One More Chance

One More Chance
Mendengarkan


__ADS_3

"Dia kenapa?" tanya Aslan pada Regan berjalan mendekati Gea.


Dia baru saja akan tidur, tetapi mendengar suara segugukan kecil dari kamar sebelah, kamar milik Regan membuatnya terburu-buru keluar dan melihat Gea menangis.


Aslan duduk disamping Gea mengelus rambutnya menenangkan gadis itu, kepala Gea mendongak menatap Regan yang masih berdiri didepannya lalu beralih pada Aslan.


"Ini udah malem loh Ge" ucap Aslan lirih.


"Memangnya Javir ngapain kamu?" kali ini Regan bertanya to the poin.


Kepala Gea menunduk, "gak ngelakuin apapun kok."


"Terus kenapa nangis?"


"Gak tauh Ar" kali ini suara Gea mencicit.


"Apa karena kamu menolak perjodohan itu?"


Kepala Gea mengangguk.


"Dia marah karena kamu menolaknya?"


Kali ini kepala Gea menggeleng.


"Terus apa?, kenapa perempuan selalu ribet?." Keluah Regan berjalan duduk disamping Gea.


Aslan menyandarkan punggungnya ke headbed, "apa kamu denger sesuatu kayak didrama-drama atau sinetron-sinetron gitu" tebak Aslan.


Gea tertawa kecil meski air matanya kembali menetes, "yupz ... seperti di sinetron dan drama-drama, aku mendengarkan dia mengatakan sesuatu."


Regan dan Aslan saling tatap lalu bersamaan menatap Gea yang terlihat aneh dimata mereka karena tertawa sambil memangis, Gea sebenarnya menangis bahagia atau sedih mereka tidak tahu.


"Udah menangisnya tidur ya" bujuk Aslan.


Gea semakin naik keatas kasur Regan dan bersila, "kenapa gak nanya apa yang aku denger?."


"Karena kami tidak mau memaksa."


"Kata Bunda kamu saja gak cerita sama Bunda dan Ayah, jadi aku rasa itu sangat sulit untuk diceritakan?" Regan menatap Gea dalam.


Kepala Gea mengangguk dengan senyum pilu menghiasi bibirnya, menatap Aslan sedemikian rupa membuat Aslan mengerutkan kening.


"Apa aku terlihat seperti anak kecil yang bisa kamu bodohi?" tanya Gea dengan wajah serius.


Aslan semakin menatap Gea dengan aneh, "kamu kenapa tanya gitu?."


Plak ...


Regan menepuk paha Aslan, "jawab aja kenapa sih"


Aslan menghela nafas, "terkadang iya terkadang enggak, suatu waktu kamu akan bersikap seperti anak kecil, tapi saat menghadapi suatu masalah yang serius kamu terlihat dewasa." Aslan melirik Regan, "Ar juga begitu, dia seperti anak kecil jika bersama dengan orang yang dikenalnya, tetapi sangat dingin dan dewasa jika bertemu dengan orang lain."


"Menurutmu kenapa?"


Aslan mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Gea, "aku gak tahu kamu kenapa seperti itu, tapi jika Ar itu ajaran Bunda yang selalu mengajarkan agar menjadi kuat jangan menunjukkan kelamahan pada orang lain selain orang yang benar-benar mengertimu."


Gea tersenyum menengadah menatap langit kamar Regan, "dia menganggapku anak kecil sama sepertimu." Gea terdiam sejenak, "tetapi aku bukan anak bodoh yang rela menjadi tempat sampah" lanjutnya begitu lirih.

__ADS_1


Kembali Gea terdiam, tetap tersenyum tetapi memejamkan matanya meresapi semua perasaan kecewa yang dia coba tepis dan hilangkan.


"Gea" panggil Regan lirih.


"Aku mendengarnya berbicara dengan temannya disuatu club malam" ucap Gea.


"Kamu ke Club malam?" tanya Aslan dengan nada sedikit tinggi.


