
Semua sedang menikmati pemandangan, bahkan berfoto dengan Aslan yang menjadi fotografer mereka. Enzo memberi isyarat pada Abra untuk mengikutinya menjauh dari mereka semua.
Abra berjalan mengikuti Enzo dari belakang, setelah merasa mereka cukum jauh dari yang lainnya barulag Enzo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Surat dari anak buah Dorio, kemalin dia memberikannya kemada salah satu dari mereka" Enzo melirik pada anak buahnya sebentar, "aku belum membukannya."
Abra membuka surap itu membacanya dan berdecak, "dia memaksa untuk bertemu, jika mamemang hanya ingin bertanya tentang Clara, tidak bisakah kamu bilang saja aku tidak tahu dimana Clara. Kalian saja keluarga Remanov tidak tahu apalagi aku?."
"Memangnya disana tertulis apa?."
"Dia memintaku untuk meluangkan waktu bertemu dengannya sebentar."
"Lalu?"
"Aku akan bertemu dengannya, tetapi kita harus menyusun rencana sebelum bertemu dengannya." Abra kembali menyerahkan surat itu pada Enzo, "aku tidak mau mati konyol, aku mempunyai keluarga dan perusahaan yang harus aku urus."
Enzo menepuk pundak Abra, "aku mengerti, jika sudah siap aku akan memberi kabar."
Mereka berdua kembali berjalan mendekati semua orang yang terlihat bahagia, setelah kembali menikah dengan Abra ini liburan pertama Zahra dengan anak-anak mereka berdua.
Hp Gea tiba-tiba bergetar ada panggilan video call masuk dari Mila, Ge mengangkat panggilan Mila dengan mengarahkan kamera hpnya pada Regan, Zahra, Abra dan sikembar yang sedang berfoto bersama.
"Kalian jalan-jalan ya" seru Mila dari sebrang.
Gea yang mendengarnya tertawa kecil dan kembali mengatahkan kamera hpnya pada dirinya lagi.
"Iya, untung kita punya fotografer handal jadi gak usah nyewa fotografer."
"Gak nyewa tapi minta beliin kamera" celetuk Regan yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Gea.
Mila tertawa ngakak, "ah ... bahagia ya punya keluarga lengkap?" mata Mila berkaca-kaca setelah mengatakannya.
Regan tersenyum lalu mengambil hp Gea, "Mau lihat kami dimana?."
"Mau dong ..." seru Mila antusias.
Regan menggunakan kamera belakang untuk memperlihatkan dimana mereka kali ini.
"Wah ... bagus ... semoga saja aku bisa kesana ..." seru Mila, meski tidak di sampingnya lengkingan suara Mila serasa begitu dekat dengan telinga Regan.
"Aamin ..." ucap Regan.
Terlihat disebrang Mila tersenyum lebar saat melihat Zahra berfoto dengan si kembar. "Melihat kamu dan Bunda bahagia aku disini juga ikut bahagia."
Regan kembali mengubah pengaturan kameranya, "ya ... aku juga bahagia melihat Bunda bahagia."
Mereka terdiam saling tatap melalui layar hp milik Gea, hingga akhirnya Mila ingat sesuatua kenapa dia bisa menghubungi Gea.
"Oh iya kenapa kamu gak bilang kalau Alaric itu model yang cukup terkenal?" tanya Mila dengan mata melototnya, "ah ... aku juga lupa mau bertanya dengan Gea."
Kening Regan berkerut tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Mila, barusan dia berbicara Alaric kenapa sekarang malah ke Gea?.
"Aku lupa cerita, aku tahu kalian jalan -jalan karena mencari IG Alaric." Mila memperbaiki posisi duduknya, "Gea sekarang terkenal karena berbicara bahasa Indonesia dengan Alaric yang ternyata model luar negri?, suara Gea juga cukup bagus aku baru tahu."
"Oh ya?" tanya Regan tak percaya.
"Iya coba saja kamu cari di youtube"
Regan berlari menghampiri Gea yang sedang berkumpul dengan yang lainnya, membuat gambar yang ditampilkan dilayar hp Mila bergoyang-goyang.
"Ar ... jangan goyang-goyang pusing yang liat ...." teriak Mila.
