
Abra membantu para pelayan membereskan gelas dan kursi. Saat akan mengambil kursi dia melihat Regan dan Zahra berdiri tidak jauh darinya.
Mereka baru turun dari mobil Ibnu dan Tari. Dibelakang mobil Malvin dan Vira menyusul masuk kedalam pekarangan rumah Kakek Arya.
Vira penasaran dengan Wanita berkerudung dan memakai masker sehingga Abra tadi tidak menghiraukannya di pemakaman.
Dada Abra bergemuruh menatap Zahra yang melangkah mendekatinya dengan Regan.
"Kenapa ...." Abra gugup, hingga hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Mereka harus mendengar wasiat Pak Arya."
Ucapan Ibnu memupuskan kebahagiannya.
Abra mengangguk dan berjalan memasuki rumah menuju ruang kerja Kakek Arya bersama Ibnu, Regan dan Zahra.
Malvin dan Gea menghalangi Vira yang akan ikut masuk kedalam ruang kerja Kakek Arya.
Ibnu mengeluarkan kertas dan memberikannya pada Abra dan Zahra. "Silahkan kalian baca, dan Regan juga."
Dari kata perkata yang tersusun yang tertulos di atas kertas Abra bisa mengetahui jika Kakek Arya yang menulisnya sendiri.
Ibnu menyalakan Leptopnya dan memutar video. "Ini video setelah beliau bertemu Regan, tepat saat beliau menawarkan beasiswa."
"Hai Regan, saya sangat bahagia bertemu denganmu setelah belasan tahun." Kakek Arya tersenyum lebar. "Saat memanggilku Kakek aku sangat bahagia, terima kasih telah memanggilku Kakek."
Air mata Abra mengalir, perasaan bersalah menguasainya.
__ADS_1
"Kamu pintar, sopan, baik dan rendah diri, tidak seperti Ayahmu yang sombong dan mau seenaknya sendiri, ya ... meski Kakek akui dia juga pintar tapi kamu lebih pontar darinya, terima kasih Zahra."
Zahra ikut tersenyum melihat Kakek Arya tersenyum.
"Semua saham Kakek, Kakek serahkan pada Regan yang artinya Regan adalah pewaris sah perusahaan GG compeny, jangan mengkhawatirkan Abra, dia pasti setuju tidak menjadi pewaris asal kamu yang menggantika. Abra banyak dosa padamu, jadi dia pasti akan setuju hehehe ...."
Mendengar kekehan Kakek Arya, Abra tersenyum sambil menagis.
"Ribuan karyawan berada ditanganmu, jadi kamu tidak bisa menolak. Selama kamu masih menuntut ilmu, Abra akan menggantikan posisimu sebagai pemimpin perusahaan, Abra tidak akan keberatan, ya kan Bra?. Anggap sebagai penebus dosa Bra, dia satu-satunya putra sulung, pewaris dari keluarga Ganendra, sekaligus anak yang tidak kamu nafkahi belasan tahun karena kebodohanmu."
Kakek Arya mendesah. "Lupakan soal Abra, karena video ini nanti malah berisi menceramah Kakek untuk Ayahmu. Kamu mengakuinya sebagai Ayah kan?, kalau Abra tidak mengakuimu sebagai Ayah gantikan Kakek menjewer telinganya. Hahahah...." Kaksk Arya tertawa begitu lepas.
"Untuk Zahra, Opa minta maaf atas nama Abra."
Abra yang mendengarnya menundukkan kepala.
"Opa tidak memintamu untuk kembali dengannya, karena Opa tidak begitu tau perasaan cinta dan sayangmu sudah berubah atau tidak pada Abra. Perasaan tidak bisa dipaksa, Opa tahu itu. Opa hanya minta kamu memaafkan Abra. Rumah Opa akan menjadi milik Zahra, karena dulu setiap Zahra kerumah ini Opa selalu merasa Zahra membawa kebahagiaaan pada kami setelah kepergian orang tua Abra."
Abra kembali menangis, panggilan itu untuknya, Abra tahu itu.
"Kalau Opa meninggal Abra pasti sendirian jika Zahra tidak mau kembali padamu, jangan memaksanya ya. Kamu harus membantu Regan menjalankan perusahaan, dan kamu juga punya Gea untuk kamu rawat. Abra, meski Opa tidak dekat dengan Gea, tetapi Opa tidak sangate dukungmu untuk merawat dan membesarkan Gea meski dia bukan anak kandungmu.
Opa tidak bisa membayangkan jika dia hidup dengan Vira Maminya. Perusahaan Opa serahkan pada Regan, Opa harap kamu bisa menerima keputusan Opa."
Abra menganggukkan kepala, meski sadar jika KaKek Arya sudah tidak bisa melihatnya lagi.
"Selama ini Opa tahu kamu dan Sam menjalankan perusahaan keamanan ilegal. Diam-diam Opa sudah membangun perusahaan keamanan resmi untukmu, selama ini yang mengurusnya Javir anak Malvin, mewakili Malvin yang tidak bisa terjun lansung karena Opa tugaskan mengawasi Regan dan Zahra. AG Security milikmu, biarkan Malvindan Javir yang mengurus, kamu dan Sam mengurus GG com sampai Regan selesai menuntut ilmu.
__ADS_1
Jangan menyiksa diri lagi, Opa yang melihatnya merasa sudah gagal mendidik Abra. Biarkan masa lalu berlalu, toh semua sudah terjadi bukan. Untuk kalian bertiga Abra dan Regan maaf kalau Opa tidak bisa mempertemukan kalian lebih cepat, karena Opa menghormati Zahra. Zahra maaf jika Opa pernah berbuat salah, terima kasih sudah melahirkan Adam Regan Zeroun Ganendra.
Terima kasih kalian sudah menjadi keluarga Ganendra, harapan Opa kalian bertiga bisa kembali bersama, tetapi keputusan ada ditanyan Zahra dan Regan, Opa hanya berharap, dan Abra tidak bisa memaksa. Semoga bahagia, Assalamu'alaikum."
Video selesai diputar, Abra yang pertama kali berdiri dan berjalan menghampiri pintu.
"Abra," panggil Ibnu.
Langkah Abra terhenti. "Aku sudah tahu Om, aku sudah paham. Aku terima keputusan Opa, aku tidak membutuhkan harta Opa."
Abra membuka pintu, Zahra berdiri menghadapnya hendang mengatakan sesuatu tetapi lebih dulu Abra yang membuka suara.
"Om, minta tolong antarkan mereka kebandara. Kalian pergi dengan Om Ibnu, mmaf tidak bisa mengantar."
Dada Zahra mulai memanas, dia mengambil asbak rokok melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul Abra yang keluar dari ruang kerja Kakek Arya.
*-*
.
*Terima kasih sudah baca Novelku
Jangan lupa tinggalkan jejak
ππandπ¬
Love you*...
__ADS_1
.
Unik_Muaaa