Obsession

Obsession
Baby Gavin


__ADS_3

Suasana bahagia memenuhi ruang rawat Diandra sekitar pukul sepuluh pagi karena orang tua serta adik Gibran datang untuk melihat anggota baru keluarga Wijaya yang baru saja lahir. Saat mendengar kabar kelahiran Diandra tentu saja mereka cukup terkejut karena keduanya mengatakan kalau Dokter memperkirakan kelahirannya masih satu minggu lagi.


Sekarang Diandra sudah mulai bicara tenaganya perlahan kembali bahkan tadi pagi dia sudah mendekap bayi mungil yang baru saja keluar dari dalam perutnya dan mulai memberikan asi juga. Sungguh Diandra tidak pernah membayangkan kalau dia akan menjadi seorang Ibu karena dia tidak ada niat untuk menikah dulu, tapi ternyata pernikahan dan kelahiran bayinya benar-benar membawa kebahagiaan besar untuknya.


Menatap wajah lugu bayinya serta merasakan genggaman mungilnya membuat darah Diandra berdesir dan jantungnya berdetak dengan begitu cepat.


Diandra tidak lagi menyesal atas semua yang telah terjadi.


"Oh ya ampun dia mirip sekali dengan Gibran ketika masih bayi dulu." Kata Dara


"Tampan sekali." Kata Ghina


Dara tersenyum senang lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh cucu pertamanya yang tampan. Bayi mungil itu masih tetap terlelap meski Dara baru saja mengangkatnya.


"Diandra lihatlah dia lucu sekali sayang." Kata Dara sambil mendekat ke ranjang dimana Diandra berbaring


Di tempatnya Diandra juga tersenyum lalu mengusap pipi anaknya dengan lembut.


"Terima kasih sayang sudah memberikan cucu yang tampan untuk Mama." Kata Dara


Diandra mengangguk singkat sebagai jawaban dan dia masih memperhatikan anaknya yang berada di gendongan sang mertua.


"Halo sayangnya Omaa selamat datang sayang." Kata Dara sambil berbicara kepada cucunya


Farhan melihat istrinya itu dengan senyuman penuh arti, dulu sebelum Gibran menikah istrinya itu sering kali bercerita padanya.


'Fahisa saja sudah mau dapat cucu ketiga, tapi kita belum dapat juga ya ampun Paa cepat paksa Gibran menikah'


Terkadang dia ingin tertawa karena istrinya yang begitu antusias ingin memiliki cucu.


'Anak kita sudah besar Pa bahkan mereka jarang di rumah kalau kita punya cucu kan menyenangkan aku bisa menghabiskan waktu bersama cucuku, Papa juga kerja terus'


Astaga kalau mengingatnya Farhan ingin tertawa dan sekarang keinginan itu terwujud dia dapat melihat betapa istrinya itu merasa bahagia.


"Baby Gavinn kamu nyenyak sekali hmm?" Kata Dara lagi


Bukan hanya Farhan, tapi Gibran yang melihatnya juga ikut tersenyum karena turut merasakan kebahagiaan yang Dara tunjukkan. Senyumnya serta tatapan matanya benar-benar memancarkan kebahagiaan.


"Nanti Oma bakal kenalin baby Gavin ke orang-orang ya?" Kata Dara


Dengan hati-hati Dara menidurkan Gavin di tempatnya dan berjalan menghampiri Gibran lalu memeluknya dengan erat.


"Gibran makasih banyak sudah memberikan cucu tampan untuk Mama." Kata Dara senang

__ADS_1


Gibran tersenyum dan membalas pelukan Dara dengan sayang.


"Aku juga sangat senang Ma rasanya aku seperti memiliki dunia yang baru ketika melihat wajah Gavin untuk pertama kalinya." Kata Gibran


"Papa juga merasakan hal yang sama ketika kamu lahir Gibran." Kata Farhan membuat Gibran tersenyum mendengarnya


Bukan hanya kebahagiaan saja, tapi dia juga jadi tau perjuangan seorang wanita untuk melahirkan.


Bagaimana perjuangan Diandra tadi malam membuat Gibran bersumpah tidak akan pernah menyakitinya.


Bahkan sekarang rasa sesal mulai menghampiri Gibran kala dia mengingat bahwa dulu dia selalu melanggar semua perkataan Dara. Dulu Gibran selalu mengabaikan bentakan yang diberikan Dara kalau dia habis membolos atau bertengkar atau ketahuan merokok di sekolah.


Bahkan ketika beranjak dewasa dia semakin menjadi pergi dengan teman-temannya hingga larut malam kadang sampai tidak pulang, keluar masuk club malam, atau dekat banyak wanita. Semua perasaan sedih Dara dia hiraukan bahkan pernah dengan tidak tau dirinya Gibran mengatakan hal yang membuat wanita paruh baya itu sampai bersedih.


