
Malvin baru sampai dibandara dengan Resa dan Bela. Javir yang sejak tadi menunggu mereka melambaikan tangan sambil berlari.
Resa membalas lambaian tangan Javir berlari cepat kearah Javir membuat Javir mempercepat langkahnya sebelum terjadi sesuatu padagadis kecil itu.
"Resa" tegur Bela melihat kelakuan anak gadisnya.
"Jangan lari-lari ...."
"Ahh ... Resa kangen."
Javir tidak melanjutkan omelannya selelah Resa menubruk tubuhnya, memeluknya erat.
Tubuh Resa yang sudah setinggi dadanya memudahkan Javir menciumi puncak kepala Resa. "Adek sudah tinggi ya" Javir membalas pelukan Resa.
Kepala Resa mengangguk dalam pelukannya. "Kakak jarang pulang jadi gak tau Resa sudah besar." Resa mendongakkan kepala menatap Javir dengan mata berbinar. "Kita akan tinggal bersama lagi kan?, aku gak mau pinda ke Jakarta kalau kakak gak tinggal satu rumah dengan kami."
Javir tersenyum melirik Malvin sebentar. "Ok, tapi kalau sabtu dan minggu kakak gak bisa karena kerja part time."
Resa memonyongkan bibirnya lalu mengangguk setelah berfikir sejenak.
*-*
Dikediaman Abra.
Mereka baru masuk kamar dua jam yang lalu setelah semua sudah selesai di packing, dan dia baru tidur setengah jam lalu tetapi hpnya terus saja berbunyi menggnggu tidurnya.
Tangan Abra meraih hpnya sedikit menggeser tubuhnya.
"Eemm...."
Zahra yang tidur dilengan Abra merasa tidurnya terganggu karena pergerakan Abra, Abra mengelus rambut Zahra menangkannya sebelum mengangkat panggilan masuk di hpnya.
"Ya siapa?"
Mata Abra masih terpejam tidak mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Ini saya pak, Wawan."
Seketika mata Abra terbuka mendengar nama Wawan salah satu karyawan di perusahaan Papa Vira.
"Katakan ada masalah apa?"
Abra mendengarkan dengan cermat apa yang dikatakan Wawan disebrang sana sembari menatap Zahra yang tertidur meringkuk memeluknya.
"Saya akan tiba disana sejam lagi, lakukan semaksimal mungkin, saya akan mencoba membantu."
Tanpa mengucapkan salam Abra memutuskan komunikasi mereka.
Tangan Abra menepuk pipi Zahra membangunkan wanita itu, meski sebenarnya Abra tidak tega tetapi dia harus melakukannya.
"Sayang ... Ara ..."
Bukan hanya membangunkannya dengn menepuk pipi Zahra, Abra juga mencium kening Zahra mengganggu tidur wanita itu.
"Eemm... Apaan sih masih ngantuk." Zahra mendorong Abra menjauh dan kembali meringkuk.
"Aku harus ke perusahaan Papa Vira, ada beberapa hacker yang mencoba membobol keamanan perusahaan."
__ADS_1
Kaki Zahra menendang-nendang udara kesal, dia baru saja tertidur.
Dengan Malas Zahra duduk diatas kasur memperhatikan Abra yang sudah berganti baju tidurnya dengan kaos dan kembali duduk diatas kasur disamping Zahra.
"Aku butuh Ar" ucap Abra pelan mencoba meminta izin. "Boleh kan Ar membantuku?, hanya kali ini setelah itu aku pastikan Ar tidak lagi menjadi hacker."
Pada awalnya mata Zahra memicing sinis sebelum akhirnya mengangguk lemah mengiyakan.
"Kalau begitu aku minta tolong bangunkan Ar dan buatkan kopi, aku harus mencuci muka dulu menghilangkan kantuk."
Kembali Zahra mengangguk membuat Abra tersenyum dan mencium keningnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Dia masih mengantuk, membuat Abra harus mencuci wajahnya dengan Air dingin, memijit-mijit pelipisnya yang mulai berdenyut dan memukul-mukul pipnya pelan.
Abra keluar dari kamar mandi membuka Ig hendak meminta bantuan Nanda dan terdiam melihat story Malvin yang muncul begitu saja, dia tersenyum dengan cepat menelfon Malvin.
"Aku butuh bantuan kamu di perusahaan Papa Vira, aku akan membayarmu dua puluh juta jika selesai malam ini juga, setengah jam lagi aku sampai disana."
Tidak menunggu tanggapan Malvin, Abra langsung memutuskan komunikasi dan berjalan cepat keluar kamar.
Regan baru turun dari lantai atas dengan tas yang dia gendong.
Tidak ada sapaan diantara mereka, Abra berjalan melewatinya menuju dapur menghampiri Zahra.
"Minum kopinya dulu, sudah aku pastikan tidak begitu panas. Bawa termos diatas meja itu, itu juga kopi dan ini didalamnya ada roti siapa tahu kalian kelaparan." Zahra menyerahkan sekantomg pelastik roti pada Abra.
