
Enzo menatap layar hpnya dengan cermat, salah seorang anak buahnya mengirimkannya video semalam, tetapi dia baru lihat pagi ini.
Video perkelahian Regan, Aslan dan tiga orang pria yang mengganggu Emma. Gerakan Regan dan Aslan yang teratur, penuh setrategi sehingga tidak membuang-buang tenaga dan menjatuhkan mereka dalam beberapa gerakan membuat Enzo menaikkan sebelah bibirnya tersenyum samar.
"Ada lagi yang bisa saya bantu Pak?" tanya General Manager hotelnya, Ryan.
Enzo mematikan layar hpnya, meletakkannya dia atas meja, mengambil Map yang tadi diberikan Ryan dan membukanya. "Adakan rapat dengan para karyawan sabtu sore, ada yang akan saya bicarakan pada mereka."
"Baik Pak"
"Dan tolong panggil Javir".
"Baik."
Setelah Ryan pergi Enzo kembali menyelesaikan apa yang sempat dia hentikan. Dia harus mengkonfirmasi video itu pada Javir, dan sesuatu yang membuatnya penasaran.
*-*
"Halo Chaka"
Hari ini Abra pulang jam dua tidak seperti biasanya yang pulang sore atau malam, karena hari ini pekerjaannya selesai dan dia bisa bersama dengan si kembar dan Zahra.
Chaka tersenyum karena gemas Abra menoel-noel pipinya dengan jari, tangan Chaka malah mebggenggam jari telunjuk Abra dan memasukkannya kedalam mulut.
"No ... gak boleh" Abra perlahan menarik tangannya, "Ara jariku mau di **** dia laper ya?."
Zahra yang sedang menyusui Bilqis tertawa, "dia udah ***** Ayah, lama banget udah kenyang dia."
"Tapi kenapa jarinya mau di ****?"
"Dia penasaran Ayah" sabut Gea menghampiri Abra dan tidur disamping Chaka, "namanya juga bayi, ya Cha ya."
Gea menciumi pipi Cha bertubi-tubi hingga Chaka tertawa kecil dan ...
"Muntah" seru Abra.
Zahra menengok tidak menghampiri Chaka malah menyodorkan kotak tisu pada Gea dengan santainya, Gea tertawa melihat Abra yabg panik.
"Dia muntah Ara" ucap Abra dengan nada penuh tekanan.
"Gak muntah Ayah, dia lagi gumuh karena kekenyangan" Gea membersihkan mulut Chaka, "terlalu banyak ***** ya Chak ya, ketawa-tawa sama kakak jadi gumuh."
Gea juga begitu, dia dengan santainya membersihkan mulut Chaka, berbicara dengan suara dibuat-buat seperti anak bayi bahkan berani menggendong Chaka, Abra yang melihatnya ketakutan Chaka jatuh.
"Ayah baru lihat Gea berani gendong si kembar tuh" ledek Zahra.
"Ya, sepertinyya Ayah kalah sama Gea sekarang" ucap Abra pasrah.
"Berat badan mereka naik, tambah oanjang juga jadi Gea berani. Duku waktu baru lahir masih mereh kecil, Gea takut." Gea menimang-nimang Chaka dengan santai.
"Para wanita selalu bisa menang"
Zahra dan Gea tertawa mendengarnya.
Abra berjalan lemas mendekati Zahra, "gara-gara sering pulang malem akhir-akhir ini aku kalah sama Gea yang ngertiin mereka. Tiap aku dateng mereka sudah tidur, gak rewel kayak dulu."
Tangan Abra mengelus rambut Bilqis, mulut Bilqis berhenti menyusu dan menatap Abra dengan senyumnya.
"Kamu kan harus kerja, kamu bukan hanya pemimpin keluarga dan ayah anak-anakmu. Tapi kamu juga pemimpin perusahaan, tiap hari aku akan ceritain semua perkembangan mereka." Zahra mengangkat Bilqis menyerahkannya pada Abra.
"Bagaimanapun caranya aku mau negasin sama Sam hari minggu gak mau ambil kerjaan" Abra menatap Bilqis gemas.
"Udah deh jangan hanya tahu ngomong" Zahra mengucapkannya dengan menatap Abra, "meski pun dirumah sibuk terus."
__ADS_1
Abra tertawa mendengar sindiran Zahra.
Ting...
Ada notifikasi masuk kehp Abra, Abra mendekati meja melihat pop up yang muncul, ternyata pesan dari Enzo.
Sambil menggendong Bilqis Abra membuka pesan dari Enzo yang ternyata sebuah video dengan chat :
*Adam Has Returned or
AASE Has Returned?
how about making the next Aase
with a different name*
Mata Abra langsung membulat, dia melirik pada Zahra yang ternyata masih bercanda dengan Chaka dan Gea.
Abra mendekati Zahra, "bisa tolong ambil Be dulu?, Sam mengirim email dan harus segera aku cek."
Zahra menatap Abra dengan mata memicing, "belum juga lima menit" protes Zahra. "Kalau masih sibuk gak usah deh kesini selaikan dulu, kamu ini" omel Zahra.
"Maaf" Abra menghujami Zahra dengan ciuman sebelum keluar dari kamar si kembar dengan terburu-buru.
