One More Chance

One More Chance
Awal-


__ADS_3

"......hanya awalan dan garis besarnya".


.


.


.


Zahra menggenggam tangan Regan erat menguatkan diri untuk kembali membuka masa lalu yang dia kubur selama bertahun-tahun.


Meski hanya awal dan garis besar namun dia tetap membutuhkan kekuatan, dia tidak mau menangis atau terbawa arus kesedihan dari masa lalu. Ini demi pusat bumi sang raja kecilnya, pusat kehidupannya, pusat segala hal atas dirinya.


"Bunda orang Semarang, kuliah di Jakarta. Meski mempunyai famili yang jauh dari kata melarat seperti hidup keluarga Bunda di desa Bunda memilih ngekos. Hingga suatu hari sepupu Bunda Savira, Vera. Dia mendatangi Bunda meminta bantuan Bunda untuk mengelola bisnis restorannya selama dia keluar negri" Zahra menatap Regan dengan senyum tipisnya. "diwaktu itu Bunda bertemu dengannya".


Regan menagguk mengerti maksud Zahra.


"Bunda sudah menyusun skripsi tinggal ujian, tetapi Bunda memilih untuk menerima tawaran itu sebagai pengalaman. sebulan saudara sepupu Bunda mengajari bunda segala hal tentang restorannya. Dimana ada sepupu Bunda, disana ada dia. Sepupu Bunda teman sejak SMA hingga kuliah keluar negri, dan sekalogus cinta pertamanya. awal dia menawarkan pertemanan yang tidak begitu Bunda hiraukan karena Bunda tau niat dibalik pertemanan itu".


"untuk deketin sepupu Bunda?" tanya Regan.


Zahra mengangguk. "yupz... lalu sepupu Bunda menghilang, dia uring-uringan bercerita segala hal tetapi Bunda tidak menghiraukannya. Entah kesurupan apa dia mengajak Bunda pacaran dengan menyewa Coffee, jika menurut cewek lain mungkin romantis, namun Bunda yang biasa hidup dengan hemat, sederhana dan melarat tidak menyukainya. Bunda malah semakin benci padanya dan berjanji akan ikut patungan. hehhe..." Zahra tertawa kecil.


"Bunda beneran ganti uangnya?".


"ya, saat dia melamar Bunda di restoran mahal".


Regan mengulum bibirnya melihat Zahra mendongakkan wajah menahan senyum, sesuatu perasaan yang dapat di tangkap Regan. "Bunda juga ganti uang makan direstauran yang dia sewa?".


Zahra tertawa mendengarnya. "makanan diretorant mahal beratus-ratus sayang, apalagi sewa tempat pasti jutaan ya Bunda bilang gak bisa gantilah".


"Gak bisa ganti, jadi nerima lamarannya?".


"enggaklah..."

__ADS_1


"terus".


"Bunda tolak, karena Bunda tau cinta pertamanya sepupu Bunda. Dia mencintainya selama bertahun-tahun dan gak mungkin hanya selama tiga atau empat bulan dia berbalik mencintai Bunda. Meski dia berulang kali bilang mencintai Bunda, Bunda terlalu takut untuk mengambil langkah".


Zahra menatap reaksi Regan yang ternyata kembali diam menatapnya menunggu kelanjutan ceritanya.


"tau cara dia meyakinkan Bunda bagaimana?".


Regan menggeleng "No".


"Dia memberikan surat perjanjian pranikah yg ada didalam map itu, mendatangi orang tua Bunda. Sehingga Bunda tidak bisa berkutik. akhirmya kita menikah, Bunda lulus kuliah hingga enam bulan pernikahan dia melanggar surat janji pranikah yang dia tulis sendiri".


Zahra menghela nafas. "tidak kunjung hamil Bunda ke Rumah sakit, dia sana Bunda memergoki mereka, sebelumnya Bunda juga perna melihat dia ke KUA. Bunda pergi saat itu juga, mengirim surat penceraian dia tidak mau. Tau dia mencari Bunda, Bunda pergi sejauh mungkin dan tiga minggu setelahnya Bunda sadar jika ada kamu dirahim Bunda".


Regan memeluk Zahra dari samping.


