
Kakek Arya nanatap dingin wanita didepannya. Sudah bertahun-tahun menghilang sekarang datang lagi, dan dia selalu melakukan hal itu berulang-ulang. Pada awalnya dia menghilang selama setahun tiba-tiba datang hanya beberapa hari dan pergi bertahun-tahun lagi. Sekarang dia pergi hampir lima tahun entah berapa hari dia disini.
"ada apa?" tanya Kakek Arya dingin.
Dia tersenyum lebar "saya datang sebenarnya sudah...".
"Vira, saya tidak bertanya kamu datang kapan" potong Kakek Abra tegas.
Sontak Vira terkesiap, lalu menyengir menyembunyikan ketakutannya. Kakek Arya memang sudah sangat Tua, tetapi jangan ditanya seberapa berkuasanya dan menakutkannya beliau, Vira sudah merasakan imbas dari menyepelekannya.
"Saya kerumah Abra, tetapi Gea dan Abra tidak ada dirumah" cicit Vira.
Kakek Arya diam dengan tenang.
"mereka kemana?, Mbak dan Emak gak tau. katanya sudah berhari-hari gak pulang".
"sekarat".
"hah?" Vira mendapatkan pelototan tajam dari Kakek Arya. "maaf, sekarant mereka kenapa?, kecelakaan?".
"tidak, mereka sekarat karena kelakuanmu".
Bukan merasa tersindir Vira mara tersenyum malu-malu.
"Apa kamu merasa bangga dengan apa yang kamu lakukan?" bentak Kakek Arya dengan suara seraknya.
Seketika Vira kembali menciut.
"sudah saya katakan berulang kali, sebelum melakukan sesuatu berpikir berkali-kali. Sadar diri jika otakmu otak udang jadi jangan melakukan segalanya hanya dengan sekali berfikir".
Setiap kali mereka bertemu Kakek Arya selalu mengatainya otak udang, bahkan sebelum dia menikah dengan Abra. Setelah berpisah pun kata-kata yang keluar dari Mulut Kakek Abra semakin sinis dan tajam.
Sebisa mungkin dia tidak mau bertemu dangan Kakek Arya, jika saja Mbak dan Emak tau dimana Gea dia tidak akan kemari.
"pulanglah, tunggu anakmu di rumah. Besok mereka pasti akan pulang" perintah Kakek Arya sambil mengibaskan tangan.
"mereka sekarat atau liburan?".
Tatapan Kakek Arya menggelap mendengar perkataan Vira yang tidak bisa di kontrol.
"Jika mereka sekarat kamu mau ngurus mereka?, Tidak akan. Tapi kalau mereka liburan kamu mau pasti akan menyusul" omel Kakek sambil menunjuk muka Vira. "pergi sana... kamu membuat saya ingin memenguburmu hidup-hidup".
Tanpa pikir panjang Vira langsung saja berdiri menunduk dan berjalan mundur lalu berlari keluar dari rumah Kakek Arya.
Apa dia sudah mengatakan jika Kakek Arya selalu melakukan apa yang dia katakan.
"Ibnu" panggil Kakek Arya serak.
"Ya".
Ibnu keluar dari balik dinding penyekat antara ruang tamu dan ruang keluarga, dia menjulurkan air pada Kakek Abra untuk menenangkan beliau.
"katakan pada Tari untuk menyiapkan kamar dirumah sakit".
"apa anda sakit?, sesak bernafas lagi?
Kakek Arya mengibaskan tangan. "tidak, saya baik-baik saja. Besok subuh panggil ambulan lalu hubungi Malvin katakan saya kembali masuk rumah sakit, kali ini gawat, harus di tangani beberapa dokter dan... tanyakan pada Tari apa lagi yang bisa menggambarkan saya sakit, Zahra juga harus dibawa karena saya akan menyampaikan wasiat".
__ADS_1
Ke khawatiran Ibnu hilang berganti tatapan malas pada Kakek Arya.
Merasa diperhatikan Kakek Arya menoleh memelototi Ibnu. "kenapa memandang saya dengan tatapan seperti itu?" bentaknya.
"jangan berbohong, anda sudah tua, sakit-sakitan kalau benar terjandi nanti bagaimana?. anda tidak bisa bersama cicit anda".
Kakek Arya memutar kursi rodanya. "kamu cerewet" omelnya dan pergi meninggalkan Ibnu yang menghela nafas pasrah.
^-^
"turun".
Tetap saja Gea menangis tidak mendengarkan Regan yang memintanya untuk turun dari motor Malvin.
Tadi mendengar Gea menangis dia memberitahu Malvin, tetapi pelatihnya itu malah memintanya untuk mengantar Gea pulang lebih dulu.
Para adik kelasnya melihat kearah mereka memperhatikan Gea yang menangis hingga Malvin membentak mereka.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Regan membuka tasnya mengeluarkan jaket menutup kepala Gea dengan jaketnya, membuat Gea mendongakkan kepala.
