Obsession

Obsession
Kecewa


__ADS_3

"MOMMYYY"


Senyum manis Diandra mengembang dengan sempurna ketika Gavin yang tadi sedang makan cemilan sambil menonton tv melihat kedatangannya dan langsung berlari memeluknya. Membalas pelukan anaknya dengan sayang Diandra menggendong Gavin dan mencium pipinya berkali-kali membuat anak itu tertawa dan memeluk lehernya.


Di belakangnya Gibran hanya diam sambil memperhatikan keduanya tadi Diandra kesini bersamanya itu juga dengan paksaan, tapi tidak masalah yang terpenting Diandra tidak menolak kehadirannya. Selama perjalanan tadi Diandra juga benar-benar mengabaikan semua ucapannya, tidak menjawab atau hanya sekedar bergumam pelan.


Sekali lagi Gibran tidak masalah asalkan Diandra tetap disisinya dan tidak pergi karena dia tau semua memang salahnya yang telah berbohong. Salahnya yang masih memikirkan masa lalu dan hampir terbawa perasaan padahal dulu dia selalu mengatakan pada Diandra agar wanita itu tidak lagi mengingat masa lalunya.


"Mana adiknya sayang?" Tanya Diandra


"Adiknya tidul di kamal Daddy yang di atas." Kata Gavin


"Gavin kenapa tidak tidur?" Tanya Diandra


"Lagi nonton kaltun." Kata Gavin sambil tersenyum lebar


"Mommy mau ikut nonton boleh?" Tanya Diandra


Gavin mengangguk dengan semangat, tapi matanya menangkap sosok Gibran yang kini tersenyum padanya membuat anak itu tersenyum senang.


"Daddyy"


Menolehkan wajahnya Diandra mendekat ke arah suaminya dan membiarkan Gavin yang ingin digendong oleh Gibran.


"Sudah makan siang jagoannya Daddy?" Tanya Gibran


"Cudah tadi makan pakai ayam goleng." Kata Gavin


Gibran tersenyum lalu mengajak Gavin untuk duduk dan Diandra juga. Hatinya menghangat seketika ketika Diandra tidak menoleh dan duduk bersamanya dengan Gavin yang berada di tengah mereka.


"Ehh sudah pada pulang?"


Suara itu membuat mereka menoleh dan melihat Dara yang tersenyum kala melihat anak serta menantunya yang sudah sampai di rumahnya.


"Siang Ma"


Diandra mendekat dan mencium punggung tangan mertuanya membuat Dara tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang.


"Mama kira kalian akan lama soalnya kan kalau sudah berdua pasti deh lupa waktu." Canda Dara yang hanya ditanggapi dengan senyuman singkat oleh keduanya


"Danira tidur ya Ma?" Tanya Diandra


"Iya sayang baru aja tidur tadi habis Mama kasih susu." Kata Dara


"Dia tidak rewel kan?" Tanya Diandra lagi


"Tidak Diandra jangan cemas, ngomong-ngomong Gibran kerjaan kamu sudah selesai?" Tanya Dara sambil menatap anaknya yang tersenyum tipis


"Hm sudah Ma." Kata Gibran


"Kalian mau menginap atau bagaimana?" Tanya Dara


"Tidak Ma kami pulang nanti malam." Kata Gibran


"Yaudah kalau gitu Mama mau ke supermarket dulu, Gavin sayang cucu Oma mau ikut tidak?" Tanya Dara


Gavin tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu turun dari sofa.


"Salim dulu sama Mommy dan Daddy." Kata Dara


Sekali lagi Gavin menurut anak itu menghampiri kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka lalu berlari kecil menghampiri Dara.

__ADS_1


"Sebentar ya? Mama sama Gavin mau ke super market kalian mau nitip sesuatu?" Tanya Dara


"Tidak Ma." Jawab keduanya bersamaan


Mengangguk faham Dara pergi bersama cucunya dan meninggalkan Diandra bersama dengan Gibran. Begitu keduanya keluar dari rumah Diandra tersenyum tipis lalu mengambul tasnya dan ingin pergi melihat Danira, tapi Gibran menahan tangannya.


Diandra menoleh lalu mendongak untuk menatap mata Gibran yang tidak dapat dia artikan, apa itu tatapan sedih atau sesal?


"Kenapa Mas?" Tanya Diandra


Gibran terdiam sambil terus menatap istrinya, dia fikir Diandra akan menyentak tangannya lagi.


"Aku mau bicara." Kata Gibran


"Disini?" Tanya Diandra


"Ke ruang keluarga ya?" Kata Gibran


Diandra hanya mengangguk dan menurut ketika Gibran membawanya ke ruang keluarga yang ada di lantai atas tepat di sebelah kamar Gibran.


Sebenarnya Diandra lelah dia marah dan ingin kabur lagi seperti dulu, tapi kali ini dia tidak bisa melakukannya karena ada kedua anaknya dan lagi seharusnya dia sudah lebih dewasa kan?


Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah.


Hanya ada satu hal yang membuat Diandra marah, kebohongan.


Seandainya saja Gibran jujur dia akan berusaha untuk mengerti entah wanita itu masa lalunya, temannya atau apapun itu Diandra akan mencoba untuk mengerti. Selain itu dia juga akan menghargai keputusan Gibran yang jujur dari pada berbohong dan membuat dia berfikiran negatif terus menerus.


