One More Chance

One More Chance
Jajan di luar


__ADS_3

Mereka baru saja sampai jam tujuh pagi, Abra langsung bergegas kekamarnya untuk mandi. Zahra yang melihat itu hanya menatapnya dalam diam.


Selama perjalanan Abra dan dia berbicara seperlunya saja itupun hanya untuk keperluan Chaka dan Bilqis. Selebihnya Abra memejamkan mata entah itu tidur atau hanya memejamkan mata Zahra tidak tahu.


"Ayu" panggil Zahra sambil berjalan mendekati Ayu yang menurunkan koper mereka.


"Iya Bun" Ayu juga melangkah mendekati Zahra dan Bilqis.


"Minta tolong jaga Bilqis dan Chaka ya, ajak yang lain yang ganggur juga terserah siapa. Fani sepertinya harus istirahat karena jetleng, saya mau nemenin Bapak dia buru-buru kekamar takut ada apa-apa."


"Iya Bun, biar saya dan Tutik yang jaga anak-anak, Bunda dan Bapak istirahat saja" ucap Ayu kegiranga.


Ayu dengan senang hati mengambil Bilqis dari gendongan Zahra, lama tidak bertemu Bilqis dan Chaka para pelayan dirumah kangen kekehan si kembar, pasti Ayu akan dibantu menjaga si kembar dengan semua pelayan disana.


Zahra membuka pintu kamar, terlihat Abra baru saja keluar dari kamar mandi dengan pinggang dililit handuk dan dada shirtless.


Perlahan Zahra membuka pintu lemari, "mau pakai baju tidur atau kaos?" tanyanya.


"Tidak aku kekantor sekarang"


Tangan Zahra yang sedang mencari kaos Abra terhenti mengambang di udara. Diam-diam Zahra menghela nafas sebelum berbalik menghada Abra.


"Kita baru samapai, gak istirahat dulu?"


"Enggak, kerjaan pasti sudah menumpuk."


Kepala Zahra mengangguk hanya pasrah dan memilih kemeja, jas serta dasi Abra diletakkannya di kasur.


Mereka didalam ruangan yang sama tetapi tidak banyak bicara sepeti biasanya dan Zahra tidak berani untuk bertanya mengapa, karena dilihat dari wajah Abra dia sedang tidak ingin diganggu.


Zahra mengambil dasi Abra, naik keatas dingklik dan mulai memasang dasi Abra dilehernya, biasanya Abra akan memandangnya, tetapi kali ini wajah Abra menatap kelain arahnmembuat Zahra menggigit bibir bawah bagian dalamnya.


"Terima kasih" ucap Abra mengelus rambut Zahra sebelum berbalik mengambil tas kerjanya.


Zahra mengulum bibirnya berjalan mengikuti Abra keluar dari kamar.


"Mau sarapan?" tawar Zahra.


"Enggak" tolak Abra.


Tangan Zahra langsung menarik pergelanagn tangan Abra, "kamu dari tadi gak makan loh dipesawat."


"Nanti pesan online" Abra menarik tangannya pelan.


Zahra mematung ditempatnya, Abra masuk kedalam kamar Bilqis dan Chaka mencium mereka bergantian.

__ADS_1


"Aku pergi, Assalamu'alaikum"


Zahra dengan cepat meraih tangan Abra bersalaman sebelum Abra berjalan melewatinya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Zahra serak.


Zahra yang mengekori Abra dari belekang mengedip-ngedipkan mata.


Bahkan saat Abra masuk kedalam mobil tanpa mencium keningnya membuat mata Zahra semakin berkaca-kaca.


*-*


"Lo ngantor nyet?" tanya Sam disebrang.


"Hemz ..." jawab Abra tak semangat.


Terdengar decakan Sam disebrang, "lo gila baru sampai langsung ngantor?."


Abra tidak menjawabnya dia hanya menatap sekelilingnya dengan senyum mengembang lalu melakukan kiss bye dan melambaikan tangan.


"Jangan bohong deh lo, Om Ibnu bilang lo gak ada dikantor, untung Zahra nelpon gue duluan, tanya lo udah makan atau belum. Kalau tanya Om Ibnu terus bilang lo gak ad dikantor gimana?."


Abra diam kembali memejamkan matanya karena mendengar omelan dari Sam bahkan membawa nama Zahra.


Benarkan Zahra menelfon Sam?, apa Zahra khawatir padanya?, atau hanya akal-akalan Sam saja karena dia tahu dia dan Zahra masih belum sepenuhnya saling bicara.


