One More Chance

One More Chance
Kebahagiaan


__ADS_3

"semua berkas yang harus anda priksa dan tanda tangani sudah saya letakkan di atas meja" Sari mengekori langkah Abra setelah Abra turun dari mobil. "sebagian ada yang saya kirim ke email anda".


"ok".


Mereka memasuki lift exclusive para petinggi. Lift yang langsung menuju kelantai tempat ruangan mereka.


"keputusan akhir rapat yang di pimpin Pak Ibnu bagaimana?" Suara Abra yang tegas, penuh wibawa namun dingin seakan kembali mengontimidasi Sari.


Namun Sari tetaplah Sari sang Teman kecil Abra jika sudah tidak ada para karyawan di sekitar mereka.


"Sudah saya kirim ke email anda tiga hari lalu, apa anda tidak membukanya?" kata Sari sinis sambil menatap tajam Abra dari pantulan pintu lift.


Sebelah alis Abra terangkat "saya sibuk".


Plak...


Tegkuk Abis terkena geplakan tangan Sari. "menghilang berhari-hari tampa kabar, kalau bukan pak Ibnu yang nelfon gak mungkin kamu angkatkan?" Sari berkacak pinggang. "sudah dari dua minggu lalu kalau akan ada rapat dengan para dewan kamu malah ngilang gitu saja, untung pak Ibnu bisa ngatasi".


Regan menyengir "tapi gak ada keluhan lagi kan?".


"gue yang malas jawab semua pertanyaaan, telfon bahkan seakan diteror anak lo".


Mereka sudah sampai di dalam ruangan Abra jadi sudah tidak ada yang mungkin mendengar percakapan mereka terutama kelancangan Sari pada arasannya. Tanpa di persilahkan Sari duduk di kursi didepan meja Abra.


Abra mengelurkan figura foto didalam laco yang terkunci. "gue kan sudah bilang kalau gue menemukan kehidupan disana".


"kehidupan apa?, kerjaan?".


Abra berdecak "kenapa malah kerjaan sih?".


"kehidup lo kan kerjaan".


"ya enggak lah, kerjaan itu mah pengalihan lo kan tahu sendiri".


"terus...".


Abra hanya tersenyum dan meletakkan figura yang dia pegang diatas meja nya, menatapi wajah difoto itu.


"Zahra?". Tanya Sari ragu.


Abra mengangguk dengan senyum.


"beneran?" tanyanya girang.


Wajah Abra berubah datar. "ya, dan dia sudah memiliki anak".


"wah... serius?".


"ya".


"tidak..."


"lalu...".


"gak mungkin".


"apa yang gak mungkin?".


"anaknya kelas tiga SMA".


"..."


"anak yang mendapat tawaran beasiswa tanpa tes".

__ADS_1


"..."


Sari terdiam.


Mereka benar-benar terdiam.


"lalu apa...".


"tanya Sam kapan pulang?".


"ok".


Sari langsung keluar menghubungi Sam, suaminya. Sam adalah sekretarin sebenarnya, namun karena suaminya harus menemani ibunya oprasi di singapur, Sari yang selaku sekretaris CEO di cabang mereka harus kembali kepusat mengganti suaminya sementara waktu.


*-*


Ibnu dan istrinya mengunjungi kakek Arya di rumah sakit, beliau sudah bisa duduk namun tidak bisa lama-lama.


"apa Abra mengatakan sesuatu?" tanya kakek Arya lirih.


Ibnu duduk di kursi disamping kasur pasien. "hanya selalu membahas masala rapat dan masalah kantor".


"beberap kali saya melihat mobil Abra di depan rumah sakit" Istri Ibnu Tara menimbrung.


Kening kakek Arya mengerut. "apa anak itu benar-benar marah ?, dia tidak biasanya mau berhubungan dengan rumah sakit. kalau memang dia sudah beberapa kali didepan rumah sakit meski tidak masuk itu sudah cukup hebat. hahahha..." Kakek Arya tertawa bahagia.


Tari dan Ibnu ikut tersenyum melihat beliau bahagia.


"Sam sudah kembali dari singapur kemarin". Ibnu memijat lengan Kakek Arya. "sepertinya mereka akan mulai berurusan dengan para underground lagi".


"biarkan saja, asal perusahaan tidak mendapat imbasnya nanti. Tari, tolong kamu urus saya mau pulang".


Ibnu dan Tari saling pandang.


"di usiaku mana ada sehat total kamu ini". Omelnya. "tanyakan pada istrimu, saya sehat tidak".


Tari tersenyum menggenggam sebelah tangan Kakek Arya. "kalau sehat total tidak, tapi cukup sehat asal jangan kecapean".