"Kata Mila Gea terkenal di Indonesi ..." teriak Regan tidak memperdulikan teriakan Mila barusan.
Semua menoleh pada Gea, kepala Gea langsung menggeleng.
Regan memperlihatkan Mila yang masih belum memutuskan sambungan panggilan video call mereka.
"Hallo ... Bunda I miss you ..."
__ADS_1
"Hallo sayang, I Miss you too" balas Zahra.
"Wah ... Gea hebat Bun, dia lagi viral di Indonesia karena nyanyi lagu Adel Eazy on me dengan Alaric."
Semua kembali menatap Gea kalinini juga melirik kearah Alaric.
"Gea hebat ... kalian cocok banget ... para netizen juga bilang giti loh kalian disangka pasangan yang ..."
"Hei!" potong Regan kembali mengarahkan kamera padanya, diliriknya Javir yang terdiam dengan wajah datarnya, "kita sambung nanti" seru Regan.
Regan langsung mematikan panggilan video call mereka, yang tadinya excited ingin mendengar cerita langsung dari Gea dan Alaric, melihat Javir membuat Regan jadi tidak enak hati karena cerocosan Mila barusan.
Regan sadar Javir tidak begitu menyukainya, jadi dia tidak mau Javir semakin tidak menyukainya.
*-*
"Hai cewek"
Malvin menggoda Vira tetapi dengan wajah datarnya, Vira yang baru saja keluar dari kantor dengan membawa dus di tangannya menantap Malvin sejenak lalu menghela nafas sebelum dia kembali melangkah pergi.
"Butuh tumpangan enggak?" tanya Malvin menghadang langkah Vira.
"Gak"
Mendengar jawaban judes Vira Malvin tersenyum kecil mengambil kardus ditangan Vira dan menarik pergelangan tangannya menuju mobil Malvin.
"Masuk" perintah Malvin sambil membuka jok belakang fan meletaklan kardus Vira dan memutari mobilnya untuk duduk dibelakang kemudi.
Vira dengan ragu masuk kedalam mobil Malvi, duduk dengan tenang tetapi pandangan matanya menatap keluar jendela.
Matanya mulai memanas, mengulum bibirnya memejamkan mata sambil mendongakkan kepala.
"Kalau mau nangis-nangis aja, gak usah malu untuk kali ini gue dengan baik hati mau menjadi batu."
Vira membuka matanya menatap Malvin lekat, "lo baik ... karena kasihan ya sama gue?" tanya Vira dengan suara serak.
"Terserah" jawab Malvir sekenanya.
Malvin menghela nafas, meraih kotak tisu dihadapannya dan memberikannya pada Vira.
Srottt ...
Bunyi suara Vira mengeluarkan ingusnya membuat Malvin meringis.
Ini pertama kali Vira menangis selepas ini setelah sekian lama dia hanya menangis dalam diam dan tidak leluasa. Dan yang membuatnya malu dia menangis didepan Malvin, yang artinya dia harus menguatkan diri jika Malvin nanti mengolok-oloknya.
Sepanjang perjalanan Vira menangis hingga dia baru tersadar saat Malvin menghentikan mobilnya diparkiran.
Vira menoleh kekanan dan kekiri memastikan jika dia kenal dengan tempat itu. "Kenapa dibandara?, lo mau ngirim gue kemana? hwaa ..." Vira kembali menangis.
Malvin meraup wajahnya kesal, "otak lo negatif mulu, jangan disamain gue sama mantan laki loe, cepat turun!."
Suara tangis Vira semakin menjadi, "kenapa lo malah ngingetin gue sekarang janda?."
Benar-benar kesal Malvin keluar dsri mobilnya, membuka pintu disamping Vira dengan lebar.
"Gue udah ngasih lo waktu buat nangis satu jam lebih, jadi sekarang tutup mulut lo, keluar dari mobil sekarang kalau enggak kita bisa ketinggalan pesawat."
"Kita mau kemana?."
Vira turun perlahan, Malvin mengeluarkan kopernya dan menarik pergelangan tangan Vira, mendengar suara segugukan Vira langkah Malvin terhenti tiba-tiba.
