terlalu terkejut nantinya." Kekeh Gibran
Diandra mengerucutkan bibirnya sebal lalu memeluk Gibran dengan erat dan memejamkan matanya.
"Aku kangen bangat Mas kita yang sering bercanda dan penuh tawa." Kata Diandra
"Aku juga sama sayang, aku sangat merindukan masa itu." Kata Gibran sambil mencium puncak kepalanya
Menjauhkan tubuhnya Diandra menatap sang suami lalu mengusap pipinya dengan penuh kelembutan.
"Aku sangat mencintai suamiku." Kata Diandra
"Aku lebih mencintai istriku." Kata Gibran dengan senyum manisnya
Saling menatap satu sama lain Diandra mulai mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Gibran yang membuat pria itu refleks menutup matanya dan meletakkan tangannya di tengkuk Diandra. Bibir Diandra perlahan terbuka dan membiarkan Gibran memperdapam ciuman mereka bahkan Diandra tetap diam kala tubuhnya dibaringkan perlahan ke ranjang.
Begitu akan kehabisan nafas Gibran melepaskan ciumannya dan menyatukan dahi mereka tanpa mau menjauhkan wajahnya. Dia menatap Diandra yang masih terengah dan terlihat begitu menawan dengan bibirnya yang basah serta rambut berantakannya.
"Cantik sekali"
"Aku yang paling cantik?" Tanya Diandra
"Hm istriku yang paling cantik." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum mendengarnya
Dulu dia pernah bilang kalau sekali saja Gibran membuatnya kecewa maka dia tidak akan bisa memaafkan, tapi lihat sekarang dia dengan mudah memaafkan meskipun sering kali teringat. Mata teduh Gibran selalu membuatnya terlarut dalam kenangan mereka dan senyumannya benar-benar penuh ketulusan.
Kesalahan Gibran mungkin memang menyakitinya, tapi bukan berarti hal itu dapat menghapuskan kenangan mereka selama tiga tahun lebih pernikahan. Sekali lagi Diandra akan mulai memberikan percaya pada suaminya, tidak ada yang salah dengan kesempatan kedua dan tidak ada yang salah dengan menekan egonya demi kepentingan keluarga kecil mereka.
"Mas"
"Hmm"
__ADS_1
Diandra hanya tersenyum dan menarik wajah Gibran lalu menciumnya lagi membuat Gibran kembali menutup matanya. Tangan Diandra perlahan turun dia menarik kaos Gibran ke atas dan mengusap dada bidangnya dengan penuh kelembutan.
"Sayangg"
Suara Gibran terdengar serak membuat Diandra tersenyum di sela ciuman mereka lalu ketika Gibran menjauhkan wajahnya Diandra kembali mengusap dada bidang Gibran.
"Sayang jangan." Pinta Gibran
"Kenapa? Aku mau melakukannya." Kata Diandra
"Nanti aku kelepasan." Kata Gibran pelan
"Tidak papa, ayo kita lakukan." Kata Diandra
Mata Gibran semakin berkabut ketika Diandra mengatakan hal itu belum lagi tangan lembut Diandra yang terus menyentuh tubuhnya.
"Aku tidak mau kamu kelelahan besok." Kata Gibran lagi
Dia akan sulit untuk berhenti kalau sudah memulainya.
"Kita bisa undur kepergian ketika siang." Kata Diandra
"Are you serious baby?" Tanya Gibran
"Yes Daddy"
Gibran tak bisa menahan dirinya lagi dia menyerang tubuh Diandra dan menciumnya sambil terus menyentuh tubuhnya. Suara lenguhan mulai terdengar setiap kali Diandra merasakan sentuhan di tubuhnya, dia sangat merindukan Gibran.
"Mmh Mas"
Diandra mendongak ketika Gibran mengecupi leher jenjangnya dan meninggalkan bercak merah disana. Semakin lama mata Gibran dipenuhi kabut gairah dia melepaskan ciumannya dan melepaskan kaosnya lalu melempar asal.
"Can i?"
Diandra hanya mengangguk sebagai jawaban membuat Gibran tak bisa lagi menahan dirinya.
Malam ini mereka akan kembali melalui malam yang sangat panjang dengan desahan yang memenuhi ruang kamar mereka serta keringat yang berbaur menjadi satu.
