One More Chance

One More Chance
Semoga


__ADS_3

Sebenarnya sejak Zahra dan Regan datang Kakek Arya sudah tersadar, tetapi beliau tetap memejamkan mata hanya mendengarkan dan mereka-reka apa yang terjadi di sekitarnya.


Abra tertidur disofa, setelah Abra mulai tenang, Ibnu membantu Zahra membaringkan Abra di sofa.


Zahra sendiri tidur duduk dikursi dengan kepala dipinggir kasur Kakek Arya, Gea dan Regan pulang kerumah Kakek Arya.


Tangan Kakek Arya mengelus kepala Zahra yang tertutup hijab, membuat Zahra terbangun dari tidurnya.


"Opa sudah bangun?," tanya Zahra lirih.


Kepala Kakek Arya mengangguk.


"Syukur lah ... Opa mau apa?, mau minum?."


Kepala kakek Arya menggeleng.


Zahra menyentuh tangan Kakek Arya dan mengelusnya lembut. "Kalau ada yang dibutuhkan bilang sama Zahra, jangan sungkan."


"Kamu tidur lagi saja," ucap Kakek Arya serak dan lemah.


Zahra menganggukkan kepala "Iya"


Kakek Arya melirik Abra yang tertidur disofa. "Ini pertama kalinya dia masuk kedalam rumah sakit setelah kepergianmu, terima kasih dan maafkan Abra ya?."


Zahra tersenyum kecil, "Opa istirahat, besok Regan dan Gea kesini."


Mengerti jika Zahra tidak mau membahasnya, Kakek Arya mengangguk paham.


*-*


"Kakek belum bangun?," Gea menatap Kakek Arya yang masih memejamkan mata.


Regan meliriknya tidak suka, Gea memang cantik dan pintar, tetapi dia terlalu manja dan cerewet, Regan tidak suka. "Cerewet" guma Regan mendapat pelototan dari Gea.


"Gea cuma nanya," ucap Gea sewot.


"Udah tahu nelum bangun masih tanya, meragukan kalau kamu ternyata bisa lulus SD."


"Kok bilang gitu?."


Pegan hanya mengangkat bahu dan berjalan duduk di sofa single disamping sofa panjang yang ditiduri Abra.


"Gea hanya memastika Kakek Arya benaran sudah sadar dari komanya enggak," bela Gea.


"Yang harus dipastiak itu dia," Regan menunjuk Abra. "Dia sebenarnya tidur, pindan atau bahkan koma?, dari kemarin gak bangun-bangun."

__ADS_1


Plak....


Gea memukul lengan Regan kesal. "Jangan lancang Kak Regan."


Mata Refan menatap Gea dingin.


"Baru saja ditinggal sebentar sudah ramai," tegur Zahra yang baru keluar dari dalam toilet.


"Bisa gak kalian diam," kali ini Abra yang bersuara.


Keduanya menoleh pada Abra yang masih memejamkan mata. Sejak mereka verdia masuk sebenarnya Abra sudah bangun, tetaoi mendengar Zahra akan ketoilet Abra tidak berani membuka matanya.


"Anda muali tadi pura-pura tidur ya?," tebak Regan menatap Abra sinis.


"Ayah gak merasa sesak lagi?," tanya Gea khawatir.


"Kamu lihat gak sih dia baik-baik aja."


"siapa tahu Ayah ...."


"Diam!," desis Abra penuh tekanan.


Abra duduk menatap mereka berdua bergantian. "ini rumah sakit, bisa gak jangan ribut?."


Jangankan Abra, Zahra saja ingin rasanya memarahi mereka berdua.


Sedangkan Kakek Arya tersenyum menatap mereka ber empat. Tanpa sadar air mantanya menetes.


"Kakek bangun ...", seru Gea berlari menghampiri Kakek Arya.


"Jangn lari, udah bilang ini tuh rumah sakit" Regan menegur Gea dengan nada dinginnya.


"Biarin," Gea memeletkan lidahnya.


"Gea," tegur Abra dengan suara beratnya.


Gea memonyongkan mulutnya pada Regan.


"Kenapa kalau Regan ada disini kamu malah ngajakin dia berantem?," tanya Kakek Arya serak.


Gea terkekeh kecil.


"Sudah makan?."


"Belum," jawab Gea dengan mimik sedihnya. "Kak Regan tadi keburu mau kesini, jadi gak sempat makan."

__ADS_1


Regan membuka tasnya mengeluarkan beberapa kotak dari tasnya, Zahra berjalan menghampirinya duduk disebelah Regan. "Bawa bekal?, kenapa sama piring-piringnya dibawa?."


Bukan hanya piring, Regan juga mengeluarkan sendok dan tiga bolot air minum dari tasnya.


Gea menoleh dan berjalan cepat kearah Regan. "Kapan nyiapin ini semua?," Gea duduk di sebelah Abra didekat Regan. "Kenapa Gea gak tahu?."


Regan menoleh menatapnya. "Kerjaanmu kan tidur terus" sindir Regan.


Diperjalanan pulang kerumah Kakek Arya, Gea tidur dimobil, meski tadi subuh Regan mengetuk pintu kamarnya, tidak ada sahut dari dapam kamar Gea.


Kali ini bukannya merasa kesal Gea malah menyengir.


"Regan masak sambil dibantu mbak-mbak disana, Regan gak suka makan sendiri." Regan membuka tutup setiap kotak dibantu Gea yamg membuka kotak yang lainnya. "Kalau ada makanan garcep, dia ajak masak gak bangun bangun."


"Iya maaf," sahut Gea. "Piringnya kenapa tiga?."


"Karena aku disuapi Bunda."


Jawaban Regan yang santai membuat Gea melongo, bahkan Abra juga menatapnya tidak percaya.


"Kamu udah besar" tegur Abra.


"Memangnya kenapa?."


"Ya gak boleh lah kak Regan," Gea memberikan pirin ditangannya pada Zahra.


Regan mengambil piring dari tangan Gea dan meletakkannya di atas meja didepan Abra. "Siapa yang ngelarang?, kenapa kalian yang protes?, Bunda aja gak masalah kok." Melihat Zahra yang hanya tersenyum membuat Gea mendumel. "Kakek kalau mau makan nunggu makanan dari suster, kita makan dulu."


Kakek Arya mengangguk mengiyakan.


Selama makan Regan dan Gea terkadan terlibat perdebatan kecil, Zahra dan Abra menjadi penengah mereka.


Melihat mereka berempat bersama memghangatkan dada Kakek Arya. Meski Gea dan Regan berdebat, sebenarnya mereka saling mencoba menyesuaikan diri masing-masing.


Do'a Kakek Arya hanya satu semoga mereka bisa bersama hanya itu tidak ada yang lain lagi untuk kali ini.


*-*


.


.


.


Unik_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2