One More Chance

One More Chance
Hubungan


__ADS_3

"kapan pulang?," tanya Regan.


Gea tersenyum senang, kepalanya menggeleng cepat. Dia selalu merasa senaag setiap kali Regan berbicara padanya, meski nada yang keluar tidak menunjukkan ekpresi apapu, dia sudah senang.


Regan menghela nafas pasrah, Gea selalu saja tersenyum riang menatapnya dengan mata berbinar. Dia tidak suka, dia ingin berbicara kasar agar Gea tidak menatapnya seperti itu lagi, tetapi dia tidak bisa. Zahra selalu mengajarinya sopan dan mengahrgai orang lain.


"Pulang nanti malam."


Malvin tiba-tiba keluar dari rumah, berjalan menghampiri mereka didepan pagar bersama Abra yang mengikutinya dari belakang.


Wajah Gea cemberut seketika. "Kenapa nanti malam?," gerutunya.


Dia memang berjanji akan kembali ke Jakarta, tetapi tidak secepat itu juga.


Abra mengelus puncak kepala Gea. "Karena kamu ujian bentar lagi," tegasnya.


Kepala Gea menunduk dengan mulut manyun, dia ingin mengenal Zahra, Regan dan ketiga teman Regan lebih lama lagi.


Regan tersenyum segaris. "semoga sukses," ucapnya lalu balik badan hendak pergi.


"hei Nak!" seru Abra, menghentikan langkah Regan dan berbalik kembali menghadapnya. "Semoga sukses," ucap Abra dengan ragu-ragu.


Wajah datar Regan kembali. "Saya sudah pasti sukses."


Regan mengucapkannya dengan penuh percaya diri dan membungkuk sedikit tanda hormat sebelum pergi menaiki motornya.


Sifat percaya dirinya jangan ditanyakan lagi keturunan dari siapa. Abra hanya terkekeh kecil, keturunan Ganendra memang mempunyai kepercayaan diri yang tingginmelebihi siapapun.


"Daddy." Paggil Gea.


"ya."


"Sebelum berangkat bisa mampir kerumah mereka dulu?."


Kening Abra mengerut melirik Malvin yang mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengetahui apa rencana Gea kali ini.


"Ada perlu apa lagi?, bukannya sudah berbicara dengan Regan?" tanya Abra penasaran.


Gea tersenyum lebar. "ada yang ingin aku berikan."


"Ap...."


"Rahasia Daddy." Gea memotong kalimat Abra dan masuk kedalam rumah dengan riang.


Otak Abra langsung berputar, perasaan negatif merasukinya.


"Jangan katakan apapun!," desis Abra.


Padahal Malvin baru selangkah melangkahkan kaki hendak masuk kedalam rumah terlebih dahulu.


Langkah Malvin terhenti, dan dia hanya bisa tercengang menatap Abra yang memasuki rumahnya terlebih dahulu. "gue belum mengatakan apapun," keluhnya.


*-*


Mereka benar-benar menunggu Regan dan Zahra pulang dari masjid. Padahal seharusnya mereka sudah terbang dua puluh menit yang lalu. Untung saja mereka menggunakan jet pribadi, jika tidak entah mereka harus bermalam lagi atau Gea yang akan menangis sepanjang perjalan ke Jakarta.

__ADS_1


Yesi dan Sam sejak tadi mengeluh karena banyak nyamuk. Mereka ingin cepat pulang, tidur dikasur yang empuk, ruang ber-AC dan tanpa nyamuk.


Dari kejahuan terlihat Zahra, Aslan, Regan dan ketiga temannya berjalan bersama. Didepan Gana dan Rio bernyanyi mengiringi langkah mereka berlima sejak turun dari majid.


Gea berlari dengan riang menghampiri mereka, pada hal bisa saja dia menunghu mereka didepan rumah.


"kata kamu dia pulang malam ini?," Bisik Mila pada Regan yang berjalan di sampingnya.


Regan hanya mengangkat bahu melirik Zahra sekilas. Dia berjalan di tenga-tengan antara Zahra dan Mila, dan selalu saja begitu.


"Assalamu'alaikum." Gea berdiri tidak jauh dari mereka.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka bersama.


Rio dan Gana saling lirik melihat Gea yang mengucapkan salam dan tersenyum menatap Regan dan Zahra bergantian dengan mata berbinarnya.


"Kak Regan bisa ngomong sebentar?," tanya Gea riang.


"Aku bukan kakakmu," desis Regan menolak berbicara dengan Gea.


Zahra meneouk pundak Regan pelan. "yang sopan," tegur Zahra.


"Aku bukan kak dia Bunda. Umurnya satu bulan diatasku."


"Tapi kamu sudah kelas tiga SMA, aku masih SMP."


Mata Tegan langsung memelototi Gea, yang di pelototi tetap tersenyum lebar. Regan benar-benar tidak suka gadis kecil didepannya ini.


"Ya sudah, kalian ngobrol Bunda pulang duluan." Zahra melirik ketiga teman Regan.


"Santai saja!" seru Aslan.


"Lapar Bun."


"Ayo makan!."


Gana dan Rio berjalan terlebih dahulu, Mila merangkul lengan Zahra sambil menggerutu melihat tingkah kedua temannya yang selalu menomer satukan makan diatas segalanya.


