Obsession

Obsession
Tidak Sabar


__ADS_3

"Sini aja jangan kemana-mana"


Sudah seharian ini Diandra hanya diam di atas ranjang sambil memeluk suaminya dan enggan untuk pergi kemanapun. Saat Gibran ingin melepaskan pelukannya Diandra langsung merengek dan mengeratkan pelukannya membuat Gibran tersenyum melihatnya.


Padahal dia hanya ingin ke kamar mandi saja, tapi Diandra melarangnya juga. Belakangan ini memang Diandra sangat manja mungkin karena usia kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan.


Sekarang Gibran tidak lagi ke studio atau butik mungkin hanya sesekali kalau memang penting, tapi selebihnya dia hanya berdiam diri di rumah dan menemani Diandra yang memang tidak mau ditinggal.


"Aku mau ke kamar mandi baby." Kata Gibran


"Hmm jangan lama-lama ya?" Kata Diandra dengan bibir mengerucut sebal


Mengangguk singkat Gibran mencium kening istrinya sekilas sebelum melapaskan pelukannya dan pergi ke kamar mandi.


Di tempatnya Diandra tersenyum tipis lalu dengan hati-hati dia bangun dan duduk sambil mengambil ponsel suaminya yang berdering.


"Halo Kak Araaa"


Iya, Sahara yang menelpon.


'Eh Diandra gimana kabar kamu?'


"Baik Kak kalau Kakak gimana?" Tanya Diandra


'Baik juga, Kak Gibran mana?'


"Kak Gibran lagi ke kamar mandi, ada apa Kak?" Tanya Diandra penasaran


'Tidak ada aku hanya minta file pemotretan kemarin'


"Kalau gitu nanti aku kasih tau Kak Gibran atau Kakak mau nunggu Kak Gibran dulu?" Tanya Diandra


'Tidak perlu kamu sampaikan saja, eh Diandra kamu mau keluar hari ini?'


"Emm tidak memang kenapa Kak?" Tanya Diandra


'Aku sama anak-anak mau makan cake gitu mereka yang minta'


"Mau ikut juga." Kata Diandra manja


'Makanya aku tanya, kamu tau kan tempatnya kita pernah kesana sama Alana'


"Tauu"


'Minta antar Kak Gibran saja ya? Kami juga belum berangkat mungkin sebentar lagi'


"Iya Kak nanti kalau Kakak sudah sampai kabarin aku ya?" Kata Diandra dengan penuh semangat


'Iya Diandra'


Bersamaan dengan Sahara yang mematikan panggilannya Gibran keluar dari kamar mandi dan tersenyum ketika matanya bertemu dengan mata Diandra. Kembali mendudukkan dirinya di atas ranjang Gibran langsung mendapatkan pelukan lagi dari istrinya, memang setiap hari selalu sama.


Sejak memasuki bulan kedelapan Diandra benar-benar manja dan selalu ingin memeluknya, tapi tentu saja itu adalah hal yang menyenangkan untuk Gibran. Kalau ingat betapa dulu Diandra selalu menghindarinya membuat Gibran ingin tertawa.


Sekarang Diandra malah menempel padanya tidak mau berpisah meski hanya sebentar.


"Apa ada yang menelpon?" Tanya Gibran ketika Diandra menyerahkan ponsel miliknya


"Heem Kak Ara dia ajak aku keluar." Kata Diandra

__ADS_1


"Kemana?" Tanya Gibran sambil memainkan rambut hitam Diandra


"Makan cake, anterin ya? Daddy tau kok tempatnya yang waktu itu kita kesana." Kata Diandra


Dia mendongak dan menatap Gibran dengan penuh harap membuat suaminya itu merasa gemas.


"Berangkat sekarang?" Tanya Gibran yang membuat senyum Diandra mengembang sempurna


"Iyaa"


"Yaudah ganti baju dulu." Kata Gibran


Diandra mengangguk lalu beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil baju di lemari. Selagi istrinya mengganti pakaian di kamar mandi Gibran mengganti kaos yang dia gunakan dengan kemeja hitam.


Tak butuh waktu lama Diandra kekuar dengan dress merah longgar yang ia kenakan dan berjalan menghampiri suaminya.


"Sudah siap baby?" Tanya Gibran


"Emm sudah"


Meraih tangan istrinya Gibran menautkan jari jemari mereka lalu keduanya melangkahkan kaki keluar dari rumah. Saat sampai di garasi Gibran membukakan pintu dan dia berlari memutar lalu masuk dari sisi pintu yang lainnya.


Tanpa menunggu lagi Gibran melajukan mobilnya meninggalkan rumah dan pergi ke tempat yang diinginkan istrinya. Selama perjalanan sesekali Diandra merubah posisi duduknya karena merasa tidak nyaman.


