One More Chance

One More Chance
Pulang


__ADS_3

Gea yang lebih banyak kalem dan tidak manja seperti dulu membuat Abra bingung mau bersikap bagaimana. Bahkan Gea selalu bersikan seakan dia sudah dewasa dan melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan orang lain, Abra merasa kehilangan Gea tetapi kembali keawal Abra bingung mau bersikap bahaimana.


Bahagia melihat anak yang mulai dewasa? pasti, tetapi juga merasa kehilangan karena rumah tidak ada suara teriakan, tawa dan pelukan manja setelah dia pulang kantor.


"Em ... Ayah mau menjemput Bunda dan Regan ke Mandura, Gea mau ikut?" tawar Abra.


Kepala Gea menggeleng. "Tidak, Gea tunggu disini saja."


Abra menghela nafas, meletakkan sendoknya dan meminum air sebelum mulai berbicara serius dengan Gea.


"Ada masalah?."


Kepala Gea kembali menggeleng.


"Gea" panggil Abra secara tidak langsung meminta Gea menatapnya. "Lihat Ayah sekarang" perintahnya tegas.


Gea dengan patuh menoleh pada Abra.


"Masih mau menjadi anak Ayah?" tanya Abra dengan tatapan serius.


Kepala Gea mengangguk pelan.


"Mau menjadi anak Bunda Zahra?."


Kali ini Gea mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Ayah tahu Gea sedang menyembunyikan sesuatu, mau bicara pada Ayah atau Bunda?."


Kepala Gea kembali menggeleng dengan air mata yang mulai menetas.


Abra menghela nafas berdiri menepuk puncak kepala Gea. "Selesai makan packing lalu kita berangkat ke Madura hari ini juga."


*_*


"Semua sudah kamu uruskan?."


Aslan mengangguk menjawab pertanyaan wanita yang sudah berumur didepannya.


Selang beberapa hari setelah Zahra dan Regan pulang, Aslan juga ikut pulang kekampung halamannya untuk mempersiapkan berkas-berkas yang dia perlukan untuk kuliah diluar negri.


"Jangan lupa jaga diri dinegri orang, jangan lupa sholat dan jangan sampai terpengaruh pergaulan mereka, jangan mengecewakan Ibu ya Aslan."


Ya, wanita yang sudah berumur itu adalah wanita yang selama dua puluh tahun ini dia panggil Ibu sebelum dia mengetahui jika dia bukan bagian dari keluarga mereka.


"Jangan lupa pulang kalau sudah sukses, terlepas dari apapun kamu tetap keluarga kami." terdengar suara dari arah tangga.


"Jumlahnya gak seberapa, tetapi bisa buat kamu makan pizza satu loyang di sana." Wanita yang selama ini Aslan panggil Kak Tika datang menjulurkan amplop padanya. "Kamu ngasih tahu kenapa mendadak begini?, kalau tahu kamu dapat beasiswa keluar negri Kakak tidak akan menyetujui Zian kuliah di Jakarta. Lebih baik dia satu sekolah lagi dengan Sean."


"Zian bukan anak kecil lagi" Zian baru turun dari lantai dua, menghampiri Ibunya Tika dan neneknya untuk bersalaman.


"Mau kemana?" tanya Tika.


"Zi berangkat sekarang."


"Kenapa gak dengan Uncle?."

__ADS_1


Zian melirik pada Aslan yang duduk tidak jauh darinya menatapnya sejak tadi. "Enggak, Zi nanti sore ada pemotretan. Zi berangkat Assalamu'alaikum."


Aslan menjawab salam Zian dalam hati, dia menatap gadis itu yang terus berjalan tanpa menoleh lagi.


"Anak itu pulang kemarin bilang mau balik ke Jakarta nanti tengah malam, kenapa malah berangkat pagi?." Gerutu Tika dengan wajah khawatir.


"Kadang pemotretan gak tentu Kak, kan tergantung fotografer juga." Aslan mencoba menenangkan.


"Kamu kuliah tetap ngambil jurusan fotografer?."


Pertanyaan Ibunya membuat Adalan terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepala dengan memaksakan menunjukkan senyum segarisnya. "Enggak, As kuliah jurusan menejemen dan bisnis."


Wajah Ibu Aslan berubah, dia menatap Aslan mencoba mencari kesungguhan dalam perkataan Aslan barusan.


Aslan mengangkat kepalanya dan tidak sengaja mata mereka saling bertatap, perlahan Aslan tersenyum, meraih jemari Ibunya dan menggenggamnya erat. "Aslan udah pikirkan ini matang-matang."


Aslan sudah memikirkan tawaran Abra untuk jurusan yang harus dia tempuh jika ingin kuliah keluar negri, dengan kata lain dia harus mengubur cita-citanya sebagai fotografer.


*_*


"Bunda dan Regan beneran mau pindah ke Jakarta ya?."


