One More Chance

One More Chance
Polos


__ADS_3

Zahra memperhatikan Regan yang sedang duduk digazebo belakang rumah dengan hp dan leptopnya. Entah apa yang dilakukan Regan sejak tadi setelah makan malam.


Khawatir pada Regan, Zahra keluar dari kamarnya sembari membawa lotion penolak nyama.


"Ar ngapain?, kenapa gak dikamar?" Zahra duduk disebelah Regan, meraih sebelah tangan Regan dan mengoles lotion yang dia bawa. "Digigit nyamuk kan bentol-bentol nih" Zahra mengomel.


Regan menggeser lepotop dan hpnya kesamping, menggunakan lotion yang dibawa Zahra sendiri. "kamarnya terlalu luas, Ar gak betah."


"memangnya ngerjain apa?."


"Nanti kalau sudah selesai Ar kasih tahu."


Zahra mengelus kepala Regan. "Jangan malem-malem diluar."


"Iya."


Zahra masih saja duduk ragu untuk bertanya sesuatu, Regan yang kembali meletakkan leptop didepannya menoleh pada Zahra dan kembali menggeser leptopnya kesamping.


"Ada apa Bun?" tanya Regan paham.


Zahra tersenyum sambil menggeleng.


Regan menghela nafas. "Soal perkataan Kakek tadi?," tebak Regan.


Zahra menyengir sebentar lalu merengut. "Bunda salah ya selama ini?" tanya Zahra dengan suaran lirih.


Regan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan jika dia tidak memiliki ide. "Menurut Bunda?" Regan malah balik tanya.


Mata Zahra mengedip-ngedip. "Gak salah sih" Zahra mengucapkannya penuh keyakinan lalu kembali merengut. "Tapi Bunda bukannya ngegantungi dia, tapi bukannya nerima atau mau juga, tapi ya gitu. Dia sendirian setelah Kakek Arya pergi, Bunda kan cuma kasihan aja dia sendirian. Tapi ya Bunda juga gimanya ?, terus Bunda harus giman biar gak seperti ngegantungin dia, gak ya .... gitu seperti yang Kakekmu katakan tadi."


Regan tersenyum kecil melihat Zahra senyum, merengut, dan segala macam ekpresi yang baru Regan lihat dari Zahra selama ini berubah-ubah hanya dalam beberapa detik.


"Bunda lagi galau ya?."


Pertanyaan Regan membuat Zahra tersentak menatap Regan dengan kening mengerut. "Idih ... siapa yang galau?" elaknya.


Senyum Regan semakin lebar. "Ok Bunda gak galau tapi cuma pusing, bingung dan terlalu banyak berfikir." Zahra mengangguk cepat. "Terus Bunda mau jawaban apa dari Ar?."


"Ya ... Bunda salah enggak gitu?."


Dengan tegas Regan menjawab "salah, karena Bunda buat pusing." Jawaban Regan membuat mata Zahra terbelalak. "Bunda maafin sudah Bunda bilang sama dia?" Zahra mengagguk cepat. "Waktu dia minta Bunda kesempatan udah Bunda jawab?."


Kali ini Zahra diam sejenak sebelum akhirnya kepalanya menggeleng pelan.


"Kalau waktu dia minta kita pergi kenapa Binda gak mau?."


Zahra diam membungkam, dia lupa waktu itu mengatakan apa, jadi hanya bisa diam menatap Regan.


Regan menghela nafas. "Waktu itu Bunda bilang karena kasihan dia baru ditinggalkan keluarga satu-satunya." Dengan suara malas Regan mengatakannya.

__ADS_1


Bola mata Zahra melirik kelaian arah dengan kening mengerut lalu mengangguk cepat membenarkan.


"Tetapi kenapa waktu diminta tinggal kenapa Bunda gak mau?."


Kembali Zahra terdiam.


"Hem ..." Regan menghela nafas. "Kenapa pusing kan?, ya Bunda gitu. Memaafkan, tapi gak mau bilikan, disuruh pergi tapi kasihan, disuruh tinggal gak mau. Pusing kan Bun?, kalau bunda pusing apa lagi dia?. Sampai sini Bunda masih belum sadar?."


Zahra diam, ya ... dia memang memaafkan Abra, tetapi masih belum bisa memutuskan dengan tegas jika dia mau kembali, dia ragu akan tersakiti lagi. Tetapi dia juga kasih jika Abra harus melalui segala hal sendiri, memimpin tiga perusahaan besar dan mengurus Gea sendirian.


Dan entah apalagi yang membuatnya selalu merasa jika Abra membutuhkannya.


Regan duduk bersilah menghadap Zahra, menyentuh kedua tangan Zahra lembut membuat Zahra menoleh kembali menatapnya.


"Ar gak tahu kenapa Bunda malah pusing, bingung atau banyak fikir dengan masalah ini. Karena Bunda yang Ar lihat sekarang dan sebelumnya berbeda, jika sebelumnya Bunda akan melakukan semua dengan mudah dan gak mau ribet."


