
Diruang baca sekaligus ruang gym, yang menjadi kamar Fani selama mereka menginap diluar negri, dan sekarang sementara menjadi ruang introgasi dengan Abra yang menjadi penyidiknya.
Disofa panjang tiga gadis yang bersangkutan duduk, Abra duduk di sofa single dan ke empat pria lainnya berdiri disamping sofa panjang.
Aslan, Regan, Gea, Zia, Emma, Alaric dan Javir.
Mereka bertuju sedang berhadapan dengan Abra yang menatap mereka bergantian dengan tatapan tajam, mengintimidasi dan penuh wibawa.
"Kita bukan klien Ayah yang harus ditatap seperti itu" tergur Regan.
Abra berdecak melirik Regan membuat Regan mengalihkan tatapannya pada lain arah. "Karena kamu yang berbicara lebih dulu maka kamu yang harus menjelaskan terlebih dahulu, ada apa antara kamu dan Emma?."
"Maaf Sir"
Baru saja Abra selesai berbicara, Alaric sudah mengintuksinya. Tatapan mata Abra semakin tajam menatapnya membuat Alaric meringis mengingat tatapan Daddynya jika sedang kesal.
"Kenapa tidak dengan saya lebih dulu?, karena sepertinya saya satu-satunya orang yang tidak tahu apa kesalahan saya."
Abra tersenyum segaris, "tapi kamu adalah kakak Emma, ada pertanyaan lagi?."
"Tidak sir" mulut Alaric yang menjawab, tetapi tangannya menepuk-nepuk puncak kepala Emma memberi ancaman.
Kembali Abra menatap Regan, "jelaskan!" printahnya.
Regan menghela nafas, "apa yang harus dijelaskan Ayah. Ar dan dia tidak ada apapun, tidak ada apapun sama sekali" ucap Regan penuh penekanan.
"Lalu kenapa dia dikamarmu?, kamu loncat dari pagar karena tahu Ayah dan Bunda akan sampai, kamu takut ketahuan tetapi sayangnya kami tiba lebih cepat dari dugaanmu."
"Wah ... Ayah fitnah" seru Regan, "aku dan As membereskan lantai atas, As turun buang sampah dia menarikku masuk kekamar dan ... dan ..."
Secara bersamaan empat orang bertanya padanya penuh penasaran karena Regan terlihat gugup.
"What?" tanya Aslan tidak sabaran.
"APA?" teriak Gea.
"Dan ..." Alaric melirik Emma tajam.
"Lanjutkan!" bentak Abra.
Pada akhirnya Regan menghela nafas menundukkan kepala sebelum mengatakan, "dia mengunci pintu kamar dan kuncina dimasukkan ke ..." tangan Regan menarik kerah baju Aslan memperaktekkan Emma memasukkan kuncinya kedalam bajunya.
Sontak Alaric dan Abra menatap Emma tajam, yang ditatap hanya bersikap biasa saja bahkan tersenyum lebar karena tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Jadi jalan satu-satunya Ar harus loncat, dia maksa mau cium Ar seperti Zia maksa mau cium As" lanjut Regan.
Aslan memukul lengan Regan, sedangkan tang dipukul hanya mengangkat bahu cuek.
Zia menunduk menutup wajahnya dnegan kedua tangannya menahan malu, terlebih semua yang terjadi semalam seakan dengan oomatis berpitar dalam benaknya.
"Kenapa bawa-bawa aku?" tegur Aslan.
"Aku butuh contoh, waktu Zia memaksamu kan Ayah lihat."
Semakin malu Zia, meski dia sudah menutup wajahnya yang memerah, ternyata telinganya juga mulai ikut memerah. Aslan melirik padanya tersenyum kecil melihat tingkah Zia.
"Emma" panggil Abra dengan nada baritonnya menunjukkan ketegasannya, "apa benar yang Ar jelaskan?."
Kepala Emma mengangguk, "yupz ... dia loncat sebelum aku melakukana apapun, hanya memeluk."
"Dia pernah melakukan lebih dari itu, dan ..." Aslan tergagap. "Buka baju tapi kami tidak melihatnya" lanjut Aslan dengan cepat.
"Jika Regan lupa mengunci pintu dia sering nerobos masuk" sahut Javir.
__ADS_1
"Dan terjadi beberapa kali" sambung Alaric.
"Hei ... kenapa kalian memojokkanku" gerutu Emma tek terima.
Abra menghela nafas berat, "dari malam ini Emma tidak boleh menginap" putus Abra.
"No ... kenapa begitu?, bagaimana aku membuat Adam menyukaiku kalau kamu jarang bertemu?" protes Emma.
Javir berdecak, Alaric menepuk-nepuk puncak kepala Emma, Aslan menatap Emma kesal, Regan memutar bola matanya sedangkan Gea terkekeh mendengarnya.
"Tidak dengan menyelinap masuk kekamar Ar, membuka baju dan ... melakukan hal gila" seru Aslan berang.
"Boleh kerumah ini tetapi tidak boleh menginap, atau Daddymu yang akan bertindak" ancam Abra.
Emma berdi dari duduknya menatap Abra sengit, "Ok done" serunya lalu keluar begitu saja dengan kesal.
"Maaf sir" ucap Alaric melihat kelakuan Emma.
Kali ini Abra menatap Alaric, "jika kamu mabuk tidak boleh pulang kerumh ini mengerti?."
Alaric mengangguk, "ya sir" jawabnya tegas.
"Keluar" ucap Abra.