Entah itu pertanyaan keberapa kali yang didengar Zahra dan Regan dari Rio, Gana dan Mila sejak minggu lalu mereka datang.


"Regan jadi keluar negri?" dan itu juga pertanyaan yang entah keberapa kalinya.


Seminggu penuh mereka menginap dirumah Zahra, makan, tidur, bermain dan melakukan segala hal bersama.


Kedua orang tua mereka terkadang juga seharian disana, tidak ada yang mengajak pulang anak mereka karena mereka tahu seberapa dekat mereka berempat.


"Semua harus sukses ya, kuliah yang bener janji sama Bunda dan Ar" Zahra menatap mereka satu persatu.


"Kalau kita sukses, Bunda dan Regan pulang ya kerumah kita satu-satu."


Ucapan Gana yang polos membuat dia tersentuh membuatnya mengelus rambut Gana dengan sayang yang sibuk menata piring untuk makan malam mereka diatas tikar.


Tok tok tok ....


Mereka saling pandang satu sama lain, hingga Mila yang pertama kali melangkahkan kakinya membuka pintu rumah.


"Aahh...."


Teriakan melengking Mila membuat semua berlarian menuju ruang tamu.


"Kenapa Mil?" Gana yang berdiri lebih dulu disamping Mila.


"Hai!" Gea mengangkat tangannya menyapa Gana. "Masih ingat?."


"Ya" Mila berseru sambil tersenyum lebar.


Zahra yang melihat Gea dan Abra hanya menghela nafas sudah mengetahui kenapa alasan mereka menyusul dia dan Regan, karena seharusnya kemarin dia dan Regan sudah pulang kembali ke Jakarta.


"Kenapa anda selalu datang saat kita mau makan?" pertanyaan yang di lontarkan Regan membuat semua menoleh padanya.


Zahra memelototi Regan. "Ar" tegurnya.

__ADS_1


"Iya juga ya" Gana mengangguk membenarkan.


"Karena Ayah tidak mau membuang waktu berebutan chicken wings" Gea mendekati Zahra dan meraih tangannya untuk bersalaman.


"Ya udah ayo masuk makan" ajak Zahra menarik tangan Gea masuk kedalam rumah.


"Kita makan duduk ditikar karena semua barang-barang sudah dijual tinggal kasur Bunda dan punyaku."


Abra dan Gea tidak mengatakan apapun, mereka berdua yang lebih dulu duduk diatas tikar, bahkan dengan sigap Abra mengambil piring dan dua sayang ayam diatas piringnya membuat para anak-anak gerasak gerusuk duduk melingkar.


Selama makan Abra selalu melirik pada Zahra dan menatap satu persatu wajah Regan, Gea dan taman-teman Regan yang begitu menikmati makan mereka dengan canda tawa.


Impiam Abra dulu, dia memiliki banyak anak dengan Zahra, mungkin jika saja tidak ada perpisahan antara mereka, sekarang mereka sudah memiliki keluarga besar dengan empat atau lima anak seperti sekarang.


"Wah ... berarti sebenarnya Gea juga punya perusahaan kayak Arz?" tanya Mila menatap Gea takjub.


"Ar bukan Arz" tegur Abra.


Mila melirik Abra sinis. "Anda yang kebingungan antara Arz dan As kenapa kita yang ikutan panggil Ar?."


"Bukan hanya kebingungan" sahut Zahra.


"Karena saya tidak setuju nama Zero dari dulu" Abra juga ikut menyahut.


Mereka semua mengerutkan kening menatap Abra penuh tanya.


Abra yang merasakan tatapan mata semua tertuju padanya berhenti makan dan menatap Zahra yang terus saja melanjutkan makannya tak merasa terganggu.


"Zeroun kan artinya bagus bijaksana." Regan bertanya dengan tatapan penuh selidik.


Abra melirik Zahra. "Bukan karena arti, dia menyukai nama Zero karena film Jepang."


Perkataan Abra membuat mereka memutar kepala melihat Zahra.


Yang menerima hujaman tatapan dari para anak-anak mah menyengir.


"Jika bisa saya akan menghapus nama Zeroun" ucap Abra tegas.


"Enggak, dia sudah mempunyai nama Adam sesuai keinginanmu" elak Zahra.


"Tetapi kamu memperkenalkan dia dengan nama Regan nama pilihanmu."


"Dua nama pilihanmu aku jadikan namanya Adam dan Ganendra, jadi aku juga berhak kasih dia dua nama."


"Tapi gak Zeroun juga Ara, Zero sama Firaun kamu satuin."


"Gak gitu, siapa yang ...."


Regan, Gea, Mila, Rio dan Gana, para anak-anak menghela nafas dan kembali makan tidak menghiaraukan pertengkaran Zahra dan Abra.


*-*


.


.

__ADS_1


.


Unik_Muaaa


__ADS_2