Tentang alasan kenapa Gibran berbohong atau spekulasi bahwa suaminya masih memiliki rasa pada wanita bersama Clarissa.


Begitu masuk ke dalam ruang keluarga Diandra duduk disamping suaminya sambil menunggu pria itu membuka suaranya.


"Maaf"


"Maaf sudah berbohong, maaf sudah memeluk wanita lain." Kata Gibran


"Perasaan kamu ke aku itu cinta atau hanya sekedar obsesi semata?" Tanya Diandra


"Aku cinta kamu Diandra perasaan ini buka hanya obsesi, tapi aku mencintai kamu." Kata Gibran


"Aku takut kamu ninggalin aku sama anak-anak." Kata Diandra pelan


"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu." Kata Gibran sambil menggenggam erat kedua tangan Diandra


"Kamu bilang padaku untuk tidak lagi memikirkan masa lalu, tapi kamu malah melakukan hal itu kamu memikirkan dia." Kata Diandra terluka


"Maaf aku salah." Kata Gibran


"Apa yang akan kamu lakukan kalau aku berpelukan dengan pria lain misalnya Sagara atau Renald? Kamu akan diam?" Tanya Diandra


Gibran terdiam dia tidak memberikan jawaban apapun, tentu saja dia akan marah sangat marah.


"Aku tidak masalah kalau kamu menemui orang lain bahkan Anetta sekali pun aku tidak akan marah asalkan kamu jujur padaku." Kata Diandra


Kali ini Diandra benar-benar bicara tanpa emosi, tapi tatapan matanya yang penuh luka membuat Gibran merasa begitu bersalah.


"Aku senang karena kamu berhasil membuat aku percaya untuk memulai sebuah hubungan, kamu juga sangat perhatian serta memberikan kasih sayang yang begitu besar untuk aku bahkan kamu rela menahan gairah kamu ketika Anetta menjebak kamu," Kata Diandra.


Gibran diam sambil terus menatap Diandra yang sesekali tersenyum padanya.


"Aku merasa sangat dicintai Mas kamu juga selalu jujur dan sangat menjaga perasaan aku, tapi kemarin... kemarin aku merasa sangat terluka." Kata Diandra pelan

__ADS_1


Mengalihkan pandangannya Diandra menggigit bibir bawahnya pelan lalu menarik sebelah tangannya dan menghapus air matanya yang jatuh tanpa dia minta.


"Sayang..."


"Saat tau kamu berbohong aku bertanya-tanya kenapa? Kenapa kamu harus bohong? Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" Kata Diandra


Gibran mengusap tangan kanan Diandra yang masih ada di dalam genggamannya.


"Aku berfikir... apa akan lebih baik kalau aku pergi? Apa...."


"Tidak jangan, aku minta maaf." Kata Gibran takut


Dia tidak mau kehilangan Diandra dan anak-anaknya.


"Kenapa kamu berbongong Mas? Hanya itu pertanyaan aku." Kata Diandra pelan


"Aku hanya takut kamu marah." Kata Gibran


"Iya kenapa? Kenapa aku harus marah?" Tanya Diandra


"Aku.. dia seseorang yang pernah berarti untuk aku." Kata Gibran


Diandra terdiam sambil mengalihkan pandangannya dan menarik tangannya yang ada di genggaman sang suami.


"Aku bersumpah sayang aku tidak mencintai dia lagi." Kata Gibran


"Jadi, karena dia seseorang yang spesial hingga kamu tidak bisa menolak ketika dia memeluk kamu kan?" Tebak Diandra


"Sayang..."


Tidak tau lagi harus berbuat apa Gibran membawa Diandra ke dalam pekukannya dan memeluknya dengan sangat erat membuat Diandra memejamkan matanya. Tanpa dia minta air matanya jatuh lalu isakannya mulai keluar membuat Gibran merasa sangat bersalah padanya.


Melepaskan pelukannya sebentar Gibran menghapus air mata itu dengan penuh kelembutan lalu kembali memeluknya.


"Kamu jahat Mas.... jahat banget." Isak Diandra


"Maaf maaf aku tidak akan melakukannya lagi." Kata Gibran sambil mengeratkan pelukannya


"Aku kurang apa Mas? Katakan aku kurang apa?" Tanya Diandra


"Tidak sayang kamu tidak kurang apapun." Kata Gibran pelan


"Aku tidak mau kehilangan lagi, aku tidak mau ditinggalkan." Isak Diandra


"Aku disini sayang aku tidak akan pergi kemanapun." Kata Gibran


Gibran terus memeluknya sambil menggumamkan maaf pada Diandra yang masih terisak di dalam pelukannya.


Diandra bisa terlihat baik-baik saja dihadapan Clarissa, tapi kalau sudah begini dia tidak bisa untuk tidak menangis.


"Aku minta maaf jangan marah." Kata Gibran


Melepaskan pelukannya Diandra menatap suaminya sebentar lalu menghapus kasar air matanya dan tersenyum sambil mengatakan hal yang membuat Gibran terdiam.


"Aku tidak marah, tapi aku kecewa"


Gibran mungkin bisa membuat amarah Diandra hilang, tapi apa dia bisa menghilangkan kecewa di hati istrinya?


¤¤¤


Halo aku update lagi😂

__ADS_1


Bagaimana perasaan kalian dengan part yang aku update hari ini😂


__ADS_2