'Ma Gibran sudah dewasa sudah tau mana yang benar dan salah, jadi jangan atur-atur Gibran terus'


Padahal kenyataannya dia tidak tau bahwa semua kelakuan nakalnya itu adalah hal yang tidak benar.


"Maaf ya Ma karena dulu Gibran jadi anak yang nakal." Kata Gibran pelan


Dara tersenyum dan mengangguk lalu mengusap pipi anaknya dengan sayang.


"Sekarang kamu sudah menikah punya istri dan anak, jadi harus lebih dewasa lagi ya? Harus ingat kalau kamu punya tanggung jawab sekarang." Kata Dara yang dijawab dengan anggukan oleh Gibran


"Diandra sayang terima kasih karena sudah membuat Gibran berubah dan terima kasih karena sudah memberikan baby Gavin untuk kita semua." Kata Dara


"Mama jangan berterima kasih." Kata Diandra


"Dulu Mama khawatir dengan calon pilihan Gibran karena Mama sangat tau wanita-wanita yang dekat dengan dia, tapi begitu melihat kamu Mama lega dan senang sayang." Kata Dara


Diandra hanya tersenyum sambil menatap mertuanya yang kini mengusap kepalanya dengan sayang.


Hingga suara tangisan terdengar membuat mereka menoleh dan melihat Ghina yang menunjukkan cengirannya.


"Aku enggak ngapa-ngapain kok beneran." Kata Ghina


Diandra tersenyum lalu meminta Gibran untuk membawa anak mereka kepadanya.


Begitu berada di pangkuan Diandra bayi mungil itu terdiam apalagi ketika Diandra mengusap pipinya dengan lembut.


Siapa yang tidak bahagia mendapat hadiah yang begitu spesial?


Kelahiran seorang anak merupakan kado terindah bagi setiap orang tuanya.

__ADS_1


¤¤¤


"Ayo makan lagi babyy"


Bibir Diandra mengerucut sebal kala Gibran memaksanya untuk makan padahal dia sudah sangat kenyang dan dengan terpaksa membuka mulutnya lagi, tapi dia menggelengkan kepala dengan cepat kala Gibran ingin menyuapi lagi. Sudah banyak yang dia makan dan di piring juga hanya sisa sedikit, jadi bukan masalah kalau dia tidak menghabiskannya.


Saat Gibran memaksanya Diandra langsung memasang wajah sedih yang membua Gibran luluh dan menaruh piringnya di meja lalu memberikan minum untuk istrinya. Senyum Diandra mengembang ketika memperhatikan Gibran yang membersihkan meja di dekatnya dan menaruh piring serta gelasnya dengan rapih.


"Ada apa baby? Butuh sesuatu?" Tanya Gibran ketika sadar kalau istrinya itu menatap dia sejak tadi


Diandra hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu meminta Gibran untuk mendekat dan menautkan jari-jari mereka.


"Makasih Daddy"


"Makasih untuk apa hmm?" Tanya Gibran


"Makasih karena sudah menikahi aku." Kata Diandra membuat Gibran tertawa kecil


"Aku yang terima kasih karena kamu sudah mau menikah denganku." Kata Gibran


"Baby Gavin lucu ya? Mirip banget sama Daddy." Kata Diandra setelah cukup lama terdiam


"Hmm dia sangat mirip denganku, tapu tenang sayang nanti kita buat baby yang mirip sama Mommy nya." Kata Gibran


Diandra tersenyum mendengarnya dan bersamaan dengan itu suara tangisan terdengar membuat Gibran dengan sigap melihat anaknya. Baby Gavin terbangun dengan hati-hati Gibran mengendongnya dan membawanya ke dekat ranjang istrinya.


Dia masih sedikit canggung menggendong seorang bayi, tapi Gibran tidak berbohong kalau dia menyukainya.


"Ada apa sayang?" Tanya Diandra ketika Gavin sudah berada di pangkuannya


Anak itu menangis membuat Diandra berfikir kalau dia mungkin saja haus, tapi dia malu dan menatap Gibran dengan ragu. Melihat Gibran yang terlihat biasa Diandra mulai memberikan asinya untuk Gavin yang membuat anak itu terdiam.


Diandra juga merasa asing ketika Gavin menyusu padanya, tapi nanti juga dia akan terbiasa kan?


"Dia pasti sangat haus, lihat semangat sekali." Kekeh Gibran


Diandra hanya tersenyum sambil mengusap pipi Gavin dengan penuh kelembutan.


Baby Gavin sudah merubah hidupnya.


¤¤¤


Yeee update lagiii😚

__ADS_1


__ADS_2