Tak ada jarak yang Gibran berikan, mereka menyatu tanpa ada jarak sedikit pun.
¤¤¤
"Mommy"
Tubuh polos Diandra yang tertutup selimut diguncang oleh Gavin yang membangunkannya karena sudah pukul setengah delapan dan kedua orang tuanya masih belum bangun. Akhirnya Gavin memutuskan untuk ke kamar orang tuanya yang memang tidak pernah terkunci dan melihat keduanya yang masih tertidur.
Mata Diandra perlahan terbuka karena merasa tidur nyenyaknya diusik, tapi begitu melihat Gavin matanya membulat sempurna dan dia mengintip ke dalam selimut lalu menghela nafasnya pelan. Mengeratkan selimutnya Diandra menatap anaknya dan tersenyum lalu membangunkan suaminya yang sama-sama masih tertidur.
Biasanya dia tetap bangun pagi meskipun melalui malam yang panjang dengan suaminya.
"Masss bangunnnn!"
Gibran melenguh pelan dan menatap Diandra lalu mengikuti arah pandang istrinya.
"Eh Gavinn?"
"Mommy cama Daddy macih tidul, tapi aku cudah lapalll biacanya Mommy cudah bangun dan mandiin aku." Kata Gavin
Mengingat tadi malam Gibran sempat memakai celananya dia langsung turun dari ranjang dan menghampiri anaknya.
__ADS_1
"Anak Daddy lapar?" Tanya Gibran sambil mengangkat tubuh Gavin
"Iya lapal, kenapa Daddy tidak pakai baju?" Tanya Gavin
"Hm panas sayang." Kata Gibran dengan senyuman
"Gavin adiknya sudah bangun belum?" Tanya Diandra
"Danila belum bangun dia macih tidul." Kata Gavin membuat Diandra lega ketika mendengarnya
"Yaudah Gavin mandi sama Daddy ya?" Kata Gibran
"Mommyy"
"Eh Mommy nya mau lihat adik nanti Mommy yang suapin Gavin makan ya?" Kata Diandra
Gavin terlihat cemberut, tapi tetap memganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya ketika Daddy nya mengajaknya ke kamar mandi.
Kembali pada Diandra yang mulai merasa lega dia berjalan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut dan mengambil pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai Diandra keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamar anaknya yang bersamaan dengan itu suara rengekan terdengar, Danira terbangun.
Tersenyum tipis Diandra langsung menghampiri ranjang anaknya dan mengangkat tubuh Danira berusaha menenangkannya.
"Iya sayang ini Mommyy"
Membawa Danira berjalan keluar kamar Diandra pergi ke dapur dan melihat Bi Diah yang sepertinya sudah selesai memasak.
"Bi Diah"
"Iya Nyonya butuh sesuatu?" Tanya Bi Diah
"Tidak, apa Bibi sudah selesai masaknya?" Tanya Diandra
"Sudah Nyonya saya masak sup ayam seperti yang Nyonya minta kemarin." Kata Bi Diah
"Makasih ya Bi maaf saya gak bantuin." Kata Diandra
"Iya Nyonya bukan masalah saya bisa sendiri." Kata Bi Diah dengan senyuman
Diandra ikut tersenyum, tapi dia merasa kalau Bi Diah memperhatikannya sejak tadi.
Apa ada yang salah?
Menggelengkan kepalanya pelan Diandra melangkahkan kakinya sambil menatap Danira yang sekarang mulai tenang hingga dia mengingat sesuatu. Langkah kakinya terhenti matanya membulat seketika dan Diandra rasa wajahnya mulai memerah sekarang.
'Mmh Mas'
Lehernya!
Astaga kenapa dia bisa lupa?!
Sudahlah lupakan saja lagi pula hanya Bi Diah yang melihatnya dan sekarang Diandra kembali mengingat kegiatannta tadi malam bersama dengan Gibran.
Setelah masalah itu tadi malam adalah pertama kalinya mereka melakukannya lagi.
Bercinta.
Hatinya yang terluka perlahan mulai disembuhkan dengan sikap manis Gibran.
¤¤¤
__ADS_1
Haloo aku updateee😆