
Abra benar-benar tertidur disofa ruang kerja Malvin sejak tiga puluh menit setelah mereka masuk kedalam ruangan itu, dan Malvin benar-benar tidak membangunkannya.
Tapi jam sudah menunjukkan jam sembilan, mau tidak mau Malvin harus membangunkan Abra karena Zahra pasti menunggu dirumah setelah seharian Abra kerja tidak pulang.
"Abra" perlahan Malvin menepuk pundak Abra membangunkannya, "Abra pulang Zahra sama anak-anak pasti nunggu."
Mata Abra langsung terbuka lalu menutup sebentar untuk menyesuaikan cahaya lampu ruang kerja Malvin.
Teringat akan sesuatu tangan Abra mengambil hpnya dan mengecek keberadaan Zahra di dapur dan kamar si kembar, ternyata Zahra sedang menimang Bilqis membuatnya menghela nafas lega.
"Kapan pasang cctv?" tanya Malvin dengan sengaja terang-terangan melihat hp Abra yang menampilkan Zahra.
"Nanda" jawab Abra singkat.
Tangan Abra menyisir rambutnya yang berantakan, meraup wajahnya yang terlihat sangat kelelahan.
Malvin menjulurkan satu kotak yang tadi diberikan Abra padanya.
"Kenapa satu?, yang satunya mana?" tanya Abra dengan suara serak.
"Gue hanya punya satu bandul biru ukuran sedang, untuk bandul kalung Zahra besok gue usahain ada."
Abra menganggukkan kepala dan berdiri setelah mebgambil kotak beludru dari tangan Malvin.
Tanpa mengatakan terima kasih Abra langsung berjalan keluar begitu saja sambil memijit keningnya.
Malvin mengikutinya dari belakang, terlihat Abra sangat kecapean saat ini. Seandainya saja Abra masih sendiri dia tidak akan membangunkan Abra saat tidur barusan.
"Gue pulang salam buat Bela" ucap Abra sebelum masuk mobil.
"Mau gue anter?" tawar Malvin.
Abra malah mengibaskan tangan sebelum menginjak pedal gas, melihat Abra seperti sekarang dengan Zahra, Malvin yakin Abra akan gila jika Zahra dan anak-anak mereka benar-benar pergi.
*-*
Zahra menunggu Abra pulang dikamar Bilqis dan Chaka dengan pintu kamar terbuka.
Sejak tadi sore Zahra sudah memasak untuk makan malam bersama Abra, tetapi saat jam makan malam Abra belum juga pulang hingga dia terus menunggu dan belum makan sampai saat ini.
Zahra merebahkan tubuhnya disamping Chaka yang tertidur, kali ini anak kembarnya sudah banyak berkembang, dia ingin berbagi cerita dengan Abra tetapi Abra selalu saja sibuk dan pulang malam.
Dia merindungan kehangatan rumah, Zahra pikir masalah diantara mereka telah selesai sebelum pulang ke Indonesia, tetapi sampai disini Abra seakan menghindarinya. Jika beralasan bayak kerjaan akibat mereka liburan Zahra paham, tetapi tidak mencium Zahra sebelum berangkat kekantor apa alasannya?.
Klek ...
Pintu kamar semakin terbuka lebar, Zahra tetap memejamkan mata pura-pura tidur.
__ADS_1
Abra melangkah pelan menghampiri Zahra, mengambil Chaka dan menidurkan Chaka di box bayinya. Saat tangan Abra akan menyelimuti tubuh Zahra dia terdiam lama menatap wajah Zahra dalam, berhari-hari dia kurang tidur karena tidak bisa nyenyak seperti biasanya, tidak bisa memeluk tubuh Zahra seperti biasa.
Jika ditanya akankah Abra suka dicueki, maka jawabannya tidak. Tetapi kenapa dia sekarang melakukan itu pada Zahra?, agar Zahra tahu jika Abra benar-benar marah padanya. Kapan dia akan kembali berbicara dengan Zahra?, jika Zahra tahu dimana letak kesalahannya.
"Good night" ucap Abra begitu lirih.
Kembali Abra berdiri mengambil kalung yang dia bawa tadi disalam jasnya, menghampiri Bilqis yang tidur di box bayi dan memakaikannya kalung itu, Bilqis bergerak-gerak pelan dan Abra mengelus punggungnya membuat Bilqis kembali tertidur.
"Kalian tambah menggemaskan" Abra menatap Bilqis dan Chaka dengan senyum lebar. "***** jangan gigit-gigit kasihan Bunda" ucap Abra mengelus kepala Chaka.