"tidak akan capek, karena dokter pribadiku sangat cerewet".


Mereka tertawa bersama.


*-*


hari libur, selelsai jalan-jalan Regan akan membantu Zahra menjemur pakaian di belakang rumah. Lalu akan membantu membersihkan rumah dan toko sebelum keluar nongkrong bersama ketiga temannya.


Namun hari ini sepertinya berbeda, setelah datang jalan-jalan, rumah sudah rapi tanpa menunggu Regan pulang, Zahra menjemur pakaian sendiri.


Regan mencuci tangan dan ikut membantu Zahra. "Bunda...".


"ada yang mau bunda ceritakan setelah ini, letakkan embernya di samping kamar mandi bunda runggu di depan tv" potong Zahra dan berjalan memasuki rumah.


Regan menghela nafas sejenak menatap langit yang biru sebelum kembali menjemur sisa pakaian di dalam ember.


dia ingin tau segalanya dari dulu, namun terakhir saat dia bertanya dimana Ayahnya, Bundanya menjawab Arz punya Ayah, tetapi Bunda masih belum bisa mempertemukan Arz dan Ayah. Bunda minta maaf. Setelah mengatakan itu wajah Zahra berubah sendu dan sedih seharian.


Sejak saat itu dia tidak pernah lagi bertanya perihal Ayahnya, dia tidak mau Bundanya bersedih.


Di ruang Tv, Zahra sudah duduk diatas kasur tipis di lantai, memberi isyarat agar Regan dudum disebelahnya.


Map yang tidak pernah dia lihat tergeletak didepan mereka. Melihat Regan meliriknya, Zahra mengambil Map itu dan menyodorkan pada Regan.


Ya semua terdapat dalam Map itu.

__ADS_1


"semua ada disini... dari surat perjanjian pranikah... surat nikah.... dan segala hal yang... menyangkut kehamilan Bunda saat mengandungmu".Zahra menggenggam tangan Regan seakan menguatkan dirinya sendiri. "Bun...hahh...Bunda...".


"hanya garis besarnya" Regan memotong.


Dia menatap Zahra dengan senyumnya, mendengar Zahra terbatah-batah sampai menghela nafas membuat Regas ikut merasakan sesak.


"atau awalannya saja, semua ada didalam sini bukan?" Regan menepuk map didepannya. "Arz memang masih kecil, tapi ingat..." Regan mengetuk pelipisnya berkali-kali. "dan ada ini yg bisa diandalakan".


Mata Zahra berkaca-kaca. "kenapa kamu selalu menjadi anak baik?".


"karna Abang Arz anak Bunda".


Senyum Zahra terukir "pintar juga".


"anak Bunda".


"Arz" Zahra mengelus kepala Regan. "Sesekali boleh bersikap seperti anak seusia Ars, bertanya apapun, bercerita atau manja juga. Terkadang sampai Bunda merasa Arz menjadi Abang Bunda. Seakan Arz yang mencoba mengerti Bunda dari pada Bunda".


"Karena Ars gak mauenyusahkan Bunda, membuat Bunda sedih, Arz sayang Bunda".


Air mata Zahra mengalir seketika. "tapi jangan... Bunda malah tambah sedih" suara Zahra mulai serak. "Arz mencari sendiri, Arz... Arz ragukan kalau Arz anak Bunda".


Zahra mulai menangis, Regan memeluk Bundanya, mengelus punggung Zahra menenangkan. Ini kali pertama dia melihat Zahra menangis begitu pilu.


Dia secara tidak langsung melukai hati Bundanya tanpa sadar.


"maaf... Arz minta maaf... jangan nagis" suara Regan mulai lirih menahan sesak.


Zahra membalas pelukan Regan. "Arz anak Bunda, anak kandung Bunda".


"iya".


"gak boleh ragu lagi".


"iya"


jangan nyimpen sesuatu sendiri lagi".


"iya".


jangan salahin Bunda karena gak cerita".


"iya".


"semua Bunda lakukan demi kebahagiaan Arz".


"I know".


"Do you hate me?" Zahra melepas pelukannya.


Kepala Regangan menggelang "I love Bunda so much".


Regan mencium pipi Zahra, Zahra membalasnya dengan menciun kening Regan. Mereka lembali saling berpelukan.


"hanya awalan dan garis besarnya saja. Selebihnya, Arz yang akan merangkai semuanya. Nanti Arz akan bertanya pada Bunda banar tidaknya, hanya awalan dan garis besarnya".


*-*


Thanks udah baca


Love you😙


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2