One More Chance

One More Chance
Benci Aku?


__ADS_3

Selesai sholat semua kembali kekamar masing-masih, sebenarnya ini bisa dijadikan Abra sebagai waktu untuk bisa memeluk Zahra dan tidur dengan nyenyak setelah semalaman dia tidak bisa tidur, tetapi Abra malah menyelinap keluar dari kamar setelah memastikan Zahra kembali tertidur.


Abra berjalan menaiki tangga, mengetuk pintu kamar Regan sebelum membukanya. Aslan duduk diatas kasur dengan buku ditangannya, sedangkan Regan duduk dikursi belajarnya menonton video yang pernah profesornya berikan.


"Javir dan Alaric panggil" perintah Abra pada Aslan.


Tanpa banyak tanya Aslan langsung turun dari kasur, dari nada suara Abra yang memerintah dan terdengar bossy Aslan sudah memahami ada sesuatu yang penting yang akan Abra bicarakan.


Abra duduk diatas kasur, Regan menutup leptopnya dan duduk dihadapannya.


Selang beberapa menit kemudian Javir, Aslan dan Alaric datang. Abra memberi isyarat mereka untuk duduk didepannya seperti Regan.


"Kita santai saja jangan tegang, yang mau saya bicarakan memang sangat serius tetapi jangan tegang juga karena saya tidak akan menggigit kalian" ucap Abra santai namun tegas.


Semua mulai duduk melingkar, menunggu dengan tenang apa yang akan Abra katakan pada mereka.


"Kami semua pulang nanti malam" ucap Abra, "maaf rencana ingin berlibur dan senang-senang harus terganggu karena masa lalu Ayah."


"Kenapa hanya bilang maaf kepada kami?, pada Bunda, Gea dan Mbak Fani?" Regan langsung memberondonginya dengan serentetan pertanyaan.


Tatapan mata yang tenang tetapi tersenyum lebar adalah ciri khas Zahra saat menahan amarah dan kecewa, hal yang sangat dibenci Abra karena selalu mampu membuat Abra terdiam mengingat masa lalu.


Jika Regan marah, maka Abra dapat mengerti bagaimana Regan memendung amarahnya karena Zahra diculik. Bahkan saat pertama kali Regan mengetahui jika dia dekat dengan mafia, Regan sudah pernah memperingatinya meski tidak sejelas Zahra yang menjelaskan dampak dari dia berteman dengan mafia apa.


"Ayah tahu Ar kecewa pada Ayah" Abra langsungvto the poin, mengatakannya sambil menatap Regan langsung. "Jika ditanya akankah Ayah menyesal kenal dengan dunia mafia?, maka dengan tegas Ayah akan menjawab TIDAK. Suatu saat kamu akan tahu jika masa lalu tidak harus disesali, karena dengan masa lalu kita bisa mengambil banyak pelajaran."


Regan menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum sarkas bahkan tangan Regan juga mengepal erat. "Lalu, kenapa Ayah tidak membolehkan kami untuk mengenal dunia mereka?."


Abra tersenyum segaris, "jika kamu bertanya pada Ayah, Om Malvin, Om Sam. Maka jawabannya hanya cukup kami yang tahu," Abra beralih menatap Alaric. "Bahkan Enzo mungkin juga tidak ingin anaknya mengenal dunia Mafia, tapi untuk membubarkan Romanov harus butuh bertimbangan dan dia sedang berusaha, percayalah. Yang terjadi pada Ayah tidak seberapa dengan apa yang telah terjadi pada Enzo, dan dia tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama."


"Tetapi sepertinya dia ingin membuat kita geng mafia seperti Aase kalian."


Abra menghela nafas lalu mengangguk membenarkan, "dia seakan terobsesi pada ketenaran Aase" ucapnya sambil tersenyum.


"Apa yang bisa dibanggakan dari Aase sehingga kalian tenar?" Regan menagatakannya dengan nada sinis.


Abra terdiam, bahkan Aslan, Javir dan Alaric juga terdiam tidak menjawab pertanuaan Regan.


Abra menatap Regan dalam meski anak itu memalingkan muka. Sakit hati karena nada bicara Regan?, ya dia sakit hati. Tetapi dia sadar jika dia yang salah disini.


Apa Ar benci Ayah? ingin rasanya Abra bertanya, tetapi dia hanya memilih diam.


Aslan yang memang memiliki intuisi yang tajam, memicingkan mata menatapa Abra. Tatapan Abra pada Regan bukan tatapan penyesalan. Ada sesuatu yang aneh pada Abra yang dia tidak tahu.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Aslan tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


Regan langsung menoleh pada Aslan yang ternyata menatap Abra, sedangkan Abra sendiri menaikkan sabelah alisnya tidak mengerti dengan apa yang Aslan tanyakan.


"Apa sudah terjadi sesuatu?" tanya Aslan lagi mengulangi pertanyaannya dengan nada penuh tekanan.


Mata Abra mengerjab-ngerjab lalu menatap kelain arah, "tidak ada" jawabnya cepat menahan nafas.

__ADS_1


Terdengan dengusan Aslan yang begitu terang-terangan membuat Regan menatapnya penuh tanya.


"Ya sudah kalian istirahat lagi" ucap Abra hendak turun.


"Mengumpulkan kami pagi-pagi hanya untuk ini?" tanya Aslan.


Tidak menghiraukan pertanyaan Aslan, Abra malah turun dari kasur dan berjalan keluar begitu saja.