Gea menatap Aslan dengan senyun sambil memiringkan kepalanya, "aku hanya coba-coba ingin tahu kehidupan malam. Malam itu aku belum masuk kedalam club, aku melihatnya keluar dari club, jadi aku bersembunyi dan disana aku mendengarkan semuanya."


Flash back


"Jangan lupa sebelum tidur lo mandi biar bau alkohol gak nempel dibadan lo, lo aneh mau tunangan besok malah teler sekarang."


Gea mendengar suara teman Javir.


"Ini kan perpisahan kita bro ... setelah gue tunangan ... gue keluar negri ... akhirnya gue kembali bebas seperti Papa gue masih di Madura wahahha ..." Javir mengucapkannya dengan terputus-putus. "Ah ... gue bosen jadi anak baik terus."


"Gue masih belum yakin cowok Ladykiller kayak lo mau tunangan dengan anak baru masuk SMA."


Terdengar tawa lepas Javir, membuat Gea mencengkram kerah bajunya sendiri menunggu tanggapan Javir.


"Wahahaha ... bagaimana lagi?, gue ingin kebebasan gue kembali jadi .... jalan satu-satunya gue harus tunangan ... diluar negri sana nanti gue bebas mau ngapain aja."


"Maksud lo gila-gilaan disana tapi disini ada tunagan lo?, kalau dia tahu gimana."


"Dia gak mungkin tahu, anak kecil kayak dia mah asalkan gue bersikap baik didepannya semua beres, seperti gue sama Papa gue, jadi anak baik didepannya ... belingsatan di belakangnya."


Mereka tertawa lepas bersama, tidak seperti Gea yang terpukul mendengarnya, tetapi saat itu Gea hanya bisa tersenyum kecil.


Mendengar cerita Gea, Aslan dapat memahami jika Gea merasa disepelakan disini. Javir benar-benar belum mengenal sosok Gea yang sebenarnya.


"Apa hubungannya dengan tempat sampah yang kamu katakan?" tanya Regan, Gea menoleh mengerutkan kening. "Bunda cerita pada kami, Bunda bahkan menceritakan secara ditail."


Kepala Gea menunduk dalam, menghela nafas berkali-kali sebelum menjawab pertanyaan Regan.


"Dia menikmati kehidupan bebasnya disini, tetapi aku sebagai tunangannya disana tidak tahu apapun. Setalah dia merasahan dia puas menjalani kehidupan bebasnya, dia akan kembali padaku?, aku bukan tempat sampah yang menerima sampah kotor meskipun sampah itu bisa didaur ulang, aku ... aku ..." air Gea kembali mengalir. "Aku merasakan ini karma dari apa yang dilakukan Mami," Gea menoleh pada Regan.


"Setelah Mami hidup bebas dia kembali pada Ayah dan membuat rumah tangga Ayah berantakan tanpa memikirkan perasaan Bunda, apa aku harus menerima karma dari apa yang dirasakan Ayah karena kelakuan Mami?. Awal aku menerimanya ... aku pikir ini karma dan takdir yang harus aku jalani ... tapi ... setelah aku pikirkan apa aku sanggup?, aku gak akan bisa."


Tangis Gea kembali pecah, Regan menarik tubuh Gea dalam pelukannya, mengelus kepala Gea menenangkan.


"Apa aku salah?" tanya Gea serak.


"Tidak, tidak salah" bisik Regan.


"Aku sayang dia ... aku cinta dia ... tapi aku tidak mau menjadi tempat sampah ... aku tidak mau hanya sebagai barang cadangan ... Aku ingin pria yang tulus mencintaiku Ar ..." bagitu lirih Gea mengatakannya.


"Ya kamu tidak pantas menjadi tempat samapah" Aslan menatap Gea dengan senyum kecilnya.


Dia merasa seakan apa yang dikatakan Gea seperti apa yang ingin dia rasakan, Aslan sanyang dia, Aslan cinta dia, tetapi Aslan harus rela melepaskannya.