Abra menghela nafas menatap kesekitarnya, "gue lagi tiduran, habis jajan diluaran nikamatin hidup."


Setidaknya untuk mencari pelarian dia harus bersenang-senang dan menikmati hidup walau sebentar bukan.


Hening tidak ada sahutan dari Sam, membuat Abra mengerutkan kening karena omelan Sam seakan tertelan bumi.


"Ternyata jajan diluar memang bisa ngilangin setres ya, sekalian sambil bantuin orang tidak mampu. Sebelum pulang gue mau jajan dulu sampek puas. Kapan lagi gue ..."


"Lo gila siang bolong jajan diluar sedangkan istri lo dirumah nunguin lo lo anggurin gitu aja apa lo punua otak? HaH!" Sam mengomel tanpa bernafas dan membentak Abra diakhir kalimat.


Abra menjauhkan hpnya dari telinganya dan menatap hpnya mengerjap-ngerjapkan mata tak mebgerto kenapa Sam membentaknya.


"Mereka ngajajah bukan berarti gak punya uang kekuaranga juga enggak tapi emang males aja kerja apa lo gila Istri lo khawatirin lo dirumah nanya lo udah makan belom lo malah kelayapan jajan diluaran ..."


Abra kembali mendekatkan hpnya ketelinga, disebrang Sam masih belum berhenti mengomel yang tidak dapat Abra pahami apa yang dimaksud Sam. Kesal Abra memutuskan sambungan telpon mereka dan kembali memejamkan mata.


Abra sedang berada didalam mobilnya yang terparkir didepan sekolah SD, perutnya sudah kenyang karena mulai tadi membeli makanan yang dijual sepanjang jalan didekat SD itu.


Bahkan Abra memborong satu gerobak pentol goreng dan sosis untuk dibagikan pada anak-anak SD dan guru-guru yang ikut nimbrung geratisan.

__ADS_1


"Mau kemana lagi?" tanya Abra pada diri sendiri.


Abra mengambil hpnya dan mencoba mengecek film apa yang sedang diputar di bioskop hari ini mungkin saja.


*-*


Langkah Malvin terhenti sebelum melangkah dengan cepat kearah meja makan.


"Lo ngapain malem-malem udah disini?" tanya Malvin.


"Papa" tegur Bela.


Bagaimana tidak membuat Malvin bertanya-tanya, Abra berada di rumahnya tanpa memberi tahunya terlebih dulu sudah duduk di kursi yang biasa dia duduki.


Tangan Abra melambai padanya, "halo gue ada perlu tapi ayo duduk makan gue laper."


Bela yang mendengarnya tersenyum, sedangkan Malvin mendengus kesal, yang punya rumah siapa dan siapa yang mempersilahkan makan.


Selesai malan Abra dan Malvin langsung masuk kedalam ruang kerja Malvin. Abra duduk di sofa mengeluarkan dua kotak beludru dari saku jasnya meletakkannya diatas meja.


"Pasang alat pelacak kayak di cincin Zahra tapi pakai yang canggih, gue gak mau yang harus lima kilo baru bisa terdeteksi."


Belum juga Malvin duduk Abra sudah nyerocos lebih dulu tanpa bilang tolong sebelumnya membuat Malvin berdecak kesal.


Malvin membuka kotak itu, dua kaling yang sama hanya berbeda ukuran tanpa bandul.


"Gue cek dulu punya bandul kalung enggak"


Abra mengangguk, dia menyenderkan kepalanya kesandaran sofa, menengadah sambil memejamkan matanya.


Mata Abra terasa panas saat dipejamkan, bahkan belakang kepalanya juga terasa nyut-nyutan, dia benar-benar butuh istirahat.


Malvin menatap Abra dari meja kerjanya, jika saja Abra tidur dia akan membiarkannya, kantong mata Abra sangat jelas terlihat, dia tidak tahu terakhir kali Abra tidur kapan.


*-*


Si ReQi kembali lagi dengan judul yang baru dan perombakan cerita 70% ya 😆 judulnya kali ini ReBel : Raja Series 1 😇 *Mohon dukungannya ya 🙏


Terima kasih sudha mampir dan memberi dukungan untuk* One More Chance *😉


Kalian aku tunggu di* ReBel *juga ya 😉


Terima Kasih 🙏


Salam hangat 😍

__ADS_1


Love you 😙* Unik Muaaa


__ADS_2