Saat mendengar itu air mata Zahra berlinang.
Abra berjalan keluar kamar perlahan menutup pintu, melangkah dengan malas kekamarnya. Dia harus tidur setidaknya dua atau tiga jam saja.
Menatap kasur dikamar seakan begitu besar jika tidak ada Zahra dan anak-anak mereka yang menemaninya tidur.
Tanpa membuka kemeja dan sepatunya Abra langsung berbaring dikasur, tangan mengeluarkan hp dan melihat cctv di kamar si kembar, terlihat Zahra duduk dengan wajah menatap kosong kedepan lalu berdiri keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" guma Abra dengan cemas.
Jemari Abra langsung mengganti cctv yang diruang tamu, Zahra berjalan kekamar Fani entah apa yang dia bicarakan dengan Fani di deoan kamarnya lalu berbalik badan dan berjalan kearah kamar mereka.
Cepat-cepat Abra mematikan hpnya dan pura-pura tidur.
Pintu kamar terbuka, Abra mendengar langkah kaki Zahra yang mendekatinya, Abra pura-pura tidur senatural mungkin.
Suara Zahra terdengar kesal, tangan Zahra berusaha membuka kemeja yang dipakai Abra, membuka sepatu lalu celana kainnya, hanya tersisa celana selutut dan kaos dalam Abra.
Terasa Zahra naik dan duduk disamping Abra, perlahan merentangkan tangan Abra sebelum akhirnya wanita itu merebahkan tubuhnya disamping Abra berbantal lengan Abra.
"Bau asem" gerutu Zahra tetapi malah mempererat pelukannya.
Kenapa bau asem malah dipeluk?, kakimu juga ngapain?, kamu kira aku guling?. Ingin rasanya Abra menyuarakan nya langsung, bukan masalah risih atau semacamnya.
Cobalah berfikir, Abra sudah berpuasa lebih dari seminggu saudara-saudara, dan Zahra malah menempel seperti cicak sekaligus menjadikannya guling, dengan yang ... Oh My God ...
Abra mengambil bantal menjadikannya guling dan menghadap Zahra, setidaknya ada penghalang dan Zahra tidak sadar jika mister Jujunnya sudah tegang.
"Ih ... malah meluk guling"
Zahra menarik pelan bantal itu, Abra berdecak tetap dengan mata terpejam. Akhirnya Zahra menghela nafas dan kembali tidur.
*-*
"Let's date!"
Regan mengerjab-ngerjabkan mata menatap kesekelilingnya.
__ADS_1
Dia sekarang ada ditaman depan kampusnya, duduk di bangku menunggu Aslan yang akan menjemputnya sambil membaca buku, dan tiba-tiba seseorang datang langsung mengajaknya pacaran.
"I am falling in love with you"
Dan semakin membuat Regan tercengang.
"Em ... I Think we ..."
*Brem ...
Titttt* ...
Mobil Sport yang tidak asing lagi bagi Regan berhenti tepat didepan merek duduk. Baru sekarang kedatangan Emma membuatnya merasa harus berterima kasih pada wanita itu.
Emma membuka atap mobilnya, melambaikan tangan pada Regan dengan senyum manisnya. "Hai beb!" seru Emma nyaring.
Wanita yang duduk didekat Regan langsung menatap Regan dan Emman bergantian dengan kening mengerut.
"Hai" sahut Regan berdiri dengan cepat masuk kedalam mobil Emma, "terima kasih ayo jalan" bisik Regan dengan senyum kaku yang dia pertahankan.
"Ok"
Tanpa banyak bicara Emma menjalankan mobilnya, sesekali melirik pada Regan yang menghela nafas disampingnya.
"Kenapa?"
"Dia ngajak pacaran".
Citttt ...
Emma langsung menginjak rem, untung saja Regan memakai safety belt sehingga dadanya tidak terbentur pada dashbord mobil.
"LO GILA?" bentak Regan dengan suara tinggi pada Emma yang duduk disampingnya.
"Dia ngajak kamu pacaran?" tanya Emma seakan bermonolog
"iya" jawab Regan ketus.
"Seriously? Oh My God!"
Ya Tuhan ... yang benar saja, Regan tidak habis pikir Emma hampir membahayakan nyawanya karena itu?.
Kesal, Regan keluar dari mobil Emma dengan membanting pintu kasar berjalan pergi begitu saja tanpa memperdulikan teriakan Emma.
*-*
Lop lop lop Readers ...
__ADS_1
Unik Muaaa