"Aku ingin melupakannya ... tetapi dia cinta pertamaku Ar ... sulit lupain dia."


Ya, gadis itu juga cinta pertama Aslan, dan Aslan tahu seberapa sulit melupakannya meski Aslan sudah berganti-ganti pacar.


Dret ...

__ADS_1


Hp Aslan bergetar, dengan malas Aslan mengangkat panggilan Javir tanpa berniat untuk menjauh dari Gea dan Regan.


"Gue sudah mendengar semuanya" ucap Jabir dengan santai.


Aslan melirik kanan kiri mencari penyadap yang mungkin dipasang Javir dikamar Regan, pandangannya terhenti pada meja kecil disamping tempat tidur Regan, ada jam tangan pemberian dari Javir diatas sana.


"Tetapi gue menghubungi lo bukan karena itu" lanjut Javir, "gue baru ngirim foto , apa itu benar Zia yang dulu pernah menemui lo dipesta perpisan kalian?, jika iya jemput sekarang sebelum dia dibawah orang lain."


Javir memutuskan sambungan, terlihat wajah Aslan panik tetapi dia mencoba tenang, jemarinya mulai menscrol layar hpnya.


Regan menatap Aslan penuh tanya, Aslan menunjukkan foto yang dikirim Javir pada Regan tanpa menjelaskan.


"Aku pergi" pamit Aslan.


Regan hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Keluar darinpintu kamar Regan, Aslan melihat Zahra yang perdiri didekat pintu dengannjari telunjuk dibibirnya, Zahra mendengarkan semua cerita Gea.


*-*


Di Indonesia


Prabu melemparkan map coklat tepat didepan Vira yang baru saja masuk kedalam ruangannya.


Tanpa terganggu tatapan intimudasi Prabu, Vira mengambil map itu, mengeluarkan isinya yang ternyata terdapat beberapa foto dan kertas-kertas.


"Jelaskan sejelas-jelasnya, aku akan mendengarkan. Jangan pernah menungguku untuk memaksamu berbicara" ancam Javir dengan suara mendesis menahan amarah.


Perlahan Vira menatap Prabu, dia baru menjalankan satu rencana kecilnya, tetapi Prabu sudah menemukannya.


"Aku hanya akan mendengarkan tidak akan mengatakan apapun sebelum kamu selesai."


Senyum Vira perlahan terbit, "aku hanya menemui mereka untuk jujur siapa aku sebenarnya."


Prabu duduk sambil bersandar pada sandaran kursi, menyilangkan kakinya dan menautkan jemarinya duduk begitu santai.


Sedangkan Vira juga bersikap setenang mungkin agar tidak terlihat gugup karena tatapan intimidasi dari Prabu.


Melihat Vira yang terdiam lama Prabu tersenyum lalu mengatakan, "jangan main-main denganku, jika kamu berniat menghancurkan perusahaan ini tinggal bilang. Dalan satu jam aku akan menghancurkannya, dan kamu tidak akan pernah lagi melihat Jaya Indah."


*-*


.


Selamat tahun baru Readers ...


Semoga di tahun ini kita diberikan kesehatan, kemudahan dalam segala urusan dan selalu dalam lindungan-Nya Aamin...


Terima kasih πŸ™ atas dukungan kalian tiga bulan lebih ini untuk One More Chance πŸ˜‰ berkat kalian akhirnya salah satu cerita karangan yang tersimpan dibuku bisa Author bagi-bagikan pada kalian πŸ˜‡ Semoga One More Chance bisa selalu menghibur kalian πŸ˜‡ Aamin...


Dan semoga ditahun baru ini Para Readers semua meninggalkan jejak meski hanya πŸ‘Like tanpa πŸ’¬ Comment atau pun sebaliknya πŸ˜‰ demi mendukung karya Author dan memberi semangat pada Author untuk terus berkarya πŸ˜‡


Terima kasih semua πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™


Love you 😍


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2