Melihat Abra yang pergi Aslan langsung beringsut hendak turun dari kasur dan mengejar Abra, tetapi tangan Regan menarik lengannya.


"Mau kemana?" tanya Regan.


Asalan menarik lengannya dari tangan Regan, "Ayah bukan mafia aku yakin hal itu. Kamu lebih pintar dariku, kamu heacker dan anak-anak Aase ada disini, tanyakan pada Javir dan Alaric apa yang dilakukan Aase." Setelah mengucapkannya Aslan turun sambil sengaja menggerutu dengan suara nyaring, "bagaimana bisa aku yang bukan anak kandungnya lebih mengerti dia."


Regan tertegun mendengarnya.


Javir dan Alaric saling tatap hingga akhirnya mereka turun darinkasur dak keluar dari kamar Regan meninggalkan Regan yang masih terdiam.


*-*


Si Kembar dijaga para Abang mereka, Regan, Aslan, Javir dan Alaric.


Vira, Malvin dan Sam sedang berbelanja untuk membeli oleh-oleh yang akan dibawa pulang. Fani mempacking peralatan milik si kembar setelah barang-barangnya sendiri masuk koper.


Sedangkan Zahra juga sedang mempacking baju milik dia dan Abra.


"Tempat peralatan mandinya mana?, biar nanti dimasukkan dalam tasku saja"


Zahra berjalan mengambil tas kecil dan meletakkanna diatas kasur dekat Abra dan kembali sibuk dengan kopernya.


"Tas kosmetik kamu mana?, sekalian nanti taruh di tasku juga, tasku masih longgar"


Biasanya Zahra akan mengomel jika dia sedang mengerjakan sesuatu dan Abra bertanya terus, tetapi kali ini Zahra malah berdiri dan membuka laci mengeluarkan tas kosmetiknya.


"Benci aku?" tanya Abra sambil menahan nafas karena menahan amarah dan kekesalannya.


Pertanyaan Abra menghentikan tangan Zahra yang akan mengeluarkan baju dari lemari.


Brak ...


Zahra tersentek, Abra membanting tas ranselnya kelantai hingga seluruh barang yang sudah masuk kedalam tasnya berserakan.


Zahra berjalan memungut barang barang yang berserakan tetap diam tidak mebgatakan apapun.


"Aku tidak suka kamu diem begini, kamu tahu itu" ucap Abra lilih terdengar memelas.


Bukan merasa iba atau apa, Zahra tetap menunduk meletakkan barang-barang yang dia pungut diatas meja rias.


"JIKA BENCI AKU BILANG!" teriak teriak Abra.


Brak ...

__ADS_1


Zahra memejamkan mata, Abra kembali menbuang barang-barang diatas meja rias bahkan kosmetiknya juga hingga bsrserakan kesetiap sudut kamar.


Abra membalik tubuh Zahra hingga menghadapnya, kedua tangannya menyentuk kedua pipi Zahra memaksa wanita itu menatapnya.


"Apa kamu benci aku?" tanya Abra lembut.


Hening ...


Tidak ada jawaban dari Zahra, perlahan kelopak mata Zahra terbuka bersamaan dengan air mata mengalir.


Tatapan mata Abra bukan lagi tertuju pada bola mata Zahra, dia malah menatap air mata Zahra yang mengalir dipipi Zahra.


Perlahan tersenyum terukir lebar dibibir Abra, tetapi tatapan matanya menunjukkan kesedihan.


"Pergilah"


Satu kata itu keluar begitu saja dari mulut Abra membuat Zahra menatapnya tak mengerti.


"Kamu mau pergi kan?, maka pergilah. Bawa anak-anak bersamamu, semua kebutuhan anak-anak akan tetap akan aku penuhi."


Abra melangkah mundur membebaskan Zahra dari kungkungnnya.


"Ayah" panggil Zahra menatap Abra dengan tatapan tak percaya.


Mendengar suara Zahra, Abra tertawa kecil menertawai dirinya sendiri. "Kamu mau berbicara jika menyangkut anak-anak" ucap Abra disela-sela tawanya.


Kepala Zahra menggeleng pelan, tetapi Abra tidak melihatnya karena dia mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar.


"Pergilah ... pergilah ... pergilah dengan anak-anak"


Abra kembali menundukkan kepala hingga tatapan mereka kembali bertautan. "Pergilah, jangan mengkhawatirkan kebutuhan anak-anakmu."


Pyar ...


Tangan Abra mengepal dan dengan cepat meukul kaca meja rias.


Tubuh Zahra bergetar ketakutan, dia bahkan menutup mulutnya saat akan berteriak.


"Pergilah ... dan ini akan menjadi kali perakhirmu melihatku bernafas."


Seakan tidak merasakan kesakitan meski tangannya berdarah, Abra menyekan rambutnya dan pergi begitu saja menunggalkan Zahra yang masih menatap kaca yang pecah dengan darah yang keluar dari tangan Abra.


*-*


Alay gak sih 😞


Maapkan Author jika Readers merasa begitu πŸ˜₯ karena demi menggambarkan kesetresan tingkat dewa si Abra 😌Hanya ide ini yang muncul 😌


Kalau naik mobil saat stres terus kecelakaan udah biasa dan terlalu extrimπŸ˜‚ maapakan Author jika kapasitas otak Author muternya mentok disitu πŸ‘†


Don't forget πŸ”–β­πŸŽπŸ’–πŸ‘πŸ’¬

__ADS_1


Lop you πŸ˜™ Unik Muaaa


__ADS_2