One More Chance

One More Chance
Dia Tahu


__ADS_3

Zahra terduduk lemah menatap kosong kedepan. Tangannya juga terkulai lemas dengan buku yang masih dipegangnya. Setelah membungkus, memasukkan dalam dus dan menyusun semua pesanan dia teringat buku yang diberikan Regan, buku tipis namun ada beberapa lembar kertas folio yang terselip, bahkan kertas tersebut sudah berserakan dilantai.


Tidak ada air mata yang mengalir, entah Zahra harus menggambarkan perasaannya sekaramg seperti apa. Dia hanya bisa diam termanggu membaca semua hingga selesai.


Buku yang Regan berikan bukan dairi, bukan berisi catatan pelajaran, namun sesuatu yang membuat Zahra lemas tak berdaya, seakan tidak tau mau bersikap bagaimana jika Regan pulang nanti.


Suara pagar dibuka mengalihkan perhtian Zahra, buru-buru Zahra mengambil kertas berserakan dan masuk kedalam rumah tanpa sempat menutup pintu.


Dia masuk kedalam kamar Regan mrncari sesuatu, minggu lalu pernah dia mengantar buah yang sudah dia kupas saat Regan belajar, dan Regan dengan cepat menutup Amplop coklat didepannya.


Dilaci di tumpukan terakhir buku dan kertas-kertas dia menemukan amplop itu. Terdapat Lambang GG Company diatasnya. Zahra mendekap amplop itu dan membawanya keluar.


Kali ini Abra duduk di kursi di halaman rumah mereka menatap kearah rumah dengan tatapan yang membuat Zahra marah.


"Ara, yang kamu katakan malam itu jujur?" tanya Abra dengan sura lirih seakan hanya bergumam saja.


Tidak mengerti perntanyaan Abra, Zahra hanya memilih diam berjalan mendekat hendak duduk di kursi tidak begitu jauh darinya.


"ini maksudnya apa?" tanya Abra lagi, kali ini di menatap Zahra dengan tatapan dingin penuh intimidasi.


Tangan Abra menyodorkan selembar kertas pada Zahra membuatnya sempat terdiam sejenak, merebut kertas itu dengan cepat.


Seakan seperti pohon keluarga, ada beberapa nama dan panah dan paling bawah ada tulisan Aku dilingkari berkali-kali tanda tanya bagitu banyak memenuhi kanan dan kiri lingkaran.


Zahra tersenyum masam dan duduk menatap kertas di tangannya. "entah dia dapat dari mana?" suara Zahra serak. "dilihat diri lingkaran dan tanda tanya yang diulang-ulang, aku seakan tidak percaya malam itu dia mengatakan dengan lantang dan penuh percaya diri kalau dia anak kandungku, darah dagingku, aku anak Bunda dia mengatakan itu dengan lantang bukan ?".


Mata Zahra berkaca-kaca membalas tatapan Abra. "berminggu-minggu dia lebih banyak diam, memelukku dan selalu merangkulku. Ternyata dia menyakinkan diri jika dia adalah anak kandungku".


Bukan merasa terharu dada Abra sesak karenanya, dia berdiri membelakngi Zahra mengacak rambutnya menahan amarnya agar tidak meluap pada Zahra, padahal dia menghabiskan banyak waktu untuk menatanya dengan rapi demi bertemu Zahra hari ini.

__ADS_1


"apa kamu oprasi keperawanan waktu itu?" mata Abra memerah, rahangnya mengeras.


Dia masih berdiri membelakangi Zahra, sekuat tenaga menenangkan dirinya saat ini.


Zahra tertawa kecil "Kenapa?".


"apalagi yang kenapa?, enam belas tahun lalu kita menikah kamu masih perawan, itupun jika kamu tidak melakukan oprasi. Tetapi..." suara Abra tercekat, kembali duduk dan menatap Zahra lekat. "meski kamu memang sudah menikah lagi dan mempunyai anak kandung dia tidak mungkin sudah SMA".


"Dia memang berbeda, dia special. Dia satu satunya Dibumi ini Raja kecil yang bijaksana, dia kehidupanku, dia raja kecilku dan dia yang selalu mengerti aku sejak aku mengandungnya".


Sebelum melanjutkan ucapannya, Zahra menyodorkan Amplop coklat di tangannya. "jika dia sudah memutuskan tidak, maka tidak akan, kecuali ada alasan yang kuat yang dapat menggoyahkannya" kali ini senyum Zahra begitu tulus.


Senyum yang dulu selalu dia tunjukkan padanya setiap hari, Senyum yang Abra rindukan selama belasan tahun.


"dia mengetahui hubungan kita namun tidak secara mendetail, saat ini aku tidak bisa menjelaskan apapun padamu, pulanglah kamu sudah berhari-hari disini bagaimana keluargamu nanti?, perusahaanmu juga siapa yang urus?. Kamu mempu...".


"selalu" Abra menyeka rambutnya lalu menopang dagu menatap Zahra lekat. "tetap saja selalu memikirkan orang lain sebelum diri sendiri".


Abra tertawa mendengarnya. "lagi ngapelin istri yang ngambek belasan tahun gak mau pulang".


"kita bukan suami istri".


"kita belum bercerai".


"kita sudah bercerai secara agama".


"enggak, karena dalam agama keputusan ditangan suami".


Wajah Zahra berubah masam. "PERGI!" serunya meluapkan kekesalan.

__ADS_1


Kembali Abra tertawa, berdiri, menyelus puncak kepala Zahra dan merendahkan tubuhnya hingga wajahnya berada tepat didepan Zahra. "aku masih merindukanmu Ara" Gumanya.


*-*


"Ayo jawab Daddy dimana?".


Anak berbaju seragam sekolah sedang melabrank seorang wanita yang berumur dua kali lipat darinya.


Dia Gea, mencari Daddynya yang menghilang lebih dari lima hari tanpa kabar, terakhir hanya informasi jika dia ke Surabaya. Sesuadah itu Dadynya tidak mengabarinya apapun dan hpnya mati tidak bisa dihubungi.


Tidak ada yang tahu dimana Daddynya, dia sudah bertanya pada siapapun tidak ada yang mau menjawab. Kesal dia akhirnya mendatangi kantor Daddynya dan bertanya langsung pada Sekretarisnya.


"Saya tidak tau". Sekretaris Dadinya kembali mengatakan tiga kalimat itu entah yang keberapa kalinya.


"tante jangan bohong" tuduhnya.


"kenapa tidak bertanya pada Pak Ibnu?".


Wajah Gea berubah masam. "Om Ibnu gak angkat telpon Gea tante, Chat Gea gak di baca juga. Om Ibnu... nemenin Buyut dirumah sakit, kalau Gea kesana ketemu kakek Buyut kan takut" suaranya semakin mengecil diakhir kalimat.


Sang seketaris Daddynya mengjela nafas. "Pak Abra pasti pulang, karena lusa ada rapat dengan para dewan direktur".


*-*


Terima kasih sudah membaca ๐Ÿ˜ข


Jangan lupa tinggalin jejak ๐Ÿ’“and๐Ÿ’ฌ


๐Ÿ˜™Love You๐Ÿ˜™

__ADS_1


Unique_Muaaa


__ADS_2