Tanpa disuruh dua kali Alaric keluar daru ruabgan itu, berlari kecil mencari keberadaan Emma.
Didalam ruangan tinggal lima orang yang berada didepan Abra menunggu giliran, meski Regan sudah menjelaskan apa yang terjadi antaranya dan Emma tetapi Abra belum memintanya keluar, yang pasti ada seauatu yang belum selesai.
"Gea"
Namanya dipanggil Gea melihat Abra yang menatapnya tajam namun hangat.
"Ayah tahu apa yang terjadi padamu dan Javir, apa yang membuatmu berubah pikiran dan Ayah mendukung keputusanmu."
Gea melirik Aslan dan Regan yang berdiri disampingnya dengan tatapan curiga.
"Aku ..."
"Kami akan memaafkanmu, tetapi tidak untuk melanjutkan rencana pertunangan kalian" potong Abra tegas.
Javir mengangguk paham.
"Kita hanya sebatas rekan kerja, meski saya adalah teman Ayahmu."
Javir yang berdiri dengan tangan didalam saku mengepalkan tangannya hingga memutih, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya yang dia tidak mengerti sendiri.
"Regan, jangan pernah mengkompori mereka" ucap Abra dengan nada perintah.
"Aku tidak pernah mengompori" bela Regan.
Abra menghela nafas, "jangan pernah mengatakan apapun jika bersangkutan tentang mereka, diam dan bahkan jangan berkomentar."
Regan mengangguk.
"Javir jangan pernah mabuk dan pulang kerumah ini, saya tidak mau Regan terpengaruh sebelum dia cukup umur."
"Baik pak."
"Ar sudah cukup umur Ayah" protes Regan.
Kepala Abra mengangguk sekali, "ya ... kalian bertiga keluar, Aslan dan Zia tetap disini"
Gea merangkul lengan Regan dan mereka berjalan keluar dari sana, Javir yang berjalan dibelakang Gea hanya dapat menghela nafas menatap Gea dari belakang.
__ADS_1
Semua benar-benar berakhir, dia hanya seorang bawahan sekarang, benar-benar tidak ada lagi pelukan telfon yang mengganggunya. Tidak ada lagi kata harapan, karena semua sudah berakhir.
"Zia kenapa ada disini?" tanya Abra.
Zia menatap Abra canggung, "ada pemotretan beberpa hari lalu" jawab Zia lirih.
"Kamu model yang cukup terkenal di negara kita, jangan berfikir jika dinegara orang kamu akan jauh dari isu. Jaga diri baik-baik, jangan pernah berniat menyentuh kehidupan malam. Saya yakin kamu anak baik, jangan melakukan sesuatu yang dapat merugikanmu dan karirmu."
Aslan menatap Zia, gadis itu hanya diam menundukkan kepala dalam.
"As" kali ini Abra memanggil Aslan, "Ayah tidak tahu mau berkata apa tentang kalian, jadi Ayah serahkan padamu larena kamu cukup dewasa untuk menyelesaikannya bukan?."
"Ya" jawab Aslan tegas.
Abra berdiri menatap Zia dan Aslan bergantian, sebelum berbalik bada Abra menepuk pundak Aslan beberapa kali memberi dukungan moral pada anak itu, karena Abra tahu hubungan kekeluargaan mereka tetapi tidak mengerti jika urusan hati keduanya.
*-*
"Excuse me"
Zahra yang baru saja membuang sampa menoleh kearah pagar rumahyang ternyata seorang pria berhoodie berdiri menatapnya.
"Ya" sahut Zahra berjalan mendekat.
"Can i leave this for mr adam?" pria itu menjulurkan amplop putih pada Zahra.
"Oh yeah..." Zahra mengambil amplop itu, membolak baliknya tidak ada nama oengirim membuat kening Zahra mengerut, "who sent it?."
Pria itu tersenyum misterius, "from the cossmoss, thank you" ucapnya dan pergi begitu saja.
Zahra menatap aneh pada pria itu, barjalan masuk kedalam rumah dan melihat Regan baru keluar dari ruangan tempat Abra menyidang anak-anak.
Tanpa tahu jika Adam yang dimaksuda adalah Abra, Zahra berjalan menghampiri Regan dan dan menjulurkan amplop ditangannya.
"Dari siapa?" tanya Regan.
"Katanya dari the Cossmoss untuk kamu" ucap Zahra, "mereka memanggilmu Mr Adam ya?."
Alaric yang meminum jus berhenti melirik amplop yang ada ditangan Regan. "Ar" panggilnya lirih.
Mengeriti jika Alaric bukan memanggilnya tetapi sebuah peringatan, Regan bersikap tenang tersenyum pada Zahra.
"Ya, karena nama Ar terlalu panjang" kilahnya, "ponsel Ar ketinggalan diruang baca."
Regan kembali berjalan hendak menghampiri Abra, tetapi Abra sudah lebih dulu keluar dar ruang baca, tangan Regan menyeret Abra keluar dari rumah.
Zahra yang melihat mereka mengerutkan kening curiga dengan gerak gerik Ayah dan anak itu, seakan menyembunyikan sesuatu darinya, pasti ada masalah diantara mereka.
*-*
.
Hayu Readers jangan lupa tinggalkan jejak demi mendukung karya Author terimut sedunia ini ya 😉
Terima kasih ... 🙏
Tiap hari sudah setiap menunggu updatean
One More Chance
Tapi jangan lupa 🌟 🔖 🎁
💖 👍 and 💬
__ADS_1
Love You 😘
Unik Muaaa