One More Chance

One More Chance
Pengorbanan


__ADS_3

Wajah Zahra berumah masam. "PERGI!". Serunya meluapkan kekesalan.


Kembali Abra tertawa, berdiri, menyelus puncak kepala Zahra dan merendahkan tubuhnya hingga wajahnya berada tepat didepan Zahra. "aku masih merindukanmu Ara" gumanya.


.


.


.


.


Zahra hanya diam seakan terpaku pada tatapan Abra.


"tapi aku tidak bisa egois bukan?, seperti katamu aku memiliki ribuan karyawan yang berkerja di bawahku. Aku akan pergi tapi akan kembali dan memastikan akan membawamu bagaimanapun caranya".


Rahang Zahra mengeras, matanya memerah menatap Abra penuh amarah. Zahra menepis tangan Abra, mendorongnya dan berdiri.


"Aku akan mencari tau segala hal yang sudah terjadi padamu setelah meninggalkanku, kali ini aku yakin bisa menggali semua informasi yang aku mau tentangmu. Karena dengan dia mengirimku kemari berarti dia sudah merasa waktunya tidak banyak lagi dan menyerah menjauhkanmu dari jangkawanku, karena jika dia mati tidak ada lagi yang dapat melindungimu".


"siapa?".


"Opa" jawab Abra santai sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"bagaimana bisa?" Zahra menggeleng. "dia Kakekmu bangaimana bisa kamu mengatakan dia akan mati?" nada suara Zahra semakin meninggi.


"jadi benar selama ini dia yang telah membantumu kabur?".


Pancaran mata Abra sangat tak bersahabat, begitu menyorot, penuh amarah, mengintimidasi, kecewah namun terdapat titip kerinduan yang tidak bisa dia sembunyikan dari Zahra.


"aku mencarimu bertahun-tahun, setiap weekend. Aku selalu mencarimu keberbagai kota yang muncul dalam otakku, dan dia tau hal itu" suara Abra meninggi. "setelah kepergian oma dia menyibukkanku dengan segala hal urusan perusahaan, apa kamu tau?".


Zahra diam tak menjawab.


"aku" Abra memukul dadanya berkali-kali. "aku tetap mencari, menyewa berpuluh-puluh informan bahkan detektif untuk mencarimu Ara. Namun semua tidak ada yang berhasil menemukanmu, bahkan jejakmu saja tidak".


Mereka terdiam, Abra menunggu respon dari Zahra, namun wanita itu diam membungkam tak merespon.


Abra akhirnya tertawa pilu mencoba menunjukkan kepiluhan hatinya selama ini yang selu dia tutupi dari orang lain. "aku bahkan takut menginjak rumah sakit" ucapnya lirih sembari menatap kelangit. "aku benci rumah sakit, aku seakan tercekik setiap kali menginjak rumah sakit".


Tatapan mata Zahra berubah, dia mengingat kejadian terakhir kali mereka bertemu.


"terakhir kali aku melihatmu, dan untuk kali terakhir pula hidupku tenang".

__ADS_1


Sejenak mereka saling terdiam hanyut dalam pikiran masing-masih, hingga terdengar suara kekehan Zahra, yang membuat Abra melebarkan matanya tidak menduga, setelah apa yang dia ungkapkan wanita itu malah tertawa.


Nanun saat kembali menatap Zahra, wanita itu sedang tersenyum lebar menatap Abra, namun tatapan matanya tidak memancarkan kebahagiaan, tatapan yang selalu menghantui Abra kembali Zahra tunjukkan membuat Abra mengepalkan tangan menahan dia untuk balas menatap Zahra.


"aku" Zahra mengangkat dagunya tinggi. "pergi tampa bantuan Opamu, sekitar tiga bulan setelah aku pergi beliau menemukanku. Di memang tidak memintaku untuk kembali padamu, tetapi setelah aku sembuh dan dia bisa dibawah pergi aku tidak pernah bertemu dengan beliau bertahun-tahun, hingga delapan tahun lalu dia kembali menemukanku dan aku kembali pergi. And now..." Zahra merentangkan tangannya. "pada akhirnya aku sampai di ujung timur Pulau Madura ini, jangan menyalahkan beliau jika kamu tidak tahu apapun. Lebih baik kamu pulang sekarang urus perusahaan, anak dan istrimu jangan mengganggu kehidupanku, karena sampai kapanpun aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian, bahkan tidak akan pernah membutuhkan satu rupiahpun darimu.


Aku masih sanggup menghidupi diruku dan Arz, dari dulu sampai kapanpun aku akan mengorbankan segala hal demi dia. Apa yang kamu lakukan padaku belasan tahun lalu sudah cukup menghancurkan kami, jadi biarkan kami membangun kehidupan kami dengan tenang. Permisi".