Melihat Regan yang hanya diam berdiri didepannya, menatapnya datar, tidak memancarkan kebencian dan ketidak sukaan seperti Kakek Arya membuat Gea semakin merasa bersalah turun dari motor dan memeluk Regan.
Melihat Mila menangis sudah membuat Regan pusing, ternyata ada lgi yang lebih heboh ketika menangis.
"huh...".
"cie cie...".
"ahh...".
"uhuy...".
Pekikan, Teriakan bahkah seruan dari banyak orang di lapangan membuat Regan menghela nafas pasrah.
"udah jangan nagis" bujuk Regan.
Bukan berhenti Gea malah semakin meraung.
Kedua tangan Regan sejak tadi terangkat tidak membalas pelukan Gea. Sebelah tangannya menepuk-nepuk kepala Gea kaku mencoba menenangkan Gea
"berhenti ya... aku antar pulang kalau berhenti nangis" bisiknya.
Kepala Gea menggeleng, Merenggangkan pelukannya, mendongakkan kepala menatap Regan dengan mata sembabnya. "Gea masih mau ngomong sesuatu sama kak Regan".
Kening Regan mengerut menoleh pad Malvin. "Saya mampir kerumahmu nanti, pulang dengan Abra" teriak Malvin melempar kunci motornya pada Regan.
Regan mundur melepaskan diri daei pelukan Gea, memungut kunci motor Malvin ditanah.
Gea memperhatikan setiap gerakan Regan yang tenang tetapi mampu membuatnya tersenyum kecil. Cara berjalan, memperbaiki tataan rambutnya dengan tangan bahkan tatapan datarnya tadi membuat Gea sempat tertegun.
"Ayo naik".
Tangan Gea mengembalikan jaket Regan, Regan mengambilnya dan memakainya. Cara memakai jaket Regan juga seperti Abra saat memakai Jaz.
Gea tersenyum-senyum sendiri.
"Ayo naik" Regan kembali mengulang perkataannya.
__ADS_1
Menjulurkan tangan membantu Gea untuk naik keatas motor Malvin.
Semua kembali bersorak heboh, Malvin membentak mareka membuat semua ciut.
Bukan mengantar Gea pulang, Regan mengendarai motor Malvin ke jalan raya menuju lapangan basket. Ketiga temannya sedang bermain basket dengan teman mereka yang lain.
"kenapa kesini?" tanya Gea setelah turun dari motor.
Tidak menjawab pertanyaan Gea, Regan malah berjalan masuk kedalam lapangan, menyapa teman-temannya dan berjalan keponghir lapangan mengambil dua botol minuman yang masih kesegel.
Mulut Gea merengut sambil membuntuti Regan dibelakang. Sifat diam, irit bicara Regan kambuh dan Gea tidak kenyukainya.
Tanpa mengatakan apapun Regan menjulurkan botol ditangannya pada Gea. Mata Gea hanya berkedip-kedip menatap botol didepannya.
"mau minum enggak?".
Gea mengangguk mengambil botol dari tangan Regan dan memutar tutupnya. "gak bisa" keluhnya kembali menyodorkan pada Regan.
"dasar manja" ledek Regan.
Sepontan tangan Gea memukul lengan Regan hingga air didalam botol tumpah. Regan menatap Gea sinis, Gea malah mencibirnya dan mengambil botol ditangan Regan meminumnya separuh.
"Mamiku adalah sepupu Bundamu, dia yang...".
"udah tahu, to the poin" potong Regan duduk di pinggir Lapangan menyelonjorkan kaki.
Gea ikut duduk di samping Regan. "udah tahu semua?".
Kepala Regan mengangguk.
"cerita dari awal sampai belakang?".
"semua".
Wajah Gea merengut. "udah tahu ya... tetapi kenapa biasa saja, Kak Rey gak benci sama Gea?".
Kepala Rega menggeleng.
Mata Gea kembali berkaca-kaca. "kenapa?, kan gara-gara Mami mengandung Gea Bunda kakak jadi pergi".
Regan tak mengatakan apapun, dia hanya menatap pada temannya yang bermain basket bersama.
"aku mau minta maaf atas nama Mami".
Paya yang ditebak Regan ternyata benar, dia berdiri membuka jaket, baju karatenya. "kita sebagai anak gak usah ikut menanggung kesalahan orang tua, gak usah ikut campur masalah mereka. Yang kita ketahui belum tentu seratus persen benar, tugas kita hanya menyimak dan memberikan mereka masukan jika mereka meminta. Jangan ambil pusing, aku dengar kamu sekarang kelas akhir SMP, mendingan balik ke Jakarta, belajar yang benar. Gak usah pusing mikirin dan banyu menyelesaika urusan mereka, mereka juga gak bisa bantu kamu menyelesikan ujian nanti".
Membuka celana karatenya hanya menyisahkan celana olah raga pendek dan kaos blong yang melekat di tubuh Regan. "aku ikut..." serunya berlari masuk kedalam lapangan meninggalkan Gea yang termenung di pinggir lapangan.
^-^
.
.
.
Unique_Muaaa
__ADS_1