Langkahnya begitu lebar menuju ruang kerjanya, menguncinya dari dalam dan memutar video yang Enzo kirimkan padanya. Meski gelap dan kurangnya pencahayaan, Abra yankin dari postir tubuh mereka jika yang ada didalam video itu adalah Regan dan Aslan.
Mereka menghajar orang dengan senyum dan malah bertos bahagia membuat Abra kesal, pada hal dia sudah mewanti-wanti agar mereka berdua tidak menunjukkan kelebihan apapun kecuali belajar.
Abra mengecek jam negara Regan sekarang masih pagi, semoga saja Regan belum masuk kelas.
"Halo Ayah" Aslan yang menerima panggilan Abra.
"Regan mana?" tanya Abra tidak sabaran.
"Berhenti dulu dipinggir jalan"
"Ok"
Terdengar Aslan meminta Regan untuk menghentikan motornya, Abra duduk dikursi kerjanya merubah panggilan bisa menjadi Video call.
"Ada apa Yah?" tanya Regan dengan kening mengerutnya.
"Apa yang kalian lakukan semalam?" tanya Abra dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Tahu jika Ayahnya sekarang sedang berbicara serius Regan melirik Aslan sebelum menjawab "kami berkelahi."
Buk ...
Aslan memukul lengannya, Regan tidak menghiraukan dan kembali menatap layar hpnya yang masih menampilkan wajah Abra.
"Bukankah Ayah sudah memperingati kalian sejak hari pertama kalian sampai?"
Regan mengangguk.
"Dan As" bentak Abra, Regan langsung menjulurkan hpnyanpada Aslan. "Bagaimana bisa kamu malah tertawa saat menghajar orang, kalian malah bahagia dan bertos ria, apa kalian gila?."
"Maaf" ucap Aslan lirih, "itu semua ..."
"Saya tidak perlu alasan kalian kenapa bisa terjadi perkelahian" potong Abra tegas, "jika sampai terulang kembali Ayah akan memberi tahu Bunda."
"Kenapa malah bawa-bawa Bunda?"
Kali ini yang muncul dilayar hp Abra adalah wajah Regan.
__ADS_1
"Karena kalian tidak akan mendengarkan apa yang Ayah katakan."
"Bukannya tidak mendengarkan, tapi ..."
"Ayah tidak mau mendengarkan alasan apapun, tolong menjauh dari hal-hal yang memicu perkelahian, jangan menunjukkan kelebihanmu sebagai heacker juga."
Regan menatap Abra lama sebelum menunduk pasrah, "maaf" ucapnya lirih.
Abra meraup wajahnya, "Ayah yang seharusnya minta maaf karena tidak mau mendengarkan penjelasan kalian, karena itu tidak penting. Bukan karena siapa yang salah atau yang memulai perkelahian, tapi keahlian kalian dalam bela diri yang terekpose yang Ayah khawatirkan."
Mereka bertiga terdiam, Abra dengan kepalanya yang mulai pening sedangkan Regan dan Aslan hanya bisa diam memoerhatikan wajah Abra dari layar hp.
"Ya sudah, belajar yang benar jaga kesehatan" ucap Abra mulai bisa mengontrol emosi.
"Ayah" panggil Regan menghentukan jari Abra yang akan memutuskan sambungan, "*maaf."
"As juga minta maaf*."
Abra tersenyum kecil, ini pertama kali dua anak itu meminta maaf dengan nada tulus, dan untuk yang pertama kalinya mereka berkomunikasi tanpa saling sindir dan drama.
*-*
Prabu membaca berkas yang baru saja Vira letakkan diatas mejanya, dia mengerutkan kening kembali membuka lembar berikutnya dan memastikan sesuatu.
"Apa ada yang salah?" tanya Vira melihat kening Prabu mengerut.
"Kenapa laporannya begini?" Prabu mengetuk-ngetuk map yang Vira berikan.
"Ada yang salah Pak?, tadi saya minta Fatin untuk bantu cek tidak ada yang salah."
Prabu menutup map ditangannya dan melemparnya kesudut meja. "Mana laporan yang semalam sudah saya kerjakan?, saya letakkan diatas meja kamu" tanya Prabu dengan tatapan tajam.
"Oh ... itu map punya bapak?" tanya Vira sopan, "itu laporan apa pak?."
"Apa kamu tidak buka dan membacanya?."
Kepala Vira menggeleng.
"Itu laporan hasil meeting kita kemarin yang saya kerjakan semalaman dan saya letakkan diatas meja kamu." Prabu mulai tidak bisa mengontrol diri.
"Oh ya?, kenapa bapak gak bilang?, tahu gitu saya gak repot keburu-buru nyelesain laporan itu" omel Vira.
Mata Prabu melotot, "kamu nyalahin saya?."
"Lalu siapa yang salah?, bapak gak bilang kalau mau buat laporn meeting sendiri, bapak sendiri yang meletakkan map tanpa bilang ke saya."
Prabu membuka duankancing teratas kemejanya dan melonggarkan dasinya. "Silahkan keluar" usirnya.
Vira mentapnya dengan kesal, melangkah dengan kakinyang sengaja dihentak-hentakkan hingga menimbulkan suara, menutup pintu dengan keras.
"Kenapa berbicara dengan itu wanita selalu berakhir dengan dia yang mengomeli gue?"
*-*
.
Jangan lupa tinggalin jejak ya Readers 😉
.
Love you 😙
Unik Muaaa
__ADS_1