Zahra berjalan dengan cepat memasuki rumahnya dan mengunci pintu tanpa menghiraukan Abra yang terdiam mematung mencerna setiap kalimatnya.


*-*


"terus bagaimana?, kamu gak bilang apa-apa sama Bunda?, atau bunda bilang apa gitu?, terus keputusanmu kamu sendiri gimana?, si bapak GG itu tau kamu anaknya?, terus nanti....".


Plak...


Tangan Mila berhasil menjitak kepala Gana dengan sempurna hingga membuat Gana hampir terjengkang kebelakang.


"Ya rerus banti kamu dapat sepatu cantik..." raung Mila dramatis sambil mengangkat sepatunya.


Beberapa orang yang berada didermaga itu menatap kearah mereka.


Sepulang dari sekolah Mila meminta Regan berbicara dengan sejelas-jelasnya pada kedua sahabat mereka. Jadi sekarang mereka berempat sedang duduk di jembatan paling ujing dermaga, orang-orang sekitar menjulukinya Dermaga Cinta karena jika sudah hari minggu banyak para remaja sedang berpacaran.


"hanya ngasih buku dan catatan yang aku cari sendiri. Aku gak tega kalau maksa Bunda cerita, lagi pula Bunda sepertinya juga belum siap" Regan menatap wajah ketiga temannya bergantian.


"luar biasa".


"anak baik".


ketiga temannya menyuarakan apa yang ada dibenak mereka bersamaan membuat Regan terkekeh.


"kalau si Pak GG gimana?, tau kamu anaknya?" Gana kembali bertanya, kali ini dengan mimik serius.


Regan mengangkat kedua bahunya. "gak tau, aku juga terkadang gak yakin aku anak Bunda".


"Hei".


"Woy".


Plak...


Seruan, teguran bahkan pukulan dari tangan Mila dia terima secara bersamaan.

__ADS_1


Ketiga temannya selalu kompak dalam segalahal, bahkan dalam membuli kecuali dalam kepintaran Gana yang harus dipertanyakan.


"Bunda sering cerita waktu hamil kamu, sebesar apa pengorbanannya bisa kamu bayangkan bukan?. kamu masih gak percaya kalau kamu anak Bunda?" omel Mila.


Rio merangkul pundak Regan. "bukannya bunda juga nyimpan foto kamu dari lahir?".


"iya foto dia waktu masuk oven juga ada" timpal Gana.


Regan terkekeh. "inkubator" koreksinya.


"sama saja hanya beda fungsi, kata bunda tempat itu untuk ngangetin bayi hampir sama kayak oven" Gana mengelak.


Mereka bertiga mendengus bersamaan.


"Bunda gak mungkin sesayang itu dan mengorbankan segala hal demi kamu, kalau kamu bukan anak kandungnya" Mila kembali ke topik awal mereka.


"pikirin baik-baik" timpal Rio.


"dia kan emang sebenarnya masih kecil jadi pantas pemikirannya ngalur ngelindur" Regan memelototi Mila. "apa?, jangan sok-sokan udah dewasa deh meski sudah SMA. Umur itu gak mungkin bohong Adek".


"wahahahaa... dia marah loh nanti kalau di panggi Adek" goda Rio.


Regan hanya menghela nafas, jika teman-temannya mulai membuli maka dia hanya bisa pasrah saja. "aku terlahir prematur, dan Bunda selalu menjadi Over protektif sampai sekarang. Bahkan bercerita masalahnya pun Bunda hampir tidak pernah".


"karena takut membebanimu".


"kamu kan masih kecil, kamu memang sudah kelas akhir SMA, tapi kamu gak lupa umur kan?. Karena semakin bertambahnya usia, semakin kamu banyak pengalaman dan dari situ kamu akan menjadi orang yang dewasa. Sedangkan umurmu sekarang masih berapa?".


Mereka bertiga terdiam menatap Mila bersama.


"ya kamu udah dewasa" kata Regan membenarkan.


"memang dia yang lebih banyak pengalaman" timpal Rio.


"karena dia umurnya yang tertua" Rio dan Regan menatap Gana memberi isyarat dengan mata. "mangkanya dia sering berfatwa, umur tua, jadi memang harus menunjukkan jika dia sudah tua" Gana malah melanjutkan karena merasa di perhatikan.


Mata Mila melotot dia mendorong Gana hingga terjungkal, melihat Mila berdiri Gana berlari sambil berteriak heboh.


Seharusnya dia bercerita lebih awal pada ketiga temannya, meski nereka tidak banyak membantu namun mereka selalu bisa merubah suasana hatinya dengan kekonyolan mereka diakhir.


Pengorbanan


Ya... Bundanya mengorbankan segala hal untuk dirinya. Segala hal...

__ADS_1


*-*


Unique_Muaaa


__ADS_2