Regan dan gea masih berdiri di ponggir jalan. Regan malas melihat Gea yang terus saja menatapnya dengan mata berbinar dan senyum lebarnya.


"Kak" panggil Gea menggoda Regan.


Regan berdecak sebal membuat Gea tertawa kecil.


Gea membuka tasnya mengeluarkan kotak kecil bludru merah dan menjulurkannya pada Regan. "Bisa minta tolong kasihkan Bunda?."


Regan melirik tanpa niat menerima.


Bibir Gea langsung mengerucut. "Ini cincin pernikahan Bunda kakak dan Daddy." Mata Gea mulai berkaca-kaca. "Katamu kita tidak boleh ikut campur malasah orang dewasa, tetapi jika untuk kebaikan mereka kenapa tidak?. Aku berharap mereka bisa bersatu kembali, Daddy sekarang sering tersenyum dan tertawa lepas, sebelumnya hanya tersenyum sekedarnya saja."


Gea menoleh menatap Zahra yang masih berdiri didepan rumah dengan Abra, Sam, Malvin dan Yesi. "Bukan maksud memaksa perasaan mereka, tetapi kamu yang sebagai orang terdekat Bundamu, pasti merasakan sesuatu yang berbeda sebelum dan sesudah bertemu Daddy."


"Ya, terlalu sering ngelamun dan memelukku."


Gea kembali menatap Regan. "Jika Daddy tidak ada?."

__ADS_1


Diam, Regan tidak mengatakan apapun.


Melihatnya Gea tersenyum pasrah. "Kakek Buyut Arya mengatakan ingin cucunya berpendidikan tinggi, aku dengar Bunda juga ingin kamu kuliah diluar negri. Selama ini kamu sudah menjadi anak yang baik, membanggakan dan ta'at. Jadi, selesaikan saja sampai akhir. Hubungan mereka bisa diselamatkan, dan hanya kamu yang bisa." Gea meletalkan kotak itu ditangan Regan. "Aku pulang, kami tunggu di Jakarta."


Didepan rumah Zahra.


Abra menatap tidak suka pada Aslan yang merangkul pindak Zahra. Dia juga ingin merangkul, memeluk dan sangat dekat dengan Zahra seperti Regan dan Aslan.


"Kami kembali ke Jakarta malam ini." Abra mentap Zahra dalam.


Kepala Zahra mengangguk.


"Kamu ikut," Abra menunjuk Aslan.


Wajah Aslan melongo. "Kenapa saya juga ikut?".


"Kamu juga kuliah di Jakarta, dari pada kamu kekurangan ongkos balik, lebih baik ikut Abra." Malvin mencoba membujuk Aslan sebelum Abra. "Mereka pakai pesawat pribadi, jadi gratis."


Mata Aslan melirik Zahra meminta pendapat.


"Boleh juga, dari pada kamu mengeluarkan ongkos lagi?. Lebih baik ikut mereka."


"Tapi Bunda ...."


"Gak ada tapi-tapian." Zahra memotong ucapan Asalan. "Kamu kesini ditenga-tengah semester kuliahmu, Bunda tidak suka orang menyepelehkan pendidikan."


"Ok".


Aslan berjalan pasrah memasuki rumah Zahra, dia tidak mau mendengar Zahra mengomel terus. Lagi pula dia hatus menghadapi masalahnya tidak boleh lagi lari dari masalah. beberpaa hari tinggal di Madura sudah cukup untuknya menenangkan diri.


*-*


Mobil berhenti, Abra turun dari mobil dan membantu Gea turun. Gea mengedip-ngedipkan matanya yang masih mengantuk sambil mentap rumah mewah didepannya, dia menoleh pada Abra yang juga menatap rumah itu dalam diam.


"Kenapa kita kesini?" tanya Gea lirih.


Mereka sekarang berada disepan rumah Kakek Arya. Setelah turun dari Pesawat, Abra meminta supir untuk mengantar mereka lerumah Kakek Arya bukan kerumah mereka.


Teringat pesan Malvin sebelum mereka berpisah. "Jangan pulang kerumahmu, menginaplah beberapa hari dirumah Opa perbaiki hubungan kalian. And for your informatian, si gila datang, beberapa hari lalu menemui Opa. Sepertinya Gea belum bisa memuinya untuk sekarang ini."


Abra mengelus rambut Gea sayang. "Daddy mau baikan dengan Kakek Buyut, Gea mau dekat juga dengan Kakek Buyut bukan."


Kepala Gea mengangguk dan tersenyum kecil.


"Kalau gitu kita menginap disini selama beberapa hari sampai ujian kelulusan Gea selesai. Sekarang tidur, besok pagi jam tujuh kita makan bersama Kakek Buyut."


Gea mengagguk mengikuti langkah Abra memasuki rumah Kakek Arya.


Meski masih mengantuk, Gea merasa jika rumah Kakek Arya lebih besar dari rumah yang dia dan Daddynya tinggal. Meski sempat beberapa kali mengunjungi Kakek Arya, dia berjalan menunduk takut untuk bertatapan dengan Kakek Arya, jadi dia tidak sadar seberapa megah rumah beliau.


*-*


.


.

__ADS_1


.


Unik_Muaaa


__ADS_2