"Kalau lo masih nangis gue gak jadi bawa lo" ancam Malvin.
Kepala Vira langsung menggangguk.
Mereka berjalan dengan langkah lebar memasuki bandara, Sam yang sejak tadi menunggu mereka berdecak memperhatikan mereka yang mendekatinya.
Sam menjulurkan tiket, dan tas kecil yang Vira tahu itu miliknya yang disita Papanya agar Vira tidak bisa keluar negri.
__ADS_1
Vira menerima dengan mata berkaca-kaca menatap Sam membuat Sam berdecak tidak suka, tangan Sam dengan kasar menyerahkan koper milik Vira.
Tadi pagi dia kerumah pak Jaya menjemput baju Vira dan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk keluar negeri.
"Kalau lo nangis gue colok mata loe" ancam Sam berjalan terlebih dahulu meninggalkan Malvin dan Vira.
*-*
Setelah berputar-putar mereka mampur kerestauran untuk makan malam bersama, para anak-anak makan dimeja terpisah dengan orang tua.
Emma sejak tadi selalu menemel dengan Regan, bahkan kali ini duduk juga disamping Regan. Sedangkan Gea niat Gea duduk diantara Regan dan Aslan, tetapi dia malaj duduk berhadapan dengan Javir.
"Javir besok kembali bekerja" teriak Enzo.
"Ya" jawab Javir sekenanya.
"Perasaan lemas banget mulai tadi" tegur Aslan sambil menatap Javir.
Tidak berniat menanggapi Aslan, Javir terus saja melanjutkan makan malamnya.
"Banyak yang nge DM aku Gea" Alaric makan sambil memainkan hpnya, "tapi kenapa hpmu mulai tadi tidak ada bunyi notifikasi?."
Gea menyengir mengeluarkan hpnya dari dalam tas, "karena aku mematikan hpku setelah Mila menelfon."
"Pantas Gana dan Rio juga mulai tadi chat terus tanya kamu kenapa gak online, aku malas balasnya" keluh Regan.
Pembicaraan mereka terus mengalir begitu saja, hingga semua terhenti menjadi hening karena satu pertanyaan Fani.
"Bunda belum balik?" tanyanya.
Semua menoleh kearah tempat duduk Zahra, kosong. Tadi Zahra mengatakan akan ketoilet, tetapi dia belum juga kembali.
"Butuh tisu basah, Ar minta tolong ambilkan ditas Bunda" ucap Fani masih belum sadar dengan situasi yang terjadi pad para pria dan Emma.
"Sudah setengah jam lebih" ucap Emma melirik jam tangannya.
Yang pertama kali berlari adalah Regan dan Abra lalu disusul Aslan, Alaric, Javir, Enzo dan Emma.
Para pria itu masuk kedalam toilet tidak menghiraukan jika yang mereka masuki adalah toilet wanita.
"Kemana Ara?, tidak ada ... dia tidak ada ..." guma Abra kalut, "BERPENCAR!" teriak Abra.
Aslan, Alaric dan Enzo langsung berlari keluar dari toilet berpencar mencari Zahra.
Emma mencoba menoleh kesegala arah mencari siapa tahu ada petunjuk dan dia terdiam melangkah dengan lebar kekaca dekat westafel. "Sir Adam" panggilnya tampa menolehkan kepala.
Abra langsung mendekat dan melihat kearah tatapan Emma, terdapat tulisan dikaca westafel menggunakan lipstik dengan dua kata yang dapat Abra dan siapapun disana mengerti apa maksud dari tulisan itu.
D's Coss
Regan mengeluarkan honya hendak melacak Zahra dari emailnya, tetapi keberadaan hp itu berada direstauran ini. Regan hendak memanggil Javir, tetapi tubuhnya seakan langsung lemas melihat jam tangan yang diberikan Javir berada ditangan Javir.
Zahra melepaskannya.
*-*
.
Waktunya serius 😎
Tapi pastinya tetep ada Lop lop yang terselip 😍
Please ...
Klik Jempol 👍 Likenya jangan lupa 😉
Kalau Readers lagi baik hati ngasih Author 🎁 hadiah juga dung ...😍
Love you 😍
__ADS_1
Unik Muaaa