Zahra diam tetapi dia membenarkan dalam hati.


"Bunda" suara Regan begitu lembut. "Ar tempo hari bicarain masalah ini sama Rio, Gana dan Mila karena Ar gak ngerti kenapa Bunda bisa gini."


Pipi Zahra mulai bersemu merah.


"Kata mereka Bunda lagi jatuh cinta, memangnya cinta bisa buat yang mudah jadi jelimet?." Sangat.Amat.Polos.


Membuat Zahra mengulum bibirnya sehingga pipinya semakin memerah malu.


"Ar gak ngerti kenapa bisa, Kata mereka itu urusah hati Bunda dan Ar gak boleh ikut campur kecuali Bunda yang minta, seperti sekarang, Ar hanya bisa diam selama ini. Ar gak ngerti cinta, tetapi yang Ar tahu Bunda lagi bingung. Bun, masih ingat apa yang dia katakan?"


"Dalam bisnis ada untung dan rugi, meski merugi diawal tetapi untungnya banyak dikemudian hari, kenapa tidak mencoba untuk menjalani?." Kata-kata yang diucapkan Abra saat mereka sedang diskusi diruang kerja Kakek Arya. "Dan itu yang sedang Ar dan As lakukan sekarang, meski Ar jauh dari Bunda tetapi Ar bisa meraih cita-cita Ar dan Bunda, Ar bisa kuliah jurusan kedokteran tanpa mikirin biaya dan Ar kuliah di luar negri seperti yang Bunda cita-citakan."


Zahra membingkai wajah Regan, dia sadar jika Regan memang sudah lulus Sekolah Menengah Atas dan lebih dewasa dan pintar dari anak seumurannya, tetapi tidak memutupi kemungkinan jika Regan masih anak-anak yang baru beranjak remaja.


Meskipun begitu dia bersyukur, meski Regan berkata tidak paham akan cinta, cara Regan menyadarkannya dengan pemikirannya membuat Zahra cukup sadar dimana letak kesalahannya.


"Menurut Ar" Zahra mulai bersuara. "Bunda lebih baik balik sama dia atau tidak?."


"Kenapa bertanya apa Ar?"


Mendapat pertanyaan balik dari Regan membuat Zahra kembali merengut. Regan tahu jika dia sedang bingung, tetapi anak itu malah seakan mencobanya untuk berfikir.


Regan terkekeh. "Sebagai anak pasti ingin orang tuanya bersama, tetapi semua kembali pada Bunda yang akan menjalankannya. Seperti yang selalu Bunda katakan jika Ar minta pendapat, tergantung pada keyakinan, kenyamanan dan semampu apa kita untuk menjalaninya agar tercapai dan sukses."


Disinilah Zahra tersadar sepenuhnya, selain Regan masih masa beranjak remaja, juga polos, dan selalu bisa memutar kata.


*-*


Jam sudah menunjukkan jam satu malam, tetapi Abra masih saja duduk diruang keluarga mengerjakan berkas yang belum dia periksa untuk besok rapat.


Tring...

__ADS_1


Notifikasi ponsel Abra berbunyi, pesan dari Regan yang cepat-cepat Abra baca.


Adam R.G


Keamanan database sudah 👌


Saya perbaiki agar tidak bisa


dibobol sembarangan 😒


Uangnya 75jt saya kmblikan k Gea


*hasil dr main saham


Sisa keuntungan saya kirim


k Rekening Anda*


Baru saja Abra selesai membaca, kembali ada peaan dari bank dan mata Abra terbelalak. Sisa keuntungan yang dikatakan Regan bukan hanya dua atau belasan juta, tetapi puluhan. Pada hal baru kemarin dia berjanji akan berhenti pada Zahra.


Jemari Abra dengan cepak mencari nama Regan di hpnya dan menghubungi Regan.


"Hem ..." suara serak Regan disebrang.


"Bukannya kamu sudah berjanji akan berhenti main saham pada Bundamu?." Abda langsung to the poin.


"Iya, setelah dimarahin Bunda sibuk memperbaiki keamanan database Opa Gea jadi lupa. Barusan setelah nyelesain main bentar terus ke inget."


"Main bentarnya berapa lama sampai dapat untung banyak?."


"Dari jam sembilan, udah Ar ngantuk jangan ditanya-tanya terus. Tadi Bunda sekarang anda." Regan menggerutu dengan suara semakin lirih.


Abra rahu jika Regan semakin mebgantuk, tetapi dia masih penasaran. "Memangnya Bundamu tanya apa?."


"Banyak, Bunda lagi jatuh cinta, emangnya cinta buat jelimet ya ...."


Suara Regan semakin lirih hingga terdengar deru nafas Regan.


Abra menatap hpnya sambil tersenyum, kembali dia kagum pada Zahra yang mendidik Regan.


Regan masih Polos tetapi bisa dikatakan dia lebih dari anak sebayanya dalam segala hal kecuali satunkata tadi Polos.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2