"Bunda kembali" suara Zahra mulai serah dan mulai terdengar segugukan. "tetapi rumah kami sudah ada sepupu Bunda. Bunda melihat mereka bersama, bahkan mendengar jika mereka baru pulang dari bulan madu. Pada detik itu juga, setelah mereka pergi entah kemana Bunda membawa barang-barang milik Bunda sendiri. Bunda memutuskan seluruh komunikasi bahkan Bunda pamit pada orang tua Bunda untuk pergi jadi TKW" Zahra membenamkan wajahnya didada Regan, tangis Zahra pecah.


Regan menganggjk mengelus rambut Zahra.


"Jika Ibu stres maka bayi juga, dan itu dapat berdampk buruk bagi bayi. Bunda tidak mau itu terjadi, lebih baik Bunda kehilangan dia yang sudah menghianati Bunda dari pada kehilangan kamu".


"terima kasih".


Zahra melapas pelukan Regan menatap Regan dengan air mata yang mengalir. "No... Bunda malah minta maaf tidak bisa mempertahankan Regan hingga sembilan bulan di kandungan Bunda. Kamu telahir prematur, kecil dan rentan sakit jika musim hujam. Maaf..." suara Zahra semakin serak dan kecil.


"hei... jangan nagis Bunda..." Regan menghapus air mata Zahra, memelukanya dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka kedepan kebelakang. "meski begitu Bunda berkorban banyak demi Regan".


"Kakek Buyutmu menemukan Bunda" Zahra kembali melanjutkan ceritanya. "Bunda takut kamu diambil Bunda kembali melarikan diri, hingga akhirnya Bunda pendarahan dan kamu harus diselamatkan. Beliau yang menemani Bunda, namun Bunda tetap saja takut kamu diambil dari Bunda, setelah kamu cukup sehat Bunda kembali membawamu pergi. Maaf... kalau kita sering berpindah-pindah, maaf atas segala keputusan Bunda yang tidak mempertimbangkan segalanya".


Regan mengangguk. "semua demi Bunda bersama Arz kan?".


"ya".

__ADS_1


"demi kebahagiaan Arz?".


"Ya"


Regan tersenyum "itu sudah cukup menjadi alasan Arz harus berterima kasih atas segalanya. Terima kasih sudah berkorban demi Arz, terima lasih sudah memikirkan kebahagiaan Arz sebelum kebahagiaan Bunda. Dan terima kasih Bunda, hanya demi bersama Ars, Bunda berpisah dengan Bunda dan Ayah Bunda, saudara-saudara bahkan harus tinggal dan banting tulang di pulau ini".


Tangis Zahra semakin pecah, Dia memeluk Regan dengan erat. Dia tidak menghiraukan jika tetangga mereka mendengar raungan tangisannya.


"maaf sudah meragukan diri kalau Arz bukan anak kandung Bunda, Maaf...".


"Bunda yang minta maaf...".


Mereka menangis saling mengucapkan maaf satu sama lain. Tanpa tahu tiga orang mendengar pembicaraan merek sejak awal menangis menahan isakan. Rio memeluk Mila sejak tadi hingga bajunya basah. Gana sudah beberapa kali menghapus air mata dan ingusnya dengan baju yang di pakainya.


Setelah jalan-jalan Regan pasti akan membantu Bunda bersih-bersih lalu kembali nongkrong di samping rumahnya, rumah Mila. Melihat halaman yang sudah disapu bersih dan tempat sampah yang sudah kosong, menandakan Bunda sudah bersih-bersih dan mereka hendak mengajak Regan bermain basket bersama sebelum mandi.


Tetapi mereka terdiam dan memilih duduk dilantai dekat pintu kala mendengar suara tangis Zahra waktu bercerita pada Regan.


Regan pindah waktu Kelas empat SD lalu ikut akselerasi, saat masuk SMP dia ikut kelas akselerasi juga dan saat SMA Regan memutuskan untuk sekolah bersama mereka.


Meski mereka berumur tujuh belas, delapan belas tahun dan Regan berumur empat belas tahu, namun Regan melebihi mereka dalan segala hal, dalam kepintaran, sikap, olah raga dan segalanya. Regan juga selalu membantu mereka, membuat mereka secara suka rela selalu membantu Regan dan Bunda juga.


Bunda menaggap mereka seperti anak sendiri, maka dari itu mereka juga menggap Regan dan Bunda keluarga mereka.


*-*


*T**hanks udah baca


Jangan lupa 👍💬❤


Love you 😙*


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2