"Kenapa sayang?" Tanya Gibran


"Enggak papa cuman duduknya gak enak aja." Kata Diandra sambil tersenyum tipis


"Gak nyaman?" Tanya Gibran yang dijawab dengan anggukan singkat oleh istrinya


Tangan Gibran yang menganggur dia gunakan untuk mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Enggak usah ini udah lebih baik kok." Kata Diandra


Menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka sampai juga dan Gibran langsung membukakan pintu untuk Diandra lalu merangkulnya ketika mereka melangkahkan kaki ke dalam. Mata Diandra menjelajah mencari keberadaan Sahara yang katanya sudah sampai dan dia berhasil menemukan mereka ketika suara cempreng Alana terdengar.


"Mami ada Ante Andlaaa"


Ternyata mereka berada tidak jauh dari tempat Diandra berdiri dan dengan senyuman Diandra bersama suaminya berjalan mendekat.


Begitu keduanya duduk Alana langsung turun dari tempat duduknya dan meminta Gibran untuk memangkunya.


"Paman Iban pangkuu"


Gibran tertawa kecil lalu mengangkat tubuh Alana dan memangkunya sambil mencium pipinya dengan gemas.


"Kita kecini cama Luna juga." Kata Alana


Gibran tersenyum dia juga melihat Aluna yang ada di kereta bayi dekat mereka.


"Gak sama Arjuna?" Tanya Gibran


"Dia lagi ke toilet nganterin Angga." Kata Sahara


Gibran mengangguk faham dan Diandra mendekat ke arah kereta bayi lalu mengusap pipi Aluna yang terlihat lelap dalam tidurnya. Senyum Diandra mengembang sempurna, dia suka sekali melihat anak bayi sekarang dia dia tidak sabar untuk memeliki satu.


"Luna pipinya tembam sekali Kak." Kata Diandra


"Iya Ante adik Ana gendut dia minum cucu telus." Kata Alana membuat Diandra tersenyum mendengarnya

__ADS_1


Sekali lagi Diandra mengusap pipinya dan membuat Aluna menggeliat pelan dalam tidurnya.


"Tapi, adik Ana nakal dia pelnah jambak lambut Ana padahal Ana enggak nakal." Kata Alana membuat mereka tertawa mendengarnya


Bersamaan dengan itu Arjuna dan Airlangga kembali keduanya langsung tersenyum ketika melihat ada Gibran bersama istrinya.


"Papii cudah balik lagi." Kata Alana senang


"Iya, kamu kenapa duduk disitu sayang? Sini turun sama Papi aja." Kata Arjuna ketika melihat Alana yang duduk dipangkuan Gibran


"Enggak Ana mau cama Paman Iban." Kata Alana dengan senyuman


"Biarkan saja Jun aku juga rindu sekali sama Ana." Kata Gibran sambil mencium pipi Alana


Tak lama setelah itu Sahara langsung memesan makan serta minuman untuk mereka semua dan selagi menunggu dia mengajak Diandra mengobrol.


"Jadi, perkiraannya anak kalian lelaki?" Tanya Sahara


"Iya Kak begitu yang dikatakan Dokter waktu aku sama Kak Girban periksa." Kata Diandra


"Aku harap dia mirip kamu dan bukan Kak Gibran." Kata Sahara


"Hey dia anakku tentu saja harus mirip denganku." Kata Gibran sewot


"Tidak, dia harus mirip Diandra agar tumbuh menjadi anak yang baik dan tidak menyebalkan." Kata Sahara


"Kalau gitu anak kamu juga harus tumbuh seperti Arjuna biar tidak cerewet dan menyebalkan seperti kamu." Kata Gibran


"Kenapa malah bahas aku?!" Tanya Sahara sebal


Gibran hanya mengangkat bahunya acuh lalu membisikkan sesuatu pada Alana yang membuat anak itu tertawa.


"Benalkah Paman?" Tanya Alana


Gibran tersenyum dan mengangguk membuat Sahara menatapnya dengan sengit.


"Apa yang Kakak katakan pada anakku?" Tanya Sahara


"Hnm tidak ada, benar kan Ana?" Kata Gibran


Alana mengangguk dan menuruti perkataan Gibran karena anak itu memang suka sekali pada Gibran, jadi selalu menurut.


Melihat hal itu Arjuna hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, istrinya dan Gibran memang sering sekali berdebat.


"Antee Andlaa pelutnya cudah becal belalti adik bayinya cudah mau kelual." Kata Alana


Diandra tersenyum dan mengangguk setuju sambil mengusap perutnya dengan sayang.


Dia juga tidak sabar menunggu anaknya lahir ke dunia dan menyapanya dengan suara tangisan khas bayi yang baru lahir.


Diandra tidak sabar ingin menatap wajah lucunya dan menggenggam tangan mungil itu untuk pertama kalinya.


Dia sangat tidak sabar.


¤¤¤


Huhuuu bentar lagi lahiran inii😂


Maaf ya lagi agak lama proses reviewnya dari kemarin belum selesai-selesai hehe tumben banget biasanya gak sampe sejam langsung bisa😆

__ADS_1


Siapa yang tidak sabar menunggu anaknya Gibran😋


__ADS_2