Abra meminum kopinya, mengambil kantong pelastik itu mencium kening Zahra. "Kami pergi, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Jangan berdebat dan bekerja saja yang benar."
Regan mengangguk merespon nasehat Zahra dengan lemah.
*-*
"Sejak jam sebelas hp saya berbunyi peringatan ada yang sedang mengutak atik sistem keamanan jadi saya langsung kekantor."
Wawan kembali menjelaskan apa yang terjadi, tetapi kali ini dia menjelaskannya pada Malvin yang duduk didepan komputer diruangannya dan Regan yang baru saja duduk disofa membuka leptop yang dia bawa.
"Siapa yang membuat sistem keamanan ka ...."
"Saya" potong Regan sebelum Malvin selesai bertanya pada Wawan. "apa anda sudah mencoba menghentikannya?" tanya Regan pada pak Wawan.
"Awal saya datang saya mencoba menghentikan mereka lalu karena saya takut dan panik saya mencabut kabel komputer."
Regan mengangguk membenarkan tindakan Wawan sebelum membuka leptop yang dia bawa dan meregangkan jemarinya.
"Saya akan menyalakan komputer, apa kamu siap menyeimbagi saya?" tanya Malvin memastikan.
Regan memiringkan kepalanya lalu tersenyum sinis. "Entahlah saya kam masih green hacker."
Malvin berdecak sembil melirik Abra yang berdiri tidak jauh dari Regan.
Decakan Malvin bukan karena meremehkan Regan, tetapi dia berdecak karena Regan masih saja mengingat sindirannya yang mengatainya Green Hacker di depan sekolah mereka di Madura.
"Mereka bukan Hacker tapi Cracker." Malvin memperhatikan setiap tulisan yang muncul dilayar komputer didepannya.
__ADS_1
"Oh ... si perusak" Regan tersenyum misterius. "Mari basmi mereka" seru Regan kegirangan.
Abra duduk disebelah Regan menatap Regan yang sedang menatapi layar komputernya, tangannya yang lincah menekan setiap tombol keybord didepannya.
Sesekali wajah Regan tersebyum sinis, menatap layar komputernya dengan tajam dan terkadang mendengus. Hal yang sama juga terjadi pada Malvin.
Tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya suara keybord komputer Malvin dan leptop Regan yang terdengar. Wawan, Abra dan Javir yang baru saja datang memasuki ruang Wawan hanya diam memperhatikan mereka bekerja.
*-*
Mobil yang tidak lagi asing membelah kerumunan karyawan yang berdiri didepan prusahaan PT Indra Jaya. Direktur perusahaan mereka baru saja datang dengan mobil mewahnya.
Papa Vira keluar dari dalam mobil menatap satu persatu karyawan yang masih berdiri didepan perusahaannya.
"Kenapa kalian diluar?, ini sudah jam masuk kantor." Berliau bertanya sambil melangkahkan kaki menghampiri satpan yang menjaga pontu masuk.
"Selamat pagi pak Jaya" sapa seorang satpam.
Jaya, Papa Vira hanya mengangguk tanpa membalas sapa bawahannya. "Ada apa ini?."
"Sejak semalam Pak Wawan dan Pak Abra didalam pak, dan kmai diperintahkan untuk melarang karyawan untuk masuk selama beberapa jam kedepan samapi mereka memberi perintah untuk masuk."
Wajah Pak Jaya berubah penuh emosi, bagaimana bisa Wawan dan Abra berani mengambil alih kantornya.
Dia menerobos masuk tanpa mendengarkan larangan satpam dan para karyawan lainnya. Melangka dengan lebar menuju ruangan Wawan tanpa mengetuk pintu dia membuka pintu dengan kasah hingga terdengan bunyi bantingan keras.
"Wawan ada pa sebenarnya?" tanya Pak Jaya dengan suara menggelegar.
Javir yang tertidur di sofa terbangun dengan kaget.
"Bisa kondisikan?" pinta Regan dengan suara lirih pada Abra tanpa mengalihkan oerhatiaanya pada layar leptopnya.
Abra yang mengerti maksud Regan tanpa banyak bicara menghampiri Pak Jaya. "Bisa anda tenang dulu?, saya akan jelaskan nanti setelah semua selesai" ucap Abra selirih mungkin.
"Tidak bisa!" seru Pak Jaya . "Saya tidak akan mem...."
"APA ANAD TIDAK BISA DIAM?" teriak Malvin murka konsentrasinya terganggu. "Kalau anda tidak bisa diam kami akan biarkan Cracker menghancurkan perusahaan anda." Dengan pehuh ketegasan dan tatapan mengintimidasi Malvin berhasil membungkam Pak Jaya, Papa Vira.
*-*
.
Terima kasih
Sudah mampir dan memberi dukungannya π
π Baca π Favoritin
πLike and π¬ Komen
Akan selalu saya usahakan Update tiap hari agar bisa mengisi waktu senggang dan menghibur para Readers
Love You π
.
Unik_Muaaa
__ADS_1